Suatu hari saya mendapatkan sebuah pertanyaan sederhana dari seorang teman, “Apa hal yang suka kamu lakukan?” Maka jawaban saya adalah tersenyum. Mengapa? karena itu adalah hal yang paling mudah tapi bisa berdampak besar.
Dengan senyuman bisa memberikan semangat untuk mengawali hari ataupun mood changer pada hari itu.
Dengan senyuman memberikan kita rasa optimis untuk percaya diri dalam menjalani aktivitas walaupun keraguan masih banyak di dada.
Dengan senyuman tidak jarang menular kepada orang lain yang mungkin sedang sedih ataupun kesal untuk tenang dan tersenyum kembali.
Dan dengan senyuman, juga mampu menyembunyikan semua perasaan yang mungkin tidak ingin kita perlihatkan kepada orang lain.
Karena senyum adalah sebuah ekspresi yang paling mudah dilakukan, tapi tidak jarang menyimpan berbagai makna. Dan bagi introvert seperti saya, senyum adalah tameng yang efektif untuk menjaga dan mendukung dalam mengontrol perasaan setiap harinya, karena perasaan adalah sesuatu hal yang rentan dan mudah berubah, maka jangan sampai diri kita yang diatur dengan perasaan kita, tapi bagaimana kita mengatur perasaan untuk bisa ditranformasikan sebagai kekuatan. Dan salah satunya bisa diawali dengan sebuah senyuman optimis.
Anya is live and ready to show you everything. Watch her strip, dance, and perform exclusive shows just for you. Interact in real-time and make your fantasies come true.
âś“ Live Streamingâś“ Interactive Chatâś“ Private Showsâś“ HD Quality
Anya is LIVE right now
FREE
Free to watch • No registration required • HD streaming
Random Challenge hari ke-4 kemarin adalah “Menawarkan bantuan kesiapapun yang ditemui”. Luar biasa bukan? Entah mengapa pada hari ke-4 ini diberikan kebijakan oleh teman saya untuk menentukan tantangannya. Dan tetiba saya teringat dengan sebuah video yang beberapa waktu lalu saya lihat di FB tentang seseorang yang menawarkan bantuannya kepada siapapun itu. Dari situlah ide tantangan ini muncul.
Seperti yang saya pernah sampaikan di challenge di hari pertama, ketika saya mencoba sesuatu hal yang tidak pernah saya lakukan terutama yang saya dikenal dengan seseorang yang terlihat cuek ketika mondar mandir rumah, ketika saya menyapa dan mencoba untuk menawarkan bantuan yang terjadi adalah hal kecurigaan dan muka-muka tidak percaya dan lagi-lagi saya merasa gagal jika melakukan sesuatu hal seperti ini ~. Walaupun pada akhirnya saya ditawari untuk mencari anaknya hahaha...
Namun bukan hal itu yang seru, karena saya merasa gagal dan tidak bisa mendapat apa-apa jika begini. Akhirnya saya memutuskan untuk random menghubungi beberapa teman baik itu teman SMK ataupun kuliah dulu yang saya lihat di Instagram. Dan yang membuat terharu adalah ketika mereka saya tawarkan bantuan, permintaan bantuan mereka adalah tolong untuk dibuatkan janji ketemu dengan saya baik itu nanti pas lagi ke jakarta ataupun pas saya lagi main ke Bandung :’). Luar biasa sekali emang mereka kalau membuat saya terharu, seperti orang sibuk yang udah lupa main aja saya, padahal kerjaannya cuman random mulu :’)
Walaupun saya merasa tidak bisa memenuhi tantangan ini dengan baik, setidaknya saya bisa lebih dekat lagi dengan teman saya, baik itu yang masih dekat ataupun yang sudah lama tidak berjumpa. Ada yang sharing tentang kehidupannya saat ini dimana, ada yang curhat ala-ala galau tapi yang elegan (ini gimana maksutnya coba, saya pun juga bingung hahaha), ataupun yang sekedar konsultasi dan sharing-sharing dari masing-masing alami. Setidaknya, saya merasa bahagia, karena menurut saya, tidak semua orang itu membutuhkan bantuan kita secara langsung, tapi mungkin dengan kehadiran diri kita yang mau mendengarkannya, bisa jadi itu adalah bantuan paling besar yang dibutuhkan.
Dan suatu waktu coba lah sekali sapa kawan lamamu ya, siapa tau mereka sedang membutuhkanmu. Have a nice day :)
Setelah kemarin tidak menulis karena gagal melakukan challenge hari kedua yaitu “Melakukan sesuatu hal yang sudah lama tidak lakukan” dikarenakan kemarin saya ada acara Google Cloud Summit yang dimulai dari jam 09.00 sampai jam 18.30 baru pulang dengan dua kali salah jalan sampai-sampai naik motor hampir dua jam sendiri itu rasanya luar biasa ~
Jadi sebenarnya kemarin niatnya untuk memenuhin tantangan itu saya sudah menyiapkannya dengan menelpon teman-teman lama untuk minimal tanya kabar dan sedang sibuk apa saat ini, sudah ngelist beberapa orang yang sudah mau ditelpon, tapi apa daya karena setelah acara kemarin dengan berakhir tepar dan shoot video pitching yang harus dikumpulkan 23.59 malam itu (duh ketauan deadliner banget) akhirnya tidak fokus dan boom challenge gagal dipenuhi ~
Tapi untuk membayar yang kemarin akhirnya dipenuhi hari ini sekalian memenuhi challenge, dan challenge hari ketiga ini adalah “Melakukan sesuatu hal yang tidak pernah dilakukan”.
To be honest sebenarnya hari ini kita (saya dan tim tanijoy) memiliki agenda yang dimana kita mendapatkan kesempatan untuk pitching yang tujuannya agar diterima di sebuah akselerator dan berkesempatan mendapatkan pendanaan jika layak pada pukul 15.00 di daerah dekat Plaza Festival (ku lupa nama daerahnya ~), yang berakhir saya tidak tahu harus melakukan apa untuk memenuhi challenge ini karena fokus ke agenda pitching tersebut. Tapi ku bersyukur, karena ketidak puasan pitching yang kita lakukan karena ada beberapa pertanyaan yang membuat kita salah penjelasan akhirnya saya menyesal dan babbling sendiri seperti harusnya A, harusnya B, kenapa ini masih kurang, kenapa itu masih kurang, coba kalau aku bisa menyelesaikan hal ini lebih cepat dan masih banyak lagi yang terjadi konflik dalam diri sendiri, yang akhirnya muncullah sebuah ide (sebenarnya ini sudah kepikiran dari hari-hari sebelumnya tapi belum matang dan tidak diseriusi sama sekali) untuk membuat sebuah self-journaling.
