Pesan dari nasihat yang Kita berikan kepada seseorang akan sampai jikaaa niat Kita lurus Dan bersih dalam menyampaikannya kepadanya, kata kuncinya ; Cara menyampaikannya, Dan "kepada" nya,,, sebab inti dari itu adalah energi yg Ada di dalamnya.
Claire Keane
sheepfilms
almost home
Lint Roller? I Barely Know Her
d e v o n

🪼
Jules of Nature
Sade Olutola

@theartofmadeline

izzy's playlists!
Aqua Utopia|海の底で記憶を紡ぐ
Stranger Things
Fai_Ryy
Sweet Seals For You, Always
Xuebing Du
EXPECTATIONS
Peter Solarz
Three Goblin Art

roma★
seen from Mexico

seen from Mexico
seen from United States
seen from United States

seen from Mexico

seen from Mexico

seen from United States

seen from United States
seen from United States

seen from United States
seen from United States
seen from Venezuela
seen from United States
seen from United States
seen from United States

seen from United States
seen from United States
seen from United States
seen from United States

seen from United States
@hanihunny
Pesan dari nasihat yang Kita berikan kepada seseorang akan sampai jikaaa niat Kita lurus Dan bersih dalam menyampaikannya kepadanya, kata kuncinya ; Cara menyampaikannya, Dan "kepada" nya,,, sebab inti dari itu adalah energi yg Ada di dalamnya.

Anya is live and ready to show you everything. Watch her strip, dance, and perform exclusive shows just for you. Interact in real-time and make your fantasies come true.
Free to watch • No registration required • HD streaming
Pernahkah kamu merasa punya salah / dosa sm seseorang Dan sampai punya perasaan,feel like, ketemu orangnya pun gak deh gak mau, gakpunya muka, gak sanggup.. meski org itu gaktau kamu punya salah sm dia... Seperti juga ketika Kita baru saja melakukan dosa yg berat, untuk shalat pun Kita seperti ogah2an krna malu, tidak punya muka mau menghadap sm Allah.. aku lagi mengalaminya,,,tempo Hari, tetangga saya ngasih semangkuk rujak cuka, sm embah (art ku) ditaruh dimeja, sampai embah pulang. . Sampai aku tidur, Rujak cuka nya ga aku makan,,, 1. Krna aku lupa 2. Krna gakterlalu suka jd gak inget2 bgt punya rujak cuka, jadi aku ga taruh itu di kulkas juga.. besok paginya embah datang, mulai beberes dapur Dan mendapati rujak cuka itu masih utuh,, dan basi... Lalu embah bilang yg intinya "ini enak gini sayang temen kok ga dimakan" sambil buang k tmpat sampah... nadanya Kaya "kalau tahu gak akan dimakan padal dibawa saja sm embah" Seketika perasaannya aku mendadak gakeruan, i feel bad... yang berujung gakmau bgt ketemu bu doni (yg ngasih rujak),ngrasa gakpunya muka, merasa bersalah atas apa y udh dilakukan trhdp pmberiannya. Hari inii it happen sm anak anakku, , pagi tadi ibrahim jatuh dari kasur krna kutinggal pergi ke dapur, padahal aku punya art, seharusnya nggak perlu sampai itu bisa terjadi. sm dastan,, krna udah ngegalakin, mengasari hatinya.. karna dia mau buka pintu kamar, Dan aku hawatir itu berisik Dan ngebangunin adiknya, seharusnya aku bisa lebih sabar, Dan punya cara yang lebih kreatif untuk mengalihkannya.. justru dia saat itu lagi pingin ngegoda aku, tapi karna aku lago punya kepentingan sendiri saat itu, ga kuhiraukan anakku yg lagi pgn bercanda sm aku,malah kuhardik.. heu. Merasa jd ibu yg ga layak, ga Ada layak2nya. Hope Vl.punya salah sm anak anakku, yg setiap waktu hrs kuasuh- gbisa kuhindari, bikin aku ngerasa cm pantas menyentuh hanya ujung kakinya saja...moga bsa cpt pulih Dr perasaan ky gini
HARI KEMERDEKAAN, BANGUN KEBIASAAN HEMAT LISTRIK
Kamis Kreatif, 17 Agustus 2017
pada akhirnya passion adalah gairah, perasaan penuh, utuh, dan bersyukur yang kita dapatkan ketika kita melakukan sesuatu yang bermanfaat bagi banyak orang, sesuatu yang kita cintai. passion kita dapatkan bukan dari sebuah pencarian, melainkan dari sebuah penemuan. artinya, passion bisa menjadi apa saja, di mana saja, dan kapan saja–yang kita temukan karena kita berada di sana dan dekat dengannya. passion adalah yang menjadikan diri kita bermanfaat–karena kita sangat andal pada bidang tersebut, atau karena kita berada di dalamnya. artinya, passion tak melulu sesuatu yang menjadi ketertarikan kita, passion adalah hadiah dari ketekunan dan keuletan kita. passion adalah sesuatu yang begitu kita cintai, bukan karena kita berpikir bahwa kita menyukainya, melainkan karena sesuatu itu kita lakukan dengan mengharap ridho Allah semata. benarlah apa yang orang bijak bilang: tidak usahlah kamu mengikuti passion-mu. biarkanlah passion yang mengikutimu. lakukanlah kebaikan dengan penuh kecintaan, niscaya passion tumbuh sebagaimana kebahagiaan yang hadir karena hati yang bersyukur dan sabar.
(via prawitamutia)
selesai
“setiap keluarga, setiap rumah tangga, pasti punya masalah sendiri-sendiri. tapi semua masalah itu harus segera selesai. bahkan, Ayah dan Ibu membiasakan bahwa setiap masalah dalam keluarga harus selesai sebelum tidur. menyesal deh Ayah, kalau sampai tidurnya meluk masalah bukan meluk Ibu.”
“hahaha Yah…” kamu terpingkal dalam hati.
“ini serius, Nak. setiap masalah yang datang dari dalam harus benar-benar selesai, sebab dalam perjalanan menikah, ada sangat banyak masalah yang datang dari luar. mungkin, sama seperti saat kita hendak menikah ya. kalau dulu eyang, papanya Ibu, bertanyanya kepada Ayah: kamu sudah selesai dengan dirimu sendiri belum?
nah, kalau kamu ingin keluargamu menjadi keluarga yang bisa bermanfaat, menyelesaikan banyak masalah umat, kamu dan suamimu nanti harus selesai dengan masalah-masalah internal keluarga kalian. dan itu artinya, kamu dan suamimu nanti, harus selesai secara sendiri-sendiri pula–dengan diri sendiri.”
“Yah, menurut Ayah, seperti apa orang yang selesai dengan dirinya sendiri itu, Yah?”
“damai, Nak. orang yang selesai dengan dirinya sendiri, hatinya selalu damai bagaimanapun di luar sedang badai. keluarga yang selesai juga sama. selalu damai di dalam keluarga tersebut, meskipun di luar badai sedang berkecamuk.”
kamu mengambil tempat tepat di belakang Ayah, lalu mulai memijiti punggungnya.
“Nak, syarat menjadi keluarga yang hebat itu adalah menjadi keluarga yang kuat. syarat menjadi keluarga yang kuat itu adalah menjadi keluarga yang sehat. syarat menjadi keluarga yang sehat itu adalah terpenuhi kebutuhannya. menyelesaikan masalah itu bagian dari kebutuhan loh, Nak. sifatnya harus karena memang perlu.
ingat, Nak. di luar sana ada banyak sekali sumber masalah. bahkan, tanpa kita datangi sekalipun, masalah hidup itu akan datang silih berganti dengan sendirinya. maka, jadilah seseorang yang selalu siap menemani pasanganmu dan anak-anakmu dalam menghadapi dan menyelesaikan itu semua. jangan beri kesempatan masalah itu ikut meretakkan yang ada di dalam. jangan beri kesempatan sampai ada orang lain yang berperan lebih besar untuk menyelesaikan masalah–itu sungguh sumber masalah yang lebih besar lagi.”
“siap, Yah. besok-besok kalau sudah menikah, pokoknya kalau tidur aku cuma peluk suami, bukan peluk masalah. hahaha…”
“hahaha… beruntung sekali ya suamimu itu nanti. dipeluk, dipijiti enak pula. Ayah pasti kangen jempol kamu.”

