TW: gross, s*x, force, g*ngb*ng
Aku adalah anak tunggal di keluarga ini, keluarga Prasatyo. Ayahku adalah seorang juragan sawah di Desa Giriputih, ibuku hanyalah ibu rumah tangga biasa. Ibu yang mengurusku dari kecil, beliau menjadi ibu rumah tangga karena adat istiadat desa ini yang mengharuskan perempuan untuk menjadi istri dan ibu rumah tangga. Maka dari itu, ibu tidak pernah bersekolah. Ibu bertemu bapak pada umur 14 tahun, saat itu ibu sedang membantu Mbah putri mencuci pakaian di kali. Setiap perempuan yang sedang mencuci pasti hanya memakai selembar kain jarik untuk dijadikan kemben karena mereka tidak ingin basah-basahan dengan pakaian melekat. Tak jarang juga perempuan di sana membasuh diri di kali itu karena airnya langsung dari pegunungan Andasare.
Kali itu menjadi tempat berkumpulnya perempuan dari segala usia, bagaikan sungai yang dipeuhi bidadari. Kepala desa, Pak Kyai membuat aturan bahwa penduduk laki-laki tidak boleh mendekati kali saat siang hari, hanya diperbolehkan dari sore sampai malam. Untuk menghindari terjadinya perzinahan. Semua penduduk begitu taat akan peraturan Pak Kyai, beliau begitu dituakan karena rumornya beliau pernah menginjakkan kaki ke tanah suci sehingga beliau di sebut Pak Kyai oleh penduduk desa yang tidak pernah mencicipi bangku sekolah ini
Tapi tidak dengan Bapak, Bapak tidak pernah menjunjung tinggi kepala desa itu. Bapak tidak pernah menuruti perkataan siapapun bahkan orang tuanya sendiri. Tak ayal membuat Bapak sering mendapat sabetan dari Mbah kung. Pada usia 16 tahun akhirnya Bapak merantau pergi meninggalkan desa, ia tak tahan akan kebodohan penduduk desa itu. Bapak selalu merasa dirinya lebih pintar dari siapapun yang ada di desa Giriputih. Saat dalam perjalanannya, Bapak bertemu dengan Pak Kanjar, seorang pedagang sayur di kota. Pak Kanjar yang iba melihat Bapak akhirnya mengajak Bapak untuk bekerja dengannya menjadi buruh tenaga. Petualangan bapak pun dimulai, sesampainya di kota Bapak merasa kagum akan kemewahan yang ada karena penampakannya berbeda di desa Giriputih. Bapak diperbolehkan tinggal di kios sayur Pak Kanjar, sekalian menjaga tempat itu dari maling, Bapak hanya tidur beralaskan kardus di atas tanah. Tidak ada keramik lantai indah yang menutupi tanah keras itu, Bapak bertahan dan terus menjadi pekerja setia Pak Kanjar karena bapak bertekad untuk mengumpulkan uang banyak. Pergaulan Bapak melebar, Bapak berteman dengan preman pasar sehingga darisitu Bapak tidak hanya menjadi buruh tenaga tetapi juga merangkap menjadi preman pasar yang suka melakukan pungli kepada pedagang lain kecuali Pak Kanjar.
Setelah merantau selama 11 tahun, Bapak akhirnya kembali ke Desa Giriputih dengan membawa bekal lebih banyak, Mbah kung yang tidak menyangka anak semata wayangnya kembali pun mendapat serangan jantung saat Bapak kembali menginjakkan kaki di tanah Giriputih. Bapak dirundung duka karena tujuannya membanggakan diri di hadapan Mbah kung gagal, ia bertekad untuk menjadi juragan tanah demi membalas budi Mbah kung yang sudah merawatnya sejak bayi, ia mulai membeli tanah-tanah orang desa dan Bapak mulai menanam padi. Sebagian tanah dijadikan sawah dan sebagian lagi dijadikan lahan ternak lele.