Tujuan dari self journaling ini adalah simple, saya ingin merefleksikan diri dan bisa mengungkapkan sejujur-jujurnya apa yang baik dan terutama yang buruk yang saya lakukan dalam sebuah komposisi “saya ingin mengetahui bagaimana mood saya hari ini, saya ingin tahu apa yang terjadi hari ini, dan saya ingin tahu apakah ada hal yang bisa dipelajari dari hari ini?” Jadi, kurang lebih saya ingin menjadi teman cerita dan mentor minimal untuk diri saya sendiri yang bisa terbuka dan terus terang yang nantinya akan saya keep rapat-rapat hal ini karena mungkin ada aib juga, atapun tempat untuk menulis ide-ide yang sering saya telantarkan dan hilang begitu saja.
Kurang lebih seperti ini format yang saya tulis setiap harinya, dan mungkin akan diperbaiki seiring berjalannya waktu dan semakin bertambahnya pengalaman. Maaf jika terlihat seperti strict dan keras pada diri sendiri, jawabannya simple karena saya tidak ingin kembali di fase dimana saya membenci terlalu lama diri sendiri dan membuat saya tidak produktif lebih dari satu minggu, and that’s the hardest time i’ve ever felt.
Saya tidak tau dan belum membuktikan apakah ini efektif, mungkin dilain waktu saya punya kesempatan untuk berbagi dari apa yang saya lakukan ini. Dan yang paling terpenting adalah ingat untuk membagikannya huahahaha maafkan generasi micin ini yang sering pelupa X’D
Selain itu hari ini tetiba keluarga mas nanda (FYI: mas nanda adalah Co-Founder dan CEO dari tanijoy) tetiba mengajak untuk ikut di kajian keluarga yang diadakan di rumah sodaranya. Terpenuhi sudah challenge hari kemarin yang melakukan sesuatu yang sudah lama tidak dilakukan, yaitu bisa pergi ke kajian :). Dan sedikit cerita karena di Jakarta ini masih merasakan masa transisi dengan perjuangan ekstra yang harus ditempuh untuk mengembangkan startup, akhirnya masih belum bisa menemukan jadwal yang rutin untuk mendatangi sebuah kajian kecuali lewat youtube aja (thanks youtube, semoga amalan baiknya untuk kalian juga), tapi tetep kan feelnya berbeda ketika lihat kajian di youtube dengan datang langsung, lebih terasa feelnya kalau datang langsung dan bisa lebih fokus untuk menambah ilmu, yang alhamdulillah dari kahian hari ini dengan pembahasan dosa, maka lengkap sudah untuk semakin ingin diri ini merefleksikan diri terutama pada hal-hal buruk yang saya lakukan setiap harinya.
Oh iya, jika kalian memiliki semacam self journaling yang sepertinya bisa lebih powerfull boleh banget dong untuk tuker pikiran, saya sangat senang sekali jika ada dan sangat terbuka untuk berdiskusi, semoga dari sana bisa sama-sama belajar untuk memperbaiki diri lebih baik lagi :)
Ini adalah sebuah challenge yang berawal dari seorang teman saya untuk mengajak ikut challenge yang dia lakukan dan tantangannya sederhana, melakukan sesuatu sesuai dengan tantangan apa yang ditentukan pada pagi harinya. Dan ini tidak terplan sama sekali hahahaha itulah mengapa namanya Random Challenge.
Challenge hari ini adalah: Sapa setiap orang yang kamu temui dan katakan hal yang baik tentang dia.
Kelihatannya emang simple, tapi nyatanya tidak sama sekali. Terutama bagi saya, seseorang yang cukup susah untuk berinteraksi dengan orang lain terutama bagi mereka yang tidak cukup akrab dan selalu bingung sendiri ketika mencari topik pembicaraan. hahahahaha. Tapi bukan namanya tantangan bukan kalau sesuatu yang tidak sulit melakukannya?
FYI, saya numpang tinggal di rumah teman saya dengan luasan yang cukup besar dan terdapat kurang lebih 20 orang didalamnya dan cukup padat aktivitas karena selain tempat basecamp tanijoy atau startup yang saya kembangkan saat ini, disana juga terdapat butik jahit dengan tidak jarang setiap hari ada pelanggan untuk menghampiri. Dan benar, karena saya memang cukup dikenal dengan orang yang mlempeng aja dan seringkali cuek dengan sekitar alhasil ketika saya melakukan tantangan ini adalah ekspresi-ekspresi yang mungkin tidak percaya dengan apa yang saya lakukan, dan bonusnya ada juga yang memberikan senyum bahagia yang menyalurkan energi bahagia.
Selain itu, Kabar baiknya adalah aku mendapatkan hal luar biasa dari hari ini. Aku juga yang biasanya langsung sliweran kesana kemari juga akhirnya mulai berani menatap mereka dan tidak sungkan juga ketika ketemu lagi mereka menyapa duluan dan mengobrol dengan saya lebih terbuka lagi. Dan benar, cara paling mudah untuk memulai pembicaraan dengan seseorang adalah dengan melihat sisi baik mereka, kalaupun kita tidak bisa mendapatkan timbal balik sebuah obrolan yang cukup panjang, setidaknya kita minimal bisa mendapatkan energi positif dari sebuah senyuman yang mereka berikan. Hanya saja, PR besarnya adalah bagaimana bisa menjadikan ini sesuatu yang normal bagi saya. hahahaha.
Pernah merasa iri dengan apa yang dimiliki orang lain? Pernah merasa juga bahwa temanmu selalu lebih hebat darimu? Maka, kamu tidak sendirian. Setidaknya aku juga seringkali begitu. Tapi, satu hal yang selalu jadi reminder bahwa "Rumput tetangga memang selalu lebih hijau" dan mungkin kadar syukurku tidak sebesar kadar iriku.
