Dunia modern saat ini memberi kita kemudahan-kemudahan, tentunya itu karena perkembangan teknologi. Orang-orang tidak lagi menonton, menyimpan, dan membagikan sesuatu dalam bentuk fisik. Mereka seperti menikmati kecanggihan peradaban ini dalam realitas virtual. Mereka tak lagi menyimpan foto-foto pada momen tertentu pada album foto fisik. Mereka juga tak lagi mendengarkan musik-musik favoritnya dalam bentuk rilisan fisik. Juga mereka tak lagi membaca terbitan majalah / koran fisik. Seolah modernitas mengajak kita menggenggam dunia dalam ponsel, apapun yang kau butuhkan seakan ada di dalamnya.
Kadang aku khawatir jika momen yang telah aku lewati dan tersimpan dalam arsip digital akhirnya hilang. Ketika platform digital tersebut bangkrut misalnya, seperti mereka yang dulu pernah punya akun Friendster / Myspace, ke mana kah momen-momen yang tersimpan dulu? Aku tak pernah tahu. Aku juga menyimpan foto-foto, rekaman video dalam handphoneku, lalu saat handphoneku hilang, maka kenangan yang tersimpan di dalamnya pastinya juga hilang. Seperti juga ketika ribuan data digitalku yang tersimpan dalam hardisk komputer, saat hardiskku rusak. Lalu ke mana aku bisa mengenang momen-momen yang sempat terrekam tersebut? Aku tak tahu jawaban pasti. Ingatanku tak sedetail bagaimana hardisk komputerku bekerja.
Aku sempat berpikir ketika semua orang hanya menyimpan arsip kenangannya pada platform digital, maka mereka sama saja dengan menyerahkan sejarah pada tangan robot. Ketika pencipta dan pemilik robot ini ingin merubah dunia dengan aturannya, mereka hanya perlu menekan tombol Ctrl + Alt + Del maka terhapuslah semua sejarah, lalu mereka ciptakan narasinya sendiri.
Menyimpan foto, buku, majalah, rekaman musik dalam bentuk fisik masih sering aku lakukan. Koleksi kasetku, buku-buku, majalah masih terjaga, dan foto-foto keluargaku, saat aku kecil juga masih tersimpan rapi dalam album.
Dunia digital benar-benar memberikan kemudahan, termasuk kemudahan untuk melupakan.
Anya is live and ready to show you everything. Watch her strip, dance, and perform exclusive shows just for you. Interact in real-time and make your fantasies come true.
✓ Live Streaming✓ Interactive Chat✓ Private Shows✓ HD Quality✓ Free Actions
Free to watch • No registration required • HD streaming
Pria ini jauh lebih tua dariku, yang jelas pengalamannya jauh lebih banyak dariku. Aku sudah lama mengenalnya, dari lingkaran pertemanan kami yang saling beririsan. Aku memang tak terlalu dekat dengannya, hingga akhirnya kami bertemu kembali saat dia tinggal di satu kota yang sama denganku.
Aku tau, mulutnya selalu pedas saat berbicara. Memang kadang ada benarnya apa yang dikatakan, tapi tak semuanya benar menurutku. Aku juga tak terlalu banyak berbicara urusan personal padanya, sampai dia pernah berkata padaku seperti ini:
"Seorang nihilis lebih baik bunuh diri saja, untuk apa terus hidup, tak ada makna di dalamnya," ucapnya padaku saat kami sedang minum alkohol.
Di momen yang lain pria ini masih bersikukuh dengan apa yang dia lihat pada diriku, "Kamu nihilis kan?" "Bukan", jawabku singkat. "Enggak, kamu nihilis", timpalnya. "Yaudah terserah," jawabku. Terkadang aku terlalu malas memperdebatkan sudut pandang dan memaksakan sesuatu yang diyakini seseorang.
Oke, di poin ini aku mengerti bahwa dia memandangku sebagai seorang nihilis. Di satu sisi aku tak pernah mengklaim bahwa diriku seorang nihilis. Bahkan seorang nihilis menurutku tak butuh validasi dari orang lain.