Dengan pengetahuan berbisnis yang bapak pelajari selama merantau, dengan cepat Bapak yang tadinya hanya orang miskin, berubah menjadi juragan sawah. Bapak yang sudah dicap sebagai bos besar oleh orang desa menjadi incaran kaum gadis yang masih melajang. Usia bapak yang menginjak 30 tahun belum pernah sekalipun dia membawa perempuan ke rumah, ia didapuk sebagai bujangan paling diincar. Hingga pada akhirnya Bapak bertemu ibu saat ibu berusia 14 tahun.
Larangan Pak Kyai tidak bapak dengarkan, Bapak saat itu memasuki kali di siang hari dan di sana ia melihat gadis cantik yang sedang mencuci pakaian membantu ibunya. Saat itu juga Bapak jatuh hati dan menikahi Ibu. Ibu menjadi bahan omongan satu kampung karena banyak gadis yang iri akan posisinya, bagaimana tidak seorang bujangan tampan dengan kekayaan melimpah memilih gadis kecil itu.
“Ajeng sarapan” Panggil Ibu dari bawah
Aku berhenti melamun menarik pikiran sedari tadi sambil bernostalgia tentang kisah Bapak dan Ibu, aku selalu mendengar cerita itu setiap malam dari Ibu. Menandakan seberapa Ibu mencintai Bapak
Aku bergegas menguncir rambut panjangku dan membubuhi sedikit perona wajah di pipi dan bibirku. Ini hari terakhir aku sekolah, aku sudah berumur 18 tahun sekarang. Tinggi badanku 168 cm dengan berat 75 kg, aku tau aku sedikit gemuk. Kerap kali aku tidak percaya diri dengan bentuk tubuhku, tetapi Ibu selalu menenangkanku ia berkata bahwa tubuhku merupakan tubuh idaman para pria. Semenjak pernikahan Bapak dan Ibu, Desa Giriputih perlahan terlepas dari kebodohan mendarah daging. Semakin hari semakin banyak warga yang mulai membuka pikirannya akan pentingnya mengenyam pendidikan, ini bermula ketika Bapak dan Ibu menyekolahkan aku dan warga desa juga mengikuti jalan itu
Aku ingin meneruskan mimpiku di perguruan tinggi tapi Bapak melarang, dia ingin anak gadisnya di rumah membantu mengurus sawah. Aku tadinya berontak karena aku juga ingin merantau ke kota seperti Bapak dulu tapi Bapak bersikeras melarangku pergi. Aku akhirnya kalah karena tidak berani membantah Bapak. Bapak mempunyai sahabat karib bernama Broto, dia sudah aku anggap sebagai pamanku sendiri. Pria berumur 38 tahun dengan perawakan tinggi besar dan brewokan semakin membuat ia terlihat jantan. Broto juga menjadi salah satu karyawan Bapak, ia orang kepercayaan Bapak.
Aku keluar kamar dan turun ke bawah untuk sarapan, hari ini ibu memasak ayam goreng dan sop ceker. Makanan kesukaanku, Ibu selalu mengerti selera anaknya. Aku sangat menyayangi Ibu
Setelah menyelesaikan sarapan aku berpamitan dengan Ibu dan langsung pergi ke sekolah, Bapak belum bangun dari tidurnya. Bapak jarang bangun pagi.
Waktu menunjukkan pukul 11:00 siang dan aku bergegas pulang, karena masa sudah berada di penghujung tahun jadi sudah tidak ada pelajaran lagi. Hanya tinggal menunggu kelulusan. Aku berpamitan dengan Asep, teman karibku. Perjalanan pulang aku tempuh dengan berjalan kaki sama seperti tadi pagi saat aku berangkat sekolah.
