“Tidak semua yang saya tahu saya katakan, tidak semua yang saya rasa saya ceritakan”
- Karni Ilyas
art blog(derogatory)
Mike Driver
Peter Solarz

⁂
occasionally subtle

let's talk about Bridgerton tea, my ask is open

Discoholic 🪩
$LAYYYTER
2025 on Tumblr: Trends That Defined the Year
🪼
ojovivo
sheepfilms
dirt enthusiast

JBB: An Artblog!

#extradirty

if i look back, i am lost
Cosmic Funnies
Alisa U Zemlji Chuda
seen from Germany

seen from Japan

seen from Australia

seen from Ireland
seen from Finland
seen from United Kingdom
seen from Serbia
seen from Türkiye

seen from Malaysia

seen from Türkiye

seen from Türkiye
seen from Canada
seen from Germany
seen from China

seen from Germany
seen from United Kingdom

seen from T1
seen from Netherlands

seen from Germany
seen from United States
@hutabaru
“Tidak semua yang saya tahu saya katakan, tidak semua yang saya rasa saya ceritakan”
- Karni Ilyas

Anya is live and ready to show you everything. Watch her strip, dance, and perform exclusive shows just for you. Interact in real-time and make your fantasies come true.
Free to watch • No registration required • HD streaming
Ruhmana
Kita bertemu pertama kali di pelatihan itu, seputar lautan kehidupan yang sudah mahsyur di banyak kalangan. Saling memperkenalkan diri dengan sedikit berusaha untuk menahan diri, sikap canggung tentu sangat terasa saat itu.
Kamu Ruhmana, gadis dengan sejuta sikap ajaibnya. Namun entah kenapa meski rasa canggung itu belum sempat pergi, aku bisa hanya terfokus padamu di tengah puluhan peserta kala itu. Kita terus saling mengenal untuk awal itu, sehingga aku pun tau apa itu menuangkan hati seratus persen dalam hidupku, sesuatu yang aku rasa sudah aku lakukan jauh sebelum saat itu.
Penerimaanmu luar biasa, jika berpatokan pada kisahmu yang kamu ceritakan tempo dulu. Kini kamu siap pergi, perjalanan jauh menuju utara pulau Sumatera. Tentang awal perjalanan lebih jauh yang aku rasa, kamu masih berusaha untuk siap memulainya.
Untuk yang kini sedang berkemas, meski juga tetap dijalari rasa cemas. Terus berusaha terlihat gemas, meski hatimu nyatanya sesak bak diremas. Teruslah jadi Ruhmana dengan jutaan sifat ajaibnya. Dan semoga ini bukan salam perpisahan, meski kita sudah saling merelakan dalam pesan yang saat itu disuarakan.
Salam empat jari untuk kamu
2 Januari 2020|
(c) adikurniawan
Nasihat si Teteh Baik Hati
Sesore ini abis ketemu sama salah satu teteh baik hati, wajahnya cerah. Tetehnya baru dikhitbah. Syawal nanti menikah. In sya Allah.
Tanpa diminta, Teteh itu cerita bagaimana prosesnya. Begini prolognya..
“Git, cinta itu bukan perkara ganteng atau cantik. Mapan atau belum mapan. Tapi perkara , ‘siapa yang datang duluan’..” Angguk-angguk, yang ini saya setuju banget. Udah dapet banyak cerita.
Teteh itu senyum terus melanjutkan, “..karena cinta dapat ditumbuhkan..”
Wuih.. Dalem.
“Kalo kata ustad Salim, Cinta itu tak pernah meminta untuk menanti. Ia mempersilakan. Atau mengambil kesempatan. Yang pertama adalah pengorbanan. Yang kedua adalah keberanian.”
Kereen.