Namun, tahukah bahwa sebuah "kekurangan" atau "ketidak kepemilikan" kita bisa jadi adalah sebuah keberuntungan. Kok bisa? karena setiap orang dilahirkan dengan kadar berbeda-beda dan kondisi yang berbeda pula. Contohnya begini, terdapat dua orang yang terlahir dalam kondisi keluarga yang sangat berbeda kita sebut A dan B, dimana A adalah seseorang yang beruntung karena dari kecil mendapatkan pendidikan yang baik dari orang tuanya, dimana sangat membantunya untuk berkembang lebih baik, baik itu dari hal bagaimana dia harus sopan santun, bagaimana dia harus belajar untuk menabung, bagaimana dia dilatih untuk bisa berkomunikasi dengan baik ataupun hal-hal lain yang sangat menujang untuk kehidupannya kelak. Alhasil di masa depan dia bisa menjadi seseorang yang lebih berkembang dan kompeten dibandingkan teman-teman sebayanya. Berbicara tentang B, dimana dia adalah seseorang yang berkecukupan, dia memiliki keluarga yang tidak kalah bahagia dengan A, namun karena orang tua yang tidak terlalu memperhatikannya selain dengan kehidupan yang penting tercukupi, dia berkembang hanya berdasarkan bagaimana lingkungannya. Dimana dia mungkin harus merasakan namanya ditolak, merasakan namanya yang tidak dihargai akan usahanya, ditinggal orang-orang yang berharga bagi dirinya, ataupun tidak pernah didengar karena buruknya mengkomunikasikan pendapatnya yang tidak jarang membuat sakit hati berkaili-kali ataupun kekecewaan yang luar biasa. Namun, tentu saja ini bukanlah hal yang mudah untuk dilalui oleh B, tidak sedikit dari temannya yang merasakan hal-hal yang sama akhirnya lebih memilih untuk menyerah dan tidak ingin merasakan hal tersebut terulang kembali. Tapi ada faktor yang membuat menjadikan B menjadi lebih baik dari sebelumnya dan menjadikan stepping stone yang luar biasa untuk perubahan dalam dirinya. Faktor tersebut adalah rasa menerima.
Rasa menerima bahwa yang terjadi adalah sebuah pembelajaran, rasa menerima apa yang terjadi pada dirinya adalah sebuah kebaikan, dan terutama rasa menerima bahwa ini adalah sebuah proses untuk meraih apa yang ingin B capai. Dari rasa menerima itu tumbuhlah kesadaran dalam dirinya untuk berkembang dan masih banyak hal yang harus dia pelajari, kemudian membuka diri untuk memperbaiki dan mencari cara agar tidak terulang hal yang sama. Hingga pada akhirnya B bisa menjadi seseorang yang kompeten dan bisa berdiri pada level yang sama dengan A.Â
Salah satu temanku mengatakan bahwa “Ada kala dimana seseorang itu harus merasakan namanya jatuh, kesusahan ataupun sakit hati baru dia bisa merasakan kebutuhan berkembang dalam dirinya”. Jadi, bagaimanapun kehidupan yang kita alami tidaklah perlu risau dengan kehidupan orang lain, kita boleh untuk sesekali melihat bagaimana kesuksesan seseorang, tapi percayalah semua orang pasti memiliki cerita yang sering kali tidak kita tau, kita hanya melihat bagaimana dia saat ini, disaat dia sukses dan tidak tau bagaimana perjuangannya. Jangan sampai membandingkan bagaimana kesuksesan orang lain ketika dia diatas dengan bagaimana kesuksesan kita ketika di awal perjalanan, karena itu hanya akan menyakiti dan tidak membuat kita berkembang karena rasa iri yang memenuhi diri kita. Jika ingin iri, jadikan rasa iri itu menjadi alasan untuk mengembangkan diri lebih baik, jadikan rasa iri itu semangat ketika kondisi yang tidak kita inginkan menerpa untuk tetap bertahan dan menerima ini adalah salah satu cara untuk berkembang. Dan pada akhirnya beruntung atau tidak beruntung adalah perkara bagaimana kita menerima kondisi yang kita hadapi untuk menjadi langkah kita lebih baik lagi.
Anya is live and ready to show you everything. Watch her strip, dance, and perform exclusive shows just for you. Interact in real-time and make your fantasies come true.
âś“ Live Streamingâś“ Interactive Chatâś“ Private Showsâś“ HD Quality
Anya is LIVE right now
FREE
Free to watch • No registration required • HD streaming
Menyambung dari tulisan beberapa minggu yang lalu tentang tujuan. Maka ketika kita mengejar sebuah impian atau ingin menggapai tujuan itu pastinya tidak akan pernah terpisah dengan adanya kesulitan dan tantangan yang akan dihadapi.
Sepandai dan sebaik apapun kita dalam membuat rencana, pasti akan tetap ada yang Maha Merencanakan segala sesuatunya untuk menyetujui rencana kita atau tidak. Tidak jarang kita akan mudah sekali mengatakan sebuah rencana dengan tahapan 1, 2, 3, 4, dst hingga rencana pun tidak dibuat hanya 1 saja, bahkan ada rencana a, b, c, d, dst agar sesuatu itu tercapai sesuai dengan yang di inginkan. Tapi mungkin kita seringkali lupa bahwa ada faktor x pangkat sekian yang tidak diperhitungkan dalam perjalanannya yang membuat jalan yang harusnya mulus-mulus saja menjadi rumit dan merasa tersesat ditengah perjalanannya. Dari hal yang sangat sepele seperti mood yang lagi males ngapain-ngapain, tubuh yang disuruh untuk istirahat dalam beberapa waktu, kawan yang harusnya bantu tapi tidak ada kabar, bahkan hingga orang yang harus ditemui tapi tidak kunjung ketemu dan banyak lagi yang mungkin tidak bisa dimasukkan dalam rencana yang telah dibuat.
Kabar buruknya hal seperti itu hampir 100% terjadi, namun kabar baiknya kalian tidak sendiri. Coba lihat bagaimana perjuangan orang-orang yang mendedikasikan hidupnya untuk mengejar impiannya, maka pasti ada behind the story atas perjuangan mereka, atas usaha mereka, yang mungkin tidak pernah kita bayangkan tapi tidak terlihat diraut mukanya yang cerah ketika sudah bisa mencapainya. Jadi, semua kesulitan dan tantangan yang dihadapi adalah sesuatu yang normal, semakin besar yang akan kita tuju tentu saja semakin besar kesulitan yang akan kita hadapi.Â
Kita mungkin pernah mendengar dengan pepatah “Hidup hanyalah 10% yang terjadi pada dirimu dan 90% bagaimana kamu menghadapinya”, dan saya sangat setuju dengan perkataan ini, karena ketidak pastian yang akan terjadi dan bagaimana ketika kita menghadapinya lah yang membuat seseorang berhasil atau tidak dalam meraih impiannnya. Namun tentu saja, bukan hal yang mudah juga dalam jatuh bangun yang harus dijalani, setidaknya sangat susah untuk bangkit kembali setelah jatuh dan cukup dalam sakit yang dirasakan. Dan dalam kondisi ini apa yang akan kalian lakukan?
Kita sebagai makhluk sosial mungkin akan segera mencari sebuah tempat untuk mengadu, tempat untuk bercerita dan sesegera mungkin mendapatkan inspirasi atau semangat untuk bangkit kembali. Tapi kemanakah akan mengadu dan bercerita itu? Ke teman, kalau lawan jenis yang takutnya baper g berujung bercerita sampai lupa sama tujuan aslinya, sama temen deket sendiri alhamdulillah kalau bisa selalu ada, namun ga enak juga kalau sering ngerepotin jatuhnya. Maka jawaban yang tepat adalah mengadu untuk kepada yang Maha Mendengar lagi Maha Melihat dan selalu dekat dengan hamba-Nya, mengadukan kepada-Nya akan menghasilkan kepercayaan bahwa semua doa dan aduan kita akan didengarkan dan selalu ada kebaikan yang telah disiapkan dibalik semua kesulitan yang saat ini terjadi. Dengan kepercayaan itu, kemudian akan menjadi semangat untuk mengejar impian kita kembali ditambah rasa percaya untuk bisa meraihnya.