“Ajeng pulang” teriakku bergitu sampai depan pintu rumah. Tidak ada yang menyahut
Memang rumah ini akan sepi ketika siang karena Bapak pergi bekerja dan Ibu entah ke mana, aku pergi ke dapur dan menuang air putih dari teko tanah liat itu. Cuaca rasanya sangat panas aku perlu menyegarkan diri. Saat menandaskan minumanku, aku melihat sepucuk kertas di meja yang ditindih dengan gelas yang lain
"Nak kalau kamu sudah pulang, tolong kamu tuang masakan ibu di panci ke rantang makanan di laci ya. Lalu kamu antarkan ke gudang untuk Broto " ini tulisan Ibu, dan memang sering Om Broto diberi makan oleh Ibu
Sebenarnya aku merasa janggal dengan ibu yang terlalu perhatian dengan Om Broto tapi ah sudahlah bukan urusanku. Aku pun menuangkan sop ceker Ibu ke rantang, satu potong ayam goreng dengan sambalnya, lalu kutuang juga nasi secukupnya. Aku bergegas ke gudang karena takut Om Broto sudah menunggu.
Kulihat dari kejauhan Om Broto sedang duduk merokok di bawah pohon sendirian, jikalau aku bukan keponakannya aku akan jatuh akan pesona Om Broto. Walaupun sudah lanjut usia, penampilan O m Broto tidak seperti pria tua pada umumnya. Badan lelaki itu lumayan kekar dengan perut sedikit buncit akibat hobinya meminum tuak
"Om Broto ini makanan dari ibu" ucapku ketika jarakku sudah dekat dengannya
Om Broto menerima makanan itu, "Wahh terima kasih ya cantik, titip salam ya untuk ibumu" ucap Om Broto dengan senyum 3 jarinya. Giginya agak kuning karena kretek yang sering dihisapnya
"Kamu abis ini mau kemana? Ikut om sebentar yuk?" Lanjut Om Broto sambil sesekali menghisap batang rokoknya. Aku yang bosan karena di rumah juga tidak ada orang akhirnya setuju, Bapak dan Ibu pasti tidak akan khawatir karena hari masih siang.
"Tapi jangan malem-malem ya om pulangnya, nanti Bapak marah" ucapku karena aku tau betapa protektifnya Bapak kepadaku
"Iya cantik, kamu masuk duluan aja. Om mau ambil beberapa barang" balas Om Broto beranjak memasuki gudang
Akupun memasuki mobil tua Om Broto yang sedikit bau, bau aneh yang tidak pernah aku temui tapi aku entah mengapa suka bau itu. Aku melihat Om Broto yang memakai celana jeans lusuh dengan kaus kutang yang memperlihatkan pahatan otot dan perut buncitnya. Aku membayangkan diumur dia yang matang apakah ia pernah menjamah seorang gadis? Gadis perawan sepertiku contohnya.
"Kamu tenang aja ini bakalan seru kok" kata Om Broto sambil menyalakan mobil
Perjalanan ditempuh selama 20 menit, akhirnya kita tiba di satu tempat, semacam bekas pabrik tua. Di sana aku melihat tiga pria matang seusia Om Broto sedang berdiri seperti menunggu kedatangan seseorang. Mereka tidak tampan tetapi aku suka bentuk badan mereka yang liat dan kokoh. Dengan rokok mengepul di sela bibir dan jari membuat mereka terlihat lebih jantan. Ada rasa aneh yang menggelenyar di tubuhku, seperti ada keinginan liar merasuki pikiranku. Aku ingin mereka menyentuhku.
Kita berdua keluar dari mobil dan berjalan menuju tiga lelaki tadi
"Sapri, Indra, Tejo, ini keponakanku. Cantik bukan? Hahaha" Om Broto merangkul pinggangku
"Broto, beruntung sekali kamu. Bajingan macam kamu punya keponakan secantik ini, aku jadi tidak sabar" kata om-om botak berbadan agak gempal dengan kulit kecoklatan terbakar matahari bernama Sapri. Satu-satunya yang tidak berotot diantara mereka berempat
"Ayo kita mulai" kata yang lain, dengan tato di lengan atasnya bernama Indra.
Pinggangku masih dirangkul Om Broto, aku yang penasaran sekaligus takut hanya bisa diam. Aku dibawa ke dalam bekas pabrik itu, teru melangkah ke dalam dan memasuki pintu yang ternyata ruangan kosong. Di ruangan itu terdapat satu pintu lagi dan ketika pintu itu dibuka terdapat tangga bawah tanah. Ruangan bawah tanah itu lumayan besar. Terdapat ranjang besar, meja dari besi yang lumayan besar, banyak rantai menggantung, satu buah televisi, dan satu unit pendingin ruangan.
