Tulisan Pekan Pertama 2024; Daftar Rencana, Yiruma, dan Depapepe.
Minggu pertama 2024 ditutup syahdu dengan hujan sedari mula hari. Rasanya menenangkan sebab di antara rintik air yang jatuh tak ada iringan gelegar petir, hal yang sering kutakutkan dari hujan. Aku menyeruput Americano yang kucampur dengan susu oat di cuaca yang lebih layak menghidangkan diri dengan secangkir teh atau coklat hangat, tak apa, toh aku tetap menikmati apa yang kupilih itu.
Memulai tahun dengan membuat daftar hal-hal yang ingin kulakukan bukanlah pertama kuperbuat, sejak beberapa tahun lalu rasanya rutin. Sambil bertekad menulis tulisan ini, aku memandang daftar yang jika kupikir ulang aku sendiri terbersit bertanya “buat apa?”. Tetapi, aku memang bukan tipikal orang yang akan dengan murah hati berkata “mengalir saja”, sebab ada banyak hal yang memang bisa direncanakan sejak awal, pun jika akhirnya gagal ada rasa bangga atas apa yang sudah rapi tertata dalam daftar. Bertanya dan menjawab pertanyaan sendiri, ya begitulah. Atau jika mau lebih lanjut menganalisa, bisa juga beberapa suara akan bergema “toh semua rencana Allah yang lebih pasti”, tentu benar. Namun dalam presepsiku, Allah akan lebih menyukai siapa pun yang berusaha merencanakan hidupnya sendiri, nantinya Allah pula yang akan menilai daftar yang sudah dibuat, akan Allah eliminasi yang buruk pun Allah akan tambahkan lebih banyak untuk kebaikan lain dalam daftar rencana. Ah, panjang sekali perkara resolusi awal tahun ini. Tak perlu terbebani, semua orang punya seni masing-masing dalam menjalani hidupnya sendiri.
Dengan bangga, aku hanya ingin menuliskan bahwa di sangat awal tahun ini sudah ada satu daftar rencana yang bisa kucapai. Rencana yang terhubung dengan banyak petualangan dan daftar lainnya, menyenangkan ternyata mengukur diri dengan rencana yang dibuat. Lebih lagi, saat menyadari daftar yang dibuat membuatku berjalan perlahan, bertumbuh, bergerak, dan tidak hanya diam adalah hal yang menakjubkan. Tetapi, seperti yang orang lain akan ucapkan, tidak semua rencana akan tercapai, sejak menulis semua daftar ada hal yang lebih kupersiapkan ya tentu saja; penerimaan. Bagian yang kupelajari lebih dalam adalah soal kelapangan menerima apapun rencana milik Allah. Menerima.
Baik, mari akhiri pembahasan tentang daftar rencana atau resolusi sampai di sini, sampai saat memahami adanya hakikat penerimaan. Hujan masih membersamaiku menulis tulisan yang akan menjadi mula aku menulis rutin di sini, meski tak tahu akan ada yang membaca atau tidak, tapi aku akan tetap bangga pada diriku sendiri karena mau memulai lagi. Ah, tahun lalu aku juga mengisi tulisan untuk sebuah kompetisi, lalu mundur sebab mengukur diri. Sampai saat aku menyetujui bahwa aku tetap harus menulis, minimal seminggu sekali sebagai sarana “kembali”.
Alunan musik dari Yiruma menjadi pilihanku untuk menjadikan suasana hujan dan momentum menulis menjadi lebih syahdu. Sejak seminggu ini rasanya Yiruma terus jadi pilihan laguku, bergantian dengan milik Depapepe. Entah karena musim penghujan itu sendiri yang butuh instrument musik saja, aku memang keinginanku yang menggebu untuk bisa bermain piano dan gitar. Entahlah.
Tahun lalu, 2023 aku banyak mengisi diri dan menghabiskan waktu bersama kelas pengembangan diri di Career Class juga Program Guru Penggerak, kedua program yang luar biasa menghantarkanku pada banyak ilmu dan pemahaman. Maka, tahun ini aku akan lebih membiarkan diriku mengejar hal yang memang ingin kukerjakan sejak lama, seperti belajar piano dan gitar. Aku semapat mengutarakan hal ini kepada orang lain, “kenapa” adalah kata yang dilontarkan. Aku juga tak punya banyak alasan kecuali salah satu ingatanku yang berlari kepada salah satu sosok seniman yang sempat mengisi kelas tahun lalu, aku mengingat nasehatnya itu mungkin bisa kujadikan alasan, “usia saya 50 tahun dan saya baru belajar bermain cello, tidak apa-apa mememulai di usia ini,” katanya. Aku terinspirasi.
Bisakah kukatakan bahwa piano dan gitar adalah bagian dari innerchild-ku? Rasanya menyaksian orang bermain piano adalah hal mahal yang barangkali jika kusampaikan di usia lalu adalah hal yang tidak mungkin tercapai, tapi sekarang rasanya akan mudah hanya perlu niatan melawan rasa takut. Oh iya, aku menyukai Depapepe sejak sekolah menengah, duo gitaris asal Jepang yang menggagumkan, lalu mengenal Yiruma saat di bangku kuliah, tentu saja dari original soundtrack salah satu film laris di masa itu. Aku menyaksikan banyak orang yang bermain gitar dan piano sembari terus mengubur keinginan untuk bisa, sebab rasa takut memulai sejak masa yang terlewat itu lebih besar. Mungkin tahun ini, aku bisa melawan rasa takut mencoba, aku akan banyak melakukan hal baru.
Anya is live and ready to show you everything. Watch her strip, dance, and perform exclusive shows just for you. Interact in real-time and make your fantasies come true.
✓ Live Streaming✓ Interactive Chat✓ Private Shows✓ HD Quality
Anya is LIVE right now
FREE
Free to watch • No registration required • HD streaming
Nusaindah, Ayahnya, Jingga, dan Grey berada di dalam mobil Jeep. Mereka segera menuju rumah Nusaindah untuk menyelamatkan bunda yang terkurung di dalam lemari kayu ruang jahit. Benang putih dari lemari kayu sudah sempurna berkilau dan siap untuk diserahkan kepada yang pemilik. Nusaindah masih memperhatikan kilau yang terpancar pada benang putih yang ia ambil dari lemari. Takjub. Sesekali ia membuka sedikit bagian dari tas yang tidak tertutup rapat itu.
“Setiap peramu warna punya caranya masing-masing dalam proses mewarnai langit di telaganya,” Jingga memuai dialog dalam Jeep. Kini Nusaindah menoleh ke arah suara dan memeperhatikan.
“Bundamu memilih benang itu sebagai medianya karena ia sangat menyukai dunia menjahit. Semua karyanya dari pilinan kain sangat indah. Tante juga suka pesan baju hasil jahitan bundamu,” Jingga menjelaskan.
“Lalu, Tante jingga meramu warna dengan apa?” Nusaindah bertanya.
“Klue-nya pekerjaan, Nusa,” Grey yang duduk di depan samping kemudi milik ayah Nusaindah menenggok kea rah belakang sambil tersenyum.
“Pekerjaan? Ilmuan? Tante pakai tabung reaksi?” Nusa menjawab dengan pertanyaan yang ia sendiri tak yakin.
“Iya, betul sekali. Setiap peramu warna menjalankan tugasnya dengan tetap melakukan hal yang mereka sukai. Termasuk Tante Jingga. Ia tetap menjaga telaga dan menjadi ilmuan seperti mimpinya,” Ayah Nusaindah ikut menimpali percakapan.
“Suatu hari, saat Nusaindah menjadi peramu warna, kamu tetap bisa melakukan hal yang kamu suka dan sangat ingin terus kamu lakukan. Nusa ingin melakukan apa saat nanti jadi peramu warna?” Jingga menoleh kea rah Nusaindah dengan senyum terbaik.
“Aku bakal jadi peramu warna?” Nusaindah bingung.
“Iya, setiap anak perempuan dari peramu warna akan meneruskan jejak ibunya. Suatu hari, Nusaindah akan menemukan telaga yang harus dijaga. Sekarang pikirkan dulu dengan media apa Nusa akan meramu warna. Apa Nusa juga suka menjahit seperti bunda?” Jingga menambah bingung Nusaindah sekarang.
“Tidak perlu dipikirkan sekarang maksud Tante Jingga. Nusa hanya perlu jadi diri sendiri. Menjadi apapun yang Nusa mau tidak akan menggangu tugas menjadi peramu warna,” Grey memberi semangat Nusaindah yang sedang mengaruk kepala.
Hutan di belakang rumah Nusaindah masih dipenuhi warna gelap. Bunda Nusaindah yang sudah terkurung berjam-jam dalam lemari kayu butuh dibantu. Kali ini rombongan yang dibawa ayah Nusaindah akan membantu mengeluarkannya.
“Apa yang terjadi jika awan hitam dan langit yang gelap tidak segera dihilangkan, Tante Jingga?” Nusaindah menatap jendela kaca mobil dan melihat genangan air hitam di jalanan. Air hujan berwarna hitam sudah memenuhi setiap jengkal dataran.
“Peramu warna bisa melihat hujan yang turun ini sebagai warna hitam, sedang orang normal hanya melihatnya sebagai hujan. Tinta hitam yang jatuh ini akan memenuhi sebagian besar hutan, ia merubah hewan menjadi lebih buas, tanah menjadi lebih anyir dan lembab. Ada banyak kemungkinan yang terjadi karena tinta hitam dari langit pekat ini, Nusa,” Jingga menjelaskan.
“Iya. Warnanya seperti tinta,” Nusa masih menatap ruas jalan dari kaca.
“Sejak kapan Nusa bisa melihatnya?” Jingga kaget.
“Sejak saat ayah mengajak Nusa lari dari telaga, tepat saat warna-warni telaga mulai menghitam dan langit penuh mendung. Air yang turun jadi hitam,” Nusaindah menjelaskan.
Memasuki rumah, empat orang itu saling pandang di depan ruang jahit Bunda Nusaindah. Grey dan Ayah Nusaindah mengangguk memahami situasi dan keputusan yang akan diambil Jingga. Ya, kali ini kuncinya adalah Jingga. Ia membawa tas dengan benang berkilau. Lalu memastikan suatu hal. Ia diam sejenak.
“Ardi, aku sepertinya harus membawa Nusa masuk. Meski pada kasusku dan Lila, kami harus berada di usia di atas dua puluh tahun untuk menjadi peramu warna. Tapi kurasa Nusa berhak masuk,” Jingga meyakinkan dengan lekas mengenggam tangan Nusaindah.
