Iri pada kehidupan orang lain itu wajar, merasa hidup ini tidak adil untuk kita pun lumrah. Jangankan orang lain, orang terdekat seperti orang tua kita saja terkadang tidak adil memperlalukan kita dan saudara kita.
Aku pernah melewati fase di mana aku merasa orang lain begitu beruntung, tapi tidak dengan aku. Merasa begitu menderita, sedang yang lain bahagia. Merasa semuanya kurang dan selalu kurang.
Hingga segala yang aku lalui mengantarku untuk sampai pada titik kesadaran, bahwa keadilan Tuhan tidak akan mampu tergapai oleh nalarku
Kasih sayangNya, selalu lekat dengan setiap detak nadi. Bahkan, setelah semua kesedihan yang terlewati masih jauuuuhhh lebih banyak kebahagiaan yang menghiasi setiap hari.
Aku, yang hari ini merasa begitu disayangi Tuhan. Setelah sedikit mengerti tentang konsep keadilan Tuhan. Telah sampai pada titik di mana, ketika atas IzinNya kebahagiaan begitu luar biasa membuncah di dadaku saat itu pula resah menguar dari dalam dada "aku harus membayar dengan harga berapa untuk kebahagiaan hari ini."
Pun ketika kesedihan mewarnai hariku, pada saat yang bersamaan aku merasa lega "ternyata ini harga yang harus kubayar untuk kebahagiaan kemarin. Alhamdulillaah, satu kebahagiaan telah lunas." Begitu.
Dulu, ketika aku merasa sedih dan terpuruk aku selalu menyemangati diriku sendiri "Kamu kuat, bertahanlah. Akan ada pelangi setelah hujan." Namun, setelah belajar konsep keadilan Tuhan tidak ada lagi penyemangat macam itu. Melainkan perasaan lega dan syukur.
"Matahari selalu hadir setiap hari, maka hujan ini adalah KaruniaNya untuk menjadikan bumi dingin. Hari ini mendung, agar aku memahami arti kehadiran cahaya."
Karena setelah kupikirkan kembali, kebahagiaan Tuhan jauhhh. Amat sangat jauh lebih banyak dan tak terhitung dibandingkan kesedihan yang sangat sedikit.
Sekali lagi, Tuhan itu adil. Kehidupan ini adil. Manusia bukan Tuhan, mereka juga bukan pemilik kehidupan. Ketika manusia berlaku tidak adil padaku, bukan berarti Tuhan tidak adil. Segala bentuk ketidak-adilan di dunia, tidak lain hanyalah keterbatasan nalarku memahami keadilan Tuhan.