Suara pintu terkunci menggema, aku yang kaget ditertawakan oleh om-om rambut cepak dengan gigi yang kuning mengerikan. "Nah sekarang kamu tidak bisa keluar hahahaha, apa kamu tau apa yang akan kita lakukan di sini?" Kata si cepak yang aku tau bernama Tejo
"Aku tidak tau, Om Broto ini ada apa?" Tanyaku takut
"Maafin om ya, tapi om sudah terlanjur janji sama mereka" Balasan Om Broto tidak membuatku puas, malah membuatku tambah takut
Mereka pun duduk di salah satu sofa di sana, sempat hening beberapa menit dengan tatapan mereka yang seakan menelanjangiku. Aku takut dengan orang-orang asing itu ditambah Om Broto seperti bukan seperti Om Broto yang kukenal. Tetapi tidak dapat kupungkiri aku juga suka perasaan ini, malu dan terangsang.
"Lepaskan semua pakaianmu, aku hitung sampai sepuluh" kata Sapri
Aku terkejut akan perintah itu
"Tidak mau! Kalian biadab akan kuadukan pada Bapak!" Teriakku
"Oh ayolah sayang, kamu tidak usah munafik seperti itu. Om tau kamu sering membaca cerita porno setiap malam. Om juga pernah lihat kamu masturbasi depan kaca lemarimu, telanjang. Memanggil-manggil nama Om. Berharap Om bisa di situ untuk memuaskanmu." Ucap Om bRoto semakin meruntuhkan harga diriku
Aku kaget bukan main, "ba-bagaimana om bisa tau?"
"Om tau semua yang terjadi di desa kecil ini, bahkan om tau kisah kelam ibu dan ayahmu hahahaha. Apa kau tau, kau bukanlah anak kandung dari ibu dan ayahmu"
"Ga mungkin om, om jangan mengada-ngada ya!" Ucapku kaget, tidak mungkin ia berkata seperti itu pada anak bosnya sendiri
"Lihatlah pelacur bodoh ini, membuatku terangsang" kata Om Broto sambil menyeringai seram
"Ya akupun terangsang dengan ocehannya" kata Indra
"Buka pakaianmu atau kusebar video kamu masturbasi depan kaca itu!" Tegas Broto
Om Broto mengeluarkan handy cam dan menayangkan videoku yang sedang memuaskan diri di kamar
Aku pasrah, aku takut video itu sampai ke Bapak dan Ibu
"Ba-baik" kataku sesegukan
Aku telah melucuti pakaianku, aku merasa malu tetapi ada rasa asing yang aku sukai, tatapan liar mereka. Gerakan tangan mereka yang meremas kejantanan mereka masing-masing. Membuatku seperti berada di cerita porno yang kubaca tiap malam
"Naik ke ranjang itu dan bersandarlah di kepala ranjang, buka kakimu lebar-lebar. Kami ingin melihat harta karun kami" perintah Tejo
Aku mengikuti perintah mereka, lalu dengan rasa malu dan aneh aku mulai menikmati permainan ini
"Sekarang sentuh clitmu, sentuh perlahan dan usap dia dengan tatapan matamu lurus ke depan, menatap kami!" Ucap Tejo
Aku mulai menyentuh clitku, kacang kecil di vaginaku. Bagian tubuh favoritku saat aku memuaskan diri. Aku telusuri lubang vaginaku, sambil mengusap clitku dan menatap mata mereka satu-satu. Ada yang berdenyut pelan di bawah sana. Aku marah pada diriku sendiri yang telah berkhianat
"Sekarang Om akan memutar video porno, kamu bisa menonton ini dan masturbasi depan kami. Kamu harus masturbasi dengan liar dan berisik, dan jika ingin klimaks kamu harus bilang! Mengerti?!" ucap Om Broto galak. Ia memasukkan kaset ke dalam dvd lalu menayangkan video penuh dosa itu
"Iya om" ucapku dengan mata layu
Aku menonton video porno di televisi itu, ahh aku basahhh mengetahui bahwa fantasiku perlahan terwujud. Aku dilihati saat masturbasi, aku bermain terus bermain sampai aku rasa aku ingin klimaks.
