Beberapa Pesan di Balik Pandemi
Saya yakin, ada pelajaran di balik setiap kejadian. Pelajaran yang bisa kita ambil minimal sepadan dengan pengorbanan yang harus kita tanggung, mungkin malah bisa lebih. Sebab, saya sangat yakin. Tuhan tidak jahat.
Walaupun tidak semua pelajaran bisa ditangkap oleh semua orang. Pelajaran juga tidak selalu untuk hari itu juga. Bisa saja untuk anak cucu ke depan.
Selama WFH ini, saya banyak merenung untuk menangkap pesan positif yang ingin disampaikan pandemi ini untuk kita semua. Semoga ini bisa membantu orang lain yang masih kesulitan menangkap pesan dari pandemi ini.
1. Intensitas pertemuan anggota keluarga di rumah meningkat bahkan sejak pagi.
Banyak keluarga yang jarang berkumpul dan ngobrol. Orang tua kerja pulang sore, anak-anak sekolah juga pulang sore. Ketemu malam, masing-masing capek dan fokus ke hp.
Selama WFH, jadi banyak waktu luang untuk mengobrol, menanyakan hal-hal kecil dan sederhana yang sering di-skip di hari biasa. Pandemi ini secara tidak langsung menyambung silaturohim di dalam keluarga kita sendiri.
2. Orang tua mulai belajar mengajar anak-anak mereka sendiri selama di rumah.
Hal yang jarang dilakukan orang tua karena biasanya tugas ini dilimpahkan ke guru di sekolah. Orang tua mulai sadar betapa pentingnya orang tua mengerti pelajaran yang diperoleh anak-anaknya
Ketika orang tua mulai mengerti jika ada pelajaran yang sulit yang bahkan mereka juga tidak mampu mengerti dan menjelaskannya ke anak-anak mereka. Orang tua mulai sadar untuk tidak lagi hanya meminta nilai bagus dari anaknya.
3. Pelajaran pertama anak ada di rumah
Guru pertama anak adalah orang tua mereka. Seharusnya begitu. Tapi peran ini sering hilang dan dilimpahkan ke guru di sekolah. Tentu berbeda. Di sekolah anak tidak menerima keintiman belajar. Anak tidak menerima "nilai-nilai" orang tuanya
Di rumahlah nilai-nilai dan pandangan hidup orang tua disalurkan ke anak mereka. Berbagai pertanyaan yang tak bisa diajukan dan dijawab di sekolah dan ke teman-teman bisa ditanyakan di rumah. Orang tua wajib menjawabnya.
Sehingga orang tua tidak hanya orang yang mencukupi kebutuhan finansial keluarga. "Asal anak bisa makan dan sekolah"
4. Semua orang butuh Me-Time
Karena bebas keluar rumah, kita sering menghabiskan waktu berkumpul, membeli ini itu setiap hari. Tentu itu menyenangkan, tapi ada beberapa jam yang tidak seharusnya dihabiskan sia-sia.
Ada beberapa jam yang kita alokasikan untuk berkumpul sebagai bentuk menghormati pertemanan yang tidak seharusnya digunakan. Beberapa jam yang seharusnya kita gunakan untuk membaca buku, mengatur lagi fokus awal perjalanan kita.
Selama pandemi ini, kita diberikan waktu yang cukup banyak untuk kembali fokus pada diri sendiri. Fokus pada tujuan awal, fokus pada masa depan yang akan kita jalani yang belum tentu bersama teman-teman di tongkrongan.
Kita mulai memikirkan bagaimana caranya mengisi waktu luang. Hobi dan passion mulai muncul, bakat yang selama ini tak punya porsi waktu yang cukup untuk dikembangkan. Kita mulai produktif dan mendayagunakan skill milik kita sendiri. Tidak lagi bergantung pada teman.
5. Mulai rutin masak sendiri
Banyak istri yang biasanya kerja dari pagi dan lebih memilih beli sayur jadi. Karena pandemi, mereka mulai belajar menu masakan baru. Lebih memilih masak sendiri karena ada banyak waktu luang.
