"Perempuan jalang" part 2
Di tahun 2008 adalah tahun dimana aku lulus SD dan hari itu aku datang ke rumah bapakku untuk meminta Hakku sebagai anak kandungnya utk yg kesekian kalinya, namun hasilnya nihil.
Saat itu aku mendatangi rumah bapakku untuk meminta uang untuk biaya aku masuk MTS tapi faktanya aku pulang dengan tangan kosong, bahasa kasarnya aku di usir sama si perempuan jalang itu. "Tiap datang selalu minta duit" begitulah kata si perempuan jalang, padahal secara hukum negara dan agama itu hak-ku dan tidak salah ketika seorang anak meminta uang kepada ayah kandungnya. Kala itu aku hny anak kecil yg tidak bisa membalas apa² selain diam menahan rasa sakit di dada. Rasa sakitnya apakah sampai sekarang? Yaa.. membekas sampai hari ini.
yang jahat tidak hanya perempuan jalang, tapi juga anak perempuan si perempuan jalang pun sama jahatnya. Apa yang seharusnya menjadi milikku dia ambil selalu di ambil, sehingga aku selalu mendapatkan segala hal yg aku tidak sukai contoh kecilnya yaa baju. Aku tidak suka warna pink aku suka warna biru, bapakku selalu kasih yg seharusnya milikku malah di kasihkan ke si anak permpuan jalang itu.
Setelah waktu berlalu aku dan si anak perempuan jalang ini sama² tumbuh dewasa, fyi aku tumbuh dengan pribadi yg penuh prinsip, aku tumbuh dengan almh. Nenekku dari pihak mamaku dan mamaku yg bekerja keras untuk menghidupi kami berempat anaknya yg di telantarkan bapakku. Bapakku lebih takut si perempuan jalang itu daripada hukum akhirat sebab telah dengan sadar menelantarkan anak²nya.
Sedangkan si anak perempuan jalang itu entah bagaimana ceritanya, ketika dia dewasa justru hamil diluar nikah dpt suami yg kasar mertua yg jahat katanya.. apakah aku kasian? Tentu saja aku tertawa setelah mendengar kabar itu, aku tertawa lepas di atas penderitaanNya, seolah tuhan membalas rasa sakitku dengan penderitaanNya.
Dia bertanya pada salah seorang teman kecilku, kenapa aku begitu membencinya.. temanku menjawab, tidak ada seorang anak perempuan yg hatinya tidak terluka jika ibunya di sakiti oleh ibumu, ibumu pelakor ibumu yg merusak rumah tangga ibunya. Dia pun hny terdiam menunduk malu ktanya.
Saat ini aku sudah tidak tau lagi bagaimana kabarnya karena aku menutup akses termasuk akses dengan bapakku. Aku tidak benci bapakku aku hanya benci sikapnya yg gagal menjadi seorang ayah yg baik dan bertanggung jawab.
Aku mungkin jahat di mata orang yang tidak ada di sepatu kehidupanku, aku selalu berharap bapakku meninggal lebih dulu supaya jika takdirnya aku menikah, bapakku tidak perlu datang menjadi waliku, karena aku tidak ingin di hari pernikahanku nanti ada bapakku membawa si perempuan jalang itu, aku tidak akan pernah sudi si perempuan jalang itu menginjakkan kakinya di dekatku tidak akan sudi.
Meski aku tidak tau akan menikah atau tidak, kalau pun takdirnya menikah aku sudah menyusun kalimat dengan sedemikian rapih untuk aku lontarkan ke bapakku nanti.
Siapa pun kalian (perempuan) jadilah perempuan yg baik, jangan merusak kebahagiaan perempuan lain. Ingatlah bahwa rasulullah pernah bersabda : لَيْسَ مِنَّا مَنْ خَبَّبَ امْرَأَةً عَلَى زَوْجِهَا، أَوْ عَبْدًا عَلَى سَيِّدِهِ
"Bukan bagian dari golongan kami orang yang merusak (hubungan) seorang istri dengan suaminya, atau seorang budak dengan tuannya."
(HR. Abu Daud & An-Nasa'i)