Anya is live and ready to show you everything. Watch her strip, dance, and perform exclusive shows just for you. Interact in real-time and make your fantasies come true.
Free to watch • No registration required • HD streaming
melegakan
dek ute, adik saya yang perempuan, senang sekali bertanya tentang kehidupan saya atau tentang apapun. lebih dari kadang-kadang, saya menjawab ala kadar–entah karena menganggap sesuatu itu tak seberapa penting atau karena tidak ingin dikepoin, “ya gitu deh…”
setelah itu, adik saya selalu protes, “mbak, kenapa sih kalau ditanya jawabnya males? seakan-akan orang tuh nggak akan ngerti kalau mbak ngejelasin.”
saya juga pernah dinasehati hal serupa oleh Ibu sampai-sampai Ibu bilang, “mbak kalau ditanya sama orang tua, jawabnya harus niat. kamu ngerti nggak, waktu kecil kamu tanya ‘itu apa’ dan Ibu jawab 'itu gelas’ sampai seratus kali?”
hari ini saya ngobrol seru dengan mas yunus tentang fenomena yang sangat aneh saat ini: kita lebih mudah percaya dengan orang asing di dunia maya daripada dengan orang asing di dunia nyata. kita lebih mau berbagi dengan orang asing di dunia maya daripada orang asing di dunia nyata. adakah cara kita berkomunikasi dengan orang-orang terdekat kita juga terpengaruhi oleh hal ini?
misalnya, ada teman saya yang hobi sekali berbagi kisah hidup lewat akun sosial media (seperti saya yang senang bercerita di Tumblr ini). suatu hari, ia memposting foto yang menunjukkan dirinya sedang terbaring di rumah sakit. namun anehnya, saat ditanya “kamu sakit apa? dirawat di mana?” jawabannya adalah “nggak papa, ah gitu aja”. fenomena ini terjadi pada banyak orang–termasuk diri saya sendiri, yaitu senang kode-kodean di sosial media tetapi malas ketika ditanya-tanya, tidak ingin pagar privasinya dilewati.
misalnya yang lain, sekarang kalau kita diajak ngobrol orang asing di kereta atau bis, kita cenderung curiga ketimbang senang karena mendapat teman. kalau kita punya tetangga yang senang banget mampir-mampir dan tanya kita lagi apa di rumah, kita cenderung merasa terganggu daripada merasa diperhatikan.
kata mas yunus, pada dasarnya kita bukan tidak percaya kepada orang asing di dunia nyata, melainkan kita lebih percaya dan lebih senang berbicara dengan orang yang kita anggap satu frekuensi dengan kita, kita anggap “sekufu”. saya jadi teringat dengan protesan dek ute: saya sering malas menanggapinya karena dia merasa bahwa saya menganggapnya “tidak akan mengerti”.
jeger. ini jadi geledek buat saya. awal-awalnya sih saya cuek, tapi kini saya sadar betapa komunikasi yang melegakan sangatlah penting. dalam hubungan apapun dan dengan siapapun: dengan orang tua dan saudara, dengan pasangan, dengan anak, dengan tetangga, dengan teman, dengan rekan kerja, dengan pelanggan.
yang melegakan adalah– “mbak, Ibu minta tolong kunciin pintu.” maka kita tidak cukup jika hanya mengunci pintu. kita perlu bilang, “iya Bu, aku kunciin pintunya,” sambil mengonfirmasi apa permintaan orang yang minta tolong. lalu mengunci pintu. lalu melapor lagi, “Bu, pintunya udah mbak kunciin.” kalau hanya mengerjakan, pasti sang ibu tidurnya tak tenang–tak tau pintunya sudah benar dikunci atau belum.
and that’s all it!
sadar nggak sadar, perilaku sederhana kita dalam berkomunikasi seperti ini bisa mengubah banyak sekali hal, termasuk bagaimana kita dipercaya oleh orang, bagaimana karir kita bertumbuh, bagaimana dagangan kita laku, bagaimana rezeki kita mudah datangnya. jaman sekarang, apalagi yang bisa membuat diri kita “terjual” selain kepercayaan?
boleh jadi waktu kita sangat berharga. boleh jadi kehidupan kita begitu kompleks sampai-sampai rasanya tidak akan ada yang mengerti. boleh jadi kita memang lebih pintar, lebih sibuk, lebih penting, lebih segala-galanya. dan sangat boleh kita tidak menjawab pertanyaan karena tak ingin wilayah pribadi kita dilangkahi.
tapi kita tetap harus menjadi orang yang melegakan (orang lain)–apalagi bagi mereka yang berada di lingkaran terdekat kita. ingat kan jaman dulu senang ngelencer pulang sekolah dan dicari-cari orang tua? yang mereka inginkan hanyalah kabar bahwa kita baik-baik saja. legakan orang lain, itu prinsipnya.
coba tengok deh ke sebelah-sebelah, ke luar sana. ternyata orang-orang yang paling bisa dipercaya adalah orang-orang yang tidak hanya memang jujur dan bisa dipercaya, tetapi juga orang-orang yang selalu menunjukkan bahwa dirinya bisa dipercaya. nggak heran, orang-orang yang melegakan ini lebih cepat bertumbuhnya daripada yang ala-ala.
mereka yang paling penting dalam hidup kita belum tentu adalah orang-orang yang paling bisa mengerti kita. tetapi pada akhirnya, merekalah tempat kita pulang ketika benar-benar tidak ada–yang mengerti kita.
Belajar Parenting Sejak Hari Ini
Urgensi Keluarga Dalam Pembangunan Bangsa
Keluarga adalah organisasi terkecil sekaligus pilar terpenting sebuah Negara. Menurut BKKN, Keluarga adalah unit terkecil dalam masyarakat yang terdiri dari suami-isteri, atau suami-isteri dan anaknya, atau ayah dan anaknya, atau ibu dan anaknya (BKKBN, 1992).