Kemudian ada lagi seorang kenalan yang saat itu membeli Jurnal MLEBU, saat aku melapak di sebuah gigs. Setelah membeli Jurnalku itu, dia bertanya, "Mas, kamu nihilis yaa?"
Entah darimana dia bisa berpikir seperti itu batinku, aku hanya menjawab singkat sembari tersenyum "sepertinya bukan".
***
Mungkin aku pernah ada di fase nihilistik, ketika aku menghancurkan nilai-nilai yang aku percayai sebelumnya, membakar jembatan yang telah aku lewati, tak peduli pada makna hidup dan perjuangan orang-orang di sekelilingku. Menjalani pengulangan hidup tanpa makna setiap hari, dan sering kali tertidur dalam keadaan mabuk. Melakukan 'percobaan bunuh diri' —yang sebenarnya tak aku sengaja, dengan obat-obatan dan alkohol hingga hampir OD. Tapi hal-hal ini tak perlu aku katakan pada mereka. Untuk apa? Validasi? Aku tak butuh divalidasi oleh orang yang terlalu cepat melabeli tanpa pernah tau apa yang telah aku lewati. Lagipula aku tak perlu membandingkan hidupku dengan hidup orang lain.
Aku menemukan makna hidup bukan dari apa yang orang lain katakan padaku, tapi dari hidup yang aku jalani sendiri, dari kepingan-kepingan tragedi, dari mereka yang berseberangan denganku, dari mereka yang menancapkan pisau di hatiku, dari mereka yang senang saat aku susah, dari mereka yang mendukungku saat aku berada di titik terrendah dalam hidup. Mereka yang mungkin bahkan tak pernah membaca Nietzsche ataupun Camus.
"Drugs are good
They let you do the things that you know you not should
And when you do 'em people think that you're cool"
—NOFX - Drugs Are Good
Aku baru mengenal perempuan ini, dia adalah kekasih dari kawanku. Kami tak banyak bicara, karena urusanku adalah dengan kawanku. Aku akan mentattoo kawanku ini.
***
Sesi tatto telah selesai, kemudian perempuan ini menawariku obat anti depresan miliknya. "Tenang saja ini aman kok, ini pake resep dokter", ucapnya meyakinkanku. Di situ ada dua jenis obat, Cloazepine dan Kalxetine. Aku tidak memilih Cloazepine, karena aku pernah meminumnya saat akan menggambar, tapi yang terjadi malah aku tertidur. Kemudian aku mengambil 4 tablet Kalxetine, ini cukup pikirku. Lalu aku menyimpannya di dalam tas.
"Terimakasih yaa, aku minum nanti saja kalo sudah di rumah", ucapku.
Aku punya pengalaman buruk setelah minum obat anti-depresan kemudian berkendara, aku pernah hampir menabrak mobil truk. Aku juga agak bingung kenapa dengan tiba-tiba dia menawariku anti-depresan, atau mungkin aku memang terlihat tidak tenang? Hmmm, entahlah.
Kemudian kami bercerita tentang pengalaman soal obat-obatan, tentunya bersama kawanku juga di situ. "Aku pernah menelan 15 butir Dextro, lalu minum Tommy Stanley," ucapku.
"Hahh?! Kau mau bunuh diri?" tanya perempuan ini dengan nada kaget.
"Enggak tau yaa, aku hanya ingin tenang waktu itu. Tapi setelahnya malah seperti mimpi buruk, dadaku terasa sesak, aku muntah berbusa, dan tak ingat lagi apa yang terjadi kemudian. Tapi aku tak sampe dibawa ke UGD. Aman".
"Itu sih percobaan bunuh diri namanya... Yasudah, kalo minum obat ikuti dosis yang aman yaa, biar gak overdosis", nasehatnya padaku.
"Oke, baik," jawabku.