"Om aku mau keluar nngghhh"
"Stop!" Sapri memerintahkan tanganku untuk berhenti menggoda klitorisku
Om Broto mendatangiku dengan pukulan lalat, ia menggunakan pukulan itu untuk menelusuri vaginaku, aku terlena terbua dengan sensasi baru itu dan ketika aku sedang menikmati tiba-tiba
3x pukulan di vaginaku, anusku pun berdenyut ingin meminta lebih.
Sakit dan nikmat, perpaduan rasa yang aku rasakan sekarang. Tak lama aku mendengar bunyi rantai beradu. Aku melihat Indra menurunkan rantai-rantai yang menggantung itu, lalu ia mengambil borgol dlalu berjalan ke arahku. Jantungku berdegup kencang, sial vaginaku tambah basah.
"Bawa tanganmu ke belakang" kata Indra ketika hendak memasangkan borgol di kedua tanganku
Tejo pun datang membawa tali tambang, dia langsung mengikat kakiku. Paha dan betisku dijadikan satu dan dia mengikat tali itu di masing-masing rantai di kedua sisi tubuhku, aku tak berdaya sekarang. Tejo membopongku ke atas meja besi itu, memasangkan peralatan yang tidak aku ketahui dengan rantai itu. Aku menggantung dengan kaki terbuka lebar dan tangan di belakang, dengan posisi tidak terlalu tinggi, payudaraku pas di depan wajah mereka saat berdiri. aku suka sensasinya, aku lihat mereka memandangiku seakan-akan aku adalah barang terindah di bumi.
"Sial, penisku mengeras. Lihatlah vaginanya, merah merekah dengan garis kehitaman. Perawan cantik dengan bulu kemaluan lebat" ujar Sapri sambil meremas penisnya
"Coba kamu lihat anusnya, cantik sekali tidak terdapat bulu kemaluan di sana. Aku ingin segera menyiksanya" ujar Indra
"Vaginanya berbulu lebat, aku tidak suka. Akan kurapikan dulu" ujar Broto sambil berlalu mengambil cukuran di meja tadi.
"O-om jangan aku mohon, itu akan melukaiku" ucapku gugup
"Hahahahaha tenang saja cantik, om sudah biasa membantu para wanita kesepian mencukur bulu kemaluan mereka. Bahkan om pun pernah membantu ibumu dulu" seringai Om Broto pun muncul
Aku terkejut, sebegitu dekatkah hubungan Ibu dengan Om Broto??
"Keluarga gila hahaha aku suka, kapan aku dapat menyetubuhi istri bosmu? Perempuan semok di Kampung ini hanya dia seorang." ucap Tejo
"Ya Broto aku jadi penasaran, bagaimana rasa vagina dia. Dia kan dulu pelacur kampung sebelah, aku pernah melihat vaginanya yang tembam dan bergelambir" ucap Sapri
"Setelah anaknya, ibunya nanti kita habisi hahahahaha" tambah Om Broto sambil mengambil cukuran di brangkas dan sabun cair di westafel
Om Broto pun menghampiriku dan mengoleskan sabun itu di vaginaku, dengan perlahan ia mencukur bibir vaginaku. Tangannya yang satu tak tinggal diam, dia menelusuri anusku dan sesekali menyentuh clitku.