Sebuah kesulitan itu hal yang pasti akan kita hadapi, namun bagaimana cara kita menghadapinya lah yang membuat kita berbeda, baik dari perjuangan kita, susah payah kita dalam menjalaninya. Dan tujuan dari kita berdoa adalah untuk menghadapi itu semua, karena sejatinya manusia itu butuh sandaran untuk mengadu dan bercerita semua permasalahan dan apa impian kita, kemudian rasa percaya bahwa akan ada kebaikan yang sudah disiapkan dibalik semua kesulitan saat ini membuat semangat kembali untuk meraihnya.
Entah mengapa setelah sekian lama tumblr ini ditinggalkan sampai berjaring laba-laba dimana karena fokus untuk ber-TA ria (alhamdulillah sudah terakui lulus :’) *FYI aja~)  akhirnya berkeinginan untuk bercerita banyak hal yang didapatkan semasa kampus. Sedikit intermezzo yang digunakan untuk menjadikan tulisan lebih panjang *eh
Purpose atau Tujuan secara sederhananya adalah sebuah hasil akhir atau kondisi yang ingin kita capai. Tujuan seringkali menjadi arah tujuan dan bagaimana diri kita kelak, kalaupun itu tidak akan merubah kehidupan kita, setidaknya itu juga akan merubah pribadi kita. Tidak jarang juga tujuan yang kita pegang selalu akan menjadi salah satu sandaran dan motivasi penyemangat ketika mungkin semua orang sudah tidak ada yang mendukung kita, dan kondisi yang mengharapkan semuanya yang kita lakukan adalah sia-sia. Maka, jangan pernah bosan untuk selalu mengingat selalu apa tujuan kita, mengapa kamu memiliki tujuan ini?, setidaknya ini yang akan selalu menjaga kita untuk tidak menyerah dengan segala kondisi yang dihadapi.Â
Sedikit bercerita, dulu ketika pertama kali memasuki dunia kampus, saya berkeinginan kuat untuk bisa mendapatkan semua hal yang berkaitan manajemen, dan diri berkata saat itu jalan yang dilalui adalah dengan memilih mengikuti sebuah organisasi, karena sadar dari dulu bukanlah seseorang yang aktif di sekolah, yang tidak sedikit juga berkomentar kenapa orang mau capek-capek untuk mengikuti sebuah organisasi padahal sudah seharian bersekolah. Selain itu, juga berkeinginan untuk bisa meraih prestasi lomba lagi setidaknya 1 kali setiap tahun selama 2 tahun kedepan.Â
Alhasil, yang terjadi adalah banyak hal yang tidak terduga. Mungkin jika dilihat dari pengalaman ketika SMK seberapa beruntungnya bisa mendapatkan beberapa penghargaan dalam beberapa kali percobaan, ketika semasa kuliah semua itu serasa sangat sulit, dari tim yang belum cocok, tugas kuliah yang tidak membuat komit untuk mengikuti lomba secara utuh, dan masih banyak lagi kendala yang dihadapi. Tidak 1-2 kali saja mengalami kegagalan hanya untuk lolos saja dalam perlombaan, sekitar 11-12 kali mencoba mengikuti lomba yang akhirnya berhasil mendapatkan penghargaan pada tahun kedua kuliah (kalau tidak salah semester 3 masa kuliah) namun masih sesuai tujuan yaitu pada tahun 2014. Dan Alhamdulillah, Allah masih memberikan kesempatan untuk memenuhi tujuan ini pada semester berikutnya Februari 2015. Yang setelah itu hampir tidak pernah mendapatkan penghargaan lagi ditahun berikutnya, paling mentok menjadi finalis.
Begitu juga ketika untuk mencapai target dalam keinginan kuat untuk belajar manajemen, pada tahun kedua kuliah (semester 4) Allah menitipkan amanah yang luar biasa, menjadi seorang ketua dalam lingkup fakultas yang sebelumnya tidak pernah terbayangkan dan tidak pernah ada harapan untuk kesana. Tapi saya menyadari, mungkin ini cara Allah mengajarkanku untuk memahami hal tersebut, akhirnya diambillah amanah itu walaupun pada berjalannya tidak terhitung berapa kesalahan dan penyesalan karena lack of knowledge tentang leadership ataupun management. Tidak jarang ingin berhenti ditengah jalan karena g sanggup dengan banyaknya masalah yang dihadapi. Namun kembali lagi, bagaimana tujuan pertama saya mengingatkan kembali bahwa ini adalah bagian dari proses, proses untuk berkembang, proses untuk mencapai apa yang ingin kita gapai.
Tidak ada jaminan bahwa semua yang kita inginkan itu akan landai-landai saja. Semakin besar tujuan yang kita miliki, semakin besar pula proses dalam mencapai tujuan itu memintamu. Baik itu waktu, tenaga, pikiran, dan tidak jarang juga harta. Tapi, jika kita mendedikasikan diri kita memang untuk meraih tujuan itu bagaimanapun terjalnya jalan yang akan dihadapi, maka semua itu akan terbayar manis diakhir dalam masa pencapaian itu.
“Tujuan yang ingin saya capai selalu mengingatkan kepada saya, semua yang dihadapi ini adalah bagian dari proses dalam berkembang untuk siap dalam mencapainya. Tidak jarang tujuan itu akan meminta sebanding dengan seberapa besar yang ingin dicapai, baik itu tenaga, waktu, pikiran, maupun harta. Namun, seberapa besar apa yang akan kita berikan, sebesar itu juga rasa puas dan apa yang didapatkan ketika menggapainya.”
Deadline adalah salah satu sumber kekuatan untuk bisa menyelesaikan apa yang sedang dikerjakan. Tidak jarang deadline yang sedang kita hadapi mampu memaksimalkan potensi dan melebihi dari ekspektasi sebelumnya tentang diri kita sendiri.
