"Apa rasanya sedikit ter-isolasi dari dunia luar?" Katanya sambil menyodorkan segelas kopi dingin.
Rasanya? Tenang, dan ada rindu bergemuruh.
Ada cukup waktu untuk berinteraksi dengan diri sendiri, alam, dan waktu. Memberi ruang merenung, kontemplasi, dan refleksi diri secara ekslusif dan intensif. Dipaksa kuat secara emosional dan spiritual
Di lain sisi, menjadi begitu rapuh. Tiap kilatan masa lalu menjelma rindu yang nyata seperti bayangan dibawah cahaya. Betapa pentingnya orang terkasih, dan bentuk kesadaran tertinggi dari sosok orang tua, guru, dan para teman yang hadir sesekali menemani.
Rasanya bukan rindu pada pasangan. Lebih kepada rindu pada asal mula perjalanan, rindu pada sosok orang tua yang mengorbankan semua cara untuk anaknya, suatu energi yang mampu meneteskan air mata, merasakan tiap doa dalam hembusan nafasnya.
Rindu pada guru yang mengajarkan banyak hal menyajikan cakrawala membentang, dan mendekap dengan kasih sayang yang tulus dibalut sifat acuh.
Mungkin beberapa orang merasa kekurangan waktu. Bisa disebabkan mereka tidak pernah memiliki waktu. Berhenti sejenak dan merasakan detik yang sesaat. Kamu akan rasakan betapa banyak kasih sayang Tuhan pada hamparan kehidupan.
Kurasa wajar Kanjeng Nabi menyiksa dirinya dengan ibadah walaupun sudah mendapatkan jaminan surga. Manusia yang menjadi umatnya ini kurang begitu tau caranya bersyukur dan merasakan betapa nikmat ibadah seperti yang para orang pilihan rasakan.
Ketidak tahuan, keterbatasan, pengingkaran, kelalaian, dan kemunafikan. Semua adalah batas dan kedok permukaan yang menutupi tiap cahaya yang dimiliki manusia.
Maaf. Terlalu omong kosong. Jangan didengarkan.
"Menarik. Pengalaman yang menarik." Katanya ditutup senyum hangat dan sore yang mulai gelap.