Keluarga yang baik membentuk masyarakat yang baik, dan masyarakat yang baik membentuk Negara yang baik. Bahkan lebih dari itu, keluarga adalah pondasi dasar pembangun sebuah peradaban. Membangun keluarga berarti membangun peradaban.
Keluarga juga dapat disebut sebagai produsen utama manusia. Dari keluarga akan lahir anak-anak serta keturunan yang akan menambah jumlah sumber daya manusia suatu negara. Maka untuk membentuk calon penerus bangsa di masa depan, harus dipersiapkan saat membentuk keluarga.
Menciptakan keluarga yang harmonis dan berkarakter akan menjadi bibit-bibit dasar pembangun Negara di masa depan, karena dari keluargalah pemimpin bangsa lahir. Pemimpin bangsa tidak lahir dari camp-camp pelatihan yang berat, bukan dari kampus-kampus atau hutan belantara, tetapi setiap pemimpin selalu lahir dari keluarga. Keluarga yang berakhlak akan membentuk pribadi-pribadi yang berakhlak.
Untuk memenuhi hal tersebut, maka sudah sewajibnya penanggung jawab keluarga dalam hal ini ayah dan ibu haruslah memiliki kapabilitas dalam membentuk keluarga yang berakhlak. Tanggung jawab pembentukan karakter keluarga sudah seharusnya berada ditangan ayah dan ibu sebagai orang tua. Mereka harus mampu membuat sistem pendidikan yang baik di keluarga.
Awal dari terbentuknya satu keluarga dimulai dari adanya hubungan antara laki-laki dan perempuan yang bersepakat mengikat janji pernikahan. Pernikahan bukan hanya sekedar pemenuhan hasrat seksual yang merupakan fitrah manusia, namun di dalamnya juga terdapat tanggung jawab. Tanggung jawab atas keluarga yang dibentuk hingga tanggung jawab akan masa depan anak anak yang dilahirkan.
Secara fungsinya, berdasarkan Resolusi Majelis Umum PBB, “Keluarga sebagai wahana untuk mendidik, mengasuh dan sosialisasi anak, mengembangkan kemampuan seluruh anggotanya agar dapat menjalankan fungsinya di masyarakat dengan baik, serta memberikan kepuasan dan lingkungan sosial yang sehat guna tercapainya keluarga sejahtera.
Tugas dan tanggung jawab dalam mencapai keluarga sejahtera berada di tangan Ayah dan Ibu, bukan pada salah satunya, melainkan saling berbagi peran tanggung jawab. Oleh karena itu, pembentukan keluarga berkarakter memerlukan kolaborasi positif dari suami dan istri.
Kolaborasi itu terjewantahkan dalam bentuk visi dan misi keluarga yang akan dibentuk. Seperti yang telah disampaikan di awal bahwa keluarga adalah organisasi terkecil sebuah Negara, maka dalam pelaksanaannya haruslah dilakukan sebagaimana sebuah organisasi dijalankan, dimana ada visi dan misi di dalamnya.
Setiap individu harus memiliki visi dan misi keluarga yang akan dibentuk. Dan berkeluarga adalah mencari pasangan dengan visi yang searah serta misi yang sejalan sehingga adanya kolaborasi positif melalui pernikahan akan mempercepat laju pencapaian visi tersebut.
Pembekalan ilmu sebagai seorang Ayah dan Ibu
Setiap pasangan yang baru menikah, pastilah menginginkan anak anak yang berakhlak dan cerdas. Membentuk anak yang cerdas dan berkarakter tidak semudah membalikkan telapak tangan, ada proses panjang didalamnya.
Jika di analogikan posisi ayah dan ibu sebagai suatu profesi, sebagaimana profesi lainnya seperti insinyur, dokter, polisi, maka profesi ayah dan ibu haruslah dipersiapkan sedini mungkin bahkan sejak si ayah dan ibu tersebut belum menikah. Gelar ayah dan ibu memang didapatkan saat si anak lahir namun keahlian/skill seorang ayah tidak ujug-ujug langsung didapatkan saat si anak lahir. Ada proses “menjadi” di dalamnya.
Menjadi orang tua haruslah dipelajari dan diasah, tentang bagaimana mendidik anak, mengetahui umur-umur produktif anak serta hal-hal lainnya harus sudah diketahui oleh seorang calon suami atau istri, agar tidak mulai belajar justru pada saat si anak lahir.
Seorang yang bercita-cita menjadi dokter pastilah akan mempersiapkan fisik dan mentalnya sebagai seorang dokter jauh-jauh hari sebelumnya, bahkan bertahun-tahun mempersiapkannya, mulai dari rajin belajar matematika, bahasa Indonesia, bahasa Inggris, fisika, kimia, dan biologi agar dapat lulus di fakultas kedokteran. Bahkan setelah masuk di fakultas kedokteran masih harus mempelajari perkuliahan dan praktik kedokteran dengan giat supaya dapat meraih gelar dokter dengan nilai yang baik yang nantinya akan menghasilkan dokter yang hebat.
Maka profesi seorang ayah atau seorang ibu haruslah juga dipersiapkan seperti mempersiapkan profesi seorang dokter bahkan harus lebih karena anak-anak akan menjadi tanggung jawab seorang ayah dan ibu dalam keluarga baik di dunia maupun di akhirat kelak.
Profesi Ayah atau Ibu bukanlah profesi yang rendah, terutama seorang ibu. Banyak ditemukan hari ini bahwa profesi seorang ibu adalah profesi yang rendah, yang urusannya hanya seputar kasur, sumur dan dapur saja. Profesi seorang ibu adalah profesi yang mulia, profesi yang lebih tinggi dari profesi-profesi lainnya. Profesi dimana surga berada di kakinya, yang membuat derajatnya tiga kali lebih tinggi dari seorang ayah, profesi yang melahirkan profesi-profesi lainnya. Maka menjadi seorang ibu adalah sebuah anugerah.
Pun dengan peran seorang Ayah, tidak melulu sekedar mencari nafkah lalu membiarkan Ibu mengerjakan semua pekerjaan rumah. Sebab tanggung jawab rumah adalah tanggung jawab bersama, maka Ayah dan Ibu sudah seharusnya saling berbagi peran, saling membantu dan bekerja sama agar terciptanya keharmonisan keluarga.
