. Senyuman mengandung banyak makna
Cookie Run:Kingdom Official!
EXPECTATIONS
todays bird
Color Me Curious

The Bright Sessions

if i look back, i am lost

shark vs the universe
Claire Keane

@theartofmadeline
Aqua Utopiaď˝ćľˇăŽĺşă§č¨ćśăç´Ąă
tumblr dot com
Today's Document
𩵠avery cochrane đŠľ
d e v o n
macklin celebrini has autism

Origami Around

Jar Jar Binks Fan Club

titsay

seen from TĂźrkiye
seen from Azerbaijan
seen from United Kingdom
seen from Brazil

seen from Indonesia
seen from Ukraine
seen from Malaysia

seen from Pakistan
seen from Brazil
seen from Malaysia

seen from Indonesia
seen from TĂźrkiye

seen from TĂźrkiye

seen from France
seen from Bangladesh
seen from Lithuania

seen from Malaysia
seen from TĂźrkiye

seen from Malaysia
seen from Malaysia
@hidayat-s
. Senyuman mengandung banyak makna

Anya is live and ready to show you everything. Watch her strip, dance, and perform exclusive shows just for you. Interact in real-time and make your fantasies come true.
Free to watch ⢠No registration required ⢠HD streaming
Ippho Santosa - ipphoright: Sesuai labelnya, Aksi 212 beneran damai alias super damai. Sejatinya Aksi 411 juga sangat damai. Dan ini tidak mudah, apalagi kalau ditilik dari jumlah massa yang masing-masing aksi mencapai lebih 2 juta orang (cek Google Earth). Ramai tapi relatif damai. Ya, ini aksi bermartabat. Boleh diadu dengan unjuk rasa manapun sedunia sepanjang sejarah, termasuk negara-negara maju yang ngakunya lebih demokratis. Adakah seramai dan sedamai ini? Kapolri saja mengakui, tak satu pun pohon tumbang. Selama ini unjuk rasa identik dengan kekerasan dan kerusuhan. Nah, Aksi 212 dan Aksi 411 mengubah mindset pesertanya. Ramai tapi relatif damai. Tertib. Boleh dibilang, Revolusi Mental (Revolusi Mindset) terjadi di sini. Lebih jauh, sebenarnya nilai-nilai Nawacita pun seperti aman, demokratis, melibatkan daerah, menghargai kebhinnekaan dan restorasi sosial, diam-diam sudah tertuang di Aksi 212 ini. Bayangkan 2 juta lebih massa berkumpul di Monas dan sekitarnya. Begitu massa bubaran, eh sampah juga ikut 'bubaran' alias bersih. Teramat banyak orang yang berlomba-lomba mungutin sampah. Ini sebuah restorasi sosial, bukankah selama ini masyarakat kita dikenal 'masa bodoh dengan sampah'? Belum lagi yang bagi-bagi makanan serasa di Nabawi. Heroiknya, Aksi 212 lebih membludak daripada Aksi 411. Padahal sebelumnya sudah ada fatwa haram dari seorang tokoh, fatwa bid'ah dari seorang ulama, stigma makar dari polisi, tebar selebaran dari helikopter, boikot transportasi dari aparat, eh tetap saja lebih membludak. Meluber sampai Istiqlal, Thamrin, serta Tugu Tani. Dan keajaiban kecil pun terjadi. Ketika panitia mulai kuatir peserta akan dehidrasi, keletihan, dan kekurangan air wudhu, eh tiba-tiba ada kejutan: hujan turun di menit-menit menjelang Jumatan. Ya Allah, Engkau memang The Best Planner! "Rasain kehujanan!" tukas si hater. Hehe, dia tidak tahu bahwa insya Allah: Jumat + Hujan + Jamaah = Makbul. Meski hujan, massa tak bergeming. Saya yakin akan beda ceritanya kalau kampanye politik atau konser musik. Dihujani begitu, pasti massa akan terbirit-birit. Lihat pula Surah Anfal 11, hujan seperti itu diturunkan untuk menyegarkan jasad dan meneguhkan kedudukan. Bukankah hujan sedemikian juga pernah diturunkan ketika Perang Badar? Saat Isra Miraj, Nabi Muhammad bersua dengan malaikat yang sangat ahli soal hujan (lihat Al-Mustadrak Syeikh An-Nuri, jilid 5), bahkan mampu menghitung jumlah tetes air hujan yang tercurah sejak manusia pertama sampai manusia terakhir! Namun tahukah Anda apa kelemahan malaikat ini? Ternyata, ia tidak mampu menghitung jumlah pahala yang tercurah saat umat Nabi Muhammad berkumpul di suatu tempat dan menyebut-nyebut nama Nabi Muhammad! Masya Allah, bukankah ini juga terjadi di Aksi 212? Beberapa ustadz pun memaparkan: - Aksi 411 bagai Sa'i, berjalan dan berlari-lari kecil. - Aksi 212 bagai Wukuf, duduk diam tak banyak bergerak. - Boleh dibilang, kedua aksi ini mirip manasik haji terbesar (sekaligus sholat jumat terbesar sepanjang sejarah NKRI). Toh lengkap, ada zikir dan shalawat, ada pembimbing lapangan juga bagai muthawif. Plus sedikit desak-desakan karena ramainya massa, hehe. - Yang nggak ada cuma Melempar Jumrah. Wah, bahaya nih kalau sampai ada lempar-lemparan dalam Aksi 212. Hehe. "Ah, hanya orang-orang tolol yang hadir di situ," tukas si hater. Oya? Bukankah presiden, menteri, kapolri, dan panglima turut hadir, selain kyai-kyai dan habib-habib? Hehe, bodohkah mereka? Mohon maaf, saya pun bisa menunjukkan doktor-doktor (S3) dan miliarder-miliarder yang juga hadir, yang insya Allah jauh lebih cerdas dan jauh lebih kaya daripada dirimu wahai hater. Â Manakala umat tidak memegang media dan kekuasaan, yah mau gimana lagi. Terpaksalah Aksi 212 dan 411 digulirkan. Namun, bagaimanapun juga, kita harus menjauhkan diri dari sikap ujub dan riya. Kembalilah fokus pada tujuan utama. Semoga Allah memudahkan. Aamiin. Kalau Anda muslim, baiknya Anda membuat tulisan seperti ini. Agar dunia tahu betapa heroiknya aksi ini. Namun sekiranya belum bisa menulis artikel, silakan share tulisan ini. Sekian dari saya, Ippho Santosa.
LOGIKA TERBALIK
Entah bagaimana logikanya... Seorang ibu-ibu kaya pergi berbelanja barang harian ke pasar lalu masuk ke kios tempat menjual sayur-mayur. Langkah kakinya terhenti di depan seorang wanita tua penjual kangkung. Ia menjajarkan kangkungnya yang hanya sekitar 30 ikat di atas plastik besar. _"Berapa harga satu ikat kangkung?.."_ Si Ibu penjual kangkung menjawab: _"Seribu Rupiah.. saja Bu...!"._ Si perempuan kaya itu lalu berkata: _"3 ikat = Dua Ribu Rupiah Ya...?"._ _"Wah, nggak dapat Bu..."._ Jawab si ibu penjual kangkung. _"Ya udah, kalau gitu saya nggak jadi beli"._ Dengan wajah memelas, akhirnya si penjual kangkung itu berkata: _"Ya sudahlah bu... Ambillah..!"._ Si perempuan kaya itu membeli dengan perasaan menang. Ia sangat bahagia. Di lain waktu, ibu kaya itu makan di sebuah restoran mewah bersama keluarganya. Setelah selesai makan ia minta kwitansi pembayaran. Di sana tertulis 415 ribu. Ibu itu mengeluarkan lembaran 100 ribu sebanyak 5 lembar, kemudian memberikannya kepada pelayan restoran yang membawa kwitansi, lalu ia berpesan: _"Kembaliannya ambil saja.. anggap sebagai uang tips!"._ Hal seperti ini sering terjadi dalam masyarakat. Banyak manusia yang merasa hebat ketika bisa menekan orang lemah, tapi melunak dan segan kepada orang yang memang sudah berpenghasilan besar juga. Kapanlah rasa kemanusiaan ini bisa mengalahkan gengsi? Ayo kita buat gerakan tidak menawar kepada penjual2 sayuran atau makanan yang dijual oleh orang2 yang lemah bila harganya masih terbilang wajar. Bantulah mereka, melalui kepedulian dan jalan ibadah kita. Padahal Rasulullah shallallahu âalaihi wa sallam bersabda, ŘŁŮبŮŘşŮŮŮŮŮ٠اŮŘśŮŮŘšŮŮŮاإŮŘ ŮŮŘĽŮŮŮŮŮ Ůا ŘŞŮŘąŮزŮŮŮŮŮŮŮ ŮŮŘŞŮŮŮŘľŮŘąŮŮŮŮ٠بŮŘśŮŘšŮŮŮا،ŮŮŮŮ Ů *_âCarilah keridhaanku dengan berbuat baik kepada orang-orang lemah diantara kalian, karena kalian diberi rezeki dan ditolong juga disebabkan orang-orang lemah kalian.â_* [HR. Abu dawud dan An-Nasai dalam Ash-Shahihah No. 779]
Allahumma shalli âala sayydn Muhammad, wa asyghiliz dzalimin bizdzalimin, wa akhrijna min baynihim salimin, waâala alihi wa sahbihi ajmaâin
. Buah mangga yang kamu makan, ranum manis sedikit asam dan lembut, adalah hasil proses panjang. Sebutir biji tertanam pada gelap dan dinginnya tanah. Lalu menyeruak timbul menjadi kayu muda nan hijau. Sedikit dewasa dipapar panas matahari, ditabrak debu, ditampar angin. Dewasanya dilempar batu, disayat goresan di kulitnya saat rapuh, ditebang dahannya disaat ia kokoh, diserang hama menggerogoti dari dalam. Namun akarnya tak pernah tercabut, daunnya boleh rontok, rantingnya dipatah, namun keyakinannya tetap tertanam dalam, tak goyah menumbuhkan kembali dahan sikap dan daun kesabarannya. . Buah mangga yang kamu makan, ranum manis sedikit asam dan lembut, adalah hasil proses panjang. Hasil dari proses juang dan kesabaran yang panjang serta menyakitkan.