Jingga masuk ke dalam ruang jahit milik sahabat karibnya. Nusaindah mengekor di belakang Jingga, lalu menghadap ayahnya sekejab dan melambaikan tangan. Pintu tertutup. Tak ada yang lain dari ruangan yang tadi sudah Nusaindah masuki dengan ayahnya. Namun, ini akan menjadi pengalaman pertama Nusaindah masuk ke ruang peramu warna. Jingga meraih gagang lemari kayu, ia mengengerakkan tangannya seperti kibasan ekor cendrawasih. Sedikit kemilau keluar dari gangang yang Jingga sentuh. Kini, pintu lemari ia dorong perlahan.
Nusaindah terkesima dengan isi lemari, bukan tumpukan baju-baju seperti pada umumnya isi lemari yang ia tahu. Ada sebuah padang rumput dan bunga yang luas di sebuah bukit. Langit di sana punya dua gradasi warna. Pertama tepat di atas siluet seseorang ada garis aurora yang berwarna ungu tua dan muda, di sisi lain sudah hampir dipenuhi oleh langit yang gelap. Nusaindah tahu siapa siluet yang ia lihat, seorang wanita yang dinaungi warna ungu itu adalah bundanya. Warna ungu mungkin sedang melindungi nama pemilik warnanya, Lila Magenta.
Jingga berlari menuju bunda Nusaindah. Ia bergegas memberikan tas yang isinya sangat dibutuhkan. Bunda Nusaindah memeluk Jingga erat, ia berbisik untuk rasa terima kasih. Jingga membantu menyiapkan benang. Bunda Nusaindah mengusap tanah di depannya, sebuah kolam kecil muncul di permukaan. Pancaran air dalam kolam berubah menjadi alat pemintal kain, jemari Bunda Nusaindah mengurai setiap lembar benang berkilau ke dalamnya. Setiap benang berkilau yang berwarna putih itu berubah warna saat disentuh oleh Bunda Nusaindah. Butuh waktu lama untuk meramu warna. Jingga mundur, memandu Nusaindah yang masih terkesima di depan pintu masuk mereka datang tadi.
Sambil menjelaskan semua situasi yang dilihat Nusaindah, Jingga menuju arah proses peramuan warna yang sedang dilakukan oleh Bunda Nusaindah. Apa yang dilihat Nusaindah akan menjadi pengalam pertama dan mula dari petuangannya menjadi peramu warna baru. Dipandangnya sang bunda yang terus menyusun benang berkilau dari tangannya. Kecepatan tangan bundanya seperti tarian kupu-kupu di atas bunga. Waktu berjalan, langit berwarna gradasi ungu di atas mereka mulai berarak menutupi langit warna hitam. Tampilan warna yang Nusaindah lihat kini seperti Aurora yang sempurna berkilau.
Bunda Nusaindah menyelesaikan tugas meramu warna dengan kelegaan. Ia membuang nafas panjang lalu berdiri. Segera memeluk Nusaindah yang terus memeperhatikan. Jingga ikut memeluk ibu dan anak yang ada di depannya. Tidak ada kata yang terucap dari keduanya. Mereka bergegas keluar menuju pintu kayu di bawah bukit.
Suasana di luar sudah cerah. Langit hitam sudah berganti senja yang berwana ungu muda. Grey dan Ayah Nusaindah yang menunggu di pelatar rumah bergegas masuk dan menyambut tiga perempuan yang keluar dari ruang jahit. Nusaindah berlari ke arah kamarnya.
“Aku ingin meramu warna dengan menjadi pelukis, Bun,” Nusaindah kembali ke hadapan empat orang dewasa dengan menjinjing kanvas dan sebuah kuas. Semua menatap gadis empat belas tahun itu dengan senyum.
Ayah dan Nusaindah sudah sampai di pelatar rumah setelah berlari dari telaga yang sudah dipenuhi warna gelap. Pintu rumah dibuka dengan sekujur tubuh mereka yang basah kuyup. Ayah memberi intruksi ke Nusaindah untuk bergegas ganti baju. Sementara sang ayah pergi ke ruang kerja jahit sang bunda.
“Bun, bundaaa…” teriakan Ayah sampai ke kamar Nusaindah saat ia sedang berganti. Ia mempercepat diri, lalu segera menyusul ke ruang di mana ayahnya memangil bundanya.
“Ayah, bunda di mana?” Nusa masuk ke ruangan dan tidak menemukan sosok yang dicari.
Ayah Nusaindah memegang gagang pintu lemari kayu di ruang jahit istrinya. Nusaindah mengamati ruangan dengan seksama, ini kali pertama masuk ruang kerja bunda. Ada berbagai lemari kaca berisi gaun jahitan bunda dari pelanggan. Lemari kaca mungil berisi peralatan jahit. Lemari kaca berisi benang berwarna warni dan lemari kaca berisi benang putih. Serta satu lemari kayu besar di hadapan sang ayah.
“Ayah, bunda di dalam?” Nusaindah mulai mendekati ayahnya yang matanya sudah sembab berair.
“Kita harus bantu bunda keluar dari ruang peramu warna,” ayahnya berbalik arah dan siap meninggalkan lemari yang sedari tadi ia pandangi.
“Apa yang bisa kita lakukan agar bunda bisa keluar, yah?” Nusaindah tidak benar-benar memahami maksud ayahnya.
“Nusa, tolong ambilkan benang putih di lemari kaca itu,” Ayahnya menujuk salah satu lemari yang sudah diamati Nusaindah sejak pertama masuk ke ruangan ini.
Saat Nusaindah menuju lemari berisi benang putih, ia masih berbalik dan mengamati lemari kayu yang kata ayahnya tempat di mana bundanya terkurung bersama langit gelap. Sang Ayah sedang mengambil salah satu tas yang ada di tumpukan kain perca sisa hasil jahit bunda. Nusaindah bergegas mengambil beberapa gulung besar untuk dimasukkan ke tas jinjing yang ayahnya bawa menuju pintu keluar.
Ayah dan Nusaindah sudah bergegas ke garasi. Ayahnya kini tak banyak berkata. Ia membuka pintu garasi dengan kekuatan penuh. Ayah memberi aba-aba kepada Nusaindah untuk bersiap. Gadis berusia empat belas tahun itu memahaminya. Nusaindah akan menaiki mobil Jeep dalam garasi ini entah menuju ke mana. Hanya ayahnya yang tahu. Sembari mobil Jeep keluar dari halaman rumah yang masih beraura gelap dari langit-langit yang dipenuhi awan pekat, Nusaindah berbalik arah melihat rumah yang di dalamnya ada bundanya, seorang peramu warna yang tertahan di dalam ruangan peramu warna.
“Kita mau kemana, yah?” di perjalanan Nusaindah mulai ingin tahu.
“Menemui peramu warna di telaga lain, sayang. Kita harus menyelematkan bunda sesegera mungkin,” ayahnya menjelaskan.
“Peramu warna di telaga lain?” Nusaindah mengulang kalimat ayahnya dengan nada bingung.
“Iya, saat di telaga sudah ayah jelaskan. Di dunia ini ada banya peramu warna yang menjaga telaga dari langit kejahatan.
Nusaindah mengarahkan kepalanya ke atas awan yang sudah tak lagi hitam. Ia lalu menoleh ke belakang. Awan gelap itu tertinggal hanya di langit hutan tempat tinggalnya. Ia mematung melihat pemandangan yang baru pertama ia lihat itu. Sepanjang perjalanan ia menghawatirkan bundanya dalam lemari kayu, juga menyeruak rasa penasaran akan bertemu dengan peramu warna lainnya.
“Bisa ayah ceritakan siapa peramu warna yang akan kita temui nanti?” Nusaindah bertanya karena ingin tahu.
“Namanya Tante Jingga. Kita butuh waktu tiga jam untuk sampai ke rumahnya di sebrang telaga utara sana,” ayahnya menjelaskan dengan mengendarai Jeep hati-hati.
“Apa Tante Jingga juga penjahit seperti bunda?” Nusaindah memiliki stok pertanyaan banyak sekarang.
“Bukan, Tante Jingga seorang ilmuan.” Ayahnya menjawab singkat karena fokus ke jalanan di depan mata.
“Lalu kenapa kita membawa benang putih dari ruang jahit bunda?”Nusaindah menatap tas yang terdampat di bagian belakang mobil.
“Benang bunda harus diwarnai dengan air telaga. Kita harus bantu bunda menuntaskan tugas meramunya. Kemungkinan besar benang yang dibawa bunda ke ruang meramu warna habis saat dipintal melawan langit kejahatan,” ayahnya menginjak gas mempercepat laju mobilnya.
Nusaindah menelaah kalimat ayahnya yang sulit dia pahami. Mewarnai dengan air telaga. Dipintah melawan . Ia diam memikirkan banyak hal yang ia tak tahu. Bahkan pada apa yang bundanya sedang lakukan di balik lemari kayu, ia bergeming. Sesekali ia masih menoleh ke arah belakang, titik hitam dari langit makin kecil. Perjalanannya dengan sang ayah sudah sangat jauh.
“Memang Tante Jingga bisa bantu bunda keluar dari lemari, yah? Orangnya ada di rumah atau sedang meneliti sesuatu?” Nusaindah celinggukan saat mobil Jeep ayahnya sampai di pelatar sebuah rumah tepat di depan sebuah telaga.
“Tadi sudah ayah telpon kok, pasti bisa bantu kita dan bunda,” Ayahnya membuka pintu dan bergegar mengambil tas jinjing berisi benang.
Seorang perempuan berkacamata ke luar dari balik pintu bersama seorang laki-laki berperawakan besar. Keduanya memakai baju kemeja putih, seperti baju praktikum sains yang Nusaindah pakai di sekolah saat jam praktik di laboratorium. Jingga dan Grey adalah sepasang ilmuan yang tinggal dan menjaga telaga utara. Setelah mendapat kabar dari Ayah Nusaindah, mereka bergegas pulang dari tempat kerja di sebuah lembaga penelitian bahan makanan alami.
“Hai, Nusa! Hai, Ardi,” Jingga menyapa Nusa dan ayahnya. Ardi adalah sapaan orang terdekat ayah Nusaindah, potongan dari namanya Lazuardi.
“Ini, mohon bantuannya ya Jingga,” Ayah Nusaindah menyerahkan tas yang ia jinjing.
“Yuk, Nusa ikut tante,” Jingga mengajak Nusaindah setelah menerima tas yang diberikan padanya.
“Sini, Di. Kita tunggu di teras,” Grey, suami Jingga mempersilakan Ayah Nusaindah.