“Git, kalo Gita ketemu sama ikhwan yang kebanyakan kode, tapi gajuga datang, tinggalin aja. Berarti dia belum berani, dan ga punya kesungguhan. Jemuran kalo kelamaan digantung aja kering, apalagi perasaan. Ini pengalaman teteh pribadi sih git.. Makanya gita harus pinter2 jaga hati, jaga perasaan ya.. Apalagi kalo lagi menghafal. Ya.. Walaupun cinta itu fitrah..”
Fitrah. Iya sih. Ada di Qur'an juga. Ali-Imran 14.
“Calon teteh ini orangnya biasa aja. Bedanya dia datang duluan. Datang dengan niat baik. Bismillah.. Semoga memang beliau jodoh dunia akhirat Teteh ya..”
Sekali lagi si Teteh baik hati ini merekahkan senyumnya. Cantik.
“Semoga gita juga segera ketemu ya sama ikhwan baik hati, yang datang dengan niat baik juga..”
Saya nyengir aja. Sambil ngaminin dalam hati. He he..
Jadi pengen nulis dan cerita deh. Saya selalu berfikir, kalo ada orang yang datang menceritakan masalahnya pada kita, berarti sebenarnya kita juga sedang diuji dengan masalah yang sama. Meski bobotnya berbeda.
Sama kaya kalo ada orang yang datang dengan sebuah nasihat untuk kita, tangkap, karena ini sebenarnya nasihat dari Allah untuk kita.
Makasih ya Teh.. Semoga lancar semua persiapannya. Sangat ikut bahagia dan terinspirasi dengan ceritanya.. He he.
Balik lagi, satu-satunya tempat berharap emang hanya Allah ya. Namanya hati, kalau lagi jatuh, dan jatuhnya bukan karena gravitasi (jatuh hati-red), harus dibalikinnya sama Allah. Kan Allah yang punya hati dan Maha Membolak balikan hati..
Suka jadi terngiang, Surat Al-Kahf ayat 46, Allah bilang.. “Harta dan anak-anak adalah perhiasan dunia, tetapi amal kebajikan yang terus menerus adalah lebih baik pahalanya di sisi Tuhanmu serta lebih baik untuk menjadi harapan..”
Coba deh direnungin, dalem banget ya.. Intinya kita diminta untuk terus beramal. Karena itu lebih baik di sisi Allah dan lebih baik untuk menjadi harapan (so long til the afterlife..) I mean daripada ‘jatuh yang jatuhnya bukan karena gravitasi’ itu loh.. Belum waktunya euy.
Sama satu lagi, saya baru ngeh tadi pagi pas baca Qur'an di Kisahnya Nabi Zakaria dalam surat Al-Anbiya ketika beliau berdoa “Robbi laa tadzarnii fardan wa anta khoirul waaritsiin..” Doa memohon keturunan Dan dikabulkan oleh Allah, coba dilihat di ayat 89-90. Ternyata di ayat 90, kaya ada semacam penegasan. “Maka Kami kabulkan (doa)nya dan Kami jadikan istrinya (dapat mengandung). SUNGGUH, mereka selalu BERSEGERA dalam (mengerjakan) kebajikan, dan mereka BERDOA kepada Kami dengan penuh harap dan cemas. Dan mereka orang-orang yang khusyuk kepada Kami..”
Itu kata-kata yang dicapslock, kata-kata penegasan yang seharusnya jadi renungan sih menurut saya. Kalo kita doa sama Allah, kadang adab kita masih kurang banget. Pengennya tahu-tahu dikabulin aja sama Allah.
Padahal yang sekelas Nabi Zakaria aja, di ayat itu, kaya ada hubungan sebab-akibat, tersebab Nabi Zakaria dan istrinya selalu Bersegera dalam mengerjakan kebaikan, berdoa penuh harap dan cemas, dan mereka orang-orang yang khusyuk, akibatnya Allah kabulkan doanya. Dijadikan istrinya dapat mengandung. Walaupun ga selalu begitu pemahamannya, Karena Allah Ar-Rahman, Al-Mujib. Tapi klo konteksnya di ayat ini, sebagai perenungan aja buat kita yang sering tergesa dalam berdoa.
Tuh kan kalo udah nulis, udah monolog jadinya kemana-kemana.
Hehe gapapa deh. Semoga bisa diambil ibrohnya.. :)