6. Kita mulai sadar bahwa pasif income, investasi, atau pekerjaan berbasis sistem itu penting
Kita sadar bahwa jika kita tidak hadir dalam bentuk fisik di pekerjaan, maka tidak ada pemasukan. Jika kita tidak membuka lapak dagangan, tidak ada pemasukan.
Sementara kita harus tetap makan. Kebutuhan sehari-hari terus ada.
Kita mulai sadar bahwa kita selama ini bekerja untuk uang bukan sebaliknya. Uang tidak bekerja untuk kita.
7. Mulai menghargai hal-hal sederhana
Banyaknya waktu luang sama dengan banyak waktu untuk melakukan hal-hal yang sebelumnya kita anggap tidak penting atau tidak sempat. Misal menyiram tanaman, menghirup udara pagi, menghayati hangat matahari pagi, menyeduh teh dan membaca buku
Banyak pekerjaan di rumah juga yang bisa kita kerjakan. Menata ulang rak buku, mengubah arah tempat tidur. Kita juga punya waktu untuk membantu hal-hal sederhana orang tua kita. Membetulkan antena, mengganti ban, membetulkan kursi, membuat kue.
Hal-hal sederhana dan yang sebelumnya kita anggap buang-buang waktu, tidak menghasilkan, sia-sia dll ternyata jika dilakukan cukup menyenangkan.
8. Lebih menghargai kesehatan
Fakta bahwa virus menular melalui droplet, membuat banyak orang sadar bahwa sangat penting menutup mulut saat bersin/batuk dan mencuci tangan secara rutin. Sebab tidak hanya virus covid yang menular, ada banyak virus lain yang cara penularannya sama
Menjaga kebersihan diri menjadi fokus utama banyak orang hari ini. Selain itu banyak yang mulai aware dengan kesehatan. Rempah-rempah mulai naik daun, jamu tradisional, buah dan sayur. Makanan yang sebelumnya dianggap remeh dan menjadi pilihan ke sekian setelah fast food
Back to nature naik daun. Petani sayur, buah, rempah untung banyak.
Kita diberi waktu luang juga untuk olahraga. Pagi hari saat vitamin D memancar secara gratis. Saat oksigen luar biasa segar. Kesempatan yang sering kita lewatkan di hari kerja.
9. Sadar bahwa tidak semuanya harus dilakukan secara tatap muka
Jika bisa dilakukan di rumah kenapa harus di restoran, di cafe, di taman dll
Meeting suatu project jika bisa dijelaskan via grup wa kenapa harus di cafe? Dengan mengeluarkan anggaran konsumsi yang tidak perlu?
Kita malah menjadi konsumtif dan produktif dalam waktu bersamaan.
Ternyata dengan menggunakan teknologi, kita bisa menghemat banyak waktu. Melakukan banyak hal sekaligus. Tidak perlu membuang waktu, tenaga dan dana yang tidak perlu.
Kita bisa menghemat waktu mandi, jalan kaki, naik angkutan umum atau mobil/motor pribadi, perjalanan di jalan, menunggu partner lain, ngobrol ga penting sebelum acara dll
Bahkan kita sadar ada beberapa kelas kuliah yang seharusnya bisa dilakukan secara online atau bahkan mandiri.
Betapa sering kita masuk kelas hanya 1-2 saja dalam sehari. Saat masuk hanya absen dan mengumpulkan/diberi tugas.
Berapa ongkos, tenaga dan waktu yang terasa sia-sia?
Baju yang dipakai terasa sayang. Sudah dandan rapi dan mandi. Akhirnya sehabis kelas supaya tidak merasa sia-sia kita jalan atau nongkrong dengan teman. Jajan ini itu dll.
Waktu yang seharusnya bisa kita gunakan untuk me-time. Untuk melakukan hobi, untuk mengembangkan passion
10. Tidak ada alasan melewatkan ibadah
Di hari kerja biasa, kita kadang melewatkan beberapa shalat. Kita merasa berhak mendapat waktu istirahat karena sudah bekerja keras. Badan letih. Malas ambil wudhu dan sayang untuk memotong waktu istirahat untuk shalat.
Kita juga kadang menunda shalat karena dalam posisi tanggung. Tanggung melanjutkan meeting, kerjaan atau memang lupa waktu karena sedang di luar rumah. Di perjalanan.