Ramadhan sebentar lagi, sampai manakah persiapan kita untuk menyambutnya ? :)
Ramadhan menjadi bulan yg spesial tentunya bagi kita seorang mukmin, karena pada bulan Ramadhan ini adalah "..bulan diturunkannya Al-Quran sebagai petunjuk bagi manusia.." (Qs. 2:185). dan Allah menjamin untuk dosa-dosa kita bisa diampuni pada bulan ramadhan ini.“Barangsiapa yang berpuasa di bulan Ramadhan karena iman dan mengharap pahala dari Allah maka dosanya di masa lalu pasti diampuni.” (HR. Bukhari no. 38 dan Muslim no. 760)
Pagi ini mendapat share dari salah satu teman di grup WA berupa "Ramadhan Planner", sebuah template rencana untuk kita ketika menjalani ramadhan nantinya. aku rasa ini keren dan bagus banget untuk merencanakan Ramadhan kali ini yg lebih baik dengan target amalan sehari-harinya. Bagi teman-teman yg mau ngecek dan ngunduh bisa lgsg di public gdrive link yg sudah aku buat dibawah ini.
Ramadhan Planner
Jazakumullahu khairan juga bagi yg memang memiliki orisinalitas file ini, karena memang didalamnya tidak tertera tanda apapun mengenai pemilik orisinal file ini. Semoga Allah membalas dengan sebaik-baiknya balasan atas kebaikan yg sudah dilakukan :)
Last but not least...“Sesungguhnya Allah mencatat setiap amal kebaikan dan amal keburukan.” Kemudian Rasulullah menjelaskan: “Orang yang meniatkan sebuah kebaikan, namun tidak mengamalkannya, Allah mencatat baginya satu pahala kebaikan sempurna.  Orang yang meniatkan sebuah kebaikan, lalu mengamalkannya, Allah mencatat pahala baginya 10 sampai 700 kali lipat banyaknya.” (HR. Muslim no.1955)
Walaupun tidak ada jaminan aku bakalan bisa juga merencanakan dengan baik, setidaknya semoga ikhtiar kecil yg aku lakukan ini bisa bermanfaat bagi orang lain...
Selamat menjalani ramadhan, semoga kita bisa memaksimalkan ramadhan kali ini :)
Saat ini menyampaikan nasihat itu mudah sekali namun susah sekali untuk mendengar
Bukan berarti bahwa memberi nasihat itu tidak baik, namun dalam dunia saat ini yang penuh dengan kebutuhan mental untuk menjadi “dianggap” seringkali lupa bahwa mendengar itu lebih penting dibandingkan nasihat yang kita lontarkan tanpa landasan.
*jangan lupa cek hati, siapa tau ada luka yg membuat susah untuk menerima.
Anya is live and ready to show you everything. Watch her strip, dance, and perform exclusive shows just for you. Interact in real-time and make your fantasies come true.
âś“ Live Streamingâś“ Interactive Chatâś“ Private Showsâś“ HD Quality
Anya is LIVE right now
FREE
Free to watch • No registration required • HD streaming
Salah satu titik balik masa perantauan saya di bandung adalah ketika dipertemukan dengan momen perkenalan bersama anak anak jalanan bandung, saat itu tepat ketika malam purnama, aku saat itu perantau baru 3 bulanan tiba tiba diculik di atap pasar ciroyom untuk melihat teater jalanan, singkat cerita sampailah saya berkenalan dengan adik adik teman jalanan itu, malu malu mereka mendekat dan menutup muka mereka dengan kaos yang mereka yang sudah cukup kucel, tangan mereka sembuyikan dibalik jaket mereka yang dilipat seadanya untuk menutupi hidung mereka,
“Aneh” , itu tanggapan pertamaku ketika bertemu mereka
Tiba tiba kakak rumah singgah menghampiri kami dan berujar,
”Ayo sembunyikan dulu lemnya kalau mau mau main dengan kakaknya”
langsunglah tangan tangan mereka beringsut ke saku celana untuk menyembunyikan kaleng kecil yang selama ini disembunyikan dibalik gumpalan jaket mereka.
Setelah itu langsung di mulailah teater itu, diisi dengan nyanyian nyanyian, ceramah ala ustadz jalanan yang dibawakan adik adik, sampai dengan stand up comedy ala sunda dibawakan dengan sederhana namun hangat dan penuh makna. Mereka yang penuh keterbatasan* bisa memiliki senyuman yang lebih ikhlas dan menyimpan syukur dibandingka polesan polesan wajah yang kutemukan di antara bangunan tinggi kota bandung.
”Adik -adik tidak perlu buku setebal tumpukan buku kuliahmu nak, mereka hanya perlu sedikit waktu dan keikhlasan kalian untuk membantu mereka bisa mengeja aksara dan angka,
menjadi teman agar mereka tahu bahwa cahaya ilmu masi menjadi hak untuk mereka
Pesan kak games di penutup acara, yang sampai saat ini jadi pengingat
Berteman dan mengajar adik adik kawan jalanan bukanlah tantangan yang mudah, aku akui adalah pengalaman yang paling menantang dari beberapa pengalamanku mengajar anak-anak play group, anak di kampung kota ataupun desa pedalaman. Mereka bermain dan kadang hidup di jalanan, memiliki ragam alasan, mulai dari kondisi orang tua, tekanan permasalahan keluarga, tuntutan ekonomi, ataupun pergaulan bisa jadi pemicu mereka memilih kebebasan dan kerasnya kehidupan jalanan. Kehidupan mereka bisa dikatakan hitungan hari, maksudnya sejak ia bangun ia hanya berpikir bagaimana ia bisa makan dan bertahan hidup hari ini, tidak muluk muluk untuk berpikir apa investasi untuk hidupnya bulan depan apalagi tahun depan.
Menjadi Teman, itu peran paling nyata untuk sedikit menolong kehidupan mereka, teman yang siap untuk berbagi cerita kasih sayang, teman yang percaya mereka adalah orang baik dan bisa menjadi semakin baik. Kehidupan mereka seperti jalanan terlalu banyak orang orang yang hanya berlalu lalang hanya untuk mencerca, mengkasihani atau memandang sebelah mata.
Salah satu oase nyata yang aku temukan di dunia pasca kampusku yang setia jadi teman dari teman anak jalanan adalah rumah singgah cimahi.
Rumah Singgah Cimahi merupakan rumah singgah bagi anak-anak jalanan. Tepat di pinggir rel kereta dekat stasiun cimahi, rumah kecil ini berada. Benar-benar sangat mungil, rumah ini hanya terdiri dari tiga ruangan, dapur, ruang tamu yang sekaligus tempat tidur bagi anak-anak jalanan Cimahi dan kamar bersama. Anak-anak jalanan yang tinggal di Rumah Singgah ini rata-rata tergolong usia remaja ke bawah. Rumah singgah ini dikelola oleh seorang pasangan suami istri. Mimi dan Pipi begitulah anak-anak jalanan ini memanggil mereka. Mereka adalah sepasang suami istri yang bersedia menjadi pembina anak jalanan secara sukarela. Mereka membesarkan dan menyekolahkan anak jalanan dengan bantuan dari berbagai pihak. Namun, bantuan selama ini masih dirasa kurang untuk menyokong kehidupan yang layak bagi anak jalanan. Sebagian besar anak jalanan yang tinggal di Rumah Singgah menjalankan pendidikan kejar paket setingkat Sekolah Dasar (SD), Sekolah Menengah Pertama (SMP), dan SMK. Mimi berjuang agar mereka tetap bersekolah dengan mengurus segala administrasi dan kebutuhan hidup mereka. Keceriaan dan semangat terlihat diwajah mereka. Mereka memiliki semangat untuk tetap melanjutkan pendidikan ditengah-tengah keterbatasan yang ada.