Anya is live and ready to show you everything. Watch her strip, dance, and perform exclusive shows just for you. Interact in real-time and make your fantasies come true.
Free to watch ⢠No registration required ⢠HD streaming
Allahumma shalli âala sayydn Muhammad, wa asyghiliz dzalimin bizdzalimin, wa akhrijna min baynihim salimin, waâala alihi wa sahbihi ajmaâin
. I break down, fear is sinking in The cold comes, racing through my skin Searching for a way to get to you Through the storm you... . Go, giving up your home Go, leaving all you've known You are not alone . "Not Alone" -LP-
Brain Games
Rekayasa sosial menciptakan norma sosial Percobaan 1: "cara untuk menciptakan norma sosial bagi masyarakat dapat di terapkan dengan memulainya dari rekayasa sosial melalui sebuah kelompok yg sudah di setting dan di tularkan kebiasaan yg settingan td pada orng2 diluar kelompok dan ketika 1 orang itu mengikutinya, bahkan ketika kelompok yg tadi sudah tidak ada 1 orang itu akan terus melakukannya dan kebiasaan yg diciptakan dan pada akhirnya di tularkan kepada orang lain ya, karna kebiasaan itu sudah menjadi habit bahkan norma sosial bagi mereka yg ditularkan td. Percobaan di contohkan pd 10 orang untuk memilih garis yg sama antara contoh garis dan 3 pilihan garis yg di anggap sama dgn contoh, 9 orang di setting bekerjasama oleh panitia untuk memilih 1 garis yg salah (misal garis A adalah pilihan yg salah dan 9 orang itu memilih garis A semuanya) sedang kan orang terakhir yg tidak diberi tahu bahwa 9 orang tadi sudah bekerja sama, dan orang terakhir kebingungan untuk memilih garis A yg jelas salah namun semua orang memilih itu, tapi dia sadar bahwa garis yg benar adalah garis C, tekanan kelompok akhirnya menciptakan pilihan yg tidak lagi memperdulikan mana yg benar dan salah namun lebih mementingkan norma kelompok sekalipun itu salah" Tanpa disadari hal ini sudah bnyak di terapkan oleh masyarakat itu sendiri, karna masyarakat di lambangkan menjadi orang yg terakhir tadi dan pada akhirnya menularkan kepada orang yg lain dan terus menerus dan jadilah sebuah norma sosial yg menjadi hal lazim bagi semuanya, Kita jelas tak pernah sadar karna hal ini sudah bnyak diterapkan dan dianggap biasa bagi masyarakat pekerja seperti contoh buruknya Kebiasaan upeti, markup, dan hal2 lain yg sejenis, begitu juga sama dgn contoh yg baik jujur, amanah, dan transparan. Percobaan 2: "Lain hal nya dengan percobaan ke2 Yg tidak jauh berbeda dengan percobaan pertama namun dibuat 2 kelompok, yaitu : Kelompok 1: diterapkan seperti percobaan 1 Kelompok 2: diterapkan sama dgn percobaan 1 juga, hanya saja pilihan yg di rekayasakan pada 9 orang dlm kelompok adalah pilihan yg benar dan akhirnya orng terakhir juga dgn percaya diri memilih yg benar karna 9 orang lainnya juga memilih pilihan yg benar, Setelah 2 kelompok diciptakan orang terakhir pada masing2 kelompok di tukar, hasilnya adalah : Kelompok 1: orang terakhir yg ditukar dari kelompok 2 tidak mengikuti 9 orang yg memilih jawaban A, orang terakhir itu dengan percaya dirinya memilih jawaban C sekalipun iya sendirian walau ada tekanan dan hasutan iya tetap yakin memilih C. Kelompok 2: orang terakhir yg ditukar dari kelompok 1 pada akhirnya mengikuti pilihan yg sama juga dgn 9 orang yg memilih jawaban yg benar, walau pada awalnya ada keraguan saat memilih, namun orang terakhir yg ditukar dari kelompok 1 tadi akhirnya merasa kali ini dia berada dengan orang2 yg benar. Pada percobaan ke2 norma sosial yg diciptakan masing2 kelompok memang masih memiliki pengaruh pada orang terakhir yg ditukar dari masing2 kelompok tadi namun karna naluri atas sebuah pilihan yg ditularkan masing2 kelompok dan juga naluri kebenaran pada orang2 yg ditukar dari kelompoknya membuat mereka yakin memilih yg benar, seperti : Kelompok 1: orng yg ditukar dri kelompok 2 tetap yakin dgn pilihan yg benar sekalipun iya sendiri karna kelompoknya sebelumnya mengajarkan yg benar Kelompok 2: orang yg ditukar dari kelompok 1 mulai merasakan keraguan atas kelompoknya yg pertama karna mengajarkan yg salah dan memilih untuk mengikuti kelompok 2 yg mengajarkan memilih yg benar" Hal ini yg sudah kita terima selama ini dari kelompok yg mengajarkan kebenaran namun sayangnya dalam lingkungan kerja dan sekolah berhadapan dengan kelompok yg mengajarkan yg salah, Naluri kebenaran dan norma sosial yg pada akhirnya dapat memacu emosi setiap orang, dan emosi yg diciptakan itu berbeda2. Semoga bermanfaat. Sumber: Message WA seorang sahabat