“Itu nggak papa Nusa ikut ke telaga?” Ayah Nusa nampak khawatir.
“Aman, akan ada saatnya dia jadi penerus.” Jingga berjalan menuju telaga diikuti Nusa di belakangnya yang sempat menoleh ke arah sang ayah.
Di pinggir telaga utara, Jingga duduk sembari membuka tas yang baru ia terima. Dikeluarkanya satu persatu benang putih dalam gulungan besar. Ia menoleh ke arah samping dan melihat Nusaindah kebingungan. Ia tersenyum sembari fokus pada benang yang sudah di luar tas. Gulungan benang putih itu ia celupkan perlahan ke air telaga, seketika ikan-ikan berwarna orange muncul ke permukaan. Kilauan cahaya dari telaga berangsur terserap pada benang. Nusaindah kini terbelalak.
“Kamu belum pernah diajak bunda mengisi benangnya di telaga,” Jingga menatap Nusaindah.
“Mengisi benang? Di telaga?” Nusaindah mengulang kalimat Jingga dan mengelengkan kepala tanda menjawab tidak tahu.
“Kita akan membawa benang berkilau air telaga ini ke dalam ruang meramu warna di rumahmu. Pertama kita isi kilaunya dulu. Lalu bantu bundamu mendapatkan benang ini,” Jingga mulai memasukkan benang yang ia telah celupkan kembali dalam tas.
Awan beriringan dengan warna pekat memenuhi panorama sekitar hutan di telaga yang selalu dikunjungi Nusaindah. Untuk pagi yang cerah, kehadiran awan ini menjadi hal yang mengagetkan. Nusaindah dan ayahnya masih duduk mengamati gerombolan awan yang serupa domba-domba di perkebunan. Padat dan bergemuruh.
“Ayah, apakah itu benar-benar awan hujan?” Nusaindah mulai ragu atas apa yang dilihat.
“Bukan, itu langit kejahatan,” ayahanya sedikit bernada sedih.
“Langit kejahatan?” Nusaindah binggung.
“Di dunia ini, selalu ada dua citraan dari segala hal. Jika ada kebaikan, maka akan ada kejahatan. Jika ada warna terang dan indah, maka akan selalu ada warna gelap dan suram. Begitu juga makhluk di sekitar kita, ada wujud baik dan buruk,” ayahnya menjelaskan.
“Meski demikian, selalu ada bagian penengah untuk kebaikan dan keburukan. Seburuk apapun hal di dunia ini akan ada yang membawaku menuju kebaikan, selama tidak menutup mata atas kehadiran mereka. Di antara warna gelap dan terang, ada yang meramunya untuk tidak menakutkan, peramu warna,” lanjut ayah Nusaindah.
“Peramu warna?” Nusaindah mengingat kalimat itu. Kalimat yang juga diucapkan bundanya tempo hari.
“Karena diramu untuk tidak berwarna sama,” ia mengulang persis kalimat milik bundanya.
“Bundamu adalah peramu warna, seseorang yang bertugas mengusir langit kejahatan juga menghiasi warna pada unjung telaga setiap hari,” kini sang ayah menatap putrinya yang sedari tadi sudah menampakkan wajah yang bingung.
“Itulah kenapa setiap hari kita datang ke telaga untuk tahu apakah langit mendung seperti ini akan datang. Nusa mungkin mulai menyadari jika tidak pernah ada warna yang sama pada langit yang kita lihat. Bundamu meramu setiap warna yang hadir di ujung telaga saat malam hari,” wajah ayah Nusaindah meyakinkan. Bahwa apa yang ia dengar bukanlah dongeng.
“Saat pagi hari Nusa hampir masuk ke ruang jahit bunda, itu saat di mana hasil warna ramuan bunda sedang berkilau. Jika Nusa masuk, mungkin akan melihat rupa warna yang bunda buat. Bukan, bunda bukan menciptakan langit atau warna. Bunda hanya bertugas menjaga langit di sekitar hutan sekitar telaga dan rumah kita saja. Meramu warna paling baik untuk ditampilkan di langit sekitar kita. Di bagian dunia lain, ada banyak peramu warna yang menjaga daerah lain dari langit kejahatan. Bunda hanya bertugas di sini, itulah alasan kita tinggal di sisi hutan,” jelas ayah panjang.
“Jadi, ruang kerja bunda adalah tempat meramu warna?” Ayah pernah masuk?” Nusaindah mulai ingin tahu banyak hal.
“Pernah saat bunda sedang menjahit baju milik pelanggan, saat meramu warna tidak. Karena ayah bukan bagian dari peramu warna maka ayah tidak bisa melihat proses bunda mewarnai langit telaga,” ayahnya menjelaskan dengan seksama.
“Oh, jadi bunda tetap menjahit seperti penjahit pada umumnya hanya saja ada saat bunda harus meramu warna ya?” Nusaindah piker bundanya hanya menyamar jadi penjahit.
“Tentu saja bunda penjahit sejati, ia menyukai dunia menjahit sejak kecil. Itulah kenapa lemarimu berisi banyak baju. Bundamu sangat senang bisa membuatkan pakaian terbaik untuk putrinya,” sang ayah membela bundanya.
“Wah, iya juga. Semua baju di lemariku hasil karya bunda. Tidak ada yang ketinggalan model juga loh yah, baju yang kukenakan. Jadi menjahit adalah hobi milik bunda,” Nusaindah teringat lemari kayu di kamarnya yang penuh hasil karya bunda.
“Sekarang mari kembali mengamati langit jahat di depan itu, Nusa,” ayahnya mengajak Nusaindah merubah fokus penglihatan.
Awan pekat memenuhi langit di unjung telaga. Sinar terik pagi yang dirasakan oleh keluarga Nusaindah kini berganti suasana mencekam. Warna abu gelap menjadi lebih gelap menuju hitam. Gemuruh petir samar terdengar. Kilat pertama hadir. Nusaindah merasakan sedikit ketakutan. Ia merapatkan diri kepada sang ayah. Tangannya gemetar, gigil sekujur tubuh. Ayah Nusaindah segera memeluk lengan putri kecilnya.
Iringan awan berjalan perlahan seperti akan memenuhi semua lini langit dengan warnanya. Tiba-tiba sebuah titik warna kuning pupus dari ujung paling bawa telaga mengapung. Sebuah titik yang menjadi percikan awal warna kontras dari keseluruhan warna telaga yang penuh pancaran gelap dari langit. Setitik warna yang akan menjadi mula penyebaran.
“Ayaaah, itu ada warna di telaga,” Nusaindah berteriak dalam takut.
“Itu warna yang diramu bunda,” jawab ayahnya sembari memeluk sang anak lebih kuat.
“Ayah, warnanya melebar ke beberapa sisi telaga. Ayaaah, warnanya indah,” Nusa masih bergeming dengan ketakjuban yang ia lihat dan menghapus sedikit ketakutan miliknya.
Warna kuning pekat sebagai mula warna yang hadir membiaskan diri menjadi jenis warna lain yang beragam. Kombinasi warna cerah yang hangat. Warna-warna itu mengapung di permukaan telaga. Menghapus warna gelap dalam telaga tapi tidak dengan langitnya. Warna langit tetap gelap. Nusaindah dan ayahnya tetap mengamati apa yang ada di hadapan mereka. Sesekali Nusa memincingkan matanya guna memandang dengan jelas sebaran warna di atas air telaga. Nampak tak nyata, tapi itu ada di hadapan Nusaindah.
“Ayah, apa langit akan berubah seperti gradasi milik telaga,” Nusaindah bertanya pada ayahnya sebab langit tak kunjung berganti warna.
“Semoga bundamu bisa menyelesaikan tugasnya,” ayahnya menjawab dengan tenang.
Perlahan warna air telaga memudar. Setitik cahaya dari mendungnya awan di langit mulai terlihat. Namun, itu bukan pancaran dari warna yang tercipta di telaga itu adalah kilat cahaya petir. Belum terdengar hanya kilatnya sedetik. Irigan awan mulai berjalan cepat lagi, memenuhi langit hingga menuju atas. Raut muka khawatir milik Ayah Nusaindah atas warna yang ia lihat membuat Nusaindah ikut tegang.
“Bundamu dalam bahaya,” ayah Nusaindah berdiri mendonggak ke langit hitam yang sudah penuh di atas kepalanya.
“Ayah, bunda kenapa?” Nusaindah ikut mendonggak.
“Jika langit jahat tak bisa terhapus dengan warna yang diramu bunda, bunda akan terjebak di dalam ruang peramu warna bersama awan gelap ini,” jelas ayahnya ragu.
“Terjebak? Ruang peramu warna?” Nusaindah masih mencerna kalimat milik ayahnya.
Telaga di hadapan ayah dan anak itu sempurna kembali berwarna gelap. Ramuan warna milik bunda Nusaindah menghilang bersamaan dengan gelegar kilat kedua yang datang dengan cepat. Atmosfir kegelapan menyelimuti hutan di ujung telaga. Ayahnya bergegas menarik tangan Nusaindah. Taka da pilihan selain meninggalkan telaga yang gagal diramu warna.
Sembari menarik Nusaindah yang ada di belakang, ayahnya berlari perlahan menuju rumah. Awan gelap sudah sempurna memenuhi setiap jengkal bagian dari langit. Nusaindah yang ikut berlari kecil tak paham situasi yang terjadi. Ia sesekali menoleh langit di atasnya yang mulai meneteskan air. Tetesan air berbulir kecil itu yang berwarna hitam.
Rona mentari hangat masuk ke celah jendela kamar Nusaindah. Semburat warna kuning pekat membentuk garis lurus ke arah lantai marmer warna abu di ruang yang sedang membuat gadis belia itu terpejam. Minggu pagi dan keterputusan jadwal rutin sekolah membuatnya menyimpan energi lebih banyak di mula hari.
Tak lama dari alunan hewan penerbang yang berdendang sampai ke telinga Nusaindah, suara yang tak kalah merdu mengalun melalui pintu di ujung ruang kamarnya. Matanya berkedip seperti tahu apa kerja paginya. Nusaindah merubah letak badannya. Menarik kuat tangannya agar tertarik menuju atas, terasa nikmat dan seperti membangunkan seluruh organnya yang sedang beristirahat.
“Ya, Bun!” Suara kuat milik Nusaindah mengalun pertanda sudah bangun dan akan bersiap.
“Baik, bunda tunggu di bawah ya, Sayang,” jawaban bunda dari balik pintu terdengar jelas.