Realitanya di hari kerja biasa sangat sulit tepat waktu ketika shalat, kecuali dhuhur yang memang sesuai dengan jam istirahat. Waktu kita tersita dengan fokus pekerjaan, badan terlalu letih dll
Saat shalat pun pikiran kita tidak bisa tenang. Merasakan badan capek. Memikirkan pekerjaan yang terjeda tadi. Shalat jadi terburu-buru. Ingin segera menikmati jam istirahat dan makan yang sangat singkat.
Selama pandemi ini, kita tak punya alasan untuk melewatkan shalat. Beralasan terlalu sibuk dan capek. Pikiran kita juga lebih damai. Tidak terburu-buru.
11. Produktif tidak selamanya cuan
Cuan atau untung kadang menjadi tolak ukur banyak orang dalam melakukan sesuatu. Jika tidak menghasilkan pendapatan rasanya malas dikerjakan. Buang-buang waktu.
WFH, tidak berangkat kerja bukan berarti tidak produktif.
Produktif tidak selama dibayarnya tiap jam aktivitas kita. Kerja di kantor misal. Karena kita dibayar sekian ratus ribu tiap 8 jam, itu dinamakan produktif. Tidak selamanya begitu.
Melakukan aktivitas yang berguna tanpa menghasilkan bayaran pun juga merupakan definisi produktif.
Produktif tidak melulu tentang uang. Betapa rendahnya kemanusiaan kita jika hidup tiap jamnya dipatok dan dirangsang hanya oleh uang.
Kita tetap bisa produktif dengan melakukan sesuatu yang kita suka walaupun tidak menghasilkan uang.
Kita malas meluangkan waktu berolahraga karena tidak mendapat bayaran darinya. Padahal bayaran tidak selalu berupa uang. Kita berolahraga bayarannya adalah kesehatan fisik.
Kita malas membaca buku karena tidak dibayar. Pdahal bayarannya adalah pengetahuan dan sudut pandang baru
WFH ini memberikan waktu yang sering kita inginkan selama hari kerja biasa. Waktu yang bisa kita gunakan untuk hal-hal sederhana yang sering kita lewatkan. Bukankah hidup juga terdiri dari hal-hal sederhana, meskipun tidak secara langsung terlihat hasilnya jika dikerjakan
Berapa banyak kita punya waktu merenung di hari kerja biasa. Merenung dan melamun tanpa rasa pegal di badan. Merenung dengan hikmat tanpa terburu-buru karena kerjaan di rumah belum selesai.
Merenung juga bagian dari produktivitas. Kita berpikir, kontempelasi diri sebelum melanjutkan perjalanan.
Apa jalanku sudah benar. Apa yang sudah saya lakukan kemarin. Apa yang akan saya lakukan beberapa tahun lagi. Apa pekerjaanku sekarang sudah benar.
Saking kalap dan sibuknya kita bekerja kadang kita tidak sempat memikirkan lagi apa yang seharusnya dipikirkan. Keputusan demi keputusan kadang diambil terlalu cepat karena terburu-buru.
Pelari marathon pun butuh jeda mengambil nafas sebelum melanjutkan beberapa kilometer lagi
Selama jeda itu ia mendinginkan kepala dan melambatkan detak jantung supaya bisa berpikir jernih. Melihat lagi apakah jalur yang diambilnya sudah benar. Bagaimana stok air minum dan makanan.
Jeda tersebut juga merupakan bagian dari lomba. Bagian dari produktivitasnya.
Ketika semua orang tidak bekerja. Baik kalangan menengah ke bawah hingga menengah ke atas. Semua terganjal pemasukannya.
Semua mengalami kerugian meskipun tidak semua berada di kondisi finansial yang sama.
Ada yang betul-betul terhenti pemasukannya, ada yang hanya tersendat pemasukannya ada juga yang terhenti tapi sudah memilki tabungan melimpah.
Semua mengalami kerugian. Semua berada dalam perahu yang sama.
Di sinilah kita diajarkan untuk menjadi manusia.
Bagaimana jika semua mengalami nasib yang sama tapi ada yang masih beruntung.