MAAFKAN MAMA YA NAK
Bunda Fitra Wilis menulis ... kutulis ini sebagai nasehat untuk diri sendiri, biar besok sabtu nggak marah-marah sama anak andai nilai raportnya tak sempurna. Putraku bukan si juara umum di sekolah, bukan bintang utama di pengajian, juga bukan pemain inti di lapangan futsal, dan tidak juga juara melukis ataupun pemenang lomba beladiri. Dia adalah anak-anak sepuluh tahun , kelas lima SD, yang senang bermain tiada henti, menikmati keciprak air hujan, mengayuh sepeda menantang angin, dan tak terlalu suka belajar (belajar dalam pengertian umum orang Indonesia, yaitu membaca buku pelajaran sampai hafal titik koma nya). Ini menyebabkan rumahku tak punya banyak piala. Terkadang, sebongkah kecewa bergayut di hati, kecewa pada nilai matematikanya yg tak sempurna padahal soalnya gampang, kecewa pada hafalan surat pendek al quran yang masih salah, kecewa pada kegagalan gol karena tendangannya yg lemah. Mana pialamu , duhai kesayanganku? Allah, Tuhan yang kuimani berbisik lembut. âKamu adalah ibu yang sangaaaaaaaaat jauh dari sempurna, dan putramu tak pernah menuntut lebih, dia ikhlas, tak melayangkan protes atas segala kekuranganmu, lalu kenapa kamu tak membalasnya dengan cara serupa? Kamu sedemikian banyak menuntut dari putramu,â aku terkesiap. Sekawanan awan sedemikian rendah, gelap, hujan memberi aba-aba mau turun, aku tergopoh mencari jilbab, berlari ke jemuran. Dan disanaâŚ. putraku sedang membungkuk memungut jemuran yg berjatuhan, sebelum kusuruh. Aku tertidur pulas, terbangun mendengar suara berisik di kamar mandi, ternyata putraku sedang memandikan adik bungsunya, berjongkok menyabuni jari-jari kaki adiknya, tanpa kuminta. Aku heran, kenapa rumah sedemikian damai, tak ada pekikan berebut mainan, ternyata putraku sedang bersimpuh di sudut kamar, membuatkan kapal-kapalan kertas secara adil untuk ketiga adiknya. Embun dimataku mendesak keluar, ketika hujan turun deras dan putraku dilindungi payung lebar, berjalan ke rumah tetangga kemudian kembali dengan membawa daun sirsak untuk peningkat daya tahan tubuhku. âEmpat belas lembar, udah kupilihin yang bagus-bagus, biar mama cepet sembuhâ tangannya terulur menyerahkan daun sirsak, , aku terkapar lemah kala itu. Mataku menghangat, kuterima dengan seksama, seperti pak presiden menerima bendera pusaka. Terimakasih putraku, engkau telah memberi piala, dan ini adalah sebenar-benarnya piala, piala yang sesungguhnya untukku. Nak, ijinkan aku mencium tanganmu, sebagai wujud permohonan maaf atas segala tuntutanku. 16 Juni 2016 Sumber: Message wa seorang sahabat
THE "E"
Long before people invented terms like E-banking, E-book, E-health, E-commerce, E-mail, etc, Javanese people were the pioneers of those "E"s. Here are some of those "E" terms : 1. e-mbuh: disconected from communication due to the inability to figure out something. 2. e-ndasmu: high amplitude anger, full of energy transfered orally to others. 3. e-alah: a status quo created due to the incompatibility between the principles held by somebody and the reality. 4. e-ntut: an invisible, untraceable attack send to an area by biologically naturally created gas. This gas is not eco friendly. 5. e-dan: a systemic error at the CPU (central processing unit) embedded inside the head, which causes incapabilities to process data logically. 6. e-nak: a conclusion sent out from a sensory system after processing easy, yummy data and or an input. 7. e-link: mechanism of the brain retrieving past data. 8. e-lok: the look of your partner 15 years ago. 9. e-nom: your look 25 years ago. 10. e-ndang: your classmate 11. e-mber : agree to something that your friend said 12. e-mper : a space for you to sell anything for free, during Car Free Day 13. e-yke : banci calling himself 14. e-yang : most wanted person on lebaran day 15. e-lu : how to call your friend 16. e-gepe : whatever you say laaaahhh. 17. e-ladalah : surprised expression regarding something funny Sumber: message wa seorang sahabat

