SATPAM
TW: m*sturbation, filthy
“Silakan kak” seraya ia membiarkanku masuk.
Aku masuk ke dalam mall dengan kepercayaan diri tinggi serta memberikan satpam itu senyuman paling manis. Ia terpana dan terdiam melihatku.
Dalam hati aku tertawa melihat reaksinya, pasti ia tidak pernah mendapatkan senyuman secantik itu.
Aku pun berjalan dan melewati banyak orang yang terpana akan kehadiranku, semua tatapan aku lalui. Mulai dari yang memuja, iri, sinis, hingga gairah. Aku tidak menghiraukan dan berjalan ke toilet untuk membenarkan sedikit penampilanku.
Toilet perempuan yang kumasuki terlihat penuh dan sedikit panas, aku menuju wastafel untuk membuka jaketku dan membiarkan croptop warna merah yang kupakai menunjukkan lekuk tubuhku. Hari ini aku mempunyai misi penting, aku ingin masturbasi di toilet mall. Tapi melihat keadaan yang ramai aku jadi sungkan untuk melanjutkan misi ini.
Aku menatap cermin di depan dan mengagumi penampilanku, aku Helena, perempuan besar di Jakarta yang baru putus cinta. Masa lalu yang harus kukubur rapat karena ketahuan oleh istri pacarku. Iya, pria itu sudah beristri dan aku dengan tidak malunya menunggangi kejantanan itu tiap malam.
Aku sengaja tidak memakai bra, nipple cover sudah cukup menutup puting coklatku. Aku menurunkan sedikit celana jeans ku untuk memperjelas penampilan perut buncitnya. Di sana terpampang jelas belly piercing yang sudah setahun kupakai.
Aku pun kembali membubuhkan liptint merah kesukaanku di bibir yang tebal ini, setiap kali usapan setiap kali pula aku merasakan adanya tatapan menusuk di belakang punggungku.
Aku hanya tersenyum kecil mengetahui perempuan di sini memperhatikanku. Aku pun merapikan isi tasku dan mengambil jaketku. Aku ke luar dan menyusuri mall. Sebenarnya aku sudah terlalu bosan untuk menyusuri tempat ini karena mall di Jakarta tidak berbeda dari yang lain. Aku pun tanpa membuang waktu menuju lantai bawah tempat biasanya para pegawai mall makan siang.
Kantin karyawan itu terlihat panas karena berada di lantai parkir, aku memasuki ruangan dan tercium aroma makanan yang menggugah seleraku. Aku berjalan menuju warung di ujung ruangan dan memesan satu porsi soto betawi beserta nasi.
Aku melihat sekitar dan sesekali tertangkap mataku pegawai pria menatap ke arahku. Aku menghiraukan itu dan duduk di pojok di tempat agak sepi. Aku pun membuka handphone ku dan melihat banyak sekali notif pesan dari pria hidung belang yang sudah menemaniku beberapa bulan terakhir.
“Helena, aku rindu. Berikanlah fotomu hari ini”
Pesan itu muncul beserta bukti transaksi keluar sebesar Rp400000. Aku pun langsung mengambil selfie terbaikku dan mengirimnya.
Pesanan datang dan tanpa menunggu lama aku pun memakannya, aku selalu diajarkan orangtuaku ketika sedang berhadapan dengan makanan aku tidak boleh sibuk dengan hal lain. Makananku adalah fokus terpenting saat itu, sama seperti dulu aku melayani pacar tuaku. Aku fokus untuk melahap kejantanannya yang hitam dan tebal.
Selesai makan dan sedikit bernostalgia kotor, aku pun segera membayar dan bertanya di mana biasanya pegawai menggunakan toilet, aku menggunakan alasan kalau aku sedang butuh ganti pembalut secepatnya.
Si penjual mengarahkanku ke bagian ujung dari lantai parkir dan masuk ke dalam satu ruangan yang agak jauh. Aku pun berjalan dengan degup jantung kencang. Aku ingin melanjutkan misi tadi.
Aku pun berjalan tergesa akan rasa tak sabar bahwa aku bisa memainkan vaginaku dengan kotor.
Aku menemukan toilet itu dan tempat ini sangat jauh dari jangkauan orang. Toilet ini hanya punya dua bilik di dalamnya dengan satu wastafel di depan
Aku pun langsung masuk ke bilik pojok dan menutup tutup kloset itu. Aku langsung mencantelkan tas dan jaketku, lalu mengambil vibrator kecil dan dildo yang biasa kupakai.
Aku pun melepas celana jeans ku dan membiarkan thong warna putih itu tetap terpasang. Aku langsung duduk di atas tutup kloset itu dan bersandar menenangkan degup jantungku seraya mengangkangkan kakiku lebar-lebar membiarkan vaginaku merasakan udara toilet kotor ini.