Bahkan tanggung jawab mendidik anak tetap berada di tangan ayah dan ibu. Walaupun saat ini sangat banyak sekolah-sekolah play group, baby sitter, pesantren dan lembaga pendidikan lainnya, hal itu tetap tidak akan bisa menggantikan fungsi ayah dan ibu sebagai pendidik utama anak-anak di keluarga. Oleh karena itu ada sebuah pepatah yang mengatakan bahwa ibu adalah sekolah utama dan pertama bagi seorang anak, dan ayah adalah kepala sekolahnya.
Pentingnya Pendidikan Parenting pada Pemuda
99.9 persen manusia pastilah memiliki keinginan untuk menikah, dan dari pernikahan tersebut tentu menginginkan lahirnya anak-anak yang cerdas serta berakhlak. Artinya, hampir setiap orang di muka bumi ini akan berprofesi sebagai ayah dan ibu. Apakah mereka itu dokter, polisi, insinyur dan lain lain, yang pasti dibalik semua profesi tersebut mereka pasti akan atau telah menjadi seorang ayah dan ibu. Dengan satu keniscayaan tersebut, maka sangat penting bagi setiap insan muda untuk mempersiapkan dirinya sebagai orang tua.
Menjadi orang tua tanpa bekal ilmu parenting sama saja seperti menjadi seorang dokter tanpa belajar ilmu kedokteran. Jika dokter tersebut mendapat pasien tentu pasien bisa saja meninggal dunia. Hal tersebut juga berlaku untuk profesi orang tua, menjadi orang tua tanpa bekal ilmu parenting tentu keluarga akan berantakan dan berakibat anak akan salah pendidikan.
Mempersiapkan diri menjadi orang tua harus dimulai sejak kecil. Sejak anak-anak mulai beranjak dewasa karena mereka akan menjadi orang tua di masa depan. Ada tantangan dan tanggung jawab besar di tangan mereka, karenanya orang tua harus menyiapkan otak dan pundak yang kuat untuk memikulnya.
Seorang Ayah atau Ibu harus memiliki ilmu sebagai Ayah dan Ibu juga, karena apabila sesuatu dipegang oleh orang yang tidak memiliki ilmu, maka tunggulah kehancurannya. Dan apabila profesi Ayah dan Ibu diawali tanpa ilmu, maka tunggulah waktu kehancuran keluarganya.
Belajar menjadi Ayah atau Ibu seperti sekali dayung dua tiga lampau pulau terlampaui. Dengan belajar menjadi Ayah dan Ibu berarti sekaligus belajar meng-upgrade karakter diri menjadi lebih baik. Pembelajaran terbaik untuk anak adalah memberikan contoh langsung oleh Ayah atau Ibu, maka dengan belajar menjadi Ayah dan Ibu sekaligus mengasah karakter diri menjadi lebih baik, juga mengasah anak berakhlak baik.
Tak ada kata terlambat untuk belajar. Untuk masa depan yang lebih baik, untuk masa depan negara yang cemerlang serta untuk peradaban yang lebih berakhlak dapat dimulai dari saat ini, dengan belajar ilmu-ilmu parenting. Mempersiapkan anak-anak yang cerdas dan berkarakter berarti menciptakan dunia yang indah bagi mereka di masa depan. Sayangi anak dengan mempelajari ilmu parenting.
Rahim Isnan Al Hilman
Kepala Bidang Riset dan Kajian ASA Muda Indonesia
♡ Kata teman saya yang hadir disana, bapak ini bilang “saya gratiskan ini semua pak, silahkan jika bapak bapak lapar”
MasyaAllah… Bahkan setiap orang pun ingin membuktikan cintanya dengan caranya masing-masing, dengan apa yang paling dia miliki… Terharu… Thanks for the pict @episodepertama
Maa syaa Allah merinding plus terharu :“”“)
BERBAHASA POSITIF PADA ANAK # Part 1
Kemampuan anak dalam menggunakan kata-kata dimungkinkan akan mempengaruhi cara anak dalam mengatur kemarahannya di kemudian hari. Dalam situs Health Day pada 24 Desember 2012, diungkapkan bahwa anak yang memiliki kemampuan berbahasa yang baik pada usia dua tahun akan lebih sedikit mengekspresikan kemarahannya ketika berusia empat tahun yang disebut sebagai masa frustasi. Selain itu, anak yang kemampuan berbahasanya berkembang cepat lebih mampu mengatur kemarahannya di usia empat tahun.
Faktor utama yang mempengaruhi perkembangan bahasa anak adalah keluarga dan lingkungan. Anak akan mengulang apa yang baru saja didengarnya dengan intonasi yang terkadang sama persis. Seorang anak atau bayi lebih banyak menyimak nada yang orang tua ucapkan daripada makna yang tertangkap telinganya. Sebuah penelitian di Utrecht University menjelaskan bahwa bayi dapat membedakan dua bahasa asing sama baiknya dengan orang dewasa.
Menggunakan bahasa dengan irama terburu-buru dan volume yang keras membuat anak gelisah dan rewel. Tetapi jika orang tua berbicara dengan tenang dan bersuara rendah sambil menatap wajah anak; hal itu akan meredam rasa tidak nyaman dan anak “mengerti” apa keinginan orang dewasa.
Seiring bertambahnya usia anak, mereka akan mulai menangkap arti dari ucapan yang didengarnya dari orang lain. Jangan berbicara kepada anak dengan bahasa yang sengaja dicadelkan walaupun hanya sekedar bercanda atau ingin membuat anak tertawa. Hal ini justru membuat anak tidak bisa berkomunikasi dengan baik. So, seharusnya orang tua tetap berbicara dengan normal, intonasi jelas, dan kosakata yang mudah ditangkap anak usia pra-sekolah.
Lalu, bagaimana cara berbahasa positif yang baik pada anak? Kita lanjut di-part selanjutnya yaa… (an) 😉
*Sumber: buku Serunya Dunia Anak Usia Dini-Tim Preschool Online