Anya is live and ready to show you everything. Watch her strip, dance, and perform exclusive shows just for you. Interact in real-time and make your fantasies come true.
Free to watch ⢠No registration required ⢠HD streaming
Ekstase Mi'raj
Oleh Salim A Fillah Sekiranya ku menjadi Muhammad Takkan sudi ku beranjak ke bumi Setelah sampai di dekat âArsyi -âAbdul Quddus, Sufi Ganggoh- Buraq namanya. Maka ia serupa barq, kilat yang melesat dengan kecepatan cahaya. Malam itu diiring Jibril, dibawanya seorang Rasul mulia ke Masjidil Aqsha. Khadijah, isteri setia, lambang cinta penuh pengorbanan itu telah tiada. Demikian juga Abu Thalib, sang pelindung yang penuh kasih meski tetap enggan beriman. Ia sudah meninggal. Rasul itu berduka. Ia merasa sebatang kara. Ia merasa sendiri menghadapi gelombang pendustaan, penyiksaan, dan penentangan terhadap seruan sucinya yang kian meningkat seiring bergantinya hari. Ia merasa sepi. Maka Allah hendak menguatkannya. Allah memperlihatkan kepadanya sebagian dari tanda kuasaNya. Buraq namanya. Ia diikat di pintu Masjid Al Aqsha ketika seluruh Nabi dan Rasul berhimpun di sana. Mereka shalat. Dan penumpangnya itu kini mengimami mereka semua. Tetapi dari sini Sang Nabi berangkat untuk perjalanan yang menyejarah. Disertai Jibril ia naik ke langit, memasuki lapis demi lapis. Bertemu Adam, Yahya serta âIsa, Yusuf, Idris, Harun, Musa, dan Ibrahim. Lalu terus ke Sidratul Muntaha, Baitul Maâmur, dan naik lagi menghadap Allah hingga jaraknya kurang dari dua ujung busur. Allah membuka tabirNya.. Allah.. Allah.. Jika melihat Yusuf yang tampan sudah membuat jari para wanita teriris mati rasa, apa gerangan rasa melihat Sang Pencipta yang Maha Indah? Atau katakan padaku shahabat, apa yang kau rasakan saat melihat Kaâbah yang mulia untuk pertama kalinya? Ya, sebuah ekstase. Kita haru. Kita syahdu. Air mata menitik. Raga terasa ringan. Jiwa kita penuh. Mulut kita ternganga. Maka apa kira-kira yang dirasakan Muhammad, Shallallaahu âAlaihi wa Sallam ketika ia miâraj bertemu Rabbnya? Kesyahduan. Keterpesonaan. Kesejukan. Kenikmatan ruhani. Kelegaan jiwa. Tiada tara. Tiada tara. Tiada tara. Demi Allah, alangkah indahnya, betapa nikmatnya.. Maka ada benarnya Sufi Ganggoh itu. Di saat mengalami puncak kenikmatan ruhani itu, tentu ada goda untuk bertahan lama-lama di sana. Kalau bisa, kita ingin menikmatinya selamanya. Atau setidaknya mengulanginya. Lagi dan lagi. Kesyahduan yang tak terlukiskan, ruhani yang terasa penuh, berkecipak, mengalun. Jiwa yang terpana bagaikan titik air menyatu dengan samudera, kedirian kita hilang lenyap ditelan kemuliaan dan keagungan Ilahi. Kita ingin mereguknya, menyesapnya, lalu rebah, dipeluk, direngkuh, dan menyandarkan hati di situ saja. Selama-lamanya. Kenikmatan ruhani. Kekhusyuâan batin. Kita pasti ingin menikmatinya selalu. Kita menghasratkannya tiap waktu. Tetapi justru di situlah salahnya. Justru di situlah kekeliruan terbesar kita. Coba tengok perjalanan miâraj Sang Nabi. Ia tidak terjadi setiap hari. Ia terjadi sekali, hanya ketika deraan rasa sakit, badai kepiluan, dan himpitan beban telah melampaui daya tahan kemanusiaan. Ia terjadi ketika sang Rasul merasakan puncak kepayahan jiwa; daâwah yang ditolak, seruan yang diabaikan, pengikut yang tak seberapa, sahabat-sahabat yang disiksa, dan para penyokong utama satu demi satu mencukupkan usia. Maka satu hal yang kita maknai dari perjalanan miâraj adalah, bahwa ia sekedar sebuah waqfah. Ia sebuah perhentian sejenak. Sebuah oase tempat Sang Nabi mengisi ulang bekal perjalanannya. Bekal perjuangannya. Miâraj bukanlah titik akhir dari perjalanan itu. Merasakan kenikmatan ruhani yang dahsyat bukanlah tujuan dari perjalanan hidup dan risalahnya. Itulah yang membuat Sang Nabi dan Sang Sufi dari Ganggoh bertolak belakang. Jika Sang Sufi memandang ekstase kenikmatan ruhani itu sebagai tujuan hidupnya, Sang Nabi sekedar menjadikannya sebuah rehat. Sejenak mengambil kembali energi ruhani, mengisi ulang stamina jiwa. Sesudah itu dunia menantinya untuk berkarya bagi kemanusiaan. Dan iapun, kata Muhammad Iqbal dalam Ziarah Abadi, menyisipkan diri ke kancah zaman. Padaku malaikat menawarkan, âTinggallah di langit ini, bersama syahdu sujud-sujud kami Bersama kenikmatan-kenikmatan suciâ âTidak!â, kataku, âDi bumi masih ada angkara aniaya Di sanalah aku mengabdi, berkarya, berkorban Hingga batas waktu yang telah ditentukan.â Inilah jalan cinta para pejuang. Para penitinya bukanlah para pengejar ekstase dan kenikmatan ruhani. Mereka adalah pejuang yang mengajak pada kebaikan, memerintahkan yang maâruf, mencegah yang munkar, dan beriman kepada Allah. Dalam kerja-kerja besar itu, terkadang mereka merasa lelah, merasa lemah, merasa terkuras. Maka Allah menyiapkan miâraj bagi mereka. Sang Nabi yang cinta dan kerja daâwahnya tiada tara itu memang mendapat miâraj istimewa; langsung menghadap Allah âAzza wa Jalla. Kita, para pengikutnya, berbahagia mendapat sabdanya, âSaat miâraj seorang mukmin adalah shalat!