Sejak SMA aku memang sering menyalah gunakan obat-obatan. Aku termasuk orang yang sering nervous dan tak percaya diri ketika datang ke tempat baru, atau lingkungan yang tak aku kenal. Obat-obatan dan alkohol seperti jadi penenangku dan sebagai substansi eskapisme untuk hidup yang semakin suram.
Tapi untuk saat ini aku sudah mulai mengurangi konsumsi obat-obatan. Karena aku sadar, realita yang pahit tetap harus dihadapi dengan tanpa obat-obatan ataupun alkohol. Yaa mungkin hanya untuk momen tertentu saja. Aku juga paham di dunia yang segala hal bisa menjadi komoditas, mental illness juga adalah komoditi industri farmasi.
Ya betul, Mayday bukan hanya sekedar hari buruh yang berhak diakui oleh mereka yang merasa dirinya buruh. Mayday adalah hari bagi setiap orang, setiap individu yang merasa kebebasan mereka direbut oleh sebuah sistem ekonomi dan budaya yang hanya menyisakan ruang untuk sebuah aktifitas rutin yang penuh perhitungan untung-rugi. Hari bagi mereka yang berhasrat menjadi manusia, bukan hanya sekedar penjual dan atau pembeli. Mereka yang menolak diri mereka memimpikan hidup dengan keragaman nilai bukan hanya hidup tanpa kemandirian, kreatifitas, kekuatan dan penemuan-penemuan nilai-nilai baru yang tidak terdesak dan tergusur oleh satu nilai: ‘nilai ekonomi’. Mereka yang menolak mendasarkan hidup mereka hanya pada satu kepentingan dan tujuan: ‘kepentingan dan orientasi pasar’. Mereka yang menginginkan hidup dengan petualangan dan dengan kontrol penuh atas diri mereka sendiri dalam genggaman tangan mereka. Hari bagi setiap individu yang menolak dunia yang hanya menghargai orang dari seberapa banyak properti yang ia miliki, seberapa besar kesuksesan yang ia peroleh dan seberapa besar kekuasaan yang ia raih. Hari bagi setiap orang yang menolak untuk di-standarisasi, dimassifikasi, diasingkan dan direduksi eksistensinya sebagai komoditas belaka.
Mayday bukan hanya hari para buruh yang menolak diperbudak hanya karena mereka tak punya modal dan melacurkan diri mereka didalam pabrik-pabrik untuk sekedar memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari namun juga hari bagi seorang pekerja kerah putih yang bekerja di sebuah korporasi dan menolak jadi kelas menengah. Hari bagi seorang profesional muda yang menolak menjadi tua dan meninggalkan profesi mereka. Hari bagi seorang agen asuransi yang menjelaskan pada setiap klien mereka bahwa tak pernah ada jaminan polis yang cocok bagi hidup mereka, hari bagi seorang penyair yang menghidupi puisinya dan hari seorang rapper yang mengasah skill-nya hingga ke level gila-gilaan dan menolak menjualnya ke tangan sebuah korporasi rekaman. Hari bagi seorang punk rock yang berhenti di-mohawk dan keluar dari stereotipikal ‘punk rock’ dan berbagi pengetahuan tentang independensi komunitas dengan seorang Darul Arqam. Hari bagi seorang gitaris grindcore yang tak lagi menulis lagu tentang kematian karena sadar bahwa kematian adalah hal yang normal di dalam masyarakat yang hanya sekedar bertahan hidup. Hari bagi seorang seniman yang memberi jari tengah pada kurator. Hari bagi seorang religius yang membenci institusi agama dan menolak seruan perang agama. Hari bagi seorang desainer pada sebuah perusahaan periklanan yang mem-vandal sendiri billboard hasil ide mereka dan hari bagi seorang anak keturunan sunda yang melecehkan omongan negatif ayahnya tentang ras medan dan cina dan kemudian menyebut ayahnya sebagai seorang rasis. Hari bagi seorang pegawai bank yang pura-pura lupa catatan keuangan satu semester terakhir dan menyimpannya untuk