KONTEMPLASI PASCA STUDI: SEBUAH CATATAN 031
Sebelum membaca sebuah kontemplasi seorang “pengangguran” pasca masa studinya di ITB, Program Studi Meteorologi bulan Juli 2016 lalu ini. Dengan rendah hati ingin menyampaikan secara eksplisit bahwa tulisan ini khusus ditujukan untuk kamu yang sudah dalam titik kritis semangatnya kuliah di ITB, terutama di Program Studi Meteorologi, terutama lagi untuk 36 teman seperjuangan yang menyebut diri mereka sekawanan “Antari”.
Renungan atau buah pikiran atau contemplation pada dasarnya merupakan hasil opini pribadi dengan perhatian penuh sehingga perlu dicamkan bagi kaum kiri, kanan, maupun tengah bahwa tulisan ini bukanlah sebuah doktrin apalagi sebuah ajaran. Buah pikiran ini merupakan hasil reaksi dari raga, rasa, dan jiwa yang pastinya memiliki keunikan pada setiap individu. Jadi, apabila Anda sepakat bahwa apapun yang akan terjadi pada diri Anda setelah membaca tulisan ini, Anda tidak menuntut apalagi memaksa untuk berfoto selfie. Jika sepakat, silahkan lanjutkan membaca.
Yuk, mari lanjutkan waktu bercengkerama kita yang tertunda. Cuma 3-5 menit doang kok.
MASA-MASA SULIT BERLAKU HANYA BAGI ORANG YANG TIDAK SABAR, KURANG BERSYUKUR, DAN TIDAK BERUSAHA
Awal dan pertengahan memasuki tingkat 4, sudah berapa ribuan kali kalimat “Duh, udah tingkat empat tugasnya makin banyak aja” atau “Duh, apa ya topik TA gue nanti. Sulit ga ya kalo topiknya ini. Hmm, dosen pembimbingnya gue ga mau yang riweh deh entar lama lulus” atau “Duh, memang sulit ya tingkat 4 mau gantung diri pake kertas re-use deh” yang tak sadar terucapkan. Jika dikaji lebih dalam dengan tenang, secara sadar bahwa sebenarnya diri ini tidak sabar menghadapi proses dengan tekanan dari segala arah. Tentu saja masih ingat kuliah dari fisika yang pernah dipelajari waktu TPB bahwa tekanan merupakan perbandingan antara gaya persatuan luas area. Jika kita berasumsi bahwa gaya adalah segala aktivitas yang kita jalani seperti kuliah, praktikum, organisasi, himpunan, unit, tugas akhir, dan berbagai kegiatan yang kita lakukan. Kemudian selanjutnya luas area kita kita asumsikan sebagai kesabaran, usaha, rasa syukur, dan atau kapasitas mental kita. Dapat ditarik suatu ide bahwa tekanan yang kita alami akan semakin besar apabila luas area atau kesabaran, usaha, rasa syukur, dan atau kapasitas mental kita bernilai kecil dari gaya yang ada.
Akhirnya sekarang menyadari bahwa sebenarnya diri ini sendiri tidak sabar, kurang bersyukur, dan tidak berusaha untuk menaikkan kapasitas mental sehingga masa-masa sulit pun menjadi berlaku.
KESENDIRIAN ATAU KADANG TAK ADA YANG PERHATIAN BUKAN BERARTI MEREKA TIDAK PEDULI. MALAH MEREKA INGIN ENGKAU LEBIH TEGAR DAN MANDIRI. YUK BERPIKIR POSITIF!
Tugas akhir dapat disandingkan menjadi sebuah sosok saingan yang menakutkan seperti Valak di film The Conjuring 2. Walaupun memang tidak ada korelasi positif antara mereka berdua namun satu irisannya ialah sama-sama sebuah sosok yang menjadi momok. Semua orang begitu sibuk ingin menyegel mereka untuk selama-lamanya. Lelah tak henti bertempur hingga mata berkantung hitam layaknya panda yang terus mengetik mantra di depan layar, tak kenal siang ataupun malam.
Tentu sudah bukan rahasia lagi bahwa Program Studi Meteorologi mewajibkan individu mahasiswanya menghasilkan satu tugas akhir yang unik. Unik di sini artinya berbeda (tidak identik) antara satu dan lainnya. Dulu, biasanya dalam praktikum selalu bersama dalam tim, kini tak lagi bisa mengandalkan si dia, doi. atau si sahabat lagi. Jadinya, mau tidak mau ya sendiri-sendiri.
Mungkin yang membaca ini tidak semua yang merasakan kesendirian saat mengerjakan tugas akhir. Bisa jadi memang mungkin tidak pernah terpikirkan demikian karena toh bisa mengerjakan dengan lancar. Eits, tunggu dulu! Sinyal cosinus saja bergelombang naik dan turun loh. Pasti pernah merasakan suatu momen ketika tugas akhir sedang macet-macetnya bukan? Masih banyak kerjaan ini itu tapi ternyata semua orang tidak bisa dimintai tolong karena sibuk? Atau bahkan merasa tidak ada yang perhatian sama sekali? Semua orang menghilang saat butuh diskusi atau sekadar main menghilangkan depresi?
