Dalam sejarahnya sekulerimse lahir di Barat sebagai respon atas dominasi peranan agama dalam sosial-politik, dimana kekuasaan raja mendapatkan legitimasi dari institusi agama di Barat yang terkadang penguasa berlaku sewenang-wenang terhadap rakyatnya. Itulah embrio lahirnya ide sekularisme sebagai bentuk pemisahan antara agama dan politik. Dalam bentuknya arti sekulerisme ketika di ekspor ke luar negara-negara Barat, tidaklah dengan mudah dapat diterima, dan makna sekulerisme sendiri mempunyai interpretasi yang berbeda. Negara Barat sendiri ada yang menerapkan sekulerisme dengan makna tidak boleh menampilkan simbol-simbol agama di umum, makanya kita sering mendengar di Prancis adanya perlarangan menggunakan jilbab karena dianggap merupakan simbol dari agama tertentu, tetapi di Barat sendiri ada negara yang membolehkan penggunaan simbol-simbol agama di ruang publik. Dalam kenyataannya agama tidak bisa benar-benar hilang dalam kehidupan politik di Barat dengan adanya partai-partai yang berideologi agama.
Turki adalah negara Islam pertama yang melakukan sekularisasi terhadap negaranya, tetapi bentuk sekulerisme ketika dipimpin oleh Musthafa Kemal Attaturk adalah bentuk sekulerisme ekstrim, dimana bahasa Arab dihapus, muslimah dilarang mengenakan jilbab, banyak madrasah dan masjid ditutup dan dialihkan fungsinya, Al Quran dan shalat dilarang menggunakan bahasa Arab, dan simbol-simbol agama dihapuskan. Sebagai gantinya diperkenalkanlah sebuah gagasan nasionalisme yang berpijak kepada tradisi Turki kuno yaitu Turanisme. Namun, sekulerisme ekstrim tersebut tidak melenyapkan spiritualitas di Turki, ketika tahun 1950-an Adnan Menderes terpilih sebagai Perdana Menteri yang sebenarnya seorang tokoh liberal dan pro Barat melakukan langkah-langkah reformasi dan kebebasan terhadap agama yang ingin mengembalikan hak-hak umat Islam seperti larangan ziarah dicabut, masjid dan madrasah dikembalikan kepada fungsinya, dan adzan dikembalikan dengan menggunakan bahasa Arab. Langkah-langkah berani yang dilakukan Menderes membuatnya harus dihukum mati karena kudeta militer, dimana militer Turki adalah institusi yang menjaga idologi Kemalisme.
Perjuangan dalam mengembalikan hak-hak umat Islam tidak pernah surut, terutama dengan hadirnya sosok Necmetin Erbakan seorang Profesor lulusan Jerman. Erbakan adalah seorang sosok pejuang tangguh walau pernah di larang dan di kudeta oleh militer ketika menjabat sebagai PM Turki, tetapi tidak menyurutkan dalam berjuang mempertahankan identitas dan prinsip spiritualitas Islam di tengah-tengah sekulerisme. Mantan Presiden Indonesia BJ. Habibie memuji Erbakan sebagai sosok yang tangguh dan mampu menghadapi kezaliman demi kezaliman yang dihadapinya. Estafet perjuangan Erbakan kemudian dilanjutkan oleh anak didikanya yaitu Erdogan, walaupun pada akhirnya guru dan murid ini harus berpisah jalan, karena perbedaan pandangan dalam strategi perjuangan. Erdogan sendiri seorang yang pernah dipenjara hanya membacakan sebuah puisi religius, ketika dipenjara tersebut membuatnya berpikir ulang tentang perjuangan yang selama ini telah dia lakukan. Ketika mendirikan partai AKP, Erdogan menolak AKP disebut sebagai partai agama dan lebih menyukai disebut partai konservatif dalam tradisi demokrasi. Erdogan mengatakan partai tidak punya agama, AKP bukan partai agama, akan tetapi orang beriman merasa nyaman di dalamnya.
Pemikiran Erdogan lebih kepada akomodasi. Dalam menjelaskan posisi sekulerisme di dunia Islam, Erdogan berpendapat bahwa praktik sekulerisme di dunia Islam seharusnya merefleksikan pandangan negara yang lebih netral, berimbang, dan antikebijakan preferensial atas setiap warga negaranya. Negara harus memberikan kebebasan dan tidak boleh melakukan diskriminasi warga negaranya karena alasan agama. Pandangan ini menurutnya lebih adil, humanis, dan modern, karena negara dalam kondisi generiknya harus berada dalam posisi tersebut. Meski demikian netralitas tersebut sepenuhnya tidak menghalangi warga negaranya merefleksikan keyakinan dan penghormatan atas agama. “Saya adalah seorang muslim taat yang menjadi kepala negara dalam pemerintahan sekuler,” tandasnya.[1] Pendefinisan AKP terhadap sekulerisme cenderung menolak sekulerisme sebagai gaya hidup, dan menolak sekulerisme sebagai akhir dari filsafat sebagai regulator dalam sosio-politik. Pertarungan pelarangan jilbab selalu menjadi simbol pertarungan antara kubu sekuler dan islamis, dan Erdogan sendiri pernah tidak membawa istrinya dalam suatu pelantikan karena pandangan negatif terutama dari kubu militer.
Indonesia sendiri pergulatan antara sekulerisme pernah menjadi polemik ketika Nurcholish Madjid mengulirkan isu sekularisasi, namun definisi sekularisasi Cak Nur berbeda dengan sekularisasi Barat. Sekulerisme menurut Cak Nur adalah umat Islam harus bisa membedakan mana yang sakral dan profan, karena menurutnya terdapat kebingungan di umat Islam yang tidak bisa menempatkan antara yang sakral dan profan dalam agama. Cak Nur menganggap partai politik bukanlah sesuatu yang sakral, karena itu Cak Nur dengan istilah terkenalnya Islam Yes, Partai Islam No. Semboyan tersebut kalau kita mempelajari pemikiran Cak Nur bukanlah suatu pengertian anti terhadap partai Islam, justru ketika partai bukanlah dianggap sesuatu yang sakral, membuat sikap lebih fleksibel dan tidak mempunyai beban. Tidak aneh dengan pemikiran seperti itu Cak Nur pada tahun 1977 pernah berkampanye untuk PPP, walaupun selanjutnya pernah terlibat dalam konvensi partai Gokar.
Menjadi problematik di negara yang mayoritas beragama Islam, jika sekularisme dimaknai ala Barat, karena sikap umat Islam terhadap politik dan negara bisa dibagi menjadi tiga sikap. Pertama, mereka yang mempunyai pemikiran bahwa Islam dan politik tidak bisa dipisahkan, kedua yang mempunyai pemikiran Islam dan politik adalah entitas yang berbeda dan tidak mempunyai keterkaitan, dan ketiga mereka yang berpikiran Islam dan politik adalah sesuatu yang berbeda, tetapi keduanya mempunyai hubungan bersifat substanisal tetap ada. Banyak umat Islam yang mempunyai pandangan bahwa Islam adalah sebuah agama yang komprehensif yang mengatur segala aspek dalam kehidupan manusia, karena itu Islam tidak bisa dipisahkan dari kehidupan politik maupun kehidupan yang lainnya.
[1] Ahmad Dzakirin, “Kebangkitan Pos-Islamisme Analisis Strategi dan Kebijakan AKP Turki Memenangkan Pemilu”, Solo: PT Era Adicira Intermedia, 2012, hal 73