â Shalat, kata Sayyid Quthb, adalah hubungan langsung antara manusia yang fana dan kekuatan yang abadi. Ia adalah waktu yang telah dipilih untuk pertemuan setetes air yang terputus dengan sumber yang tak pernah kering. Ia adalah kunci perbendaharaan yang mencukupi, memuaskan, dan melimpah. Ia adalah pembebasan dari batas-batas realita bumi yang kecil menuju realita alam raya. Ia adalah angin, embun, dan awan di siang hari di siang hari bolong nan terik. Ia adalah sentuhan yang lembut pada hati yang letih dan payah. Maka shalat adalah rehat. Ketika tulang-tulang terasa berlolosan dalam jihad, rasa kebas di otot dan kulit berkuah keringat, Sang Nabi bersabda pada muadzinnya, âYaa Bilal, Arihna bish shalaah.. Hai Bilal, istirahatkan kami dengan shalat!â Berhala Kekhusyuâan Seorang musafir berhenti di sebuah Masjid. Ia lelah, gerah, penat, pegal, dan pening. Terlebih, sepanjang jalan ia merasa sepi di tengah ramai, dan asing di tengah khalayak. Di masjid itu ia menemukan ketenangan. Wudhunya serasa membasuh seluruh jiwa raga. Ketika air itu menyapu, ia seperti bisa melihat noktah-noktah hitam dosanya luntur berleleran, mengalir hanyut bersama air. Dalam shalatnya ia benar-benar merasa berdiri di hadapan Sang Pencipta. Tiap bacaannya seolah dijawab olehNya. Ia merasakan getar keagungan. Ini pertama kalinya ia bisa terisak-isak dalam sujudnya. Hatinya diselimuti perasaan tenteram, sejuk, penuh makna. Dia merasakan sebuah ekstase. Saat lain ia lewat di masjid itu. Ia memang sengaja ingin shalat di sana. Ia rindu kekhusyuâannya. Masjid ini memancarkan keagungan. Pilar-pilarnya tegak kokoh, berlapis marmer kelabu. Kolom-kolom setengah lingkarannya manis dengan ukiran geometris. Lampu-lampunya remang dibingkai logam mengilat bersegi delapan. Lantainya lembut menyambut tiap sujud, dingin menyejukkan khas granit hitam. Ia memilih shalat di sebalik tiang berbalut kuningan yang berukir ayat suci. Ia mencoba menghayati shalatnya. Tapi aneh. Kali ini, ia tak menemukan getar itu. Ia kehilangan kekhusyuâannya. Benar. Ia kehilangan semua perasaan itu. Tak ada ekstase. Tak ada kelezatan ruhani. Tak setitikpun air matanya sudi meleleh. Dalam sesal ia menguluk salam. Ke kanan, lalu ke kiri. Dan matanya menumbuk terjemah sebuah kaligrafi di dinding selatan. Terbaca olehnya, âBarangsiapa mencari Allah, ia mendapatkan kekhusyuâan. Barangsiapa mengejar kekhusyuâan, ia kehilangan Allah.â Alangkah malang para penyembah kekhusyuâan. Khusyuâ menjadi tujuan, bukan sarana menuju Allah Subhanahu wa Taâalaa. Maka perhatian utama dalam shalatnya terletak pada bagaimana caranya agar khusyuâ, atau setidaknya terlihat khusyuâ. Ayuhai, andai kau tahu bagaimana Sang Nabi dan sahabat-sahabatnya shalat. Mereka mendapatkan kekhusyuâan bukan karena mencarinya. Mereka khusyuâ karena shalat benar-benar perhentian dari aktivitas maha menguras di sepanjang jalan cinta para pejuang. Mereka khusyuâ karena payahnya diri dan kelelahan yang membelit melahirkan rasa kerdil dan penghambaan sejati. Seperti para penyembah Al Masih merumit-rumitkan trinitas ketuhanan, berhala kekhusyuâan juga sering disulit-sulitkan. Tak salah sebenarnya mengutip kisah bahwa âAli ibn Abi Thalib meminta dicabut panahnya ketika beliau shalat. Agar sakitnya tak terasa karena khusyuâ shalatnya. Tak salah juga meneladani âAbbad ibn Bisyr yang tetap melanjutkan shalat meski satu demi satu anak panah mata-mata musuh menancap di tubuh. Tapi apakah hanya itu yang disebut khusyuâ? Sang Nabi adalah manusia yang paling khusyuâ. Dan alangkah indah kekhusyuâannya. Kekhusyuâan yang seringkali mempercepat shalat ketika terdengar olehnya tangis seorang bayi. Atau memperpendek bacaan saat menyadari kehadiran beberapa jompo dalam jamaâahnya. Kekhusyuâan yang tak menghalanginya menggendong Umamah binti Abil âAsh atau Al Hasan ibn âAli dalam berdirinya dan meletakkan mereka ketika sujud. Kekhusyuâan yang membuat sujudnya begitu panjang karena Al Husain ibn âAli main kuda-kudaan di punggungnya. Sahabat, inilah jalan cinta para pejuang. Khusyuâ dan gelora kenikmatan ruhani hanyalah hiburan dan rehat, tempat kita mengisi kembali perbekalan dan melepas penat. Ini adalah jalan cinta para pejuang. Bukan jalan para pengejar kenikmatan ruhani, hingga harus mengulang-ulang takbiratul ihram sampai sang imam rukuâ. Ini bukan jalan para penikmat kelaparan yang ketakutan berkumur saat puasa tapi diam saja menyaksikan kezhaliman. Juga bukan jalan penikmat Kaâbah yang kecanduan berhaji sementara fakir miskin lelah mengetuk pintu rumahnya yang selalu terkunci. Senarai sejarah memberi pelajaran tentang para pengejar kenikmatan ruhani. Mereka jauh terlempar dari jalan cinta ini. Ada yang merasa diri menjadi mukmin yang baik; karena bisa menangis saat shalat, bisa terharu saat membagi zakat, bisa berdzikir hingga hilang kesadaran saat berpuasa, atau berhaji setahun sekali; terbuta mereka dari dunia Islam yang serak memangil-manggil. Inilah mereka yang selalu bicara agama sebagai urusan pribadi. Urusan pribadi untuk menikmati kesyahduan spiritual. Bagi mereka, alangkah nikmatnya shalat khusyuâ di atas sajadah mahal, dalam ruangan berpendingin, dengan setting pemandangan yang bisa diatur berganti-ganti. Khusyuâ adalah menikmati bacaan imam bersertifikat dari audio premium, dalam hembusan harum parfum aromaterapi. Jauh di sana, di jalan cinta para pejuang, Sang Nabi shalat di sela-sela jihad menegakkan syariâat. Dengan debu, dengan darah, dengan lelah, dengan payah. Yang lain, mencari pelarian dari tekanan dunia yang menghimpit. Menikmati rasa tenteram karena dzikirnya, rasa melayang karena laparnya, rasa syahdu karena gigil tubuhnya.