Om Broto pun membilas vaginaku yang sudah dia cukur, rasanya kesat dan sedikit gatal. Indra dan Sapri pun sudah melepaskan baju mereka. Sial kenapa mereka sangat sexy dengan kulit coklat gelap akibat terbakar matahari
"Sayang untuk permulaan biar Indra dan Sapri yang memulai ya, Om nanti belakangan bersama Tejo" ucap Om Broto seraya meremas payudaraku pelan
Aku hanya bisa menatap mereka sayu dan pasrah. Sapri menghampiriku dengan perlahan, ia langsung menghirup aroma vaginaku dengan rakus sambil memegangi kontolnya yang telah tegang
Sedangkan Indra berada di belakang tubuhku, dia meremas kuas payudaraku memainkan putingku yang sensitif. Putingku dipelintir, dan ditarik kencang. Sambil bibirnya menelusuri leherku, dapat kucium aroma rokok menguar dari mulutnya.
"Berlianku, sudah lama aku menanti saat ini tiba. Vagina perawanmu, tak akan kuberi ampun" ucap Sapri sambil mengusap dan menusukkan vaginaku dengan satu jarinya
"Yaaa payudara remaja memang terbaik, sintal dan kencang aku suka. Dengan puting kecil kecoklatan ini akan kesedot habis hahahahahahaha" ujar Indra
"Yaahhh mmmhhh Ommmh" aku kelepasan mendesah dan memanggil Om Broto
" lihatlah Broto keponakan kecilmu menyukainya, ia memanggilmu tadi. Dasar jalang kecil sudah tau bacaan porno" ucap Sapri
Indra pun menjauh dan mengambil jepitan jemuran, seperti jepitan yang selalu dipakai ibuku saat menjemur pakaian. Ia pun menjepit kedua putingku dari belakang, arrgghh sial lagi-lagi aku diterjang rasa asing yang anehnya aku suka.
"Lihatlah dia sangat cocok dengan jepitan ini, apa kau tau jepitan ini aku ambil dari rumah teman yang pernah dipuaskan ibumu dulu. Dia menjepit bibir vaginanya dengan jepitan ini" ujar Indra
Aku hanya terdiam membayangkan betapa kelamnya masa lalu ibuku dulu, aku merasakan sapuan lidah di vaginaku. Akkhh sensasi apa ini? Aneh dan nikmat? lidah itu menjilat klitorisku dan menjilati sekitar bibir vaginaku. Kulihat Sapri sangat menikmatinya, matanya melihat mataku yang sayu. Ia julurkan lidahnya ke dalam vaginaku, menusuk-nusuk lobangku, panas aku merasa panas aku tidak ingin mereka berhenti. Saatku ingin keluar Sapri menghentikan gerakan lidahnya, ia menjauh untuk mengambil sesuatu.
"Nah nak sekarang latihan ya, aku akan memasukkan benda ini ke dalam anusmu. Kulihat cairan vaginamu sudah cukup becek, tapi tenang saja akan kutambahkan pelumas supaya tidak terlalu sakit" ujar Sapri sambil menghampiriku
aku seperti pernah melihat benda itu di buku, aku lupa namanya. itu berbentuk kecil bulat dengan ujung yang lebih kecil dan terdapat tali di belakang benda itu.
Ia mengusap-ngusap anusku dan membleberkan cairan beningku. Tak sampai disitu ia mengambil sesuatu lagi, saat dibuka itu berbentuk gel. Dan ia mengolesi benda itu dengan gel begitupun anusku. Aku merasa sangat basah sekarang.
"tenang dan sebisa mungkin buka anusmu!" Tegas Sapri
"Akkkhh sakitt stopp!!" aku berteriak karena sakit yang aku rasakan
"Diam!" ujar Sapri memerintah
Sapri berusaha memasukkan benda itu perlahan, keluar-masuk sampai benda itu masuk semua ke anusku. Aku merasa mulas dan penuh.
"Indah sekali" kata Om Broto takjub
Aku berusaha beradaptasi dengan benda ini, sakit tapi anehnya aku suka. aku tak mengerti dengan diriku sendiri. apakah aku bukan gadis polos lagi sekarang? Om Broto sudah mengetahui rahasia tergelapku, aku takut ia mengadukan itu pada ibuku. apa yang harus aku lakukan sekarang? aku tidak menemukan jalan keluar.