Nusaindah bergegas mengusap kedua matanya. Berdiri di ambang tempat tidurnya dan lagi-lagi menarik kuat tangannya ke atas untuk meluruskan tubunhnya. Mulutnya sempurna membentuk huruf o dan kepalanya diputar 360 derajat.
Di balik gazebo belakang rumah yang menghadap halaman perkebunan mini milik ayahnya, Nusaindah menatap riang. Bunda dan ayahnya sudah duduk di antara tumbuhan yang tertanam di tanahnya. Selain berjalan ke telaga, rupanya keluarga Nusaindah juga punya kebiasaan bersama lainnya. Berkumpul di minggu pagi untuk berkebun.
“Nah, ini dia tuan putri kita yang menelatkan diri untuk datang,” ayahnya berdiri melihat Nusaindah berjalan menuju halaman.
“Kapan ya aku bisa bebas dari berkebun setiap minggu, Nusa pengen sekali-kali bangun siang,” Nusa memasang garis lengkung di mukanya.
“Tidak ada hari libur bagi orang-orang terbaik,” sang ayah mengulurkan sarung tangan berkebun untung putrinya.
“Nusa sudah lihat biji bunga yang tempo hari ditanam?” Bundanya menunjuk sebuah rumah plastik kecil sebagai tempat persemaian.
“Wah, bunga di tray semaiku sudah tumbuh ya, bun?” kini Nusaindah riang berlari kea rah rumah plstik kecil di ujung halaman.
“Lalalalala,” di dalam rumah plastic buatan ayahnya Nusaindah melantunkan nada suara yang indah. Nampak ia sangat bahagia dari tunas-tunai kecil yang mulai tumbuh hasil semai yang ia kerjakan. Padahal belum lama ia sangat ingin bangun siang. Tapi kebahagiaan sederhananya bertemu tunas melelehkan keinginan semunya.
Suasanan terik pagi muncul setelah kegiatan berkebun yang dilakukan keluarga Nusaindah selesai dengan tugasnya masing-masing. Matahari mulai naik ke posisi menuju tinggi demi memancarkan cahaya yang makin terang. Di ujung halaman belakang ayah Nusaindah pernah membuat rumah-rumahan kecil seperti saung di sawah. Ayah dan Nusaindah sedang menunggu makanan buatan bundanya sambil memandang kebun di depan mereka.
“Bekerjalah dengan alam, bukan melawannya,” ayah Nusaindah memecahkan hening.
“Hmm,” yang diajak bicara setuju dan mendalami kalimat yang didengar.
“Itu salah satu moto pencetus permakultur, Nusa,” ayah yang berdiri hendak menghampiri bunda yang membawa nampan besar dari pintu rumah.
Tiga orang duduk berhadapan di saung rindang dengan pemandangan hijau di seluruh pandangan mata. Bunda membuat jus dari buah yang ia dapat dari hasil kebun. Ayah Nusaindah sedang menggigit roti labis dengan tomat dan selada hasil panen hari ini yang segar. Nusaindah memilih menyantap semangka merah merona dari piring pink muda di hadapannya.
“Kenapa aku ingin melewatkan minggu pagi yang indah ini hanya untuk tidur lebih lama, ah enaknya,” Nusaindah merenungi keinginan paginya tadi.
“Nah, tidak patut pagi yang indah kita lewati begitu aja hanya dengan tidur,” ayahnya melahap roti lapis dengan mata menyipit menikmati setiap rasa yang hadir di ujung lidahnya.
“Tadi aku masukkan benih bunga lagi ke tray semai. Kan bunga dahlia bunda pagi ini sudah mekar banyak, aku mau bunga dahlia tapi yang warna kuning, hehe.” Nusaindah menjelaskan dengan riang.
“Oh jadi, setelah bunga dahlia ungu punya bunda nanti mau diganti bunga dahlia kuning dari Nusa ya?” bundanya tersenyum.
“Iya dong,” Nusaindah bangga.
“Yuk, ke telaga,” ayahnya berdiri mengibaskan tangannya yang dipenuhi remah roti.
Perjalanan minggu pagi setengah siang yang terik membuat langkah ketiga anggota keluaga ini sedikit lambat. Hidup di alam terbuka dengan akses pemandangan hutan rindang tetap menghadirkan suasanan yang syahdu.
“Ayah,” bunda Nusaindah berseru sembari menunjuk satu arah.
“Apa bunda perlu pulang ke rumah?” raut muka ayahnya berubah.
“Ayah dan Nusa tetap ke telaga ya, biar bunda pulang sendiri,” Bunda Nusa berbalik arah dan melambaikan tangan.
Nusa yang tidak mengerti situasi hanya ikut melambaikan tangan membalas bundanya. Kini ia berjalan ke telaga bersama ayahnya dengan sebuah rasa penasaran.
“Ayah memang kenapa bunda pulang? Tumben,” saat duduk di pinggir telaga Nusa mulai bertanya.
“Lihat awan di ujung sana, warnanya mulai pekat menuju gelap!” ayah menujuk ujung telaga.
“Eh iya, kenapa tiba-tiba jadi mendung abu ya,” Nusa kaget melihat ujung langit.
“Nusa tahu tidak? Semua keluarga kita punya unsur warna dalam namanya,” ayahnya mulai bercerita.
“Warna? Oh nama ayah Lazuardi Dewangga yang bunda suka dari ayah, hehe” Nusaindah tertawa menggoda.
“Lila Magenta, artinya warna ungu bercampur ungu kemerahan,” ayahnya serius.
“Ungu? Bukannya ungu itu lilac? Oh iya lilac artinya ungu, Bunda Lila, ah!” Nusaindah mengangguk tanda mengerti.
“Soga dan Nusaindah juga bagian dari nama warna,” ayahnya menepuk pundak sang anak yang mulai mendengarkan dengan tatapan yang dalam.
“Soga? Aku?” Nusaindah mulai mengerutkan jidatnya.
Ia menatap ayahnya sembari mengingat sesuatu,” bukannya kata ayah Soga itu jenis pohon di hutan, yang warna bunganya kuning seperti bercak kuning di tubuh kucing belang kita?”
“Iya, bunga soga dari pohon mirip kuning teras di tubuh kucing kita. Karena ayah menyukai tumbuhan dan bundamu warna, nama itu jadi pas untuk hadir di keluarga kita. Seperti namamu juga dari tumbuhan dan warna,” ayahnya menjelaskan.
“Nusa pasti selama ini mengira namanya hanya berarti bunga Nusaindah seperti bunga di halaman depan rumah kita saja kan? Nusaindah juga berarti warna dan warnanya tidak seperti warna bunga Nusaindah. Karena nama itu ada di dalam tumbuhan yang sangat ayah sukai dan itu juga bagian dari nama warna, maka ayah dan bunda sepakat memberimu nama itu, Nusaindah.” Ayahnya mengelus kepala sang putri.
“Wah, rahasia sebuah nama ya, yah,” Nusaindah takjub pada arti nama miliknya.
“Ada satu rahasia lagi yang mungkin hari ini akan ayah sampaikan,” ayahnya menatap ujung telaga dengan raut muka cemas.
“Satu rahasia lagi?” Nusaindah menatap sisi wajah ayahnya yang bisa ia jangkau dari pandangan. Ia ikut bergetar, rasa cemas milik ayahnya sempurna menular pada Nusaindah.
“Saat ini, mari kita lihat warna abu pekat di ujung langit sana. Kau akan tahu sebuah rahasia besar dari ujung langit dan telaga saat berpadu beberapa saat lagi,” ayahnya masih memandang ujung telaga dengan raut cemas.
Anya is live and ready to show you everything. Watch her strip, dance, and perform exclusive shows just for you. Interact in real-time and make your fantasies come true.
✓ Live Streaming✓ Interactive Chat✓ Private Shows✓ HD Quality
Anya is LIVE right now
FREE
Free to watch • No registration required • HD streaming
Nusaindah duduk berhadapan dengan ayah di sofa ruang keluarga. Bulu beludru dari karpet di kakinya terasa menusuk padahal biasanya sangat lembut. Pengulangan kaget yang Nusaindah dapat menjadi muasal hal yang mengusik pikirannya mengantikan pertanyaan soal warna ujung telaga. Kenapa tangannya dipenuhi sesuatu yang aneh saat mengenggam gagang pintu ruang bunda. Ia memikirkan banyak kemungkinan rahasia dari balik pintu kerja bundanya.
Jika dipikir lagi, ada yang tak biasa memang dari ruang bunda. Nusaindah mengulur reka adegan saat ia masih kecil. Tak ada yang bisa dia ingat dari ruang itu, selain baju-baju cantik yang ia punya dari hasil jahitan bundanya yang memenuhi lemari. Tapi apa istimewanya ruang jahit bunda? Bukannya ia hanya akan menemukan mesin jahit tua dan sisa potongan kain, apa yang sesungguhnya ia harapkan dari ruang jahit? Nusaindah menyesali pikirannya sendiri.
“Masih kaget?” ayah Nusaindah mengulurkan gelas kaca yang berembun setelah memastikan putrinya sadar dari lamunan.
“Aku masih kaget soalnya aku diplototin sama Soga,” Nusa melupakan adegan gagang pintu ruang jahit bunda.
“Laper dia tuh, liat aja udah sibuk makan,” ucap ayah sembari menunjuk seekor kucing belang tiga di ujung ruang keluarga.
Nusaindah berdiri dan menghampiri Soga. Lamat-lamat dilihat kucing yang ia pelihara sejak seukuran bola kasti itu, nampak sepeti biasa. Tidak ada yang berbeda. Lalu kenapa dia mengeluarkan tatapan seram sampai suara yang mengerikan dalam telinga Nusaindah? Ia menghela nafas panjang dan meninggalkan sahabat bulu yang sedang menikmati hidangan renyahnya.
Empat belas mungkin angka awal dari beribu muara pertanyaan. Dulu, Nusaindah tak suka memikirkan banyak pertanyaan bercabang. Ia hanya bermain atau menikmati setiap hal di sekitarnya. Kini, usia empat belasnya dipenuhi pertanyaan yang membuatnya sakit kepala. Tak masuk akal adalah kata yang selalu jadi jawab Nusaindah sendiri atas pertanyaan di angan-angannya. Ia mulai berbaring di kamarnya, menatap lemari kayu dari ranjang. Ia terlelap perlahan.
“Angsa-angsa yang kita lihat tadi makin banyak ya, Bun?” meski terdengar seperti bertanya, Nusaindah hanya melontarkan fakta yang ia lihat dari telaga yang baru saja keluarganya kunjungi seperti biasa.