Orang-orang yang pemasukannya hanya tersendat, orang-orang yang tabungannya masih membludak dirangsang rasa empatinya.
Apakah benar kita hidup berdampingan di dunia ini
Jika iya, sudah seharusnya saling mengulurkan tangan bukan?
Pengusaha produk terkenal membantu kalangan bawah, yang merupakan konsumen produknya. Walaupun terdengar pragmatis, para bos perlu "memelihara" konsumennya sampai pandemi berakhir.
Jika kalangan bawah habis, produknya juga akan turun penjualannya. Mau tidak mau, dengan empati atau tidak, mereka akan tetap membantu kalangan bawah dengan menggelontorkan dana dalam bentuk "investasi".
Sembako, masker, apd, diskon murah dll
Dengan semacam paksaan alam untuk membantu, sistem sosial yang seharusnya terjadi di masyarakat akhirnya terjadi.
Yang di atas membantu yang di bawah. Karena bagaimanapun juga yang di atas butuh yang di bawah, begitu juga sebaliknya.
Pada akhirnya, beberapa empati karena perasaan persamaan nasib muncul.
Mereka bilang bangsa terdiri dari sekumpulan orang yang memilki persamaan nasib, cita-cita dan dalam satu lingkup wilayah yang sama.
Selama pandemi ini, kita merasakan persamaan nasib, merugi secara finansial. Sama-sama bertahan hidup. Sama-sama terancam oleh virus.
Semua juga memilki cita-cita sama. Memusnahkan virus dan menormalkan aktivitas.
Semua juga dalam lingkup wilayah yang sama. Yaitu bumi.
Ya betul. Bukan sebagai warga suatu bangsa tapi kita diingatkan sebagai manusia yang tinggal di bumi yang sama.
Nasib yang sama, cita-cita yang sama, dalam satu tempat yang sama.
Tidakah cukup untuk mengetuk empati dan rasa kesatuan kita sebagai manusia.
Entah mirip sistem komunis. Entah mirip sistem sosialis. Entah ini seperti sistem sosial apa, yang jelas kita dihadapkan pada fakta bahwa kita semua memilki resiko yang sama terhadap virus.
Mau kaya 7 turunan, mau tinggal di pinggiran sungai.
Semua bisa terpapar virus. Semua bisa sakit. Semua bisa mati. Semua sama.
Ketahanan sistem imun. Selama belum ada vaksin, setiap orang hanya bisa mengandalkan sistem imunnya masing-masing.
Sistem imun tergantung kepada setiap individu.
Sistem imun tergantung pada "amal" setiap orang selama ini. Amal yang dimaksud adalah bagaimana ia menjaga kesehatan, seberapa sering ia berolahraga, apa saja yang ia makan.
Sistem imun ini dibangun tidak sehari semalam, tapi melalui proses yang panjang.
Sekaya apa pun seseorang, ia mungkin tidak bisa membeli sistem imun yang kuat dan akan percuma apabila selama hidup ia serampangan. Makan junkfood, minum minuman berkarbonasi, merokok, melewatkan waktu olahraga, tidak pernah mengeluarkan keringat dll.
Merusak tubuh yang seharusnya dijaga.
Semua orang sama, yang membedakan adalah derajatnya di mata Tuhan. Amal kita terhadap tubuh kitalah yang akan menyelamatkan kita.
Sebagaimana amal kita yang akan menyelamatkan kita di akhirat.
14. Kembali ke kebutuhan bukan keinginan
Dalam pandemi ini, orang-orang tidak membeli handphone mahal, smartTV, Mobil mewah. Semua berbondong-bondong membeli sembako. Semua kembali pada kebutuhan dasar mereka. Kebutuhan yang penting.
Kita cenderung banyak memangkas list barang yang ingin kita beli ke depan. Barang-barang yang tidak terlalu penting dan mendesak. Barang yang tidak terlalu berguna selama pandemi.
Kita juga mungkin menghapus beberapa agenda atau project visioner.
Kita tidak terlalu jauh melihat ke depan. Kita diajak melihat di dalam. Ke jarak yang dekat dengan kita hari ini.
Apa yang bisa saya lakukan untuk hari ini bukan untuk hari esok.
