Tulisan 27
Negara +62 darurat Supporter yang dewasa, legowo, dan tanpa provokasi.
Olahraga terpopuler di Negara +62 tidak lain adalah Sepakbola serta adik tiri dari sepakbola yaitu futsal, untuk lebih mudah dan tidaj terlalu panjang menulis sepakbola/futsal maka saya singkat dengan FUSBOL. Kedua olahraga yang sangat populer di Negara +62 ini memang begitu banyak penggemarnya dan tak mengenal batasan usia. Jika pertandingan fusbol tidak ada suporter maka pertandingan tersebut terasa hambar. Namun di negara +62, adanya pertandingan fusbol dengan suporter juga akan mengganggu pertandingan itu sendiri, bagaimana bisa mengganggu?. Saya akan bahas menurut opini pribadi saya.
Puluhan, ratusan, ribuan suporter yang hadir di dalam stadion ataupun Gor tidak semuanya bisa memahami dan tersadar bahwa keamanan, keberlangsungan pertandingan tidak hanya terjadi karena adanya kedua tim, pemain, official dan wasit saja, suporter juga menjadi bagian dari keberlangsungan pertandingan. Semuanyaa menjadi satu elemen di dalam pertandingan. Sebuah pertandingan menang dan kalah adalah kewajaran karena memang bertanding. Suporter seharusnya tidak memberikan nyanyian, dukungan, perkataan, atau bahkan tindakan provokasi kepada tim lawan, jika tim yang didukung dalam kondisi unggul atau menang. Hal yang seharusnya juga dilakukan jika tim yang didukung dalam kondisi tertinggal dan bahkan mengalami kekalahan tidak perlu marah mengeluarkan kata sumpah serapah hingga melakukan tindakan anarkis.
Bagi saya pribadi kondisi suporter Negara +62, ini sangat darurat dan memprihatinkan. Rasanya sangat percuma memberikan edukasi kepada suporter, apalagi yang diberikan edukasi hanya perwakilan saja yang datang 1-5 orang saja. Regulasi suporter ada tapi tidak pernah dianggap oleh sebagian besar suporter di Negara +62 ini. Beberapa hari lalu saya mendapati pertandingan futsal ranahnya pertandingan antar sekolah, sangat wajar jika banyak siswa juga mendukung temannya bertanding, namun yang tak wajar adalah cara mereka mendukung, memberikan semangat seakan tidak seperti seorang siswa yang terpalajar, lebih mengarah ke provokasi dan mereka merasa bangga dan merasa sangat dengan hal itu, padahal sangat memprihatinkan di usia mereka yang masih dalam tahap belajar dan terdidik melakukan tindakan yg tidak mencerminkan seorang pelajar.
Saya rasa semua federasi olahraga di Negara +62, khususnya di Cabor Fusbo, harus menaturalisasi suporter, bukan hanya menaturalisasi pemain saja. Lebih ekstrim lagi seperti yg pernah saya tulis di tumblr sebelumnya, Negara +62 lebih layak tanpa suporter ketika pertandingan fusbol. Tragedi Kanjuruhan ternyata tidak cukup membuat paea suporter ini belajar. Opini saya ini sekaligus memprediksi bahwa Negara +62 dalam cabor fusbol tisak akan pernah masuk piala dunia jalur kualifikasi, beruntung saja Negara +62 ini masuk piala dunia jalur tuan rumah.
Semoga seluruh suporter bisa berubah dan memahami bahwa pertandingan adalah sebuah tontonan yang bisa dijadikan ajang hiburan ditengah penatnya bekerja, membayar cicilan dsb. Jika tim yang didukung kalah ya harus diterima dengan lapang dada karena memang sebuah pertandingan.















