Menjadi yang dibicarakan terkadang memang tidak menyenangkan, terlebih jika apa yang dibicarkan seolah menyudutkan, menghakimi, entah mereka melemparkannya dengan sengaja, atau pun bercanda yang kelewatan.
Tidak semua orang menangkap lelucon yang kita anggap lucu sebagai hal yang menarik, justru terkadang menyakitkan. Kita perlu berhati-hati.
Nona, ada begitu banyak karakter manusia dengan seabreg pemahamannya, dan terus hidup dengan apa yang dipikirkan mereka adalah cara menyakiti diri paling nyata.
Nona, kau takkan bisa membuat semua orang sepakat melihat sesuatu sebagaimana dengan caramu memilih sudut pandang. Jangankan, Kau, Tuhan saja yang memiliki segalanya, yang mengatur segalanya, bahkan yang memberikan seseorang kemampuan untuk bernafas, masih saja bisa mereka salahkan.
Ada begitu banyak batas yang tak perlu semua kau rengkuh, ada begitu banyak bisik angin yang tak selalu harus telingamu tampung dengan seksama.
Nona, jika suatu hari kau menjumpai ucapan yang tak mengenakkan hatimu, jika suatu hari kau mendapati anggapan yang tak membuatmu nyaman. Kembalilah bertanya lebih dalam pada diri sendiri, tanyakan dengan tenang padanya; Apakah Tuhan memandang seperti itu juga?
Nona, hina dianggapan manusia belum tentu hina di hapadan Tuhan, salah menurut manusia belum tentu salah juga di mata Tuhan. Terkadang kita terlalu jahat menghakimi diri sendiri.
Nona, tenang saja, mau satu juta orang menganggapmu salah, keliru, atau bahkan hina, jika yang kau lakukan tak melanggar aturan-Nya, tentu itu takkan mengurangi satu butir pun kebaikanmu di mata-Nya. Kau hidup untuk siapa?
Nona, andai saja kau mau lebih tenang untuk menyikapi, andai saja kau mau lebih adil pada dirimu sendiri, rasanya, apa kata mereka yang sebenarnya tak tepat dengan kenyataan yang kau lakukan, tentu tidak akan menjadi hukuman yang teramat menyedihkan. Sayangnya terkadang kau pun suka tak adil pada dirimu sendiri. Kau terkadang membiarkan dirimu sendiri larut terbawa air bah yang menghampirimu.
Nona, ada dua kebaikkan yang kau dapat ketika orang-orang mengolokmu, bila itu benar dan kau bersabar, kau akan mendapat kebaikkan di mata Tuhan sekaligus itu bisa kau jadikan benteng untuk tidak melakukan kesalahan serupa di lain hari. Jika itu keliru dan kau bersabar, kau pun tengah menampung pundi-pundi kebaikkan yang kelak akan kau nikmati buahnya di Surga.
Jangan mengharap berlebih mendapat pengertian dari manusia. Tangguhlah, sebab kau paham dan percaya, kasih sayang-Nya takkan luntur hanya karena anggapan manusia.
Nona, terkadang masalahnya adalah kita lupa sebenarnya kita hidup untuk siapa. Jika kau hidup terlalu besar untuk anggapan manusia, kau harus siap untuk lebih sering kecewa. Jika kau benar hidup untuk Tuhan, mestinya kau tak perlu terlalu khawatir pada apa kata manusia, selama kau pun benar paham bahwa yang kau lakukan memang benar-benar tidak menyalahi aturan-Nya.
Percayalah, Nona, hidup terlalu banyak pada cara pandang orang adalah cara termudah untuk mengikis kebahagiaan. Belajarlah untuk lebih arif menilai dirimu sendiri.