Surat Damai untuk Dirimu Sendiri
Kadang musuh paling kejam bukan orang lain. Tapi suara kecil di kepala yang bilang: "Seharusnya kamu bisa lebih baik". "Seharusnya kamu nggak gitu". "Seharusnya kamu udah move on dari dulu".
capek ya, berantem sama diri sendiri tiap hari...
Memaafkan diri sendiri itu bukan berarti bilang "nggak apa-apa" ke semua luka. Memaafkan itu duduk sama versi dirimu yang dulu. Versi kamu yang pernah jatuh. Yang pernah salah pilih. Yang pernah nyerah. Lalu bilang pelan: "Nggak apa-apa ya... Kamu udah ngelakuin yang terbaik versi kamu waktu itu".
Kamu nggak jahat karena pernah gagal. Kamu nggak lemah karena pernah nangis. Kamu nggak bodoh karena pernah percaya ke orang yang salah. Kamu cuma manusia. Belajar. Tumbuh. Retak. Lalu berbenah.
Luka yang kamu bawa sekarang, dulu adalah cara terbaik yang kamu tau buat bertahan. Jadi jangan dihukum lagi ya. Udah cukup, kamu disakiti keadaan. Jangan kamu ikutan nyakitin dirimu sendiri.
Maafkan diri sendiri. Berhenti ngungkit masa lalu tiap kali kaca spion kehidupan. Mulai ngizinin diri buat dapet hal baik, walau dulu pernah salah. Mulai ngomong ke diri sendiri dengan nada yang sama, kayak kamu ngomong ke sahabat pas dia lagi patah. "Kamu udah usaha banget. Aku bangga sama kamu. Istirahat dulu ya kalau capek. Kita mulai lagi pelan-pelan, oke?"
Nggak ada orang yang tumbuh tanpa luka. Nggak ada orang yang dewasa tanpa salah. Jadi kalau kamu masih belajar, itu wajar. Kalau kamu masih jatuh, itu manusiawi.
Suatu hari nanti kamu akan ngaca dan nggak lagi lihat semua kekurangan. Kamu akan lihat bekas jahitan di hati dan berbisik: "Makasih ya udah nggak nyerah waktu itu".
Sampai hari itu datang.. peluk dirimu lebih sering ya. Maafin diri sendiri atas semua "seharusnya". Karena kamu udah berjuang sejauh ini. Dan itu aja udah cukup buat dibanggakan.
Kamu layak dapat tenang. Kamu layak dapat cinta. Mulai dari cinta yang kamu kasih ke dirimu sendiri dulu.
---














