Matiku Nanti
Janganlah mati, kecuali dalam keadaan Muslim. Di mana aku bersaksi bahwa tiada Ilah selain Allah, bahwa Muhammad adalah utusan Allah.
Di mana kuserahkan hidupku untuk mengabdi di jalan-Mu. Sholatku adalah pertemuan-pertemuan paling dirindu. Tahajjud adalah target harian yang paling dipersiapkan, merasakan nikmatnya kehadiran Al-Qur'an dalam kesunyian. Tilawah adalah makanan yang tidak pernah boleh kurang. Hafalan Qur'an adalah penghiburan serta pendamping dalam aktivitas keseharian. Zakat adalah kesukacitaan berbagi karunia yang terberikan. Dahaga dan lapar sesiangan adalah kelapangan dalam meningkatkan kebaikan. Memenuhi undangan ke tanah suci adalah kesemogaan yang pintanya diharap-harap.
Mati dalam keadaan muslim. Di mana aku relakan seluruh hidupku untuk Engkau bimbing dan Kau tunjukkan jalan. Di mana aku berserah atas segala urusan dan persoalan. Di mana tidak kugantungkan keperluanku kepada selain Mu. Di mana tiada jaminan kebahagiaan, bahkan dari keluarga atau pasangan. Sebab mereka ada sebagai perantara memperingan perkara-perkara, meluaskan manfaat agar berkah dan kebaikan tersebar lebih luasnya. Dan makna-makna keberadaan orang tercinta adalah cara Engkau menunjukkan kasih sayang. Jika cinta mereka sebesar itu, apalagi Engkau.
Mati dalam keadaan Muslim. Di mana aku bekerja sebagai cara untuk bersyukur pada-Mu. Di mana aku semestinya menjadikan konsep, teori, dan kaidah yang berasal dari sisi-Mu adalah acuan pertama sebelum konsep teori kaidah yang kukonstruksi sendiri dari turunan-turunan ilmu yang kupelajari. Di mana aku seharusnya semakin menguatkan yakinku hari demi hari bahwa rizki telah Kau tetapkan sampai tentu. Hingga iri atas rizki sesama : kekayaan, potensi, jabatan, popularitas, kecerdasan, kecantikan, kharisma, kehidupan sosial dan karunia lainnya, adalah melelahkan saja. Sebab seringnya keinginan-keinginan bukan berasal dari pengharapan meningkatkan ketaatan dan meluaskan kebaikan, tapi hanya nafsu merasakan kenikmatan-kenikmatan.
Mati dalam keadaan Muslim. Kini aku begini, dalam keadaan yang Kau beri dan kuupayakan. Namun nanti entah bagaimana. Semoga usaha untuk mendekat pada orang-orang yang Kau cinta, menjadi pengingatku bahwa melakukan hal-hal keliru hanya akan membuat malu dalam hisabku. Nampaknya Surga memang masih jauh, niat-niat masih tercemari, amalan-amalan masih sana-sini kecacatan, kebermanfaatan masih tak ada seujung kuku.
Tapi semoganya kami adalah hanya mati dalam keadaan berserah diri. Mungkin masih jauh pemahaman dari kesejatian makna keberserahan, tapi semoga sebelum kembali pada-Mu nanti, saat ini kami dalam jalan berserah diri.
Kertamukti, 31/3/17