SUPERMOM’s NOTE Edisi #Superparenting #AyahKeren 6 November 2016
♡Email: supermom.wannabe1(at)gmail(dot)com ♡Fanpage FB: Supermom Wannabe ♡Twitter & Instagram: @supermom_w ♡Tumblr: supermomwannabee(dot)tumblr(dot)com
411
Ada banyak hikmah yang bisa gw ambil dari gerakan 411 kemarin (feel so sad that I was not able to join because that’s exactly the day when I had to submit my forecast for November month huhuhuhu *:(((((* )
Pertama, gw belajar bahwa as the agent of Islam, you need to have a courage to explain what was happening. Bukan hal yang di luar prediksi lah bahwa gerakan 411 kemarin akan menimbulkan berbagai persepsi dan respon, baik dari teman-teman kita sesama muslim maupun teman-teman non muslim. Thus, menurut gw, kita, sebagai agen Islam, wajib untuk berusaha menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi, apa niat dari gerakan ini, dan kenapa kita harus melakukan gerakan ini. Ini agar supaya teman kita yang belum paham bisa menjadi paham, yang sempat berburuk sangka, jadi terluruskan prasangkanya. I do not know, tapi interpretasi gw adalah gerakan 411 ini adalah gerakan Bela Qur’an. Kita sebagai umat Islam wajib marah apabila ada komentar-komentar tak perlu (seperti komentar Pak Ahok) tentang Al-Quran dilayangkan ke publik. Gw, berpikir dari sudut objektif manapun, ga bisa memahami kenapa Pak Ahok harus banget bahas-bahas kitab suci agama orang lain. Aneh aja menurut gw, sehingga wajar lah umat si empunya kitab suci marah. Yah, well, walaupun pasti juga ada yang niatnya politis di gerakan kemarin (misal mengharap agar gerakan ini akan dapat menggiring opini publik untuk ga-milih-Ahok :p), tapi yah hellooooo, ga usah naif lah kita bahwa ga ada tunggang-menunggang dalam setiap pergerakan massa, apa pun temanya, hehe. Tapi, intinya, gw setuju sama Pak Banu, bahwa gerakan kemarin itu adalah asap (akibat). Apinya (penyebabnya) ya statement Pak Ahok, and I think nobody can deny it. Ya, bayangkan sebaliknya aja, apabila kitab umat Kristen dikomentari oleh orang lain, apa iya para umat Kristen diam aja? Enggak kan?
Kedua, gerakan kemarin adalah momen yang tepat untuk mem-filter kembali teman-teman kita dan kita cukup tahu aja orang seperti apa teman-teman kita, dan kembali meneguhkan hati kita tentang siapa yang harus menjadi teman baik kita hehe. Kalau boleh jujur, gw agak kecewa sama beberapa teman gw yang dari pagi pokoknya menuliskan status yang intinya bilang bahwa orang-orang yang lagi melakukan aksi adalah orang-orang yang ga punya kasih. Intinya menghinakan orang-orang yang sedang melakukan aksi. Yaampun, gw sedih. Yaaaaaa, gw ga bisa mengontrol bagaimana orang lain berpendapat, tapi gw cukup tau aja. Menurut gw, di negara yang heterogen, saling menghargai antar umat beragama itu penting. Gw, selama hidup ga pernah menghina agama orang lain dan umat beragama lain, sehingga gw merasa, tidak menghina agama orang lain adalah sesuatu yang do-able, sesuatu yang memungkinkan untuk dilakukan. Setidaknya, sedongkol-dongkolnya, at least ga perlu lah berkomentar negatif tentang umat beragama lain. That’s why, ketika melihat teman-teman gw masih ada yang menghina umat Islam, gw kecewa aja. Dalam hati gw, “Bener sih memang, lo ga perlu gw jadikan teman dekat.” Hahahha. Tapiiiiiiiii, gw ga mau menghabiskan waktu untuk baper sama kelakuan teman-teman tak worth it seperti mereka karena orang-orang seperti mereka do not deserve to be my friend at first place, so I just let them go, they are black listed! Hehehhe.
Ketiga, ini yang paling penting, buat yang menganggap bahwa gerakan kemarin itu semacam gerakan sekelompok orang (which is umat Muslim) sedang melindungi Al-Quran (dimana melindungi itu identik dengan persepsi bahwa yang dilindungi itu adalah sesuatu yang lemah), maka jangan pernah kita lupa bahwa bukan demikian konteksnya. Al-Quran tuh ga butuh kita untuk membela-bela dia. Dia sudah mulia, dia sudah dilindungi oleh Yang Maha Melindungi, justru kita yang butuh untuk membela Al-Quran karena gampang bagi Allah menggantikan kita dengan kaum yang lebih baik, kalau kita gabut sebagai hamba. It’s very easy to swap us away, :)
Semoga kita selalu semakin cinta sama Islam dan berani bergerak membela agama kita, ga hanya diam, pasif, nrimo. Bergerak melakukan aksi bukan cerminan bahwa kita adalah orang yang tidak terpelajar, tidak intelek, dan suka tarkam, tapi itu adalah aksi yang sah-sah saja. Hal yang normal menyalurkan aspirasi melalui aksi di negara demokrasi. Jangan alergi sama aksi. Kita harus berani bergerak, turun ke jalan, untuk sesuatu yang kita cintai. :)
BerSEMANGAT!!
dan lebih sedih banget kalo yang ikutan nyinyir orang muslim. gapapa deh. jadi filter teman. hahahaaa. :’)
….dan saya baru mengamati banyak sekali dinamika dan poin nomor dua memang hal yang saya lakukan. Peristiwa (saya ingin membuatnya menjadi lebih bermakna) 411 kemarin menjadi sebuah momentum bagi banyak orang, juga memperlihatkan karakter-karakter orang, sering-sering istighfar kalau buka timeline facebook (terutama), dan mulai menata kembali pertemanan. Selamat melingkari diri dengan kebaikan-kebaikan :)
Bersamangat!!! *ala2isni