dijual ke tukang loak. Hari bagi seorang ibu rumah tangga yang menolak mencuci piring dan pakaian suami jika hanya lantaran ‘kewajiban moral seorang istri’. Hari bagi seorang anggota geng bermotor yang tak lagi yakin bahwa hidup dapat dijalani di atas motor dan tak percaya omongan ‘senior’ mereka bahwa membunuh anggota geng musuh dapat mewakili eksistensi mereka. Hari bagi seorang anak SMA yang tak ingin mencari identitas di dalam sebuah pencitraan sabun mandi, odol, deodorant atau sepatu Nike dan hari bagi seorang tamtama yang tak yakin lagi dunia ini dapat dibangun dengan komando dan sadar ia punya potensi kebebasan yang tak bisa dicampuri oleh patriotisme dan bacot komandan mereka. Hari bagi seorang intel yang muak mengintai hidup orang lain untuk kemudian mulai sibuk ‘memata-matai’ hidupnya sendiri. Hari bagi pengamen jalanan yang menolak mengemis belas kasihan penumpang angkot dan tetap bernyanyi sepanjang hari dan memakan makanan dari tong sampah sebuah Plaza. Hari bagi sepasang kekasih yang tak lagi menjalani cinta atas dasar restu dan komentar orang lain dan tidak lagi menghakimi cinta atas alasan kelamin. Hari bagi seorang homoseks yang tak lagi percaya pada klub-klub gay dan mencari kebebesan dengan membakar tabloid “Gaya Nusantara”. Hari bagi seorang karyawan McDonalds yang memperlambat layanan bagi konsumen dan mencuri stok makanan yang terbuang dari gudang dan hari bagi seorang ABG yang membawa rekan-rekannya nangkring di resto fast food berjam-jam dengan bermodal air putih dan bekal dari rumah dan tak membeli makanan di sana. Hari bagi seorang gemar film yang bertanya 1000 kali pada petugas tiket “film apa hari ini?” dan hari bagi seorang seniman performance yang berkostum satpam pada sebuah bank dan breakdance sepanjang hari. Hari bagi mereka yang berikrar akan memblokade setiap jalan yang akan dilalui birokrat IMF, World bank dan WTO di seluruh dunia. Hari bagi seorang aktivis laskar jihad yang mempropagandakan perang melawan Israel tanpa terperangkap retorika rasis dan perang agama. Hari bagi seorang aktivis mahasiswa yang tak percaya lagi retorika gerakan moral dan membuat nilai-nilainya moralnya sendiri yang bukan demi nilai-nilai dari slogan-slogan ilusi seperti “Demi Tuhan, Bangsa dan Almamater”. Hari bagi seorang nasionalis yang tak lagi menyembah patung garuda dan mulai membangun komunitas bukan atas alasan cinta tanah air dan hari bagi seorang fasis yang bunuh diri.
Dan yang paling pasti, Mayday adalah hari bagi kami yang tak peduli kalian mengerti selebaran ini atau tidak, tak peduli selebaran ini berguna bagi kalian atau tidak. Di sebuah era di mana massa mayoritas melecehkan kebebasan individu dan kekuatan individu dipakai untuk meraih massa guna kepentingan dirinya dan segelintir orang. Kami tak tertarik untuk ikut dalam kompetisi meraih simpati dan dukungan ‘massa’. Bagi kami kekuatan ‘massa’ hanya akan lahir jika setiap orang menyadari kekuatannya sendiri untuk dapat bebas dan melakukan apa yang dikatakan hasratnya bukan hasrat yang diciptakan oleh elit, birokrat, pemilik modal, kebutuhan pasar, dan tradisi. Bagi kami, Mayday bukan ‘hari buruh’ karena momen peringatan model begini bagi kami hanyalah omong kosong. Kami tak ingin bebas hanya dalam satu hari saja. Kami tak ingin sebuah hidup hanya di atas sebuah panggung festival sehari seperti layar tancap yang jika gerimis langsung bubar. Kami ingin festival ‘setiap hari’ yang memfasilitasi lantai dansa bagi ‘setiap yang hidup’. Mayday adalah hari kita semua ketika menghajar kebosanan sebuah dunia.