#Please #Bukanedisigalau ya..
Cerpen : Bising (4)
Dulu, sewaktu aku duduk di bangku SMP. Aku begitu tak sabar ingin segera menjadi orang dewasa. Kukira, setelah menjadi dewasa kita menjadi lebih leluasa, lebih bebas dalam membuat keputusan. Sesuatu yang tidak kumiliki saat menjadi anak-anak. Bahkan untuk pergi ke pasar seberang jalan saja tidak boleh, naik angkot sendiri tidak boleh, punya handphone pun tidak boleh. Tidak boleh naik motor ke sekolah. Menyebalkan sekali.
Kukira, menjadi dewasa akan membuat hidupku menjadi lebih bahagia karena saat kulihat orang dewasa bisa kesana kemari, beli semuanya pakai uang sendiri, dan semua hal yang membuatku bosan menjadi anak-anak.
Ternyata, semua itu omong kosong untuk di hidupku. Bahkan ketika aku telah menikah sekarang, aku tetap tidak seleluasa yang kupikirkan. Benar, aku telah menikah. Tapi, orang tuaku bahkan masih mengatur setiap keputusan yang harus kubuat.
Bahkan ketika aku ingin resign dari pekerjaan karena ingin fokus mengasuh anak pertama kami, suamiku pun mendukung penuh keinginanku tersebut sembari mengingatkan lagi apakah itu pilihan sadarku atau tidak. Aku jawab, itu adalah keputusan yang sadar.
Seketika orang tua dengar aku mau resign, mereka justru membebani keputusanku. Mengatakan bahwa aku anak yang tak tahu diuntung sudah disekolahkan tinggi-tinggi, mereka malu dengan tetangga dan rekan kerja jika tahu anaknya cuma jadi ibu rumah tangga.
Waktu aku dan suami baru awal berumah tangga dan mengontrak rumah di pinggiran ibu kota, dekat dengan tempat kami bekerja. Mereka, sibuk menyuruh kami untuk berhutang di bank demi membeli rumah. Padahal itu sama sekali tidak ada dalam prioritas kami.
Waktu dulu menikah pun, aku dan suami sudah mengajukan pendapat untuk membuat acara pernikahan yang sederhana, secukupnya, semampunya. Tapi tidak dengan mereka. Kudengar, mereka berhutang hampir 250 juta hanya untuk acara pernikahan kami. Semua itu karena mereka tidak ingin malu di hadapan teman-temannya, meski membebani dirinya.
Waktu anak pertama kami hendak lahir beberapa bulan lalu, mereka meminta kami untuk lahiran di kotanya. Sesuatu yang dalam pertimbangan kami, sangat tidak memungkinkan. Terutama aku, aku tidak mau jauh dari suami ketika hamil besar karena pekerjaan suamiku tidak mungkin ditinggal berbulan-bulan. Pun, di sini ada keluarga dari suami yang sangat membantu.
Entah sebenarnya ini keluarga siapa. Suamiku, dia terlalu sabar. Meski pernah satu hari dia sangat lelah dalam keadaan rumah tangga ini. Seolah rumah tangga ini dikendalikan dari jauh.
Bahkan ketika orang tua dulu tanya bagaimana keluarga kami mengatur keuangan, tentu saja mereka hanya bertanya kepadaku. Kukatakan bahwa keuangan diatur oleh suamiku karena dia sangat pandai soal manajemen keuangan dan itu terbukti. Mereka justru meradang, mengatakan bahwa bisa saja suamiku nanti meninggalkanku dan sebagainya. Mengatakan bahwa akulah yang harus memegang seluruh keuangan keluarga biar suami tidak bisa macam-macam dalam konotasi negatif. Aku hanya mendengarkan.
Entahlah, melelahkan sekali menjadi orang dewasa. ©Kurniawan Gunadi | 2 Desember 2019
“7.3 Billion people In this world, And… I still feel alone.”
— Igor Henrique via (amargedom)