Anya is live and ready to show you everything. Watch her strip, dance, and perform exclusive shows just for you. Interact in real-time and make your fantasies come true.
Free to watch • No registration required • HD streaming
Asalamualaikum, ka mau tanya gimana caranya ngebakar semangat kita?
Walaikumussalaam warahmatullahi wabarakatuh. Ada beberapa cara sederhana yang bisa dicoba. Pertama, untuk orang yang cenderung teratur, biasanya mereka bakal lebih semangat sehabis membuat & menjabarkan rencana untuk mencapai tujuan tertentu. Mereka yang semangat dengan cara ini biasanya ngerasa kalau semakin idenya mudah untuk dieksekusi, semakin semangatnya membara untuk mewujudukan rencananya.
Kedua, untuk orang yang cenderung ngalir apa adanya, biasanya akan lebih semangat setelah mereka punya tekanan tertentu atas situasi yang lagi dihadapi. Tekanan itu datang bisa dalam bentuk tenggat waktu atau masalah yang menuntut penyelesaian segera. Mau enggak mau kalau dihadapkan sama tekanan, orang yang cenderung mengalir apa adanya pun terdorong untuk bergerak nyari solusi dengan tempo yang sesingkat-singkatnya.
Ketiga, cari rekan sepenanggungan. Menghadapi situasi tertentu seorang diri itu kadang menjemukan dan sering bikin kita kekurangan alasan untuk melaju lagi. Seenggaknya kalau ada rekan-rekan sepenanggungan, kita akan diingatkan atau diajak lagi untuk mengobarkan semangat.
Keempat, sadari momentum. Momentum yang hadir dalam bentuk kebangkitan ataupun kejatuhan biasanya memunculkan api semangat buat orang-orang tertentu untuk berlari lebih kencang dari sebelumnya. Kesuksesan belum tentu bikin seseorang lebih semangat dan kegagalan belum tentu bikin seseorang lebih redup dari biasanya. Semua bergantung sama kepribadian dan situasi yang beda-beda juga. Semoga bermanfaat. Wassalamu’alaikum!
Saya malu menasehati orang untuk bersabar, jika saya blm pernah merasakan didzalimi, kehilangan dan diterpa berbagai cobaan.Bukan sebaliknya.
Saya tak layak mengajari orang toleransi, jika tidak pernah menjadi mayoritas, lalu menghargai cara pandang kaum minoritas. Bukan sebaliknya.
Saya tak layak membawa-bawa nama Tuhan, jika masih enggan melaksanakan syariat dan menghentikan segala laranganNYA. Bukan sebaliknya.
Saya tak layak mengajarkan keberanian, jika berada jadi pihak bersalah tapi gengsi meminta maaf. Bukan sebaliknya.
Saya tak layak meneriakkan keadilan jika masih menahan hak orang lain dan menutup mata terhadap kebenaran yang diteriakkan kelompok yang berseberangan. Bukan sebaliknya.
Saya sungguh tak layak bicara, jika tidak pernah mendengar. Bukan sebaliknya.
Bunda Taty Elmir
“Apa gerangan sebenarnya yang bisa mendatangkan kemudahan dari Allah dalam segala urusan hidup kita?” Tanya seorang kawan. . “Keikhlasan.” Ujar ustadz Farhan. . “Ada sebuah kolam empang yang baru dibuat. Baru diisi air. Belum pernah ditabur benih ikan atau yang lain. Lalu engkau diminta gurumu mencari ikan disana. Sekiranya bagaimana perasaanmu? Sentiasa melaksanakan atau berkelabut heran?” Tanya beliau melanjutkan. . “Begitulah Kyai saya mendidik makna ikhlas kepada para santrinya di sebuah pesantren di pelosok Sulawesi. Pesantren yang tak membebani biaya kepada para santrinya, tapi selalu saja bisa menyediakan penghidupan dan makan. Saat ada kebutuhan yang memerlukan dana, Kyai kami merogoh dari lipatan songkoknya, saku bajunya, atau bawah dipannya. Dimana saja yang sekiranya bisa ditemukan uang. Dan alhamdulillah selalu ada uang yang ditemukan untuk memenuhi kebutuhan pesantren.” Lanjut beliau mengenang masa-masanya. . “Dan para santri yang diminta mencari ikan di kolam empang yang tak pernah ditabur benih ikan itu pun pulang dengan membawa satu, dua, atau tiga ikan dari sana. Di antara santri itu, kita mengenalnya bernama Bahtiar Nasir. Dari mana ikan itu padahal kolam empang itu tak berisi benih ikan?” Tanya beliau. . “Minallah. Dari Allah.” Sahut kami lirih sambil bergetar mendengar kisah yang menakjubkan itu. . “Kalian tahu apa yang membuat Nabi Ibrahim mendapat gelar khalilullah, gelar paling mulia derajatnya?” Tanya beliau melanjutkan. . “Karena keikhlasannya bertahan hingga tinggal se-inci antara dirinya dengan kematian. Kalian pasti tahu kisah saat ia alaihissalam dibakar hidup-hidup dan saat menyembelih putranya, Ismail.” . “Ikhlas memang berat. Berat sekali. Tapi sekalinya kalian mampu meraihnya, hidup kalian akan dimuliakan oleh Allah. Sebagaimana Nabi Ibrahim dimuliakan Allah menjadi bapak para Nabi dan Rasul. Atau setidaknya, Allah akan memudahkan urusan-urusan hidupmu.” . “Tapi, saya teringat satu amanat Kyai saya yang paling susah agar bisa meraih sifat ikhlas ini: jangan berbohong walaupun dalam bercanda.” ujar beliau mengakhiri nasihatnya ditengah heningnya suasana kelas saat itu. . . #ntms #notetomyself #renungan #nasihat #psialmanar #ngaji