Detik demi detik berlalu cepat aku sudah tidak tau pukul berapa sekarang, yang aku tau tubuhku sudah lemas. benar-benar lemas dan lapar, aku tidak bisa berpikir jernih tetapi aku mendengar sesuatu. suara gedoran pintu terdengar keras disertai teriakan seseorang, teriakan yang pernah kudengar sebelumnya.
"Broto buka pintunya sialan!! aku tau kau di sana bersama putriku!"
BAPAK?! itu Bapak, aku tidak salah dengar. ya Tuhan terima kasih, terima kasih Engkau mendatangkan Bapak. Aku meneteskan air mata penuh syukur, penyiksaan ini akan segera berakhir. Aku tidak peduli lagi jika Om Broto akan mengadukan perlakuan bejatku tiap malam pada Bapak. Aku yakin Bapak akan membelaku dan mereka akan dipenjara!
Kulihat Om Broto berhenti memainkan tubuhku dan beranjak pergi membukakan pintu, Sapri, Tejo, indra bergerak panik memakai pakaian mereka masing-masing. aku tidak dilepaskan?! biadap! biarlah ini menjadi bukti kebejatan kalian!
"Sialan kalian semua telah menculik putriku! membawanya ke tempat hina ini!" ucap Bapak memarahi mereka dengan geram
Sapri, Tejo, Indra, hanya bisa terdiam dan menunduk takut. ya bagus bajingan biadap! akan kuadukan semua kepada Bapak.
"Bagas tenang dulu, gadismu belum kami perawani. kami baru melatih anusnya" ucap Om Broto tenang
Bapak memukul Om Broto dengan kencang sampai hidung Om Broto mengeluarkan darah
"Itu balasanmu karena telah menculik putriku!!" ucap Bapak
Bapak menghampiri Sapri, Indra, Tejo dan memukuli mereka semua sampai babak belur. Tidak pernah kulihat ayah seganas ini. Ketiga pria itu hanya terdiam tidak membalas pukulan Bapak, karena mereka tau bapak salah satu orang yang disegani di desa ini
"Itu balasan kalian karena telah menyentuh gadisku dengan tangan kotor kalian!!" ujar Bapak
Bapak belum menghiraukan aku
Bapak menengok dan bergegas menghampiri aku
"tolong Ajen Pak, tolong lepaskan Ajeng" ucapku lemas
Bapak hanya memandangiku dalam selama beberapa menit, ia seperti memikirkan sesuatu di dalam kepalanya.
"maafkan Bapak sayang, akan Bapak lepaskan" ucap Bapak melepaskan tanganku, ia juga meraih benda kecil di anusku tanpa canggung dan melepasnya cepat. Akkhh ada rasa yang hilang di bawah sana ketika benda itu terlepas dari anusku.
Aku diselimuti kemeja besarnya, dan dan ia menggendongku seperti bayi koala, kami keluar dari ruangan ini. dan kulihat Om Broto menyeringai tipis seperti mengetahui rahasia kelam Bapak.
Aku merasa aneh, ada apa dengan semua ini? kenapa Om Broto begitu tenang dengan kemarahan Bapak?
Entah bagaimana caranya aku telah sampai rumah, rumah berlantai dua dengan cat berwarna hijau muda. terlihat asri dikelilingi kebun milik Ibu. Sesudah bapak melepaskanku, aku langsung jatuh terlelap karena kehilangan tenaga
Aku ditidurkan di kasurku, aku masih lemas dan memilih untuk tidak memikirkan kejadian tadi
"Kamu mau mandi atau makan dulu sayang? maafkan Bapak yang telah lalai menjagamu" ucap Bapak dengan wajah bersedih
"Ajeng mau makan, Ajeng lapar" ucapku
Bapak menyajikan nasi dan lauk-pauk yang Ibu masak tadi pagi, aku makan dengan lahap. Aku benar-benar kelaparan, masakan Ibu sangat memanjakan lidahku, tak kusadari Bapak melihatku dengan tatapan yang intens, seperti sedang melihat peliharaan kesayangannya sedang makan??