Anya is live and ready to show you everything. Watch her strip, dance, and perform exclusive shows just for you. Interact in real-time and make your fantasies come true.
Free to watch • No registration required • HD streaming
Sepertiga malam ku bermunajat dan semakin ku ragu
Aku ragu, dan tidak bisa untuk berucap bahwa aku ragu
Aku tak rindu dirimu
Aku tak ingin melihatmu
Aku tak suka mendengar guraumu
Aku tak suka dengan keluh rindumu
Aku tak suka dengan akrabmu dengan ibuku
Aku tak suka
Benar benar tak suka
Dirimu..
Kau tau ituu..
Tapi kau berpaling dari teriakanku dan umpatanku..
Aku lelah..
Lelah dengan kebencian dan ketidaksukaanku..
Akhirnya
Aku pura pura
Pura pura suka, pura pura ingin, pura pura rindu..
Di sepertiga malam aku merangung seperti layaknya anak kecil, aku hanya ingin ini berhenti..
Berhenti berpura pura..
Setelah memadamkan lampu
Aku hanya rebah diatas kasur
Menerawang langitlangit kamar
Mataku tak juga terpejam
Dadaku seperti perayaan pesta taun baru
Sesak
Kepalaku diserbu berbagai tanda Tanya tanpa jawaban
Debarku tak seirama
Dengan aliran darah yang mungkin hilang arah
Lorong telingaku dipenuhi irama lagu sendu
Sekujur tubuhku lelah tapi aku pasrah, saat aku tak bisa berbuat apa-apa
Berkali – kali aku menghela nafas
Rasanya udara yang ku hirup tak sejalan dengan lelahku
Semakin ku hirup semakin sesak ku lagi
Semakin mataku tak mau terpejam
Semakin diriku terpenjara sunyi
Malam sudah tinggi, diluar senyap, didalam hatiku kacau balau
Diluar hitam, didalam hatiku kelabu
- Suara Puan
““Go out and do something. It isn’t your room that’s a prison, it’s yourself.””
— Sylvia Plath
Drama Pengantin Baru #4 : Pengeluaran Yang Lebih Baik
Ngecek pengeluaran bulanan. Lebih hemat daripada bulan lalu di tanggal yang sama. Suamiku pasti bangga punya istri sepertiku.
Jadi, gw selalu nulis setiap pengeluaran dalam file Excel. Gw beri kolom-kolom ini pengeluaran pribadi (gw doang), rumah tangga (bersama), dan keperluan sedekah. Pengeluaran sekecil apapun gw catat, termasuk ongkos gojek 1.000 rupiah. Dengan begitu gw tahu kebutuhan apa yang rutin dan tidak rutin, kebutuhan mana yang penting dan tidak terlalu penting, dan berapa persen dana yang dikeluarkan untuk sedekah. Yang sedih tuh ketika pengeluaran banyak, dan ketika dicek semua penting. Haha.
Sesungguhnya, secara psikis, dengan file ini gw menghindari perasaan, “waduh kok duit gw tinggal segini, kepake buat apa aja sihhh?” Dengan catatan ini, gw bisa refers tuh, o iya duitnya kepake buat ini itu. Jadi hati lebih tenang karena tahu duitnya kemana.
Tadinya gw bangga sih berhasil memperketat pengeluaran. Tapi pas mau nulis quotes diatas itu, tiba-tiba gw bandingin lagi kenapa bulan ini bisa hemat, ternyata di kolom sedekah bulan ini isinya : KOSONG. Seketika mikir, apa bener pengeluaran yang lebih sedikit ini lebih baik daripada pengeluaran yang lebih besar tapi dialokasikan untuk kebaikan?
Dulu sebelum menikah, pengeluaran untuk sedekah tidak gw catat, supaya itu tidak menjadi pengeluaran. Karena pada hakikatnya, sedekah memang bukan pengeluaran, tapi investasi ke Maha Pengelola Investasi Tanpa Resiko. Sekarang gw catat, semata - mata supaya keitung aja. Jadinya tercatat sebagai pengeluaran.
Sekali lagi, ini bikin gw mikir. Pengeluaran itu bukan semata soal berapa jumlah yang dikeluarkan, tapi untuk apa kita habiskan. Apa kebanggaan karena pengeluaran lebih sedikit ini jadi kebaikan juga di mata Allah? Jangan - jangan minimnya sedekah bikin harta kita nanti diambil paksa sama Allah? Ngeri kalo mikir sampe segitu.
Walaupun demikian, gw yang imannya masih rendah ini (dan mungkin sebagian dari kita), masih berpikir bahwa harus berhemat, harus mengurangi pengeluaran, termasuk mengurangi porsi sedekah. Kalo udah dalam kondisi begini, harapannya ada 3 :
a. semoga rejekinya lebih dilapangkan supaya bisa lapang bersedekah, b. semoga dilapangkan hatinya supaya sedekah banyak meskipun keuangan sendiri sedang sempit, c. semoga diberi ilham untuk sedekah dalam banyak hal selain uang, tenaga kek, ilmu, waktu, makanan, dan hal-hal lain.
Wallahualam bissawab, semoga Allah mengampuni saya (dan emak-emak lain) yang perhitungan dalam hal pengeluaran.
Khawatir
Kalau benar kita akan dipertemukan, bolehkah kucuri sedikit rahasiaNya? Agar aku tahu, kalau aku sedang menunggu yang baik sekaligus yang terbaik bagiNya. Aku tahu sebenarnya tidak boleh, tapi aku khawatir aku diuji melalui pernikahan. Aku selalu bermimpi melalui pernikahan, kudapati orang yang bisa berjalan seiring, bersisian, bisa menenangkan jalan ke depan.
Tapi, melihat bagaimana hidup di sekitarku. Banyak di antara temanku yang diuji melalui pasangannya; yang berkhianat, yang kasar, yang tak bertanggungjawab, dan semua hal yang kutakutkan.
Kalau benar kita akan dipertemukan, bolehkah kucuri sedikit rahasiaNya?
©kurniawangunadi / 30 Desember 2018 on instagram