“Nusa tahu soal rahasia anak angsa nggak?” ayahnya balik bertanya dengan pertanyaan yang sesungguhnya adalah informasi penting.
“Rahasia anak angsa?” Nusa menoleh ke ayahnya serius.
“Iya, setiap hal di dunia ini ada rahasianya, bahkan seekor anak angsa?” ayahnya mengacungkan jempol khas gaya poto yang selalu ia gunakan.
“Bunda tahu?” Nusaindah beralih ke bundanya. Yang ditanya hanya mengangguk dan tersenyum cantik.
“Anak angsa punya rahasia! Saat masih kecil warnanya tidak sama dengan induknya. Angsa dewasa berwarna putih, sedangkan anak angsa berwarna abu. Rahasianya adalah itu bagian dari kamuflase karena dia merupakan seekor agen rahasia,” sang ayah tertawa sembari mengacungkan telunjuk dan jempolnya membentuk sebuah pistol ke arah sang anak.
Nusaindah ingin menangkap tangan ayahnya lalu dimasukkan ke mulut dan digigitnya dengan gigi, tapi urung karena melihat senyum indah sang bunda. Sifat ayahnya adalah bagian dari hiburan dalam keluarga dengan dua perempuan yang tak bisa mengeluarkan humor. Walau tak selalu bisa membuat tertawa, tapi usaha ayahnya tak pernah gagal membuat bunda Nusaindah merona dengan tawa simpul yang tipis.
Setiap hal di dunia ini ada rahasianya. Kalimat sang ayah memenuhi pikirannya. Ia kembali pada pertanyaan awal tentang garis warna pada ujung telaga yang selalu berbeda, juga soal ruang kerja bunda. Apakah pada keduanya ada sebuah rahasia. Perjalanan menikmati telaga yang jadi kewajiban dalam keluarganya kini menjadi garis cabang yang memenuhi pikirannya. Usai pulang dari takjub pada warna-warni yang disajikan dari telaga, ia selalu merumuskan pertanyaan baru yang membuatnya menerawang jauh pada jawaban tak masuk akal.
“Kata ayah, setiap hal di dunia ini punya rahasianya masing-masing kan? Rahasia milik ayah apa?” suatu sore di teras halaman belakang Nusaindah memulai dialog dari cabang pertanyaan yang ia punya.
“Rahasia ayah? Tentu saja ada!” lelaki berkaos kerah itu berdiri.
Lanjut Ayah Nusaindah mengayunkan tangan ke arah kebun yang rimbun,” ayah berkebun mengunakan sistem permakultur, lihat hasilnya, wah!”
Bunda Nusa yang duduk di samping sang ayah tersenyum sembari membuat gerakan tepuk tangan. Si penanya hanya mengelengkan kepala. Pertanyaan dan target yang salah, batinnya.
“Ih, kan ayah belum menjelaskan soal permakultur,” ayahnya protes.
“Kalau ayah jelasin bukan rahasia lagi dong namanya,” si anak sebal.
“Eh, ia juga sih,” Ayah Nusa setuju, lalu duduk lagi.
“Bunda punya?” Nusa masih berusaha bertanya.
“Ada, di dalam ruang jahit bunda,” senyum bundanya selalu indah.
“Ah, di ruang jahit? Apa bun?” Nusa mulai memasang muka serius.
“Kalau dijawab bukan rahasia lagi dong namanya,” sang ayah tertawa puas.
Percakapan yang tak memenuhi kehausan rasa ingin tahu milik Nusaindah, berakhir dengan pertanyaan baru yang beranak. Ia memikirkan lagi gagang pintu ruang jahit bunda yang tempo hari ia genggam. Apakah ada sesuatu di dalamnya yang menjadi rahasia milik bunda? Tapi apa rahasianya? Apa hanya sebuah mesin jahit? Ia bahkan tak ingat atau lenih tepatnya tak tahu benda-benda apa saja yang ada di dalam ruangan kerja bunda itu.
Sinar jingga mulai memenuhi langit dari halaman belakang saat tiga orang anggota keluarga bercakap hangat. Sore ini mereka tak ke telaga, karena sudah dilakukan saat pagi hari. Begitulah, tak ada waktu pasti kunjungan. Namun setiap hari datang ke telaga adalah keharusan.
“Nusa mau tahu lagi rahasia punya bunda nggak?” ayahnya masih memancing Nusaindah.
“Bunda punya banyak rahasia ya, yah?” Nusa makin ingin tahu.
“Stt, ayah,” Bunda Nusa memukul perlahan lengan sang suami.
“Dulu bunda suka sama ayah karena arti nama yang ayah punya,” Ayah Nusaindah tersenyum bangga.
“Lazuardi Dewangga?” Emang artinya apa?” Nusa bingung.
“Nama ayah itu dua-duanya adalah unsur warna. Lazuardi itu biru muda, dan Dewangga artinya warna jingga. Wah, keren juga kalau dipikir-pikir ya nama ayah,” sembari menjelaskan ayah Nusa berkedip ke istrinya.
“Hah, serius itu arti nama ayah?” Nusaindah yang baru mengenal nama warna yang ayahnya sebutkan bingung.
“Iya, nama ayah mencakup dua warna dalam dua suasana langit yang berbeda, indah sekali,” bundanya menyetujui penjelasan sang ayah.
“Aw, so sweet,” ayahnya meletakkan dua tangannya ke pipi dan tersenyum paling manis.
Langit tidak pernah gagal menyajikan warna terbaik. Bias cakrawala di atas singasana dunia itu selalu mempesona. Bagian terbaiknya adalah saat berpadu dengan semburat pancaran air di bumi. Cahaya keduanya bersatu di ujung pandang, meski terlihat sangat jauh tapi warna percampuran itu nyata di pelupuk mata. Berkilau. Hangat.
Hiruk-pikuk kesibukan manusia seringkali membuat sulaman warna biru di angkasa tak terlirik. Tidak semua orang berkesempatan melihat eloknya langit. Tidak semua tahu cantiknya perpaduan cahaya langit dan air di ujung pandangan. Ada satu keluarga yang tidak pernah melewatkan momentum itu dari tepi sebuah telaga. “Nusaindah, saat esok kau besar percaya cahaya itu akan membawamu pada petualangan!”
Gadis belia bermata bening yang sedang duduk di pinggir telaga itu menyukai setiap detail langit yang ia pandang. Ia tidak pernah ingat namanya disebut sang bunda pada suatu sore saat dahulu bersama-sama melihat telaga. Ia selalu terpukau pada tamaran warna pada ujung telaga, seperti tak terjamah tapi terasa bisa untuk diraih.
“Kenapa warnanya selalu berubah ya, Bun?” tanya Nusa pada bundanya sembari berdecap kagum. Menggelengkan kepala dan menajamkan matanya pada garis lurus semu milik telaga.
“Karena diramu untuk tidak berwarna sama,” bundanya tersenyum.
“Menurut ayah gimana? Warna langit yang kita lihat setiap sore selalu berbeda kan?” Nusa mencari jawaban lain dari teka-teki kekaguman dalam angannya.
“Tiap hari kayaknya warna langit sama aja,” ayahnya tertawa.
“Ih, apa sih yang ayah tahu selain berkebun,” Nusa memukul pelan ayahnya.
Hari-hari terbaik milik Nusaindah adalah saat berjalan menuju telaga bersama bunda dan ayahnya. Meski dilakukan setiap hari, tak pernah ada rasa bosan yang datang. Ia tidak tahu untuk apa perjalanan keluarganya menuju telaga itu. Berjalan ke telaga sudah menjadi kebiasaanya, bagian dari kegiatan yang harus ia lakukan. Nusaindah selalu menikmati semua warna yang disajikan pancaran air telaga dan langit untuknya. Pagi ataupun sore, hadirnya warna di telaga adalah rasa hangat yang terasa dari mata.
Hari itu, pertanyaan yang ia ajukan kepada bunda dan ayahnya menjadi pertanyaan mengendap yang memenuhi isi kepala. Bayangan langit yang selalu ia lihat di telaga seperti terputar ulang dalam memori. Benar, tak ada warna langit yang sama. Langkah kaki kecil dan tangan munggilnya yang dulu dalam genggam bunda hingga kini saat ia berjalan sendiri menghantarkannya selalu pada garis warna air telaga serta langit. Ia yakin tak pernah ada warna yang sama pada langit yang ia pandang.
“Setiap pagi, menurut ayah ukuran tanaman yang ayah tanam sama dengan ukurannya kemarin tidak?” Nusaindah menundukkan diri dan melihat dengan jeli tanaman yang sedang ayahnya siram.
“Hah? Ukuran? Mana pernah ayah ukur tanaman milik ayah ini, Nusa,” ayahnya tertawa dan mengacak-acak kepala putri semata wayangnya.
“Ih, ayah!” muka kesal Nusa tertahan, ia menarik nafas panjang.
“Maksudnya, hmm… kan pas ditanam biji tuh sama ayah, terus disiram tumbuh daun. Kalau setiap hari ayah perhatikan pasti berbeda kan ukurannya? Ih gimana ya,” kali ini Nusa yang menahan tawa saat menjelaskan pertanyaan dalam pikirannya.
“Haha, tentu saja. Jangankan tumbuhan yang ayah tanam. Nusa saja dulunya sekecil bunga itu sekarang jadi sebesar ini, semua makhluk hidup kan bertumbuh, sayang,” ayahanya menjelaskan sembari menunjuk segerombolan bunga yang mekar di ujung kebun.
“Iya sih. Kalau warnanya, Yah? Warnanya pasti berbeda kan setiap hari?” Nusa menggali pertanyaan yang tak pernah habis dalam angan-angannya sejak menyadari warna langit di telaga.
“Ukurannya saja tidak pernah ayah perhatikan detail apalagi warnanya. Kan ayah paham waktu terbaik untuk panen nanti tinggal dilihat saja hasil buahnya. Kenapa harus memperhatikan warnanya? Warna buahnya? Eh warna apanya sih?” kini Ayah Nusa mengelengkan kepala. Tak habis pikir. Bingung.
“Dasar ayah nggak perhatian sama tanaman,” Nusa mengangkat salah satu garis bibirnya. Sinis.
“Lah, ini kan ayah lagi menyiram mereka, ini tanda sayang ayah. Memberi makan mereka, biar bisa fotosintesis, bukan malah diliatin warnanya, lagian tanaman sebanyak ini masak harus ayah ingat jenis warnanya, huu!” lelaki dengan sepatu kebun berwarna kuning itu menyiram Nusa dengan semprotan air.
“Ih, Ayah,” Nusa meloncat sembari menepuk bajunya yang terciprat siraman air.