Aku sudah menghabiskan makananku, aku ingin mandi karena tubuhku sangat lengket dan bau asam. Ketika aku beranjak Bapak menghentikanku dan bertanya apakah aku mau dimandikan olehnya. Aku menolak dan berjalan ke kamar mandi dengan tertatih, aku berada di kamar mandi cukup lama karena memikirkan peristiwa tadi. Memikirkan kebenaran tentang masa lalu Ibu yang kelam, bejatnya Om Broto bersama kawannya, dan juga rahasia gelapku sudah terbongkar. tinggal menunggu waktu Om Broto akan mengadukan itu pada ayah.
Aku keluar kamar mandi dengan handuk melilit tubuhku, aku menuju lemari kecilku. aku memilih baju untuk tidur, aku terlalu lelah dan syok untuk beraktivitas disisa hari ini.
Aku terbangun dari tidur dengan mata yang masih berat, aku tidak tau pukul berapa sekarang yang kutau aku tertidur cukup pulas karena ada cetakan air liur di bantal. Sayup-sayup kudengar percakapan beberapa orang di luar kamar, aku penasaran apakah ibu sudah pulang? aku ingin keluar tetapi...
"Dia milikku Broto, gadis itu sudah jadi millikku saat pertama kali ia membuka mata. kau dan teman sialanmu tidak ada hak menyentuh dia. hanya aku yang boleh!" ucap Bagas
Aku termangu diam mendengar ucapan Bapak
"Hahaha maafkan aku pak tua, dia begitu menggiurkan. Bahkan Mila istrimu kalah menggiurkan dibanding dia, aku janji tidak akan ada lagi pria di desa ini yang bisa menyentuhnya" ucap Om Broto sambil menghembuskan asap rokoknya
"Cukup Mila yang kau perkosa bersama teman-temanmu, gadisku jangan. perawan semok itu anakku, anak angkat yang akan kujadikan budak pribadiku" ucap Bapak
"Kau ingat berapa kali aku dulu sering melecehkan ia sewaktu ia tidur, aku sengaja menyuruh Mila menaruh obat tidur di minumannya. supaya setiap malam bisa kujilati vagina kecil itu. vagina merah tanpa bulu kesayanganku. ahhh hahahhaa berbeda dengan bentuk yang sekarang, kulihat tadi vaginanya berbulu pendek. apa kau cukur? tanya Bapak
" Hahahahah ya, aku suka vagina botak" ujar Om Broto
Mereka terus berbincang kotor tanpa mempedulikan waktu yang terus berjalan, aku tidak tau harus bagaimana, bapakku sendiri- ralat dia bapak tiriku, seseorang yang kukira bisa menolongku ternyata adalah dalang yang membuatku mengalami kejadia tadi siang. Tak lama aku mendengar suara Ibu, ia pulang. Aku tidak tau Ibu dari mana, ia memang sering pergi keluar saat siang dan pulang malam dan Bapak tidak mempermasalahkan itu.
"Milaku sayang sudah pulang rupanya, sudah berapa batang kau masuki? hahahaha" tanya Om Broto
"Broto sejak kapan kamu di sini? aku dari Kampung Sedayu karena ada arisan di sana, aku sedang tidak meinginkan batang hari ini" ucap Ibu
"Mila apa kau tau gadisku sudah dikotori oleh Broto" ujar Bapak
"Ia diculik selagi mengantarkan makanan, dibawa ke tempat biasa, bersama Sapri, Indra, Tejo" tambah Bapak
"Oh ya? kau sudah melakukan apa? apa dia sudah diperawani? apa kau mau aku mengajarinya?" ujar Ibu dengan riang
APA?! Ibu...bagaimana mungkin....keluarga gila
"Belum sempat kuperawani, Bagas sudah datang" ujar Om Broto
"Jangan sekalipun kamu berani melakukan itu Broto! Dia milikku!" Ucap Bapak tegas
"Hahahaha lihatlah dua pria jantan ini, memperebutkan satu gadis belia. Beruntungnya dia " ucap Ibu
Sial sial sial, situasi gila apa ini. Mereka iblis monster. Aku harus keluar dari sini.