Aku mulai basah padahal misi belum sepenuhnya dimulai, aku menarik croptopku ke atas dan membiarkan payudaraku lepas tanpa sanggahan. Aku meremasnya dengan memejamkan mata, aku suka sensasi ini. Sensasi liar dan kotor.
Aku pun menggeser kain thong tipis itu dan menyentuh vaginaku yang berbulu karena belum sempat kucukur, aku menggesek clit ku pelan seakan menberitahu acara sudah dimulai.
Aku terus menggesek clit itu dan juga meremas payudaraku sedikit agak lama agar vaginaku basah sesuai dengan yang kumau. Ketika sudah cukup basah aku memasukkan dildoku, pelan tapi pasti dildo itu masuk dan mulutku rapat. Sial enak sekali. Aku tidak boleh bersuara sedikitpun.
Ketika sudah masuk seluruhnya, dildo itu aku gerakan sesuai yang kumau. Keluar masuk keluar masuk dengan sedikit goyangan untuk menyentuh g-spot ku. Aku menikmati ini, sangat.
“Mmhhh” aku menahan diri
Dildo itu terus kupompa hingga lendir licin itu membasahi seluruh selangkanganku. Aku pun segera menyalakan vibrator kecil itu dan memasukkannya ke dalam anusku.
Anus yang sudah tidak terlalu rapat karena sering dimainkan pacarku dulu. Double penetration adalah favoritku, aku suka lubangku dipenuhi.
Dildo itu terus bertengger di dalam lubangku ketika aku sibuk memasangkan vibrator itu.
Tapi
Aku mendengar suara lain
Suara orang memasuki bilik sebelah
Aku terdiam
Orang itu terdengar pipis, suara air pipisnya kencang sekali. Ia sepertinya lelaki. Aku hanya menebak
Aku ingin tahu dan hanya ada satu cara untuk mengetahui itu
Aku pun mencabut dildoku dan bangun dari dudukku untuk mengintip.
Pria itu keluar dan ia adalah satpam yang tadi kutemui.
Tanpa pikir panjang aku membuka pintu bilik dan mengagetkannya dengan penampilanku yang setengah telanjang
Satpam itu kaget sekaligus terpana
“Ka-kak apa yang kakak lakukan” ucap satpam itu gugup
Aku pun memberikan isyarat untuk ia menutup mulut dan perlahan aku melepas nipple coverku, membiarkan putingku menyentuh udara dingin di toilet
Aku pun memasukkan dildo tadi ke dalam mulutku dan mengulumnya seakan aku sedang mengulum kejantanan seseorang. Dildo itu memenuhi mulutku dan lendirku yang asin membasahi lidahku
Satpam itu terdiam kaku tapi aku melihat selangkangannya menyembul sesuatu.
Aku pun berjalan pelan hingga jarak kami hanya satu centi. “Kunci pintu itu dan jangan bersuara” bisikku di depan bibirnya
Ia langsung mengunci pintu itu dan terdiam kembali.
Aku menarik tangannya menuju bilik toiletku, ia berdiri di depan pintu dan aku kembali duduk di atas tutup kloset seraya membuka lebar kedua pahaku.
Vaginaku basah lebih daripada yang sebelumnya, perasaan diawasi dan ditonton membuatku menggila. Aku bersandar dan menatap nakal ke mata satpam itu selagi tanganku turun menepuk vagina tembamku dan memasukkan dildo itu dengan cepat.
Aku memompanya dengan lihai sekaligus menunjukkan ekspresi binal yang kutahan. Aku tidak bersuara begitupun dia, seisi toilet hanya diisi suara cipakan basah vaginaku yang bertemu dengan dildonya
Vibratorku terus bergetar mengantarkan sensasi nikmat di anusku, aku terus dan terus memompa lubangku dan tanganku yang lain meremas payudaraku yang telanjang
Aku gila memang membiarkan satpam ini menontonku secara cuma-cuma, tapi aku suka, aku suka ia bisa menonton tapi tak bisa memilikiku.
Aku terus memompa seraya melihat perubahan wajah satpam itu, ia yang tadinya malu sekarang sudah diselimuti gairah. Aku mempercepat pompaaanku. Dengan tangan yang gesit aku juga menggesek clit ku agar klimaks dapat kugapai. Aku melihat ia sudah mulai bergerak mendekatiku dan aku mempercepat masturbasiku sebelum ia menggapaiku
Dan
Di sana
Ia
Melihatku
Lapar
Dan
Aku
Keluar
“Ahhhhhh ahhh” tubuhku melimbung tak dapat dikontrol, vaginaku menyemprotkan cairannya membasahi tubuh dan wajah satpam itu akibat klimaks hebat yang baru kudapat.
Aku lemas dan menyenderkan tubuhku tapi kakiku tetap berada di posisinya
Ia terdiam kembali dan aku menurunkan kakiku seraya susah payah berjalan ke arahnya.
Aku mencium bibirnya dan berbisik “jangan adukan ini pada siapa-siapa ya pak”