“Kalau mau tanya warna, tuh tanya bunda di ruang jahitnya,” Ayahnya kembali menyiraminya air. Nusa buru-buru lari meninggalkan ayah dan kebun di belakang rumah.
Nusaindah mondar-mandir tepat di pintu ruang kerja bunda, pertanyaannya tak terjawab dari percakapan dengan ayah. Barangkali jika ia mengetuk pintu ruang jahit bunda akan ada jawaban yang ia dapatkan. Seketika ia ragu. Sepanjang yang ia tahu tentang bundanya, tak akan banyak jawaban yang akan ia dapat, malah semakin menumpuk pertanyaan baru dari kata-kata yang dilontarkan bunda lewat senyum cantik. Tepat seperti saat pertanyaan soal warna pada ujung garis telaga. Bundanya membuatnya berpikir tentang warna yang diramu tidak sama, memang siapa yang meramu warna, pikirnya. Ia pusing sendiri.
Gagang pintu ruang jahit bunda sudah Nusaindah genggam sejak tadi, tapi ia enggan membuka. Hatinya berdebar. Aneh. Hanya ingin bertanya tapi seperti ada energi besar di ujung tangannya. Ia menarik nafas panjang dan bersiap membuka pintu. Tiba-tiba, kucing tiga warna miliknya lewat, Nusaindah ditatap dengan tajam. Kali pertama, Soga memasang wajah seram. Ia bahkan mengeong melebihi suara saat ia lupa diberi makan. Mata Nusaindah berkedip, seperti tak percaya. Kaget atas apa yang ia lihat.
“Soga, kenapa?” Nusindah segera duduk menatap kucing kesayangannya. Hewan yang diajak bicara kini mengendus kaki majikannya.
“Haaaa, hampir saja!,” setelah mendapat hembusan udara dari hidung Soga, Nusaindah teringat hal terlarang yang hampir ia langgar. Ia menatap dalam-dalam pintu ruang kerja bundanya.
“Nusaaa?” suara ayahnya menjadi kekagetan kedua yang Nusaindah dapatkan.
“Ayaaah,” Nusaindah terjatuh dari duduknya setelah menatap pintu lama. Kedua tangannya menopang tubuh dan matanya terbuka lebar.
“Tadi ayah lupa, pas bilang tanya bunda di ruang jahitnya,” ayah Nusaindah membantu anaknya berdiri.
“Aku juga lupa, hampir aku masuk ke dalam untuk Soga lewat, tapi tadi kayak bukan Soga. Aku jadi kaget, ditambah ayah juga bikin kaget,” ia sempurna berdiri.
“Tunggu aja nanti pas bunda ke luar aja ya,” ayah mengandeng tangan Nusaindah berpindah menjauh dari depan ruang kerja bundanya.
Selain pergi ke telaga setiap hari, ada hal lain yang menjadi kesepakatan bersama; tidak masuk ruang jahit bunda. Tidak tertulis tapi semua anggota keluarga tahu ini. Bukan aturan ataupun larang. Tapi hingga usianya empat belas tahun, Nusaindah tek pernah masuk ke ruang bundanya menjahit baju-baju yang indah. Sebuah ruang rahasia.
Hujan mengenal baik pohon, jalan dan selokan –suaranya bisa dibeda-bedakan;
Kau akan mendengarnya meski sudah kaututup pintu dan jendela.
Meski sudah kaumatikan lampu. (Sapardi Djoko Damono – Sihir Hujan)
Aku punya kenangan pada puisi milik mestro sastra tanah air di atas. Mengingat detail puisinya saja membawaku kembali ke masa itu. Salah satu tugas di kelas Bahasa Indonesia saat kuliah dulu adalah membuat tampilan berpuisi. Senang bisa bercengkram dengan puisi milik Eyang Sapardi. Pada tugas kelompok kala itu, musikalisasi puisi adalah pilihan yang pas. Dengan gitar di tangan ketua kelompok, dan suara-suara yang merdu bercampur sumbang tapi berpadu dalam sau koor cukup untuk menjadi penampilan yang mendapat kata lumayan.
Meski Hujan Bulan Juni menjadi puisi paling banyak disukai dan diketahui, tapi Sihir Hujan adalah salah satu favoritku. Hujan akan tetap menjadi hujan, meski dalam gelap dan tamaram cahaya dalam rumah. Tanpa narasi atapun kisah panjang hujan selalu bisa kita kenali. Hujan juga mengenal segala yang menjadi alirannya. Pada dahan, jalan, hingga ke selokan ia akan turun. Aku menyukai semua hal pada hujan bahkan aroma percampuran bau tanah kering dan hujan pada kali pertama, orang-orang menyebutnya petrikor.
Aku sangat takut pada petir. Semenyenangkan apapun hujan melihat hujan turun akan ada saat dia menakutkan. Petir bisa sangat mengancam, pun angin yang tertiup sangat kencang. Akan ada waktunya hujan bersanding dengan petir menggelegar sekali waktu. Angin yang membuat menahan nafas karena kencang tiupannya juga menggerikan.
Ada banyak bagian dari hujan yang harus dipelajari. Mungkin menjadi bagian yang sulit untuk diikuti. Bagaimana hujan mengenal baik apa-apa yang dekat dengannya. Sulit untuk bisa dipraktekkan. Pada diriku sendiri ada rasa lelah untuk berbalik mengenal baik orang lain. Sewajarnya adalah pilihan kata milikku. Aku selalu takut pada presepsi dan pandangan orang lain atasku maka tidak mengenal baik adalah cara aman.
Hubungan dengan sesama bisa semenyejukkan hujan pada semilirnya pun bisa semengerikan petir jika ia datang. Tak ada jaminan kebersinggungan dengan orang lain akan terus teduh. Entah karena aku yang selalu mengaku-ngaku introver atau memang aku yang kurang awas dalam sebuah ekosistem kehidupan, rasa-rasanya selalu berat untuk menghadirkan diri. Aku ingin seperti hujan yang meski di pelosok sebuah daerah ia tetap turun. Di perkotaan pun ia tak enggan. Tidak memilih tempat hadir.
Banjir yang dimaki tanpa henti atau gerimis yang dinanti, hujan hadir dengan suguhannya tak pernah peduli. Ia selalu datang kembali. Aku mengakui diri, lelah pada banyak interaksi yang berakhir dengan sakit hati. Ucapan, anggapan, persepsi, bahkan fitnah yang datang padaku entah benar atau tidak kuambil semua dan terluka sendiri. Semisal saja kuinsyafi diri pada hujan, harusnya tak akan pernah ada rasa sungkan untuk bertutur pada orang lain. Apa daya, orang yang bersembunyi dibalik alibi ‘introver’ memang memiliki jutaan jalan menuju kerumitan diri.
Aku mencintai Jepang sejak pertama kali mengenal dunia membaca pada masa sekolah menengah. Ketika membaca sudah bisa kumasukkan dalam jawaban pada kolom hobi yang kupunya. Komik Naruto menghantarkanku pada kekaguman yang besar. Menyadari bidang pendidikan yang kuambil saat kuliah dan bagaimana performa Jepang dalam dunia pendidikan membuat kecintaanku makin melambung. Di masa kuliah kuhabiskan waktu lebih banyak membaca tentang negara sakura itu. Beberapa kali kuberanikan diri mendaftar seleksi untuk bisa melanjutkan pendidikan di negara Asia dengan nilai PISA tertinggi kala itu. Gagal. Aku tahu diri soal kemampuanku menembus seleksi luar negeri.
Sebagai seorang lulusan dari universitas yang mencantumkan dengan jelas kata pendidikan pada namanya, sungguh kekaguman pada Jepang adalah hal biasa. Kuingat jelas pada suatu kelas pagi, dosenku datang untuk membandingkan buku pelajaran sekolah dasar dari Jepang yang ia punya setelah pulang dari kunjungannya. Tentu buku itu dibandingkan dengan buku pelajaran milik sekolah dasar di negara sendiri. Tak ada yang tak kagum. Semua mahasiswa terpesona. Bukan sekadar perbandingan negara maju dan negara berkembang. Ada banyak citra pendidikan yang nampak dari wujud dua buku pagi itu. Kurasa teman sekelasku juga ikut mencintai Jepang mulai pagi itu.
Ada masa di mana sebagai lulusan pendidikan hadir rasa ragu dan khawatir untuk menjadi seorang guru. Bukan pada kemampuanku. Aku tau aku bisa. Sebab aku memang dicetak menjadi guru dalam sistem kurikulum yang kuterima semasa kuliah. Rasa-rasanya ada yang menganjal dalam hatiku di masa itu. Saat sebelum kesadaran dan pemahaman tentang mendidik hadir.
“Ah, Nov, jadi guru di pelosok itu bukan hanya mendidik murid. Kita juga harus sabar merubah budaya negatif yang sudah melekat di sekolah dan lingkungannya,” tutur temanku. Seorang guru yang lolos program mengajar di Sumba, sebuah program nasional untuk guru yang siap mengabdi ke pelosok negeri. (hai Mbak Ika!)
Dalam kisah yang selalu kuingat, bagaimana pendidikan di pelosok memang jauh dari kata tersentuh. Alih-alih setara, perbedaan mencolok adalah kata yang tepat untuk citra keadaan pendidikan di negeri sendiri. Hari-hari semakin menyelimutiku untuk tidak masuk dalam ranah pendidikan.
Bukan beberapa kisah yang kuterima ada banyak kisah lainnya soal ketidakmerataan pendidikan yang membuatku bungkam. Sekadar berkomentar soal sistem pendidikan saja tak ingin. Idealisme dan realita menjadi jembatan paling besar keenggananku untuk menjadi guru, kala itu. Aku terus berada dalam paradigma yang kubangun sendiri. Hingga Jepang masih menjadi primadona dalam pikiranku. Satu-satunya negara dengan sistem pendidikan terbaik dalam presepsiku.
Saat menyadari dan membuka sudut pandang, aku tau ada yang harus kuubah. Tidak ada guna membanding-bandingkan. Sesama manusia saja akan lelah jika terus memasang padangan pada manusia lainnya. Maka, jika kuteruskan memandang satu negara sebagai satu-satunya standar terbaik, rasanya mengambil alih kuasa diri pada peran di dunia pendidikan akan nol besar.