MENENANGKAN DIRI
Di zaman dengan perkembangan yang sangat cepat ini, kita sebagai manusia dituntut untuk memiliki berbagai kesibukan yang sangat padat. Bahkan tak jarang, kita bisa memiliki agenda yang tak ada habis-habisnya dari pagi sampai malam, tanpa ada jeda sekalipun.
Saya pun merasakan hal yang sama, dari sejak matahari terbit, kita disibukkan untuk persiapan menuju aktivitas kita, entah itu kantor atau pun kegiatan lainnya. Setibanya kita di lokasi, kita langsung fokus mengerjakan aktivitas yang kita lakukan. Kadang kita bisa rapat sampil berdiskusi dengan orang nun jauh disana, via sosial media dan aplikasi chatting lainnya. Kita begitu disibukkan dengan urusan dunia.
Sore tiba, kita tak langsung pulang, kita langsung lanjut dengan agenda diluar, entah rapat ringan dengan seseorang disana, atau bertemu kawan untuk menjalin lagi silaturahmi yang ada. Barulah, kita pulang di malam hari untuk tidur.
Kita begitu sibuk, banyak hal yang harus dikerjakan, banyak to-do list yang menanti. Seperti sebuah mesin yang dipacu begitu cepat agar mampu melewati banyak hal. Kadang, saya merasa, bahwa kita ini sebetulnya begitu gelisah dalam mengejar urusan dunia. Gelisah, takut tidak mencapai kesempurnaan duniawi, entah itu masalah kekayaan, entah itu masalah jabatan, entah itu masalah popularitas.
Bagi saya, selalu ada moment yang membuat saya, sedikit menenangkan diri dari kegelisahan saya dalam mengejar urusan duniawi dalam hidup. Hal yang begitu simple yang jika dipahami, maka maknanya begitu dalam. Yakni, Salat.
—
Dalam menjalani salat, saya diajarkan untuk melakukan segala hal dengan penuh ketenangan.
Dalam melafalkan do’a serta surat yang kita baca, kita diminta untuk tidak asal ucap dan komat-kamit, tapi perlahan dan penuh pemahaman. Dan saya merasakan, saya harus lebih tenang dalam berucap, tidak gelisah, tidak terburu-buru.
Dalam melakukan gerakan salat juga, kita diajarkan untuk tumaninah. Rukuk harus tegak, berdiri harus tegak, dalam sujud kita harus tegak. Dan saya merasakan, dalam bergerak, saya harus lebih perlahan, tidak terburu-buru, lebih tenang, dan mengutamakan kesempurnaan gerakan.
Dalam salat, kita diminta untuk berdzikir selepas salat. Mengucapkan kalimat ampunan, memohon maaf atas segala hal yang dilakukan. Tidak langsung pergi berdiri, karena kita tahu, kita harus mengucapkan kata perpisahan pada pertemuan dengan Allah SWT yang begitu singkat tersebut. Kembali, saya menenangkan hati lagi, untuk tidak fokus kepada hal duniawi terlebih dahulu.
Salat mungkin tidak lebih dari 30 menit, tapi itu sudah bisa membuat saya lebih tenang dalam menghadapi aktivitas lainnya yang berjam-jam lamanya.
Salat itu, jika dilaksanakan, maka ketenangannya bisa melebihi obat penenang terbaik sekalipun.
—
Maka, jika kita merasa gelisah dengan segala yang kita lakukan, salat lah dengan hati, agar kita, bisa menenangkan diri.
Karena hati yang tenang, jauh lebih berharga daripada uang, jabatan, serta popularitas yang datang.
MENENANGKAN DIRI 28 Oktober 2016
minta sama Allah!
Kalau dulu saya pernah mendengar nasihat Ustadz Yazid, bahwa kalau kita ingin sesuatu, kita minta sama Allah.
Dan meminta itu bukan minta yang terbaik, tapi minta yg Kita inginkan, di situ lah rukun pertama roja tadi, berharap.
Lalu kita pun berdoa dengan bersungguh2 dan berusaha, untuk memenuhi rukun kedua, Khouf, saking bersungguh-sungguh-sungguhnya sampai takut tidak terwujud.
Insya Allah, kalaupun yang terjadi sebaliknya kita ga akan kecewa, di situlah rukun yg ketiga muncul, hubb atau cinta dengan ketentuan Allah.
Kok bs ga terkabul malah “seneng”? Karena kita sudah melakukan apa yg harus kita lakukan. Apakah sama orang yg ga usaha dengan yg usaha? Tentu tidak. Orang yg ga usaha sudah tahu akan kecewa sejak awal.
Tapi orang yg usaha ketika tidak berhasil akan kecewa saat itu aja. Selebihnya dia akan menerima ketentuan Allah, dan dia yakin ini yang terbaik buat dia.
maa syaa Allah :’)
itu nasehat teman saya beberapa tahun yang lalu, yang saya simpan di notes hp.
remember it dear Syl :)
Maa syaa Allah, yang diminta itu bukan yang terbaik, tapi yang kita inginkan. Inilah raja’ (berharap). Barulah pada akhirnya mahabbah (cinta) yang bermain terhadap takdir yang datang, menerima segala ketentuan-Nya, ridha pada apa yang didapat, bahwa itu yang terbaik dari-Nya.