Anya is live and ready to show you everything. Watch her strip, dance, and perform exclusive shows just for you. Interact in real-time and make your fantasies come true.
Free to watch • No registration required • HD streaming
Waktu mau menikah, aku bilang pada suamiku yang pada waktu itu masih calon, kalau aku ingin lanjut S2. Aku ingin menikah tidak membuatku berhenti belajar dan upgrade ilmu. Pada waktu itu, beliau bilang begini,
“Aku dukung, sekalipun kamu mau S2 keluar negeri kita capai itu sama-sama. Sekalipun kita harus pakai uang sendiri.”
Dan itu semakin memperkuat diriku menerima lamarannya. Waktu bergulir, dan kini aku menjadi istrinya. Kesempatan untuk S2 itu belum aku ambil, pun kuusahakan dengan serius karena saat ini aku masih fokus di keluarga.
Tapi suamiku tetap suamiku, yang selalu mendorong istrinya untuk tetap belajar dan aktualisasi diri. Semangat menuntut ilmu tersebut, kami masukkan dalam visi misi keluarga. Beliau selalu support agenda-agenda keilmuan yang ingin aku ikuti ataupun mengalokasikan budget khusus untuk memfasilitasiku tetap menuntut ilmu.
Akupun kadang jadi melunjak, hahaha. Ingin ikut kursus ini, itu, seminar ini, itu, beli literatur ini, itu, banyak sekali. Beliau tidak pernah tidak mengizinkan selagi itu baik dan bermanfaat.
Lain halnya kalau aku mau beli baju, skincare, atau sekedar ke salon…harus melobi izin sampai waktu. Sekalipun suamiku mengizinkan, proses acc-nya cukup lama. Misal pengen ke salon besok, di acc baru minggu depan. Kalau hendak membeli baju, sepatu, atau tas–aku bakal dikritisi habis-habisan. Mulai punyaku masih bagus, masih ada banyak, tidak perlulah, ingat hisab blablabla.
Tak apa, aku jadi tahu bahwa ukuran yang beliau gunakan bukan yang tampak, bukan duniawi, dan bukan materi saja. Dia mengukur kedalaman segala sesuatu dengan ukuran lain, yang tidak semua laki-laki memilikinya. Dan aku bersyukur beliau salah satu diantara laki-laki jenis ini.
Mungkin aku juga akan tertekan apabila suamiku adalah seseorang yang selalu mendorong istrinya untuk cantik lahiriah, tanpa mengakomodir urusan cantik batiniah #halah.
Memastikan pasangan juga sama-sama bersemangat menuntut ilmu menurutku banyak untungnya. Selain pola pikir yang terus meluas, biasanya akan lebih terbuka pada diskusi dan ide-ide baru. Dampaknya keluarga bertumbuh sama-sama. Jadi memperpanjang ‘sumbu’. Nggak sering konflik perkara remeh :D
Baik laki-laki maupun perempuan, punya kebutuhan dan kewajiban yang sama dalam menuntut ilmu dan aktualisasi diri di mayarakat. Maka gandenglah tangan pasanganmu, ajak dia untuk sama-sama bersemangat menunaikan hal-hal yang Allah cintai itu. Lillah, demi keluarga yang kompak, untuk peradaban yang lebih baik. #tsaaahhhh 😆
pingin gini ya Allah
Kadang, Allah begitu cepat menjawab keresahan kita. Melalui begitu banyak perantara yang kita temui.
Atau jangan-jangan, aku menduga. Selama ini jawaban itu sudah terbentang luas di depan mata tapi akulah yang tidak mengenalinya. Hanya karena aku sibuk memikirkan diriku sendiri, sibuk berasumsi, dan tidak percaya bahwa Dia akan menolong. Bahkan aku lupa berdoa, meminta kepadaNya.
Semua masalah besar ini tidak ada artinya di hadapan Allah Yang Maha Besar.
©kurniawangunadi
Wanita yang baik itu, tatkala ada seorang lelaki meminta hatinya, ia akan berkata, "Hati ini milik ayahku. Mintalah padanya." Dan lelaki yang brengsek itu, tatkala ia jatuh hati pada seorang wanita, dicurinya hati wanita itu diam-diam. Tanpa izin ayahnya, tanpa malu-malu, dan tanpa rasa bersalah.
— Taufik Aulia