Lambat laun, aku berdamai. Membuka presepsiku, bahwa ilmu yang kudapat harus kupertanggungjawabkan. Dalam perjalanan bertumbuh aku tahu bahwa menjadi guru bukan persoal sistem pendidikan yang tak merata. Tentang peranku di dalam kelas. Tentang aku dan murid yang kuberi ilmu baru. Pengajaran di dalam proses belajar sudah cukup menjadi kontribusi dalam perubahan sistem pendidikan itu sendiri. Sesederhana ilmu yang guru ajarkan pada murid akan menjadi pembaharuan ilmu pada mereka dan peradaban yang akan datang. Dulu kuanggap klise persoal estafet ilmu itu. Setelah yakin menjadi guru, itu semua bukan omong kosong. Aku mengingat jelas semua tutur muridku yang didapatnya dari nasehatku, tak semua tapi itu sungguh diingatnya. Semesta mendidik tak harus berotasi pada sistem besarnya, langkah pengajaran yang baik dalam kelas juga bisa perubahnya meski hanya setitik.
Pada sistem pendidikan Jepang aku masih memandangnya, entah berkesempatan atau tidak, aku ingin melihatnya langsung! Salam pada senior yang mengirimi poto saat bersandang ke Jepang, sekertaris jendral yang handal (Mas Huda)!
Pernah kau hitung jumlah alas kaki pada rak sapatu milikmu? Milikku lebih dari jumlah hari pada sepekan. Tidak heran, memang begitu yang sering dilakukan banyak orang.
Pernah kau total semua pakaianmu yang terlipat dan tergantung di lemari? Aku tak tahu persis berapa banyak yang kupunya. Tapi kupastikan sebanyak apapun mereka, aku tetap pusing memilih bahkan satu baju untuk sekadar ke luar rumah.
Aku mengganggap lumrah kepemilikan barang melebihi batas normal. Batas yang sesungguhnya tak punya standar hitungan. Menumpuk banyak. Menganggap semua adalah hak diri. Toh, aku membelinya dengan uangku dan aku menyukainya. Aku terus melakukan itu, hingga saat momentum kekhawatiran datang. Aku terus memikirkan apa yang telah menjadi kebiasaanku bukanlah hal yang benar.
Sendal dan sepatu yang kupunya tidak bertugas dengan pantas. Untuk dibawa ke luar dari raknya, aku harus menunggu momentum. Pergi makan di luar. Pergi ke resepsi pernikahan kawan. Aku merasa nelangsa pada rupa menawan mereka yang hanya kubiarkan mengisi kotaknya. Sepatu dalam kotak asalnya berderat pada deretan rak sepatu di rumah. Meski benar ia milikku tak benar-benar ia adalah sepasang denganku.
Baju, gamis, dan pakaian milikku ada yang masih bersampul plastik belum pernah kukenakan barang sedetik. Aku menyimpan itu karena belum menemukan momentum yang tepat untuk memakainya. Satu-dua baju juga hanya kupakai sekali waktu pada momentum yang kuanggap tepat. Saat kutenggok wujud cantik mereka di lemari ada semburat rasa bersedih. Aku dan baju yang kupunya memang bukan sepasang yang pas.
Pelangi dengan tujuh warna cantiknya saja sudah bisa kukalahkan dengan jumlah warna jilbab di lemariku. Aku turut berduka pada kekhawatiranku dalam berlebih-lebihan tapi esoknya masih menumpuk satu barang karena terlihat lucu.
Akhir-akhir ini aku mulai mengkhawatirkan diri pada kata berlebih-lebihan. Menumpuk pada jumlah tanpa batas. Memiliki yang tak bisa diberi hak pasti. Aku tak sedang bicara minimalis. Meski beberapa buku soal itu sudah kubaca, aku masih kesulitan untuk bergabung di dalamnya. Semisal kujejer semua barang yang kupunya dan memegangnya satu persatu kurasa akan tetap menyulitkan untuk memilih beberapa saja. Aku menanyai diri tentang bagaimana bisa begitu tenang dengan menumpuk dan memiliki barang yang tidak sepasang dengan diri.
Aku tidak ingin mencari pembenaran dengan yang lumrah orang lakukan. Aku juga tidak ingin menanyakan bagaimana keadaan orang lain dengan barang-barangnya. Pun mencari analogi barang dengan hal lainnya sebagai usaha diri keluar dari rasa bersalah tidak akan kulakukan. Saat kesadaran tentang pemahaman berlebihan sampai padaku, aku tidak ingin membandingkannya dengan orang lain. Aku ingin keluar dari rasa bersalahku dengan barang-barang tidak dengan pendapat orang lain. Sebab jika mereka menyatakan normal, aku akan tetap berkemelut dengan diri sendiri. Ini adalah hal yang harus kuselesaikan segera.
Anya is live and ready to show you everything. Watch her strip, dance, and perform exclusive shows just for you. Interact in real-time and make your fantasies come true.
✓ Live Streaming✓ Interactive Chat✓ Private Shows✓ HD Quality
Anya is LIVE right now
FREE
Free to watch • No registration required • HD streaming
Dalam hening di sebuah aula, saat setelah sebuah pertanyaan terlontar lamat-lamat dengan ragu seseorang mengangkat tangan. Seluruh penghuni ruangan berarah pandang. Satu-satunya yang barangkali akan menjawab pertanyaan. Semua menunggu terpecahkan. Hening lagi. Si pemilik tangan yang terangkat itu menelan ludah. Detak jantungnya bertempo lebih cepat.
“Novelis,” jawabnya terbata.
Tidak ada yang terpesona. Semua dalam aula hanya merasa terselamatkan. Apapun jawaban yang terlontar bahkan kepada siapapun bukanlah suatu hal mengangumkan. Semisal saja tidak ada yang berkenan menjawab, tak akan kenapa-kenapa. Sebab pertanyaan yang itu hanya sebuah pertanyaan klise.
“Apa impian kalian di masa depan?” pertanyaan yang disampaikan oleh panitia dalam balutan jas almamater kebanggaan. Pertanyaan paling tidak masuk akal bagi barisan mahasiswa yang jelas sekali duduk di aula bersama dengan satu-satunya impian; menjadi guru yang mendapat dana pensiun di masa tuanya kelak.
Adegan yang tak akan pernah kulupakan pada masa tumbuhku menemukan impian dulu. Mahasiswa baru dalam ruang orientasi awal kuliah itu adalah aku. Menyebut kata impian terasa sangat klise saat ini. Bila kuingat lagi, ketika dulu memberanikan diri menjawab pertanyaan soal impian itu adalah untuk menantang diri. Kuutarakan pada banyak orang artinya akan banyak pula saksi dalam proses mengejar mimpiku. Nyatanya sekarang candala.
Merasa rendah diri untuk mengakui bahwa mimpi tak mudah untuk diraih. Segala jalan menuju mimpi sudah dilakukan, bukan menyerah hanya saja payah. Mahasiswa yang ingin berbeda dengan berkoar ingin menjadi novelis itu, kini masuk dalam barisan guru dengan jaminan pensiun dari negara. Bagian yang ingin kusyukuri sekaligus kutangisi bersamaan.
Impian dan ketakutan umpama benda dan banyang-bayangnya, tidak disadari tetapi hadir sepasang. Tak ada benda kongket yang tak memiliki bayangan. Aku mengakui gejolak mimpi yang membara mampu mengobarkan semangat. Tak ada lelah. Tetapi lupa, tidak semua mimpi bisa diraih bahkan jika sekeras apapun usahanya. Mempercayai mimpi sebagai alasan berjuang, mutlak. Sampai pada titik kesadaran penuh ada tujuan lain yang tak klise, lebih logis untuk dijalani. Memilih pilihan paling aman.
Aku hari ini adalah aku yang merasa rendah diri pada mimpiku sendiri. Bukan karena tak tercapai tapi karena ia kucampakan. Usia belia yang dulu membara karena mimpi, kini memandang iba dirinya atas mimpi yang ditinggalkan. Rasa yang lebih menyakitkan daripada patah hati. Mematahkan mimpinya sendiri. Terasa hina. Sakit sekali.
Ketakutan untuk kembali membuka kotak pandora yang berisi mimpi terkubur itu nyata adanya. Aku yang kini iba pada diri sendiri tak punya nyali. Dicampakkan orang lain rasanya lebih mudah dinikmati daripada bergelut dengan sisa semangat pada impian yang rapuh. Jika kucoba lagi, apakah aku akan menghinakan diriku pada mimpiku sendiri? Hingga suatu hari aku siap pada mimpi dan ketakutan milikku, aku butuh waktu mengurainya sendiri dengan berani. Mencoba lagi.
Alih-alih berbahagia, aku acap kali merasa terbebani pada ucapan selamat yang datang. Sekali waktu jika kureka ulang semua ucapan selamat yang datang, rasanya beban itu nyata adanya. Entah bagaimana asumsi ini hadir dalam pikiranku, tapi sungguh kini narasi selamat terasa menjadi berat.
Tak ada yang salah dari mengucapkan selamat pada apapun. Pencapaian, proses panjang yang telah berakhir, atau kesempatan yang baru akan dimulai. Pun kepada gelap yang menerangi seluruh permukaan bumi juga sebagian orang mengucapkan selamat; selamat malam. Ikut berekpresi atas kebahagian dari apa yang orang lain dapatkan adalah hal wajar untuk dilontarkan. Tak apa-apa, tak perlu sungkan. Ini hanya asumsi gelap dalam pikiranku
Jika sedikit kesadaran dan lintasan berpikir rumit datang tentang makna selamat, segalanya tak lagi sederhana tentang ucapan. Beban mendapat selamat rasanya tak perlu untuk diterima bahkan dengan berbalas mengucap “terima kasih”.
“Selamat malam, semoga mimpi indah.” Saat dini hari terbelalak dengan mimpi paling mengerikan, rasanya malam tidak benar-benar perlu diberi ucapan kebahagiaan atas hadirnya. Tak akan ada orang lain yang tahu raut wajah penuh takut pada mimpi buruk di malam hari, sebagian orang hanya mengucapkan ucapan selamat karena barangkali kau bisa tidur nyenyak.
“Selamat ulang tahun, bertambah usia makin dewasa ya!” Aku tahu ini adalah bagian dari perayaan yang orang lain hadirkan atas diri yang harusnya makin kuat menghadapi dunia dengan usia yang dianggap dewasa. Tetapi kerasnya dunia untuk dihadapi dengan pura-pura kuat sungguh berat rasanya. Sekali waktu memekik kesal dan menangis di pojok kamar mandi tak orang lain tahu. Menjadi dewasa tak perlu ucapan selamat.
Semisal saja tak ada ucapan selamat, tak perlu pembuktian kepada siapapun bahkan pada diri sendiri. Tak perlu. Jalani saja, segala hal memang untuk dijalani. Kebahagiaan juga tidak diukur dari pandangan orang lain. Baik gagal ataupun berhasil tak ada urusannya dengan diberi selamat. Bisakah mulai kuhapus narasi selamat?
