Apakah selama nikah dan punya anak saya pernah bersedih?
Oh, tentu saja pernah. Dalam pernikahan pasti ada naik dan turun. Tapi sebisa mungkin, ketika turun, setelahnya kita berusaha menaikkannya jauh lebih tinggi dari sebelumnya.
Selama 3 tahun pernikahan ini, saya merasakan ada 3 hal besar yang pernah membuat saya tidak nyaman. Dan sepertinya ini harus saya tuliskan agar tidak lupa dengan hal-hal yang membuat diri ini terus bertumbuh.
1. Diri yang mudah badmood, inner child, dan suami.
Awal-awal nikah, saya merasa diri ini sangat mudah badmood. Mudah nangis, tersinggung, kesal, dll. Bikin saya merasa tidak nyaman dengan diri sendiri. Suami seperti sumber dari badmood saya. Padahal, yang namanya baru nikah pasti lagi masa adaptasi. Penyesuaian sikap & perilaku, komunikasi, kebiasaan, dll.
Suatu hari, saya ngobrol sama suami. Sampai pada cerita tentang orang tua, tangis saya pecah. Berharapnya waktu itu sih langsung dirangkul kayak di drama2 korea, tapi itu hanya khayalan, wkwk. Dari situ ternyata terkuaklah bahwa ada inner child negatif yang terbawa dalam diri hingga hari itu.
Sejak saat itu saya coba berdamai dengan diri sendiri dan mencari benang merah akan masalah diri saat itu, hingga akhirnya dapat pencerahan bahwa saya harus belajar: komunikasi produktif. Alhamdulillah perlahan mulai tuntas dan efeknya adalah bikin lebih jatuh cinta pada suami #eaaak
2. Keinginan lanjut kuliah & mengaktualisasikan diri
Tepat setahun lalu, saya merasa ingin sekalilanjut kuliah. Akhirnya saya coba lagi, setelah sebelumnya di tahun 2016 gagal karena ternyata saya hamil. Di usia Affan sekitar 1,4 tahun itu saya coba daftar lagi di sebuah universitas swasta di Bandung. Tapi.. Disaat itu saya masih bimbang karena ingin membersamai Affan secara penuh. Ditambah, belum menemukan pengasuh untuk Affan.
Saya ikut tes, belajar melepaskan Affan bersama ayahnya karena saat itu lagi lengket2nya sama saya. Alhamdulillah lancar. Saat itu saya sempat berpikir, kalau tidak dapat pengasuh kemungkinan saya tidak jadi lanjut kuliah lagi. Ternyata, sampai ada pengumuman yang menyatakan bahwa saya tidak lolos, saya pun tidak dapat pengasuh. Sebenarnya ada kesempatan untuk daftar di universitas lain, tapi hati ini terasa berat untuk meninggalkan Affan karena hal tersebut.
Akhirnya, setelah diskusi panjang lebar sama suami dan Abi (Ayah), saya putuskan untuk tidak jadi kuliah lagi. Apakah saya langsung bisa menerimanya? Tentu saja tidak. Sempat ingin coba lagi meski tetap tidak yakin kalau seumpama lolos akan diambil atau tidak. Langsung "ditembak" suami dengan pertanyaan "Kamu mau lanjut kuliah emang karena pengen atau membuktikan kalau kamu bisa lolos?". Dor! Seketika tembakan sampai ke hati dan menyadarkan saya bahwa ternyata keinginan itu tidak benar-benar dilandaskan oleh keinginan belajar.
Saya juga ingat kata-kata semangat dari Abi waktu itu, kalau belajar sebenarnya tidak hanya di bangku formal, informal juga bisa. Dan masa ini bisa saya manfaatkan untuk semakin mengenal diri agar kelak lebih jelas studi apa yang benar-benar saya minati.
Ya, ya. Pada akhirnya saya meyakinkan diri untuk tidak jadi lanjut kuliah, lagi. Tapi kegalauan itu tidak berhenti sampai disitu, meski mengasuh Affan di rumah, saya tetap ingin bisa belajar dan mengaktualisasikan diri sesuai dengan passion. Tapi apaaa? Saya bingung.
Berhari-hari, berminggu-minggu, entah apakah sampai beberapa purnama (hahaha), saya coba merenung. Memikirkan hal apa yang bisa saya lakukan. Alhamdulillah, suatu hari saya kembali menemukan jawaban bahwa saat itu ada hal yang bisa saya tekuni sesuai dengan passion: menulis. Maka mulailah saya merutinkan nulis di IG pribadi (andai tumblr gak di block waktu itu mungkin saya nulis di tumblr, haha), sampai bikin akun IG @ceritaibuaffan. Terniat.
MasyaAllah saya jadi menyadari bahwa dukungan suami begitu kuat ia berikan agar saya bisa tetap mengaktualisasikan diri meski sambil mengurus Affan. Masa ini juga membuat saya kembali -makin- jatuh cinta pada suami. #ihiw
3. Merasa rendah diri
Saya sempat merasa rendah diri, tak berharga, tak berdaya, tak bisa melakukan apa-apa. Masa ini terjadi sekitar pertengahan tahun 2018 kemarin, tapi memang tidak selama waktu mencari solusi untuk 2 hal sebelumnya. Saat itu rasanya, diri ini kok kayak kurang konsisten, komitmen, dan greget dalam menjalankan hal-hal yang telah saya lakukan.
Saya coba baca-baca buku motivasi yang sekiranya akan membuat mindset saya lebih positif dan ikut komunitas agar saya bisa terus belajar. Alhamdulillah tidak lama saya menyadari apa yang harus dilakukan: action, talk less do more. Sebenarnya ada banyaaaak sekali ide di kepala ini, cuman masalahnya saya tidak melakukan sesuatu untuk mewujudkkannya (misalnya pengen nulis tapi cuman dipikirin). Dari sini saya perlahan mulai mengambil langkah konkret untuk unleashing the ideas.
MasyaAllah, tanpa diduga-duga akhirnya jadi bisa bikin project #PreMarriageTalk (awalnya serial tulisan) sampai akhirnya sekarang bisa bikin kelas pranikah online dan kuliah whatsapp (kulwap). Projek inilah yang pada akhirnya perlahan menjadi diri yang lebih berharga dan tersalurlah minat-minat saya sebenarnya.
Efeknya lainnya apa? Lagi-lagi, makin jatuh cinta pada suami. Karena hal2 tadi tidak bisa saya lakukan jika tanpa dukungan dan ridho dari suami.
***
Ini bukannya lebay atau memanas-manasi, tapi somehow saya merasa setelah konflik-konflik yang terjadi memang membuat interaksi saya dan suami jauuhh lebih membaik (walaupun sebelumnya juga tidak buruk). Saya jadi lebih mudah bersyukur dan beruntung punya suami seperti dirinya #eaaa
MasyaAllah, tabarakallah. Itulah hal-hal yang membuat saya menjadi "Nida" hari ini. Doakan saya bisa menjadi pribadi sesuai dengan makna nama yang sudah disematkan oleh kedua orangtua saya ya.. yakni menjadi penyeru yang taat dan lembut. Semoga Allah memberkahi setiap langkah yang saya tempuh, melindungi suami dan Affan, serta mengumpulkan kami sekeluarga besar di Jannah-Nya. Aamiin yaa Rabbal'alamin.