Ojo lali senyum :)
David (8 th) cah Klaten arep lungo, diterke mbok e nyegat bis. Kernet bis, "Suroboyo, Suroboyo, bu?". Mbok e David, "Pak tulung nggih, mengke nek pun tekan Jombang, lare niki dikandani. Kernet: "nggeh bu, tariiiikkk". Nang terminal Solo David takon kernet bis, "Wes cedhak Jombang durung Lik?". Kernet: "Durung lee ... jek suwe". Ora let suwe tekan Sragen, David takon maneh, "Wes tekan Jombang Lik?". Kernet: "Durung Lee ..... jik uuuaduuooohh". David bosen ora tekan-tekan. Akhire keturon. Bus terus mlaku arah Suroboyo. Ora kroso bis wes ngliwati Jombang. Kenek lali pesenane mbok e David. Bareng kelingan, kernet langsung omong nang sopir, "Duuh kang, aku duso nang bocah kui, karo nuding David seng lagi turu nggleser. Sopir, "Lho kenopo, to?". Kernet, "Mau mboke nitipke, yen tekan Jombang bocahe tulung kandanono". Sopir, "Wah, lha piye kowe kui. Jombang wes kliwat adoh", Jawab sopire, bingung. Tujune sopire apikan, gelem balik nang Jombang. Sak wise njaluk persetujuan penumpang liyane, mergo mesakke karo si David. Sak wise bis tekan Jombang, David digugah. Kernet, "Lee ...tangi lee. Wes tekan Jombang, ki", karo nggoyang goyang awakke David. David njenggirat, "Wes tekan Jombang lik?", Karo grusa grusu mbukak kantong, ngetokke sangune; sego sambel, lawuhe iwak asin. Kernet takon, "Arep mudhun kene le?". David, "Ora Lik..... wong aku arep nang Suroboyo. Mau mbokku pesen, sangune mengko dipangan nek wes tekan Jombang wae yo lee", jawab David karo muluk sego. Kernet, sopir, lan kabeh penumpang muni bareng: "WEDHUUUSS tenan cah iki. tiwase mbaliiik!"đđđ Sumber : message wa seorang sahabat
. Indahnya semesta alam sehingga aku tertegun Tinggi langit tak berujung satu simbol mahadaya Di tengah gelap sempurna bersinar seribu cahaya Melihat bintang bintang gemintang bukankah satu pertanda . Rasakan adanya Allah lihatlah tanda tandanya Lihatlah sepenuh jiwa indahnya ciptaan Allah . Di ufuk timur kunanti rona merah sang mentari Berganti dinginnya malam menjadi hangatnya pagi . Gadvo, Tanda-Tanda Nya #talangpadang #sawah #belakangrumah
Cinta itu bukan datang dan pergi. Ia tumbuh dan layu. Tanam dan rawat ia agar selalu berkembang, dan agar berbuah akhlak yang ranum dan manis. Cinta adalah nasihah. Kepada Tuhan, nabi dan kitabNya.
. Hidup di jalan Allah lebih berat daripada mati di jalan Allahâ (Abdul Aziz bin Baz) . âSebab memang jalan Allah, jalan islam. Adalah jalan yang terhormat dan penuh pengendalian diri. Ia adalah kebenaran dan kekuatan, keberkahan dan titian lurus, ketegaran dan keutamaan. Ikutilah jejaknya bersama umat ini, di dalam jamaah yang mengundang ridhaNya. Semoga Allah mengaruniakan taufiq kepada kitaâ (Hasan al Banna) . âDan akhirnya semua orang akan menuju Allah setelah matinya, tetapi berbahagialah orang yang telah menuju Allah sejak masih dalam hidupnya.â (Sayyid Quthb) . âJika kau telah berada di jalan Allah, melesatlah dengan kencang. Jika sulit, maka tetaplah berlari meski kecil langkahmu. Bila engkau lelah, berjalanlah menghela lapang. Dan bila semua itu tak mampu kau lakukan, tetaplah maju meski terus merangkak nyalang, dan jangan pernah sekalipun berbalik ke belakang.â (Asy Syafiâi) . Di jalan Allah, betapa beratnya beriman, betapa lelahnya berislam, dan betapa beratnya berihsan. Di jalan Allah, alangkah sukarnya ridha, alangkah peliknya ikhlas, alangkah mahalnya syukur, dan alangkah pedihnya sabar. Di jalan Allah, betapa sibuknya amal, betapa lelahnya dakwah, betapa mengurasnya jihad, dan betapa langkanya tawakkal. Di jalan Allah, alangkah menyitanya dzikir, alangkah penatnya tafakur, alangkah mengirisnya qonaâah, dan alangkah repotnya tawadlu. Begitulah yang kita lihat, berburu berkah itu alangkah beratnya. Tapi syukurlah kita tahu, bahwa di dalamnya ada banyak rasa nikmat. . âSesungguhnya, Pertolongan itu mengiringi kesabaran, sesungguhnya kelapangan itu mengiringi kesempitan, dan sesungguhnya bersama kesulitan, ada kemudahan menyertainya.â (Hr. Imam Ahmad) . Inilah yang kembali harus kita yakinkan pada diri, bahwa selalu ada bersusun susun rasa surga, di tiap bertumpuk tumpuk amal karya, yang dijalani dalam beriris iris asas makna, di lapis lapis keberkahan. . dirangkai oleh: Salim A Fillah