Yup, akan lebih baik kalau bersyukur bukannya nge-dumel. Coba ingat kembali kapan terakhir berada di titik terendah dalam hidup? Lalu ingat lagi, apakah setelah itu semakin terpuruk atau bangkit dan menambah kapasitas baru dalam diri? Saya yakin bahwa sesungguhnya kita diperlakukan jelek maupun baik karena kita memang pantas. Ada dua makna pantas disini, yaitu pertama adalah pantas dalam arti hadiah atas hal positif. Makna kedua adalah kita pantas atas segala hal negatif karena bisa jadi sebuah hadiah juga atas suatu kapasitas yang belum ada dalam diri kita. Sehingga akhirnya kita ditempa untuk menjadi wadah kapasitas baru tersebut.
Siapa bilang proses tersebut secara gamblang disadari untuk perbaiki kapasitas diri? Sesungguhnya apapun itu mereka ingin kau tegar dan mandiri kawan.
GA PEDE: BUKAN JAWABAN MENGHADAPI SIDANG TERTUTUP DAN UJIAN KOMPREHENSIF
Kalau ditanya “bakal lulus ga ya gue?”. Hanya ada satu jawaban yaitu “PASTI LULUS!”. Itu bukan pertanyaan yang membutuhkan jawaban “ya” atau “tidak”. Pertanyaan seperti ini kadang muncul karena keraguan atau kurang percaya diri saat-saat sidang tertutup dan ujian komprehensif. Memang dimaklumi karena kedua momen tersebut adalah ritual paling sakral dalam penentuan pengukuhan gelar kesarjanaan. Tinggal satu gerbong terakhir tancap saja gan!
Untuk mengakhiri kontemplasi dangkal ini, saya ingin berbagi 7 poin positif yang bisa jadi membantu dalam menghadapi kedua proses sakral tersebut:
Persiapan
1. Kitalah yang paling memahami tugas akhir kita. So, percaya diri lah! Percaya diri disini berarti kita paham dan mampu membuat orang lain paham. Jika masih ada waktu, presentasikan ke beberapa teman atau dosen pembimbing. Jika mereka paham dengan apa yang kamu sampaikan, kamu layak mengenakan sabuk yang dinamakan percaya diri!
2. Kerja keras selama kurang lebih 6 bulan tugas akhir akan dinilai dalam 15 menit presentasi. Kaji ulang isi slide tiap slide apakah semuanya membentuk cerita untuk menjawab tujuan penelitian? Semuanya memang penting tapi jangan berbelit-belit. Teknik presentasi standar seperti animasi ataupun penjelas dalam gambar/grafik berupa kotak penunjuk akan membantumu bercerita. Tonjolkan kata kunci sehingga kamu tidak lupa bagian mana saja yang perlu diperjelas dan mana yang tidak. 15 menit merepresentasikan hasil kerja keras mu dalam 6 bulan ini!!!
3. Selain print draft tugas akhir akan lebih baik apabila print bahan presentasi juga. Berikan ke dosen penguji maksimal satu hari sebelum sidang! You are one way to be professional
4. Tidur adalah obat mujarab untuk anak tugas akhir, apalagi sama sang tercinta –bantal guling---. Cobalah tidur dalam kondisi yang nyaman sehingga rileks setelahnya. Perbanyak juga minum air hangat!
5. Ujian komprehensif memang menyebalkan namun siapa sangka kita bisa menebak pertanyaannya. Biasanya tak jauh dari topik tugas akhir dan sangat dasar sekali pertanyaannya. Sebagai contoh adalah topik tugas akhir yang melibatkan variabel hujan pertanyaannya adalah “apa saja jenis-jenis hujan?” dan “Bagaimana terjadinya hujan orografis?” misalnya seperti itu. Kuncinya adalah siapkan jawaban untuk pertanyaan 5W1H terkait hal-hal dasar dalam tugas akhirmu.
6. Setiap dosen penguji memiliki ciri khas masing-masing dalam memberikan ujian. Sempatkan untuk bertanya kepada senior/alumni yang telah mengalami sidang/ujian komprehensif. Siap lebih dini berarti menjemput sukses lebih awal bukan?
Saat sidang tertutup/ujian komprehensif
7. Tunjukkan senyum terbaik dan berserah diri kepada Tuhan saja.
So, kapan pun butuh bantuan jangan sungkan selagi kamu ada kesempatan!
Being so determined with something is a key to help yourself to see the finish line. Help you to run faster even your body tell you to stop
Good luck
Kontemplasi Dangkal 031






