Perayaan Untuknya
Ketika kepikiran perayaan hari lahirnya, ide pertama yang muncul di kepala adalah perihal momen. Belum kebayang bakal jadi gimana, tapi rasanya ide itu menarik buat diwujudkan. Masih ada satu bulan sebelum hari H, there is enough time to plan about it.
Tahun kemarin, kami kebetulan bisa bertemu di sekitaran tanggal ulang tahunnya. Tahun ini, kebetulan itu belum tentu bisa terjadi. Salah satu opsi adalah ketemu di H-7, tepat di tanggal merah, ketika aku dan dia bisa sama-sama libur bekerja. Aku merasa hari itu bisa jadi kesempatan yang bagus untuk create moment. Membayangkan hang out seharian dengan kejutan-kejutan kecil untuknya terdengar menyenangkan. Tapi tentu kita perlu memperhatikan situasi dan kondisi, jadi mari kita simpan opsi ini dulu.
H - 7 Minggu, kami hang out. Seperti biasa, setiap waktunya didokumentasikan. Ketika aku melihat isi album kami untuk kegiatan hari itu, ide menyusun scrapbook kemudian muncul. Dan tanpa halangan, bayangan tentang tatanan buku kompilasi itu seketika mengalir. Aku akan menulis sesuatu, dan foto-foto kami akan jadi salah satu yang memperkuat suasana yang akan ku tulis.
Aku belum pernah menyusun scrapbook untuk seseorang. Karena itu, aku jadi mengira-ngira bahwa hal ini akan jadi pengalaman pertama yang menyenangkan untukku dan menerima karya personal, sudah pasti akan dia hargai. Apa yang ku butuhkan pun tidak sulit ku dapatkan, jadi kenapa tidak?
Aku memulai proyek ini dengan mengakurasi album foto serta mengingat setiap hal yang pernah terjadi di antara kami. Memasukkan semua momen dari pertama kali kami berinteraksi mungkin akan memperpanjang ruang. Jadi ku putuskan untuk mengumpulkan momen setiap pertemuan kami setahun belakangan.
Ada berbagai konsep yang terlintas di kepala. Tapi foto dan tulisan tetap harus jadi bintang utama. Aku suka cerita dan tulisan. Jadi unsur itu akan ku pakai untuk merepresentasikan personaku. Dia suka mengabadikan momen lewat foto. Dia juga suka puisi. Foto-foto momen kami dan beberapa puisi akan merepresentasikan personanya. Setelah menemukan titik temu tersebut, aku jadi punya kompas untuk merancang isinya.
Aku ingin scrapbook ini jadi sesuatu yang sama-sama berarti untuk kami. Aku ingin dia tahu bahwa waktu yang ku habiskan bersamanya adalah momen yang membuatku bersuka cita. Aku ingin menyusunnya sebaik mungkin, put my heart in every single thing agar aku punya monumen perihal salah satu bagian dari perjalanan hidupku.
Menghidupkan kembali perasaan ketika kami berbagi waktu, menyusun satu per satu detail, juga memilah elemen yang paling mewakili rasa yang ingin disampaikan ternyata terasa emosional sekali. Dalam proses itu, aku jadi menyadari perasaanku yang paling jujur. Mengompilasi kepingan memori kami, ternyata juga membantuku memeluk diriku sendiri. Mungkin, belakangan ini hidupku terasa lebih ringan adalah karena aku tidak lagi mengkonfrontasi perasaanku sendiri.
H-7. Hadiah yang ku pesan tiba di tempatnya berada. Karena dia akan pergi ke ujung negeri, menyempatkan kadonya tiba sebelum kami dipisahkan samudera adalah pilihan paling ergonomis buatku. Aku lega mengetahui dia menyukai apa yang ku pilihkan untuknya.
H-6. Scrapbooknya selesai. Aku terharu sembari memperhatikan render progress di layar gawai. Berhari-hari aku berkutat dengan proyek itu. Mendengarkan musik yang mewakili cerita kami dan membaca kembali beberapa tulisan di platform digital dan ruang pesan, menyempatkan sekian menit di sela-sela jam rehat di kantor, menghabiskan beberapa saat sebelum tidur untuk kembali mengecek layout, sampai akhirnya itu semua selesai. Aku senang tentu saja, dan tidak sabar ingin tahu reaksinya membaca kompilasi momen kami.
Hari H, 00:00. Aku berdebar sejak beberapa menit sebelumnya dan lega luar biasa ketika file buku itu terkirim di ruang pesan. Hening. Dia sepertinya tak mengizinkan ada jeda di antara detik file itu diterima dengan detik ketika ia mulai membaca.
Seperempat jam berlalu. Dia kemudian muncul kembali dengan pesan-pesan haru, juga keluhan perihal gambar lilin yang apinya tak sanggup ia padamkan wkwk. Aku tak perlu bertanya apakah ia menyukainya, karena dari yang ia tuturkan, aku tahu apa yang ku inginkan tercapai dengan sempurna.
.
.
Untuk K, sekali lagi, selamat bertambah usia!