Anya is live and ready to show you everything. Watch her strip, dance, and perform exclusive shows just for you. Interact in real-time and make your fantasies come true.
Free to watch • No registration required • HD streaming
Kapal kehidupan
Hampir di setiap langkah kehidupan kita ada proses berpindah. Pindah dari SD ke SMP, SMP ke SMA dan begitu seterusnya, Pindah dari satu kediaman ke kediaman lagi. Pindah dari pekerjaan satu kepada yang lainnya, Pindah ke lain kota ataupun ke lain negara, untuk apapun tujuan hidup yang ingin kita tempuh, Melanjutkan studi atau mengikuti pasangan yang sudah lebih dulu menetap disana.
Esensi dari hidup itu sendiri adalah tentang bergerak, berpindah dari satu keadaan kepada keadaan lainnya. Tentang menempati ruang baru, kota baru, sekolah baru, daratan baru bahkan benua baru dan teman hidup baru *eh
Mengiringi kegembiraan akan berada pada situasi yang serba baru , Ada juga rasa was-was menyeruak dan timbul di kali perpindahan itu. Akan seperti apa ‘tempat’ baru kita nanti. bagaimana situasi di sana, juga penerimaan dari orang-orang yang akan menemani hari-hari kita di sana (menyenangkan atau tidak), dan banyak lagi pertanyaan lainnya yang muncul di benak kita.
Bicara perpindahan berarti juga berbicara juga tentang pendaratan. Di tempat mana kelak kita akan menjejakkan kaki kita kembali. Setiap kita tentu punya keinginan mendarat di tempat baru kita dengan pendaratan yang mulus atau mendekati, no hard landing. Karena setiap tempat baru kita adalah pelabuhan tempat kita melempar jangkar untuk waktu yang sekian lama, sampai tiba waktunya berpindah lagi. Diperlukan pelabuhan dengan laut yang tenang, terbebas dari karang agar tak karam sebelum tiba, sampai saatnya kita mendaratkan pesawat atau kapal kehidupan kita.
Tempat yang penuh barakah, begitulah sepatutnya kita meminta kepada pemilik semua tempat di Bumi ini, kepada sang Maha memberi. Memohon untuk sebaik-baiknya tempat mendarat, seberkah-berkahnya bumi di pijak. Sebagaimana mendaratnya kapal nabi Nuh AS setelah penjelahannya mengarungi lautan bumi menuju ke tempat yang diberkahiNya.
وَقُلْ رَبِّ أَنْزِلْنِي مُنْزَلًا مُبَارَكًا وَأَنْتَ خَيْرُ الْمُنْزِلِينَ
Dan berdoalah: Ya Tuhanku, tempatkanlah aku pada tempat yang diberkati, dan Engkau adalah sebaik-baik Yang memberi tempat". (QS 23:29)
berkarya
ada sebuah cerita yang membekas sekali meskipun saya baca berbulan-bulan yang lalu. cerita ini adalah pembuka buku Indiepreneur karya Pandji Pragiwaksono. kurang lebih, kisahnya begini.
suatu hari, Ayah Pandji bertemu koleganya yang adalah warga negara asing–di sebuah restauran dengan nuansa ukir-ukiran jawa. kebetulan, si bule ini kontraktor sekaligus orang properti. dalam percakapan mereka, tersebutlah obrolan tentang ukir-ukiran yang menghiasi sekeliling.
“Kus,” kata si bule, “orang Indonesia itu aneh ya.” “kenapa anehnya Sir?” “iya. kalau disuruh bikin ukir-ukiran, bisa rapi sekali, presisi sekali. nggak ada orang lain di belahan dunia lain yang bisa bikin kayak gini. tapi…” “tapi?” “tapi kalau disuruh bikin tangga, pasti acak-acakan. anak tangga pertama 20 cm, anak tangga kedua 21 cm, beda-beda ukurannya.”
Ayah Pandji pun menyimpulkan. perbedaan ketepatan dan keindahan ukir-ukiran serta tangga tadi bukanlah karena yang satu orang Jepara dan yang lainnya bukan–melainkan karena yang satu berkarya, dan yang satunya hanya bekerja.
kisah ini (dan seluruh isi buku) menjadi aha momen bagi saya. ternyata, inilah mengapa hasil pekerjaan banyak orang berbeda-beda. bahkan, inilah mengapa hasil pekerjaan saya sendiri masih sering berubah-ubah. kadang masakan saya enak, kadang tidak. kadang menyapu dan mengepel saya bersih, kadang tidak. kadang setrikaan saya rapi, kadang masih lungset.
waktu kecil, Ayah dan Ibu mengajarkan saya untuk tidak pernah minimalis dalam bekerja. kalau kita bisa memberikan pelayanan sesuai dengan yang orang lain minta dan harapkan, pekerjaan kita barulah nol nilainya. kalau kita bisa memberikan yang lebih, yang tidak terduga-duga, barulah itu menjadi sebuah nilai plus. dulu saya mengira bahwa memberikan yang “lebih” tidak ada gunanya bagi saya. padahal ternyata, dengan selalu memberikan yang “lebih”, saya belajar untuk bertumbuh.
sayangnya, banyak orang–terutama anak-anak muda jaman sekarang–yang justru bekerjanya minimalis, alias minus. yang parah, semuanya dibalut dengan alasan tidak sesuai passion. “ini bukan passion saya, jadi wajar aja kalau saya kerjanya hanya ala-ala.”
alhasil, kehadiran orang-orang yang hanya bekerja (dengan ala-ala) ini malah menyusahkan orang lain. saat hasil pekerjaannya diestafetkan, yang ada orang lain menjadi kesal sebab yang diterimanya belum tuntas. kadang-kadang, yang sudah dikerjakan orang sebelumnya tidak bernilai apa-apa, sehingga orang yang menerima harus kembali mengulang dari awal. kalau masalahnya hanya bekerja ulang sih, masih tidak seberapa. yang paling amit-amit, adalah kalau orang yang menerima tadi merasa terdzolimi, lalu mendoakan yang tidak-tidak.
tentu saja ketidakikhlasan itu jadi penghalang bagi orang yang hanya bekerja (dengan ala-ala) untuk menjemput rezekinya. tentu saja kekesalan itu menjadi penghalang baginya untuk berkembang. ternyata orang yang bekerjanya minimalis, tidak hanya merugikan orang lain, tetapi justru merugikan diri sendiri. pantas saja dia tidak maju-maju(?).
kalaulah kita memang tidak menyukai suatu pekerjaan, janganlah kita bekerja ala kadar dengan alasan “ini bukan passion saya”. setidaknya, niatkanlah melakukannya untuk membantu orang lain, memudahkan orang lain, sehingga niscaya hidup kita pun akan dipenuhi dengan kemudahan. apapun pekerjaannya–tidak melulu berkarya adalah milik seniman saja–selalu ada perbedaan antara orang-orang yang bekerja dengan orang-orang yang berkarya. maka, berkaryalah!
banyak anak muda yang tidak sadar bahwa dalam lima tahun pertama dia bekerja, sebenarnya dia sedang belajar tetapi dibayar. mereka kok sebentar-sebentar berhitung, sebentar-sebentar lelah. padahal masa muda adalah masanya belajar, berkarya, bertumbuh–bukan masanya mengeluh.
kita sangat boleh menginsyafi bahwa apa yang kita lakukan tidaklah sesuai dengan passion kita, juga sangat boleh jika kita mencari alternatif bidang pekerjaan yang lebih cocok dengan panggilan jiwa. tapi, kita tidak pernah boleh bekerja hanya ala-ala, apapun yang kita lakukan.
bekerja berarti menyelesaikan pekerjaan sampai tuntas. tetapi berkarya, berarti menyelesaikan pekerjaan sekaligus membuat perubahan. bagi diri sendiri, bekerja berarti mengugurkan kewajiban semata, mengisi waktu (dan kantong) semata. tetapi berkarya, berarti bertumbuh dan berkembang, berarti menjadi makna.
LUV!