Rebut dan curi kembali hidup kalian, tuntutlah yang tak mungkin!!! LET’S GET THE ‘PARTY’ STARTED!!!
__________________________________
Disclaimer: Tulisan ini diambil dari pamflet-pamflet anarkis yang disebarkan saat Mayday belasan tahun yang lalu, dan masih relevan sampai saat ini.
Ini adalah list 7 film post-apokalips yang perlu kalian tonton sebagai simulasi menghadapi kehancuran dunia, yang cukup bagus menurutku. Post apokalips atau paska kiamat, situasi masa depan yang mungkin memang bisa saja terjadi. Di beberapa film digambarkan dunia telah hancur karena ulah manusia sendiri, bisa juga karena bencana alam. Post-apokalips sendiri adalah sub-genre dari film sci-fi.Ada banyak film yang memakai sub-genre ini sebagai nilai jual, karena memang banyak juga penggemar seting post-apokalips, mungkin karena kebosanan dengan tatanan saat ini. Film-film ini bagiku seperti ramalan sekaligus simulasi bagaimana dunia ini akan berjalan nantinya. Jika memang kehancuran dunia itu nantinya terjadi, kita memiliki gambaran untuk menghadapinya.
1. WATERWORLD (1995), Kevin Reynolds
Ini film post apokalip pertama yang aku tonton di bioskop saat masih sekolah dasar dulu, dan beberapa kali masih ditayangkan di TV lokal. Berseting pada masa depan saat es di kutub telah mencair, kota-kota tenggelam. Tak tersisa daratan kering di sini. Kehidupan berada di atas lautan, di atas daratan buatan dari rongsokan besi dan kapal yang mengapung. Cerita berpusat pada seorang pria yang dijuluki "The Mariner" (Kevin Costner). Ia menyelamatkan seorang gadis kecil yang memiliki tato peta menuju daratan, di punggungnya. Mereka mengarungi samudra, menghindar dari kejaran para penjahat Deacon yang ingin memiliki peta menjuju daratan tersebut.
2. THE ROAD (2009), John Hillcoat
Film ini merupakan adaptasi dari novel tulisan Cormac McCarthy dengan judul serupa. Musibah besar terjadi di bumi! Tidak ada lagi hukum, maupun aparatur negara. Kita dihadapkan pada kondisi dunia tanpa tatanan. Seorang ayah berjuang bertahan hidup bersama anak laki-lakinya, mereka berjalan menuju pantai timur benua Amerika untuk mencari bantuan.Orang baik di sini adalah mereka yang makan dari sampah dan makanan sisa yang ditemukan, sementara orang jahat adalah mereka yang saling memakan manusia layaknya kanibal. Film ini begitu kelam, dengan lanskap yang nyaris semua abu-abu dan gelap. Ini adalah film post-apokalips favoritku, tidak terlalu berlebihan dan begitu realistis.
3. WORLD WAR Z (2013), Marc Forster
Mungkin ini adalah film yang paling ditunggu para penyuka film zombie dan post-apokalips. Namun WORLD WAR Z berbeda dengan film zombie kebanyakan, zombie di sini dapat berlari dan melompat. Lebih mengerikan!Perang dunia di sini adalah perang melawan wabah zombie yang menjangkiti hampir seluruh belahan bumi, dan kekacauan yang disebabkan terlihat begitu epik. Ini adalah salah satu film zombie yang digarap dengan sungguh-sungguh. Tidak seperti film zombie kebanyakan memang, yang terlihat konyol dan tak terlalu berbahaya.
