Namanya Sarjuni Nadiyanto, cinta abadiku yang harus ku relakan pada umur tujuh.
Dia, Sarjuni, yang mengajarkanku kepada ketulusan cinta yang ku rasakan begitu hangat hingga hari ini.
Dia, Sarjuni, yang punya segudang pengalaman hidup yang cepat-cepat dia ceritakan padaku, namun terhenti saat waktu berhenti berputar untuknya.
Dia, Sarjuni, yang memelukku erat ketika petir menggelegar dalam kehidupan.
Dia, Sarjuni, yang menjadi tameng terkuat untukku.
Dia, Sarjuni, yang namanya selalu disingkat dan tak mau dipanggil secara lengkap.
Dia, Sarjuni, yang senang berkebun dan membetulkan genteng rumah.
Dia, Sarjuni, yang memamerkan alat tempurnya saat dulu dia berperang di dinding rumah kecilnya.
Dia, Sarjuni, yang melihatku dengan penuh cinta dari awal aku lahir.
Dia, Sarjuni, yang senang untuk mengelilingi kota pada malam hari hanya untuk melihat lampu-lampu menyala, entah sambil membayangkan mimpi mana yang sedang dia harapkan untuk terjadi.
Dia, Sarjuni, yang selalu ada untukku, hingga hari ini saat dirinya sudah pergi.
Sarjuni Nadiyanto, satu-satunya orang yang ku sematkan panggilan mbahkung.
Terima kasih banyak, mbahkung, semoga surga memelukmu lebih hangat dibandingkan aku.
Sempatkanlah untuk mampir kepada mimpi-mimpi malamku, karena aku rindu. Selalu.