Cerpen : Insaf
Tidak semudah itu, menilai seseorang dari berapa banyak kajian yang ia hadiri. Berada dimana ketika waktu shalat tiba. Berapa banyak lembar kitab yang ditadaburi. Kelompok apa yang ia ikuti.
Menyusuri jalan yang sunyi, kita akan bertemu dengan banyak sekali kebaikan-kebaikan yang tak tampak dijalan yang ramai orang lalui. Pengorbanan para ayah yang berjuang mencari nafkah. Baktinya seorang istri yang tak kenal keluh dalam keluarganya. Perjuangan-perjuangan seorang hamba yang tak tersurat.
Aku selalu menangisi diri, tertunduk malu. Kemudahanku dalam beribadah, dalam mengikuti kajian, aktif dalam berdakwah bersama teman-teman, dan kemudahanku dalam memenuhi kebutuhan rumah tangga. Adalah kemudahan yang bisa membuatku terjebak, merasa lebih baik dari orang lain. Perasaan yang iblis sematkan pada orang-orang yang merasa dirinya ahli ibadah. Karena mereka tak bisa membuat para ahli ibadah bermaksiat, mereka membuat para ahli ibadah riya’ atas amalannya.
Malam ini, ketelusuri jalan menuju rumah dengan berjalan. Di bawah lampu yang temaram. Sepasang suami istri berjalan bersama gerobak sampahnya. Sang istri berada di dalam gerobak, sang suami menariknya. Aku merasa tak lebih baik dari mereka. Perjuanganku menjalani hidup ini tak seberat mereka, tapi barangkali Allah lebih ringan tangan memberi pahalaNya kepada mereka.
Aku merasa malu sering menilai manusia lain. Padahal aku tak pernah tahu sama sekali, dari sekian banyak sujudku dalam shalat. Aku tak tahu apakah itu cukup untuk menghapus kesalahanku yang mungkin lebih banyak. Itu pun kalau Dia menerima semua shalatku.
Kalau usiaku tak lebih panjang dari usia sang Rasul. Apakah waktu yang ku miliki ini cukup untuk membuatku selamat dari ujian dunia ini?
Aku melangkahkan kaki ke arah mereka, “Pak, Bu, saya ada sedikit rezeki untuk bapak dan ibu, mohon diterima.” Mereka berdua tertegun karena aku tiba-tiba mengentikan perjalannya.
“Alhamdulillah, terima kasih Nak. Semoga Allah yang membalas, kami tidak bisa membalas apa-apa”
“Aamiin,”
Tiba-tiba terbesit dalam pikiranku. Ucapan itu pun keluar.
“Saya mohon doanya saja Pak, Bu. Semoga Allah memaafkan semua kesalahan saya dan keluarga, dan Allah ridha kami memasuki surgaNya nanti. Dan semoga kita dipertemukan di sana.” “Aamiin”, kami serempak berdoa. Kemudian kami berpisah, semoga kelak kami dipertemukan kembali.
© kurniawan gunadi
Amiin
Adakah cara lain?
Untuk mendekatimu tanpa kau ketahui?
Untuk memerhatikanmu tanpa kau sadari?
Untuk mempersiapkan diriku tanpa kau curigai?
Untuk bersembunyi dari perasaan yang meluap
mengalir di sepanjang jalan yang kamu lalui
selalu berusaha untuk menyingkirkan semua rintangan
membantumu diam-diam melalui tangan orang lain
Adakah cara lain yang lebih bijak dari ini? Aku tak mampu menjagamu dari ketidakmampuanku menjaga dan menahan diriku sendiri.
Yogyakarta, 3 Juli 2019 | ©kurniawangunadi

Anya is live and ready to show you everything. Watch her strip, dance, and perform exclusive shows just for you. Interact in real-time and make your fantasies come true.
Free to watch • No registration required • HD streaming
Life is short.
Pilihannya hanya ada dua,
kamu suka denganku
atau
tidak.
Hidupku terlalu singkat
jika dihabiskan hanya untuk
mengemis cintamu.
Aku hanya memberi alasan untuk menolaknya, mencari sisi negatif dari dirinya dan menutup mata dari setiap sikap baiknya. Aku hanya belum bisa membuka hatiku. Aku hanya belum ingin mencoba. Aku hanya tidak berani melangkah. Aku hanya aku......
Maafkan aku yang HANYA aku