4. 12 MONKEYS (1995), Terry Gilliam
Bersetting di masa depan peradaban manusia yang telah hancur dikarenakan kelompok environmentalist ekstrim menyebarkan virus mematikan yang membunuh hampir seluruh populasi manusia. Sementara manusia yang tersisa hidup di dalam tanah. 12 MONKEYS menggambarkan masa depan terbalik, tidak lagi manusia yang menguasai bumi, namun alam (hewan dan tumbuhan) yang menguasai bumi.James Cole (Bruce Willis) dikirim ke masa lalu dengan mesin waktu untuk menyelidiki penyebab semua ini. Misi tidak sesuai rencana karena James dikirim ke tahun yang salah. Setelah masuk di masa lalu, dia dikirim ke rumah sakit jiwa. Namun dia tetap berjuang untuk menyelidiki itu semua. Film yang dibintangi Bruce Willis ini secara tersirat menyampaikan pesan-pesan lingkungan untuk dunia saat ini.
5. WALL-E (2008), Andrew Stanton
Bersetting pada masa depan dengan kondisi bumi yang telah hancur tak berpenghuni. Manusia yang tersisa tidak lagi tinggal di bumi, namun di pesawat luar angkasa.Wall-E, nama sebuah robot pembersih sampah besi yang tinggal di bumi, dan masih melakukan rutinitas sehari-harinya. Robot inilah yang nantinya membuat manusia sadar. Sehingga manusia berpikir kembali atas kerusakan alam akibat ulah mereka sendiri.
6. 28 DAYS LATER (2002), Danny Boyle
Empat minggu setelah terjangkitnya wabah misterius di Inggris, Jim terbangun dari koma di rumah sakit yang telah ditinggalkan, dan menemukan kota dalam keadaan sepi tanpa penghuni. Tokoh utama film ini pun mulai berjalan mencari kehidupan, dan menemukan sebuah gereja yang dihuni zombie.Pembersihan besar-besaran dilakukan oleh militer, mereka yang masih berkeliaran di jalan terinfeksi virus dan menjadi zombie sebagai targetnya. Jim diselamatkan oleh Mark dan Selena, kemudian mereka bertahan hidup dari serangan zombie dan target pembersihan militer.
7. HELL (2011), Tim Fehlbaum
Film ini berkisah tentang sekelompok orang yang bertahan hidup di masa post-apokalips. Hampir seperti THE ROAD, mereka bertahan hidup berjuang dari ancaman para kanibal. Namun tidak hanya itu, mereka juga harus menghadapi terik matahari yang seolah-olah jaraknya semakin dekat dengan bumi, dan juga krisis air bersih.HELL menggambarkan kondisi planet bumi yang sangat panas, dengan warna tone gambarnya yang silau dan kering. Nuansa thriller dalam film ini memang cukup padat, dari awal hingga akhir.
Anya is live and ready to show you everything. Watch her strip, dance, and perform exclusive shows just for you. Interact in real-time and make your fantasies come true.
✓ Live Streaming✓ Interactive Chat✓ Private Shows✓ HD Quality✓ Free Actions
Free to watch • No registration required • HD streaming
Sudah hampir tiga tahun aku mengenal perempuan ini, sekitar akhir 2011. Bermula dari jejaring sosial, berlanjut obrolan soal buku, film, musik, dunia kerja, dan hal-hal kecil dalam keseharian kami, hingga rencana kabur dia dari tunangannya -yang sangat protektif dan insecure- ke kotaku yang akhirnya gagal. Dia hadir tepat di saat setelah masa terpurukku, di akhir tahun itu. Dia mengalihkanku dari kesedihanku, dan aku menjadi simpatik pada kesedihannya. Aku masih mengingat detail beberapa peristiwa yang dia ceritakan padaku lewat email, sms ataupun telefon. Hampir tiap hari kami berkomunikasi, berbagi cerita, hingga kami seolah dekat dan semakin mengenal satu sama lain. Jarak kami adalah masalah bagiku, tapi sepertinya itu bukan masalah baginya, karena yang dia inginkan adalah teman jauh. Sedangkan aku, aku butuh teman dekat, yang bisa berjumpa secara nyata. Tapi entah, dia selalu bisa mengalihkan perhatianku.