Melihat semangat dari anak-anak jalanan Rumah Singgah Cimahi, Rumah Pinus (komunitas mahasiswa peduli pendidikan) tergugah untuk turut andil menjadi teman dan kakak pendamping adik adik rumah singgah cimahi. Kini mereka sedang menginisiasi kegiatan peduli anak anak jalanan untuk bisa tuntas pendidikan dan membantu remaja remaja jalanan bisa mendapatkan ketrampilan yang bisa jadi sumber penghidupan agar terbebas dari kehidupan jalanan. Kegiatan awal mereka yaitu ASA 1000 Pena merupakan serangkaian interaksi dan inisiasi pendampingan untuk menghadirkan motivasi dan keceriaan adik adik rumah singgah dengan berkolaborasi bersama para pegiat yang aktif mendampingi anak jalanan. Insyaa Allah kegiatan ini akan diadakan pada akhir April mendatang.
Saat ini sebagai salah satu kawan rumah singgah cimahi dan rumah pinus, aku hendak mengajak kawan kawan yang memiliki pengalaman dalam pendampingan anak jalanan, ataupun ilmu yang bisa dishare bersama adik adik di rumah singgah ataupun rumah pinus untuk bisa berkolaborasi, baik sebagai perseorangan maupun sebagai lembaga agar memperkokoh langkah mengambil bagian dalam pengalihan anak anak jalanan menjadi anak anak yang memiliki masa depan yang cemerlang.Kami juga sangat terbuka untuk kawan kawan yang ingin menyedekahkan materinya sebagai langkah awal
https://kitabisa.com/kadoanakjalanan
atau langsung melalui
Rek. Mandiri 059301001576538Â An Nurul Fikhi Kamila
Informasi lebih lanjut terkait kolaborasi dan donasi bisa menghubungi
Kurang lebih 2 hari yang lalu, aku mengunjungi sebuah kampung di salah satu sudut kota Bandung ini. Terletak di tengah kota Bandung namun berbeda dengan kampung-kampung yang seringkali kita lihat di kota metropolitan yang selalu identik dengan kumuh dan tidak terurus dengan lokasi kampung juga dekat sungai, maka tidak sedikit kalau kita melihat bahwa pasti seringkali membuat enggan untuk datang ke kampung tersebut. Tapi disini berbeda, ada hal lain yang membuatku belajar banyak dari kampung ini dan tidak tahan untuk segera menulisnya sebagai salah satu momen berharga yang harus disimpan.
Kampung cibunut, atau lebih tepatnya adalah sebuah gang yang terletak di kelurahan kebon pisang, sumur bandung. Sangat dekat dengan pusat keramaian kota, tapi tidak kampung ini terkikis dengan budaya “orang kota”. Kalau kita sering melihat bahwa di zaman sekarang melihat anak kecil sudah membawa hape dan hanya disibukkan dengan hapenya yang super canggih itu, maka di kampung ini tidak kutemukan. Kalau kita sering melihat bahwa antar tetangga yang mungkin sudah bersebelahan rumah atau mungkin 1 atap namun tidak saling mengenal maka di kampung ini tidak akan mungkin. Dan masih banyak hal lagi yang menurutku budaya atau kebiasaan bersosialisasi seharusnya yang tidak hilang karena kehidupan di kota.
Jujur kesan pertama kali mengunjungi kampung ini adalah takut, dan akan penuh dengan tantangan. Ceritanya kala itu sedang ada pelatihan dalam penyelesaian permasalahan kota (yang insyaAllah nanti akan aku bahas di post lainya). Dan orang pertama yang kali ditemui ketika masuk gang cibunut itu adalah orang bertato dan sebagai seseorang yang tidak terbiasa dengan lingkungan seperti itu pasti akan sangat wajar kalau kesan pertama adalah “wow” dalam artian khawatir dan tertantang (hha) dengan kondisi bahwa diri ini akan siap belajar banyak kalau memang harus terjun bagaimana belajar melihat kondisi permasalahn di kota. Namun setelah itu aku ditampar kenyataan bahwa pemikiranku pertama kali sangat salah berbalik 180 derajat, ternyata kampung cibunut ini adalah salah satu kampung yang menerapkan zero waste.
Pukul 10.30 kurang lebih aku dan teman-teman pelatihan tim yang lain diajak untuk berkeliling di kampung cibunut ini, menyusuri gang-gang rumah yang hanya mampu dilewati 1 motor itu tidak lama kami mengunjungi sebuah rumah yang menerapkan bio gas dengan sebuah alat yang cukup besar untuk menampung kotoran ternak dan sebagai aktivator yang mempercepat sayuran mengeluarkan gas metana yang nantinya akan digunakan menyalakan kompor gas seperti biasanya. Ternyata tidak itu saja, dalam rumah itu kami juga menemukan karya dari ibunya yang lain yaitu berupa tas yang cukup menarik dan terbuat dari kresek bekas yang didapatkan dari al**mart ataupun yo**a.
Setiap penyusuran gang yang kita lakukan serinkali menemukan hal-hal kreatif lainnya seperti hiasan dinding-dinding dengan style orang-orang dulu berupa akuarium, pemandangan gunung ataupun style kekinian yang berbentuk doodle dengan beragam bentuknya. Tidak jarang juga ada tulisan-tulisan bagi warga maupun pengunjung untuk tidak buang sampah dengan sembarangan baik dan kebanyakan kata-katanya sangat jujur sekali dan keras hha.
Lukisan-lukisan dinding dengan style orang dulu
Lukisan-lukisan dinding dengan style yang kekinian
Selain pengolahan menjadi bio gas ada juga pengolahan yang menggunakan teknik takakura, felita, dan biopori yang juga diterapkan dalam kampung ini. Jujur sebagai mahasiswa dengan latar belakang informatika maka baru disini aku menemukan istilah itu semua dan hanya mengangguk percaya apa yang dikatakan oleh warga sekitar, dan sepertinya ga mungkin juga mereka berbohong *sweat smile.
