Cita-cita. Waktu kecil saya bercita-cita ingin jadi pilot, lalu saya ganti karena takut ketinggian. Kemudian saya ingin jadi pembalap, tapi kata mama balapan bahaya banyak yang sampe hancur mobil/motornya, akhirnya saya coret. Kemudian ketika mulai beranjak besar dan mulai awal tahap pendewasaan, saya berpikir punya cita-cita yang bisa membantu dan bermanfaat untuk orang banyak, akhirnya saya berpikir untuk jadi dokter, karena semasa kecil saya sering ke dokter, jadi saya rasa dokter menjadi pilihan yang tepat untuk membantu dan bermanfaat untuk orang banyak. Namun, Allah berkata lain, universitas yang saya mau untuk ambil kedokteran tidak terima mahasiswa dari SMK. Akhirnya? Ya walau sempat galau-galau dan kecewa diawal karena harus kembali mencoret mimpi untuk jadi dokter, akhirnya saya putuskan untuk bekerja sambil berpikir juga mau jadi apa. Pada akhirnya ya saya menjadi yang sekarang ini, karyawan sebuah perusahaan pupuk sambil kuliah komunikasi. Lalu saya sempat merenung, ternyata Allah kabulkan cita-cita saya tanpa saya sadari, tapi bukan dengan wujud profesinya, melainkan esensinya. "Membantu dan Bermanfaat untuk orang lain", ternyata lewat pekerjaan saya sekarang Alhamdulillah dapat ikut membantu keluarga, saudara, juga teman-teman bahkan untuk diri saya sendiri. Saya tidak bermaksud berbangga hati atau jumawa dengan semua ini, tapi apa yang bisa kita pelajari bahwa Kita kadang merasa kecewa dengan apa yang ditetapkan oleh-Nya, tapi percayalah kalau kita telaah kembali hingga titik saat ini banyak hal yang ternyata lebih dari ekspektasi. Syukuri, senangi dan nikmati. Coba kalian renungi dalam diri tentang kalian sekarang ini, kemudian bersyukurlah dengan semua apa yang telah Ia beri. 😁 . . #selfreminder #dreams #citacita #mimpi #takdir (di Dalam Hati Kecilku) https://www.instagram.com/p/B1G1ab6lYCh/?igshid=2evkpurlwvbj