Aku ikut senang saat dia putus dari tunangannya, akhirnya hidupnya lebih bebas, dan itulah yang dia inginkan. Dan setelah itu, aku merasa intensitas komunikasi kami semakin berkurang. Iya, aku menyadari, dengan kondisinya saat itu yang telah lebih bebas, dia jauh lebih mudah untuk bermain, bergaul dengan teman-teman nyatanya di sana.
Pada suatu malam aku mabuk, aku meracau, aku memintanya untuk tidak lagi menghubungiku, karena hampir setiap hari kami berkomunikasi, tapi aku jauh, aku tidak bisa melakukan apapun untuknya, seperti seketika melakukan hal nyata untuknya. Sedangkan aku tahu di sana dia sudah memiliki pacar, juga teman dekat yang aku pikir sudah cukup bisa menemaninya. Entah, tiba-tiba dari situ aku sudah mulai menyimpan perasaan padanya. Aku merasa cemburu, tapi kecemburuan itu deritaku, bukan untuk menjadi beban buatnya.
Setelah semua itu, pasang surut komunikasi kami beberapa kali terjadi. Pada pertengahan 2013 akhirnya dia memutuskan untuk datang ke kotaku. Aku sangat senang, dan menyambutnya dengan suka cita. Imajiku menjadi nyata. Akhir 2013 hubungan dia dengan pacarnya tampak semakin buruk, dan itu juga dikarenakan kedekatannya denganku. Beberapa kali aku juga sempat ingin mengakhiri hubungan pertemanan seperti ini, karena selalu saja aku juga jadi salah satu biang masalah keretakan hubungan dengan pacarnya. Dia juga menyampaikan agar aku tidak meninggalkannya, agar aku berjanji untuk tidak meninggalkannya.
Hal yang hampir sama seperti ini juga pernah aku alami saat SMA dulu, namun dulu tidak berjarak jauh dan memakan waktu hampir 3 tahun seperti ini. Dulu aku memilih pergi. Kadang aku bingung, aku hanya bisa mengusahakan supaya kami tidak putus komunikasi, dan beberapa bulan sekali aku mengirimkan keping DVD film atau lagu untuknya. Namun yang aku rasa, ini semua berjalan seperti tanpa tujuan, karena aku dan dia memiliki perbedaan pandangan tentang bagaimana relasi kami berjalan ke depan. "Selamat tinggal", mungkin ini dua kata terburuk yang tak akan aku ucapkan padanya, aku tak mau membuat perempuan ini sedih.
Seorang Indian Cherokee tua mengajarkan cucunya tentang kehidupan, “Pertarungan yang ada dalam diriku” ia berkata kepada anak itu.
“Ini adalah pertarungan yang mengerikan dan itu adalah antara dua serigala. Salah satunya jahat - ia adalah kemarahan, iri hati, kesedihan, penyesalan, keserakahan, kesombongan, mengasihani diri, rasa bersalah, kebencian, inferioritas, kebohongan, kebanggaan palsu, keunggulan, dan ego.” Dia melanjutkan, ”Yang satunya baik - dia adalah sukacita, perdamaian, cinta, harapan, ketenangan, kerendahan hati, kebaikan, kebajikan, empati, kemurahan hati, kebenaran, welas asih, dan iman. Perang yang sama terjadi di dalam dirimu - dan di dalam diri setiap orang lain juga.”
Anak kecil itu memikirkannya sejenak, dan kemudian bertanya pada kakeknya, “Mana serigala yang akan menang?”
Cherokee tua itu hanya menjawab, “Salah satu yang kamu beri makan.”
Berikut ada cerita yang sama, tapi ini disebut "Grandfather Tells" yang juga dikenal sebagai "The Wolves Within"
Seorang kakek tua mengatakan kepada cucunya, yang datang kepadanya dengan kemarahan pada seorang teman yang telah melakukan ketidakadilan, “Aku akan ceritakan sebuah kisah.
Aku juga, saat ini, merasa sangat benci bagi mereka yang telah mengambil begitu banyak, dengan tidak ada kesedihan bagi apa yang mereka lakukan.
