Negeri ini untuk kesekian kalinya, akan kembali mengulang sebuah pesta demokrasi atau sebuah ritual khusus untuk mengejawantah kan harapan-harapan rakyat untuk membangun sebuah ‘era baru’ sesuai dengan filosofi yang tertanam atas nama demokrasi.
Jauh-jauh hari sebelum dimulainya genderang perang antar para birokrat, tidak sedikit aroma pencurian suara dilancarkan melalui kampanye-kampanye pragmatis baik itu melalui gaya yang konvensional sampai dengan cara-cara yang bisa dibilang fenomenal. Melalui berbagai macam media baik cetak maupun televisi dijadikan sebagai alat bagai para elite untuk berkomunikasi dengan para pendukungnya.
Mengapa media? Saya rasa sangatlah mudah untuk menjawabnya, karena hampir dari keseluruhan calon pemimpin di negeri ini nyatanya mempunyai basis media yang sangat kuat dalam medukung jejak langkah nya dalam proses representasi akhlak dihadapan para pendukung. Namun sayangnya, seringkali media-media tersebut hanya dijadikan sebagai topeng bagi para elite dan jauh dari kesan kebebasan, dipenuhi intrik dan bias akan makna berita yang sebenarnya dan yang paling terpenting tidak mencerminkan akhlak yang di inginkan oleh sang rakyat. Para elite berlomba-lomba dalam menggalang pernyataan dan dukungan yang diharapkan nantinya akan terkonversi dengan keabsahan suara dan membawa mereka kedalam singgasana raja.
Hampir satu dekade lebih negeri ini merasakan jiwa reformasi, reformasi yang terbentuk dari gugurnya nafas para aktivis bangsa diiringi dengan pekikan lantang para pembaharu untuk menegakan arti demokrasi yang sebenar-benarnya. Pertanyaan yang kembali terulang adalah apakah kita rela untuk membiarkan aroma reformasi terhempas badai kepentingan-kepentingan kotor elite yang masif namun bertemakan pejuang rakyat? Lalu, kembali yang akan dipertanyakan adalah dimana sikap seorang reformis sejati yang dahulu tertanam dengan sangat kuat demi memerdekakan jiwa demokrasi? sangatlah klasik dan retorik.
Simon Sinek dalam bukunya yang berjudul “Start with WHY” menegaskan bahwa “Leadership is the ability to rally people not for a single event, but for year”. Inilah yang seharusnya dilakukan oleh para calon pemegang singgasana bukan justru inilah yang akan jadi pertanyaan besar bagi rakyat yang akan kembali diarahkan untuk memilih mereka. Terdengar sangat lirih ketika memang pada kenyataannya elektabilitas lah yang dijadikan alasan utama, sehingga manipulasi segala sesuatu yang berkenaan dengan pencapaian tersebut dilakukan tanpa tedeng aling-aling. Proses manipulasi ini memang akan terlihat sempurna dalam waktu yang sangat cepat, sama cepatnya dengan hilang nya rasa menjalankan amanah dan nihil nya akar yang kuat dalam berperilaku sebagai pemimpin.
Bagaimana mungkin dengan berbagai manipulasi yang dilakukan semenjak proses pencalonan dapat membuat seorang pemimpin memberikan sumbangsih serta totalitasnya dalam membangun sebuah komitmen moril dengan rakyatnya ketika nanti ia terpilih sebagai pengemban suara? Tak ayal, banyak para penggagas muda negeri ini mulai dihantui rasa pesismisme akan bangsanya sendiri, bangsa yang seharusnya dipandang sebagai bangsa yang besar dan bermartabat namun jatuh tersungkur di hadapan bangsa-bangsa lain.
Negeri ini jauh dari lumbung kesejahteraan meskipun pada kenyataannya lumbung beras dunia tercantum dengan nama Indonesia. Kesejahteraan rakyat sudah seringkali menjadi taruhan pasti, tanpa ada harapan untuk menaikkan derajat nya kembali seperti sedia kala. Prof. Dr. Muhammad Quraish Shihab, MA pernah berkata bahwa “surga yang diciptakan oleh Tuhan sungguh lah terlalu luas kalau hanya untuk di monopoli oleh manusia” sama hal nya dengan suara dan pesan rintihan rakyat kecil yang terlalu mahal dan bahkan tidak terbeli dengan apapun kalau hanya dijadikan sebagai alat pembentuk kekuasaan. Sungguh, manipulasi yang sangat meresahkan.
“Tat Twam Asi, Tat Twam Asi” yang berarti dia adalah saya dan saya adalah dia, kamu adalah aku dan aku adalah kamu. Sebuah aforisme dari kitab agama Hindu tersebut seharusnya bisa dijadikan renungan tersendiri apabila dihadapkan pada kenyataan runtuhnya moralitas para pencari kekuasaan, mereka yang seharusnya mengasihi bukan menyakiti, mereka yang seharusnya memberi bukan merampas, mereka yang seharusnya menyatukan bukan membedakan, dan mereka yang seharusnya mengabdi bukan menyengsarakan.