Demand
Sejak tumblr udah nggak diblokir lagi di Indonesia, saya pernah janji untuk cerita tentang segala hal yang terjadi di kehidupan saya pasca-kuliah. Akhir-akhir ini udah semakin banyak orang berspekulasi dengan sumber yang nggak jauh dari obrolan satu orang ke orang lainnya. Kebanyakan tepat sih, tapi akan lebih cocok kalau saya, selaku sudut pandang orang pertama, yang menceritakannya sendiri.
Sedikit kilas balik dulu ya, sebelum dinyatakan lulus pada bulan April tahun lalu, saya harus berjuang dari mahasiswa yang belum melakukan KP, KKN, KKL, & TA hanya dalam durasi kurang lebih 10 bulan. Tepatnya sejak bulan Juli 2017 dimana saya memulai kerja praktek hingga bulan April 2018 saat saya selesai melaksanakan sidang. Itu pun belum dihitung dengan kegiatan sampingan seperti menjadi koor asisten beberapa mata kuliah dan proyek part-time.
Bagaimana sensasinya? Luar biasa. Saya paham rasanya menjalani hari tanpa mengenal weekend, weekday, horor hari Senin, TGIF, dan lain-lain. Setiap hari terasa sama: kerja, kerja, kerja. Malah badan saya terasa aneh kalo ada 1 hari yang terlewat tanpa sibuk ngerjain sesuatu.
Saya sidang & dinyatakan lulus dengan revisi pada hari yang berdekatan dengan ulang tahun ke-21, yaitu tanggal 16 April. Saat saya kira bahwa petualangan selanjutnya sudah menanti di depan mata, saya dikecewakan dengan kabar bahwa surat keterangan lulus baru bisa diambil pada bulan Juli. Dengan kata lain, selama kurang lebih 3 bulan saya memiliki status yang sangat tidak jelas: mahasiswa bukan, alumni pun tidak.
Banyak peluang manis saya lewatkan selama itu. Saya yang memang sudah mantap untuk melanjutkan studi S-2 sebenarnya telah membuat jadwal terkait deadline beasiswa dalam negeri yang bisa saya ikuti. Tapi ternyata semuanya hangus hanya karena ketidakjelasan birokrasi. Kalau memang seperti ini, kenapa dulu saya ngincer lulus cepat-cepat ya, bahkan jadi salah satu yang tercepat di cowok angkatan.
Saya akhirnya harus membuat jadwal deadline beasiswa lagi, namun kali ini dengan level yang berbeda, yaitu beasiswa luar negeri. Dari yang awalnya terpaksa, sekarang justru jadi target yang paling ingin dicapai. Apalagi setelah berhasil dapat skor IELTS yang lumayan dengan hanya bermodalkan belajar otodidak selama kurang lebih 3 minggu. Dari hasil latihan dengan film, BBC Radio, The Guardian, Huffington Post, dan New York Times, siapa sangka bisa muncul sebuah nilai yang bahkan layak untuk masuk ke perguruan tinggi sekelas Harvard & Oxford.
Negara yang ingin pertama kali saya tuju adalah Belanda. Ada banyak cerita tentang keputusan ini, hasil dari kebetulan yang terjadi secara berulang kali. Bahkan negara ini sempat saya tulis di salah satu tulisan tumblr beberapa tahun lalu. Siapa sangka ternyata sekarang saya memang benar-benar “mendekat” kesana. Dari hasil pencarian selama beberapa hari, saya yakin untuk memilih salah satu universitas yang terkenal karena fokusnya di bidang life sciences and environment: Wageningen University.
Beberapa bulan kemudian, saya berhasil dinyatakan diterima di universitas tersebut. Mereka mengatakan bahwa saya sudah bisa ikut kuliah di bulan September 2019. Namun dengan satu syarat, yaitu melakukan verifikasi dan membayar uang kuliah sebesar kurang lebih 18.000 euro. Disinilah masalah muncul, karena berarti dalam waktu kurang dari 1 tahun saya harus sanggup mencari sponsor yang mau membiayai kuliah saya, termasuk transportasi, riset, dan biaya hidup.
Saya pun mendaftar ke LPDP, namun sayang sekali harus terhenti di fase kedua. Dengan rasa takut yang mulai muncul, saya memilih untuk mencari negara & perguruan tinggi alternatif. Di Inggris, saya berhasil diterima di University of Sheffield dan University of Leeds, sedangkan di Australia saya berhasil diterima di University of South Australia. Namun, semuanya masih memiliki masalah yang sama: sponsor.
Di awal tahun 2019, saya mendapat kabar bahwa pengajuan sponsor saya ke pemerintah Inggris ditolak karena masih berstatus sebagai fresh graduate. Ini berarti kemungkinan untuk bisa kuliah di tahun 2019 hanya menyisakan Belanda saja (kuliah di Australia baru dimulai awal tahun depan). Dengan mengumpulkan tekad dan keberanian yang semakin tercecer, saya mencoba mengajukan sponsor ke pemerintah Belanda pada bulan lalu. Hasilnya baru akan saya dapatkan di bulan Mei.
Semenjak memencet tombol submit, saya semakin waswas dengan pergantian hari, minggu, dan bulan. Kurang lebih 2 bulan lagi saya akan mendapatkan keputusan yang persiapannya sudah saya lakukan sejak tahun lalu. Sambil menunggu pengumuman, saat ini saya menjadi asisten dosen. Kurang lebih ada 6 atau 7 paper internasional yang sudah saya selesai tulis.
Saya yakin bahwa meningkatkan kualitas diri akan membawa dampak positif. Paling tidak ini adalah usaha untuk memantaskan diri dalam mendapatkan hal-hal besar di kehidupan. Kisah lain sedang dalam proses untuk terjadi. Mari kita tunggu bersama apa yang akan terjadi di bulan Mei.
Kepada diriku di 667 hari yang lalu, you did it.
You’re now busy with new adventures: how to get a fucking Master degree and how to conquer most of the countries in Europe.
Good luck with that.
Kepada diriku di 486 dan 667 hari yang lalu, you did it!
You’re now busy as an Indonesian expat in Europe, working hard to earn money that most likely will end up on airplane, concert, movie, or football tickets.
Good luck with that (again).