Pengolahan kulit buah yang dijadikan pupuk dengan teknik felita
Pengolahan bekas atau sisa sayuran yang diolah menjadi pupuk dengan teknik biopori
Ketika mendengar bagaimana ini bisa terjadi? jawabannya adalah simple, pertama kali tujuan utama yang ingin dibenahi hanyalah masalah sampah di kampung ini, dari satu orang kemudian beberapa rumah, kemudian satu RT dan akhirnya satu kampung. Setelah kebaikan-kebaikan itu menular ternyata banyak orang yang lebih semangat lagi untuk menggunakan sampah yang diolah ini menjadi bahan-bahan yang bisa bermanfaat lagi dan itu memang tidak hal yang instan, untuk membuat warga sadar akan sampah adalah sebuah masalah membutuhkan 2 bulan dan bisa menerapkan zero waste membutuhkan waktu 6 bulan. Sekarang sudah 2 tahun kampung ini menerapkan konsep zero waste dan yang kerennya adalah karena kebaikan kecil itu berkembang menjadi mimpi yang hebat seperti adanya teras cibunut. Seketika aku speechless dan hanya terpukau dengan mimpi yang ingin mereka realisasikan di kampung halamannya itu.
Basecamp oh darling (oh darling merupakan kepanjangan dari orang hebat sadar lingkungan :D)
Benar jika setiap perjalanan dimanapun kita berada akan bisa menjadi sebuah pelajaran, mau itu hal yang baik ataupun buruk, namun disini aku belajar banyak hal tentang kebaikan, dari lingkungan yang saling mendukung dari semua kalangan baik yang masih anak-anak, remaja, hingga orang tuanya yang berkontribusi untuk memperbaiki bersama kampung ini.
Dua anak kecil yang ikut membantu untuk mempersiapkan acara isra’ mi’raj malam ini. Dan di momen lain juga ada anak-anak hingga orang dewasa yang membawa balok kayu yang aku tebak sedang ada pembangunan karena tidak sedikit balok kayu yang dibawa.
Kondisi masjid yang menurutku sangat baik dengan jumlah jamaah tepat waktu (pada saat itu adalah zhuhur) mencapai hingga 3 shaff dan lebih menariknya lagi ternyata dibelakangku ketika berwudhu ternyata ada seseorang dengan rambut warna hijau ala anak-anak “gahul” jaman ini yang sholat dengan tepat waktu. Warga yang saling akrab dan menghormati satu sama lain. Anak-anak maupun remaja yang bermain dengan nyaman dan riang gembira yang tidak hanya disibukkan dengan gadgetnya. Warga yang berkumpul di sebuah pos atau basecamp untuk mengobrol ataupun berkaraoke ria. Dan pastinya senyuman yang selalu bertebaran di setiap sudut gang itu.
Ah, bagaimana aku tidak bersyukur untuk bisa memiliki kesempatan mengunjungi kampung ini di zaman yang serba cepat hingga lupa bagaimana caranya bahagia.
Kematian memang selalu bisa menjadi pelajaran. Selain mengajarkan tentang kehilangan, ia juga mengajarkan bahwa kita di dunia ini hanyalah sementara.
Dan Sungguh penyesalan yang besar jika kita meninggalkan di dunia ini sedangkan tidak ada amalan ataupun kebaikan yang pernah kita lakukan kecuali sedikit.
Terkhusus untuk Rudi (FIM 18): Sungguh pertemuan ini sangat singkat, tidak lama bisa mengenalmu maupun bertukar pikiran. Namun semangatmu selalu bisa menjadi inspirasi bagiku. Selamat Jalan Rudi, semoga kita bisa bertemu kembali walaupun tidak di dunia ini.
Sering bukan kita melihat kerikil-kerikil di jalan, entah itu dalam perjalanan menuju tempat kerja, kuliah, maupun tanpa tujuan hanya sekedar jalan-jalan menghirup udara segar saja. Tidak jarang kita menginjak kerikil-kerikil kecil itu dalam perjalanannya, mungkin kita tidak akan merasakan apabila kita menggunakan alas kaki, tapi bagaimana dengan ketika kita tidak beralas kaki? Maka kita akan merasakan jelas sekali apa saja yang kita injak. Jika beruntung maka kerikil-kerikil yang kita injak mungkin tidak akan menyakitkan, namun tidak jarang ternyata kerikil yang kadang kala tidak lebih besar dari biji kopi itu memiliki ketajaman yang luar biasa untuk membuat kita merasakan rasa sakit dan mungkin hingga membuat kita terluka, dipikir-pikir itu hanya sebongkah kecil yang mungkin dianggap sangat remeh.
Coba ketika kita relate kan kepada kehidupan kita, maka kerikil-kerikil kecil itu adalah sesuatu hal yang sering kali kita anggap remeh, seringkali tidak dihiraukan namun ada luka yang didapatkan jika dibiarkan. Jadi apakah hal remeh itu? Jawabannya adalah banyak hal. Dari menyepelekan hal yang beranggapan bisa dikerjakan nanti saja, mengabaikan masalah yang dianggap tidak penting, hingga meremehkan orang lain dan beranggapan diri sendiri adalah yang terbaik.Â
Contoh paling mudah adalah menunda apapun itu dalam kehidupan kita, seringkali kita akan meremehkan suatu hal yang berujung tidak kita sadari itu menjadi sebuah dalam hidup kita. Dari menunda untuk mengerjakan tugas walaupun sedang longgar, ketika mendekati deadline ternyata ada tugas-tugas lain yang ikutan menumpuk. Setelah terbiasa menunda pekerjaan akhirnya bersambung dengan menunda waktu kita untuk menghadiri tepat waktu, kemudian berlanjut menunda-nunda untuk menepati janji, hingga berujung yang paling sering adalah menunda-nunda waktu untuk beribadah.
Semua ini berawal dari ketidak pedulian kita dan kesombongan kita akan sesuatu dan seringkali berujung ke satu hal yaitu penyesalan yang cepat atau lambat kita akan merasakan itu, kita menganggap hal itu sepele karena melihat kemampuan kita yang melebih-lebihkan dibandingkan dengan orang lain, namun disaat itulah seringkali akal dan pandangan kita mulai menyempit yang akhirnya kita tidak sadar akan bahaya diluar pengelihatan kita. Dan apa yang terjadi? tidak sadar bahwa kita terluka cukup serius hanya karena kerikil kecil itu.
Apa yang membedakan seseorang itu rata-rata dan ada pula yang cerdas? Mereka sama-sama belajar, namun beberapa orang hanya membaca dan terus membaca dan beberapa yang lain mereka berhenti sejenak untuk memikirkan.
Ini adalah tumblr ke-2 milik pribadi, tumblr yang sebelumnya ingin aku khususkan hanya untuk catatan-catatan perjalanan dan pemaknaan hidup (febrianimanda.tumblr.com) dan tumblr ini dikhususkan untuk mencurahkan apapun yang ada di dalam pikiran (opini dan imajinasi), selain itu juga sebagai media untuk melatih pikiran secara berkala.