Tapi kebencian hanya membuatmu terpuruk, dan tidak melukai musuhmu. Hal ini seperti mengambil racun dan berharap musuhmu akan mati. Aku telah berjuang dengan perasaan ini berkali-kali.” Dia melanjutkan, “Hal ini seperti ketika ada dua serigala dalam diriku. Salah satu baik dan tidak ada salahnya. Dia hidup dalam harmoni dengan semua di sekelilingnya, dan tidak tersinggung ketika tidak ada pelanggaran yang dimaksudkan. Ia hanya akan melawan ketika hal itu benar untuk dilakukannya, dan dengan cara yang benar.
Tapi serigala yang satunya, ah! Dia penuh kemarahan. Bahkan hal kecil pun dapat membuat dia marah. Dia melawan setiap orang, sepanjang waktu, dan tanpa alasan. Dia tidak dapat berpikir karena kemarahan dan kebencian yang begitu besar. Ini adalah kemarahan yang tak membantu, kemarahannya tak akan mengubah apa-apa.
Kadang sangat sulit untuk hidup dengan dua serigala ini di dalam diriku, mereka berdua mencoba untuk mendominasi jiwaku.”
Anak laki-laki itu menatap tajam ke mata kakeknya dan bertanya, “Serigala mana yang menang, Kakek?”
Kakek itu tersenyum dan berkata pelan, “Salah satu yang aku beri makan.”
Aku pernah jatuh cinta sebelumnya. Rasanya seperti narkotik. Mula-mula mendatangkan euforia penyerahan diri, lalu berikutnya kau menginginkan lebih banyak. Kau belum kecanduan, tapi kau menyukai sensasinya dan kau masih bisa mengendalikan semuanya. Kau memikirkan orang yang kau cintai selama 2 menit dan melupakannya selama 3 jam.Tapi kemudian kau terbiasa dengan orang itu, dan mulai bergantung sepenuhnya pada mereka. Sekarang kamu memikirkannya 3 jam dan melupakannya selama 2 menit. Kalau ia tak ada, kau merasa seperti pecandu yang selalu membutuhkan morfin. Dan seperti halnya pecandu yang akan mencuri dan mempermalukan diri sendiri demi memenuhi kebutuhan mereka. Kau pun bersedia melakukan apa saja demi cinta..
Di Tepi Sungai Piedra Aku Duduk dan Menangis - Paulo Coelho
Anya is live and ready to show you everything. Watch her strip, dance, and perform exclusive shows just for you. Interact in real-time and make your fantasies come true.
✓ Live Streaming✓ Interactive Chat✓ Private Shows✓ HD Quality✓ Free Actions
Free to watch • No registration required • HD streaming
"If she's amazing, she won't be easy. If she's easy, she won't be amazing. If she's worth it, you wont give up. If you give up, you're not worthy. Truth is, everybody is going to hurt you: you just gotta find the ones worth suffering for."
Di era jaman es, manusia mulai berpindah ke kawasan "Sabit yang Subur" (sekarang Irak), ada sekelompok landak. Mereka juga nyaris mati kedinginan. Seperti binatang lainnya, mereka saling berhimpit-himpitan saat mereka kedinginan, agar hawa panas dapat terbagi. Setelah upaya pertama berhimpitan, mereka langsung saling menjauh, karena duri-duri mereka saling menusuk satu sama lain. Tapi landak-landak itu cukup bijak, mereka akhirnya rela menahan sedikit luka tusukan duri kawanannya, demi bisa terus bertahan hidup. Akhirnya kelompok landak itu berhasil bertahan hidup melewati jaman es, walau akhirnya mereka hidup dengan cukup banyak bekas luka.
*analogi ini saya copy-paste langsung dari diskusi di sebuah milis
Anya is live and ready to show you everything. Watch her strip, dance, and perform exclusive shows just for you. Interact in real-time and make your fantasies come true.
✓ Live Streaming✓ Interactive Chat✓ Private Shows✓ HD Quality✓ Free Actions
Free to watch • No registration required • HD streaming