Anya is live and ready to show you everything. Watch her strip, dance, and perform exclusive shows just for you. Interact in real-time and make your fantasies come true.
Free to watch ⢠No registration required ⢠HD streaming
. Dari AbdâAllah ibn Masud bahwa Nabi SAW bersabda, âKedua kaki anak adam (manusia) tidak akan melangkah dari hadapan Allah pada hari kiamat sebelum ia ditanya lima hal. Umurnya, untuk apa ia habiskan. Masa mudanya, untuk apa ia habiskan. Hartanya, dari mana ia peroleh dan untuk apa ia gunakan, serta apa yang ia perbuat dengan ilmunya". (HR. At Tirmidzi) . âAllah Taâala mengabarkan bahwa mereka adalah fityah â yaitu para pemuda- dan mereka memiliki sifat lebih menerima kebenaran dan lebih besar mendapatkan petunjuk untuk meniti jalan yang lurus, dibandingkan para generasi tua yang sombong dan bersikeras untuk tetap dalam agama yang batil. Oleh karena inilah, kebanyakan orang (pada masa Rasulullah shallallahu âalaihi wa sallam, pent.) yang menyambut ajaran Allah dan Rasul-Nya shallallahu âalaihi wa sallam adalah para pemuda. Adapun generasi tua dari suku Quraisy, pada umumnya tetap berada pada agama mereka, tidaklah mereka memeluk agama Islam melainkan sedikit sajaâ. (Imam Ibnu Katsir) . #pemuda #melangkah #umur #harta #ilmu
Aku tak Mau Menghafal Doa Ini!
Aku adalah salah seorang guru di sebuah Taman Pendidikan Al-Quran (TPA) di salah satu kota besar di negeri ini. Hampir setiap maghrib aku habiskan waktuku bersama anak-anak kecil. Mengajari mereka membaca Al-Quran, menghafal doa-doa umum, dan menghafal surat-surat pendek bukanlah hal yang membosankan bagiku. Tawa canda mereka, kepolosan mereka, dan kenakalan mereka, seolah-olah membawa kebahagiaan tersendiri bagiku. Pada suatu pertemuan, setelah mendampingi murid-muridku dalam membaca Al-Quran, kuminta mereka untuk menghafal seuntai doa. Ya! Doa yang telah umum diketahui, yaitu doa untuk orang tua: RabbighfirlĂŹ waliwĂ lidayya warhamhumĂ kamĂ rabbayĂ nĂŹ shaghĂŹrĂ . Secara bahasa, terjemahan doa tersebut kurang lebih seperti ini, âYa Tuhan, ampunilah aku dan kedua orang tuaku dan sayangilah mereka sebagaimana mereka mendidikku di waktu kecilâ. Aku tak pernah meminta murid-muridku untuk menghafal seuntai doa kecuali dihafal juga terjemahannya. Seperti biasa, mereka yang telah berhasil menghafalnya dipersilakan pulang duluan. Kulihat murid-muridku menghafalkannya dan berusaha untuk menjadi yang pertama kali pulang. Satu per satu mulai menunjukkan hafalannya kepadaku. Mereka pun pulang setelah kunyatakan hafalannya diterima hingga tinggal tersisa satu anak lagi. Kudengar hafalannya tak pernah sampai selesai. âRabbighfirlÏ⌠waliwĂ lidayya⌠warhamhumĂ âŚâ, ucapnya terbata-bata berusaha mengingat apa yang ia hafal. Ia berhenti sejenak. Lalu ia mengulanginya lagi dari awal. Ia terus melakukan hal yang sama berulang-ulang. Akhirnya aku menimpali hafalannya, âKamĂ rabbayĂ nĂŹ shaghĂŹrĂ â. Rupanya, ia tak menghiraukanku. Ia kembali memperlancar potongan doa yang telah dihafalnya. Kutimpali lagi dan ia tak menghiraukanku. Pada kali yang ketiga, setelah kutimpali hafalannya, ia berhenti sejenak dan mendekatiku seraya berkata, âPak Ustadz, aku tak mau menghafal doa ini!â Dengan sedikit heran, aku bertanya, âLho, kenapa?â Dengan sedikit gugup, ia menjawab, âAyah dan Ibu sibuk bekerja, bilang sibuk dakwah dan mengajar. Sering sekali aku tidur di rumah hanya dengan bibi (asisten rumah tangga) atau bahkan sendiri. Jika keduanya sedang ada di rumah, aku tak pernah mendengar salah satu dari mereka membaca atau menghafal Al-Quran. Keduanya lebih banyak menghabiskan waktu di depan handphone atau laptopnya. Keduanya sering sekali membelikanku mainan tapi keduanya tak ada yang mau bermain denganku. Mainan itu hanya sebagai pengalih agar aku tak mengganggu pekerjaan mereka.â Aku menghela nafas panjang. âPak Ustadz, aku tak mau menghafal doa ini. Aku tak mau Allah menyayangi orang tuaku sebagaimana orang tuaku menyayangikuâ, tutupnya. Mataku berlinang. Kukatakan kepadanya, âSemoga Allah merahmatimu. Cukuplah menghafal doanya hanya RabbighfirlĂŹ waliwĂ lidayya warhamhumĂ dan kamu boleh pulang.â Kini aku mengerti, sayangnya kita kepada anak-anak kita boleh jadi adalah parameter sayangnya Allah kepada kita. Jadilah orang tua yg hebat, ayah bunda! Sumber: message wa seorang sahabat