Anya is live and ready to show you everything. Watch her strip, dance, and perform exclusive shows just for you. Interact in real-time and make your fantasies come true.
âś“ Live Streamingâś“ Interactive Chatâś“ Private Showsâś“ HD Quality
Anya is LIVE right now
FREE
Free to watch • No registration required • HD streaming
Yaps benar sekali, ada beberapa poin yang aku sependapat dengan James Althucer ini, salah satunya yaitu semakin sering melatih otak kita untuk menemukan ide baru setiap harinya, kian hari merasa bahwa lebih banyak ilmu dan pengetahuan yang didapat, karena dalam proses menemukan ide tersebut pasti lebih dari satu hal yang dikolerasikan untuk mencapai ide yang benar-benar baru. Dan itu membuat semakin aktif juga untuk mencari informasi pendukung dengan ide awal yang dikemukakan tadi, dengan begitu informasi yang ingin didapatkan semakin mudah diproses karena memiliki tujuan apa yang dicari.
Sejujurnya ingin cerita tentang ini dari lama, namun apa daya ternyata baru bisa nulis h+2 minggu setelah momen ini terjadi. Training UCA (Urban Citizenship Academy) adalah sebuah training mengenai permasalahan di kota yang diadakan oleh kotakita, dan ini pertama kalinya mengadakan di Bandung. Apabila dilihat kalau dari background pendidikanku adalah IT, maka training ini adalah salah satu yang mungkin belum pernah terbayangkan hha.
Ceritanya kurang lebih 3 minggu yang lalu ada sebuah ajakan di salah satu grup FIM Kece (Grup FIM Regional Bandung) tentang pendaftaran UCA Bandung ini, kurang lebih h-3 hari sebelum pendaftaran ditutup, dengan melihat sekilas dan mendadak pingin ikut aja tanpa tau sebenarnya ini pelatihan apa. Keesokan harinya dikumpulkan dalam satu grup yang ternyata ada 6 orang yang berminat dan sayang sekali hanya 5 orang saja maksimal untuk pembentukan tim. Dengan keseriusan semua orang akhirnya dipecah menjadi 2 tim, coba tebak bagaimana membagi timnya? yaitu membaginya dengan nilai random XD karena sadar ini baru daftar kayak tahu bulat yang dadakan, ditambah dengan cukup banyaknya pertanyaan dan tidak mungkin untuk berkumpul 6 orang yang memiliki kesibukan masing-masing dalam waktu dekat ini maka cara tersebut adalah pilihan terwaras yang dilakukan hha.
Akhirnya kelompok kami terbentuk dengan anggota 4 orang, tambahan 1 orang di hari akhir pendaftaran. Aku, Ade, Teh Zelin, dan Teh Afi, kolaborasi dari Tel-U, Unpad dan ITB, sebuah apresiasi tersendiri bisa berkolaborasi dengan kampus-kampus ternama di Bandung ini. Menariknya lagi adalah kami dari background pendidikan yang berbeda-beda dan tidak ada satupun dari kami yang memang backgroundnya adalah perencanaan kota atau planologi (kalau g salah). Aku dengan background Teknik Informatika Tel-U, Ade dengan background statistika Unpad, Teh Zelin dengan background Teknik Industri ITB, dan Teh Afi dengan background Sistem Teknologi Informasi ITB. Jadi kami benar-benar satu kelompok yang bisa dibilang adalah nekat hha. Tapi karena antusias kami untuk belajar dan menyukai hal-hal yang berkaitan dengan sosial maka kelompok kami tetap maju jalan menyongsong apapun tantangan yang dihadapi *tsah
Ini adalah kelompok kami (belum punya nama sampai sekarang wkwkw). Kiri ke kanan: Ade, Teh Zelin, Teh Afi, Saya.
Sebagai salah satu syarat pendaftaran adalah dengan mengisi form yang cukup panjang dengan satu tema permasalahan kota yang diangkat, dengan ruang komunikasi hanya melalui WA saja, maka akhirnya semua serba terbatas dengan permasalahn terbesar adalah susah memahamkan satu sama lain yang masing-masing memiliki argumen dan tema diangkat sangat menarik, karena bisa dibilang mereka semua memiliki background seorang anggota himpunan atau BEM di universitasnya, maka apalah daya diri ini dibandingkan dengan mereka bagaikan butiran debu karena tidak pernah berpengalaman di himpunan ataupun BEM sebelumnya :’
Hampir kurang lebih satu hari untuk berdiskusi memilih mana tema yang diangkat, diskusi ini bisa dibilang sangat hidup dan seru walaupun keterbatasan ruang komunikasi. Akhirnya dengan kedewasaan kita masing-masing untuk menerima satu permasalahan yang harus dipilih, maka kami memutuskan untuk memilih yaitu mengangkat sebuah permasalahan dengan tema tingkat kriminalitas oleh anak-anak di Kota Bandung. 5 jam sebelum pendaftaran ditutupdengan kondisi saat itu sedang kedatangan teman dari Jakarta untuk sekedar ngobrol saja, akhirnya membuka laptop di warung sate bermodalkan internet tethering dari hape.
Satu minggu setelah pendaftaran kita dikonfirmasikan untuk memilih jadwal wawancara, dikarenakan harus diusahakan untuk bisa wawancara satu kelompok dengan via telepon, akhirnya kami memilih tempat berkumpul yaitu di Masjid Salman, karena menurut kesepakatan ini adalah tempat yang paling strategis (walaupun dari Telkom terasa paling jauh :’v). Kami sepakat untuk diwawancarai di hari Jum’at pukul 4 sore, dengan harapan bahwa Teh Zelin yang sudah bekerja di Depok mendapat izin untuk balik ke Bandung lebih awal, walaupun akhirnya ternyata ada keperluan lain di Depok. Singkat cerita kesepakatan berkumpul di Salman pada hari jumat pukul 4 sore, ternyata yang bisa datang tepat waktu saat itu adalah aku dan ade saja, karena teh Afi ternyata masih nonton sidang temennya, akhirnya proses wawancara tetap di lanjutkan dengan pertanyaan-pertanyaan kurang lebih sama dengan waktu pengisian form, tapi uniknya disini adalah ketika diajukan pertanyaan mengenai anggota, karena benar-benar belum akrabnya kami, aku sampai bingung menjawab bagaimana background-background mereka. Dan karena permasalahan yang disepakati adalah permasalahan dari Teh Zelin, tanpa kehadiran teh zelin ketika wawancara akhirnya benar-benar menjawab bermodalkan kepercayaan diri saja xD
Tidak lama 3 hari berselang ternyata kelompok kami mendapatkan email dan diterima untuk bisa mengikuti serangkaian program UCA ini.