Kita diajak untuk hidup hari ini. Pada momen ini. Pada hal-hal yang penting.
Ini merupakan gabungan dari konsep Minimalis dan Ikigai.
Kita lebih membutuhkan handsanitizer daripada gincu. Kita lebih membutuhkan jahe hangat daripada es boba. Kita lebih membutukan 1 jam olahraga daripada 1 jam nonton.
Selama ini banyak kebutuhan tubuh kita yang tersisih karena keinginan pikiran kita.
Keinginan dan kepuasan diri mengalahkan kebutuhan penting.
15. Melatih kebijaksanaan
Sejauh ini masyarakat hanya diimbau untuk tidak mudik. Tidak ada larangan hukum tertulis. Ini makin membuat dilema bagi orang-orang di kota. Sekaligus menguji kebijaksanaan orang-orang dalam mengambil keputusan.
Jika tidak mudik, rindu keluarga di rumah, kesepian di perantauan, keuangan makin menipis
Jika mudik, berpotensi membawa virus, tapi bisa berkumpul dengan keluarga.
Beberapa orang memilih tetap mudik dengan keyakinan bahwa dirinya sehat walafiat, tidak mungkin membawa virus. Apabila membawa virus pun paling tidak jika meninggal ada di dekat keluarga di kampung.
Beberapa lagi enggan mudik karena merasa jika dirinya belum tentu bebas virus
Mereka tau fakta bahwa tidak semua penderita memilki gejala.
Mereka tidak ingin mengambil resiko. Rasa sayangnya pada keluarga lebih besar dari ego. Mereka mengesampingkan keinginan pribadi. Mereka lebih memilih positif walaupun sendiri di tempat perantauan.
Tapi tidak semua memilki mental sekuat itu. Banyak yang ketakutan. Ingin merasa aman di dekat keluarga di kampung.
Kebijaksanaan setiap orang betul-betul diuji di sini.
Rasa kemanusiaan. Mental sebagai manusia yang bebas dan memilki banyak pilihan. Akal yang diberikan Tuhan untuk berpikir. Semuanya betul-betul diuji dalam pandemi ini.
Bahwa hidup tidak hanya antara hitam dan putih. Baik dan buruk.
Di RS Semarang beberapa waktu yang lalu, sedikitnya 46 tenaga medis tertular oleh pasien yang tak jujur.
Beberapa pasien mungkin ketakutan dan menyimpan informasi yang akan mengarahkannya menjadi pasien ODP hingga positif. Beberapa dari mereka berbohong. Tidak dari luar kota. Tidak pernah berinteraksi dengan warga negara asing dan lain sebagainya.
Karena rasa ego, rasa kemanusiaannya menurun. Ia tidak mempedulikan nasib tenaga medis yang merawatnya. Ia hanya ingin lekas diberi obat dan pulang dengan cara yang normal, tanpa mendapat status ODP/PDP
Menurutnya, ini tidak salah. Sebab, jika pulang dengan status ODP/PDP, mungkin ia akan dikucilkan oleh masyarakat.
Faktanya di lapisan masyarakat pun rasa kemanusiaan juga tengah diuji.
Banyak kasus jenazah pasien covid yang akan dimakamkan ditolak warga sekitar.
Dari sudut pandang mereka, ini benar.
Mereka enggan mengambil resiko, mempersilakan tubuh yang terjangkit virus ada di lingkungan mereka.
Rasa takut bisa mengalahkan rasa kemanusiaan semua orang.
Warga enggan mendekati bahkan terkesan mengucilkan orang-orang yang berstatus ODP/PDP.
Virus menjadi semacam momok dan aib di masyarakat.
Orang-orang tidak hanya dihadapkan dengan ketakutan akan virus, tapi juga pengkucilan dari warga.
Pandemi ini seperti bertanya pada kita semua
"Seberapa besar kemanusiaanmu? Setinggi apa kebijaksanaanmu sebagai manusia?"
Saya sangat yakin, masih banyak pesan dari pandemi yang belum saya tangkap. Masih berapa pun itu, saya rasa beberapa pesan di atas sudah cukup menjadi bahan renungan bagi kita semua.
Kita bisa melewati semua ini.