Tidak semua orangtua memiliki pemahaman dan penerimaan yang baik, entah kepada orang lain atas anaknya, atau atas apa yang ada pada anaknya sendiri. Sebagian orangtua menuntut apa yang harus ada dalam diri anaknya, sebagian lainnya begitu bersyukur atas apa-apa yang dimiliki anaknya. Demikianlah gambaran keadaan yang menjadikan ku maklum jika saat setelah menjadi seorang guru, aku menemui orangtua dengan beragam pola asuh dan pola pikir yang beragam. Aku terus dihujani nelangsa pada mereka yang bersikeras menuntut, dan juga dibanjiri haru pada mereka yang begitu lapang menerima.
Maka, pada kisah ku kali ini, ku perkenalkan pada satu sosok dengan hati paling lapang dan begitu benderang atas apa yang anaknya miliki, membuatku haru sepanjang mengenang keduanya. Anak dan Ibu yang luar biasa.
Ya, dia adalah satu wali murid di sekolahku, aku tidak selalu di kelas anaknya, tapi cukup untuk mengenalnya sebab aku juga merupakan salah satu guru bidang yang mengajar di kelas anaknya. Biar kuceritakan terlebih dahulu tentang muridku, anak luar biasa yang selalu ku idam-idamkan untuk bisa menjadi muridku.
Pernah kujelaskan di tulisan lainnya, aku begitu tertarik dengan anak-anak luar biasa, anak-anak yang menjadi anugerah dan jelas menjadi sebuah lentera penerang dalam memahami kehidupan. Aku sempat mendaftarkan diri beberapa tahun silam untuk menjadi guru di Sekolah Luar Biasa (SLB), sayangnya jurusanku tak sejalur. Maka patah sudah salah satu mimpiku, dengan fakta bahwa aku ditolak beberapa SLB negeri juga swasta kala itu. Kemudian, tak ada yang tahu bagaimana sebuah impian bisa terwujud meski tanpa waktu yang pasti, itulah yang sering orang sebut dengan takdir. Hanya Allah yang kuasa atasnya. Meski mengajar di sebuah sekolah islam swasta, nyatanya di sinilah aku berjumpa dengan murid istimewa itu, mimpiku terwujud.
Namanya Hakim, dia adalah anak autis. Bagi sebagian orang, ia pasti menjadi satu pemandangan yang dilihat dengan sebelah mata, tapi sekali lagi, aku punya ketertarikan pada anak-anak luar biasa seperti Hakim, maka tidak ada yang membuatku melihat dengan nanar aneh atau lainnya, bagiku dia adalah bintang benderang.
Hadirnya anak-anak luar biasa atau spesial ini tidak dengan kesengajaan, ada banyak rahasia beserta hikmah secara bersamaan yang dibawanya, baik itu kepada orang tuanya, lingkungan, bahkan pada diriku, gurunya. Hakim adalah seumpama planet yang memiliki rotasinya sendiri, dan aku kerap kali tergiur mengikuti lintasan rotasinya. Sebab begitu banyak hal baru yang datang dengan interaksi kepada anak luar biasa ini.
Faktanya, anak-anak spesial tidak bisa dilihat dengan sudut pandang biasa, sejak awal ia pun sudah berjuluk luar biasa. Mata dan hati saja tak cukup untuk menjamah dunia anak semacam Hakim, ada perasaan lebih dalam yang harus dibawa, nurani empati atau apalah itu. Barangkali teramat antusiasnya aku pada Hakim, sering kali memperhatikan Hakim adalah hal yang menggembirakan.
Sekolah tempatku mengajar memiliki label inklusi. Hal itu cukup untuk membuat mungkin keberadaan anak-anak luar biasa hadir, dengan berbagai kategori dan jumlah yang disesuaikan kebijakan. Maka, jumpa pertamaku dengan Hakim di sekolah tempatku mengajar adalah mula sebuah mimpi yang terwujud dan kagum yang kemudian terpupuk. Syukurnya, Hakim didampingi dengan mbak pendamping yang penuh cinta kasih dan kesabaran juga dengan ibu dengan pemahaman dan penerimaan yang teramat baik. Bagian Ibu Hakim biar kusimpan dahulu. Kuceritakan nanti.
Pertama kali dalam hidupku aku berinteraksi dekat dengan anak autis, sebelumnya aku hanya menonton dan membaca kisahnya tanpa bersinggungan langsung. Percayalah, semua teori yang ada hanya mengantarkanku pada terasnya saja, setiap sudut sisi dalamnya seperti sebuah hal baru yang segera harus kutemui tanpa teori. Tulisan ini tidak akan mengupas apapun tentang anak autis, sebab dengan mudah bisa ditemukan di mesin pencari data di internet, juga di buku-buku khusus anak autis. Aku hanya berbagi apa yang sedikit, sangat sedikit, tentang muridku bernama Hakim ini.
Hakim adalah anak autis dengan kemampuan mengesankan, oh ya, saat aku menulis tulisan ini ia masih anak kelas dua sekolah dasar. Ia sangat mandiri, rahasia kemandiriannya jelas berkat ibunya yang hebat. Ia juga senang belajar, patuh, dan memiliki keteraturan yang luar biasa. Meski begitu banyak kekurangan yang bisa dilihat dari seorang anak autis, ada banyak hal juga yang bisa membuat terkagum-kagum dan malu. Hakim mengantarkanku pada keduanya, kagum berulang dan malu yang mendalam.
Hakim teramat mandiri, ia mampu melakukan banyak hal sendiri tanpa bantuan orang lain, sementara anak-anak normal barangkali bisa tapi enggan karena malas dan geliat manja yang mendarah daging atau juga masih harus terus dibantu orang lain agar bisa. Di sinilah luar biasanya anak spesial itu, hal-hal yang sering dibandingkan dengan anak normal seringkali dianggap tertinggal, nyatanya ada begitu banyak hal yang dimenangkan anak-anak seperti Hakim. Tidak, pada keduanya memang tidak boleh dibandingkan.
Hakim juga sangat senang belajar, jelas fakta umumnya bahwa autis memiliki perbedaan pola pikir dengan anak normal, tapi Hakim adalah anak emas. Tidak dengan barometer yang sama dengan anak normal. Tapi sungguh, jika boleh berbangga, Hakim memang cerdas, saat ini ia sudah bisa menata abjad sesuai urutan, menulisnya, hingga menulis huruf hijaiyah, mengenal angka, menemukan pasangan gambar, ah banyak sekali pelajaran formal yang sudah ia kuasai. Menurutku ia telah membuktikan betapa hebatnya ia sebagai pembelajar meski dalam keadaan yang jelas kurang.
Kepatuhan juga menjadi hal yang membuatku terkagum-kagum, bagaimana kadang anak-anak normal sulit diatur, Hakim kerap kali bersikap manis atas perintah-perintah yang didapatnya. Barangkali yang tertutur lewat tulisan ini hanya sebagian kecil yang kutahu, hal-hal hebat lainnya soal Hakim jelas lebih beragam dan mempesona, sebab hanya di ranah itu sajalah aku bersinggungan dengan rotasi miliki Hakim. Oh ya, keteraturan milik Hakim membuatku sangat malu pada diriku sendiri.
Berkesempatan mengikuti Hakim saat pulang sekolah, membuatku mengenal kehidupan luar sekolah Hakim. Aku mendapati Hakim di rumah dengan keteraturan yang mendekati kata sempurna. Ia pulang dengan alur yang sedemikian teratur, melepas sepatu, meletakkannya di rak, bahkan membereskan sepatu dan sendal yang tidak rapi. Masuk rumah dengan meletakkan setiap perlengkapan sekolah ke tempat yang seharusnya, berganti baju, sungguh sangat teratur. Hal macam ini, meski bisa tapi teramat sulit untuk bisa diterapkan pada anak normal seumuran Hakim lainnya.
Hakim juga membuatku malu, untuk ketidakteraturanku atas barang-barangku yang sering terselip karena tidak teratur meletakkannya ke tempat semula. Bahkan untuk sebuah kertas yang berantakan, Hakim dengan sigap membereskannya, ah ya ini tidak hanya di rumah, sering kali Hakim juga teratur di sekolah, meja guru berantakan dengan buku-buku di atasnya maka ia sigap membereskan seperti biasa buku-buku itu berada. Kerap kali, untuk sepatu teman sekelasnya yang berantakan, Hakim lah yang menjejernya dengan sangat rapi, hingga pada kaos kaki yang ia masukkan pada tiap-tiap sepatu. Bagian mana yang tak membuat malu sebagai manusia yang di karunia kelengkapan akal dan badan?
Hal yang membuatku bangga setelah menjadi guru Hakim menuju dua semester ini adalah bagaimana kini ia sudah hafal dan mampu melafalkan namaku. Bisa berbincang dengan Hakim juga sebuah kebanggaan, sebab tak semua orang bisa berbincang dengan Hakim. Hakim memiliki kekurangan dalam kemampuannya berbicara secara verbal, meski bisa bersuara tapi lisan yang ia keluarkan sering kali sulit dipahami, dan betapa bangganya aku memahaminya beberapa kali saat berdialog meski kadang juga harus meminta bantuan menerjemah kepada mbak pendamping Hakim. Percayalah, aku selalu berbinar setiap kali mampu mengajak Hakim bercakap-cakap. Itulah Hakim yang begitu luar biasa, menjadi salah satu mimpiku yang terwujud, meski aku tak banyak membantu proses belajar yang hakim dapat, tapi rasa-rasanya disebut sebagai gurunya Hakim saja aku sudah sangat bangga. Aku akhirnya punya anak istimewa yang bisa terus kukenang dan kuceritakan pada siapapun kini.
Kukenalkan siapa sosok paling utama yang patut kita hadiahi mahkota kehormatan, tidak salah lagi, ia adalah ibunda Hakim. Tak perlu kusebut namanya, sebab aku percaya malaikat sudah sejak lama menulis segala kebaikannya dan menjadikannya sosok terkenal di langit sana, pasti.
Hal yang membuatku begitu bersyukur ditakdirkan bertemu Ibu Hakim adalah kelapangannya dalam menerima, meski tidak dalam sehari ia mendapatkannya, aku begitu yakin hatinya seluas samudra di dunia. Jumpa pertamaku, ia sudah bertutur tantang bagaimana perjuangannya menjadikan Hakim sehebat hari ini, bagiku dan mungkin pembaca yang membaca tulisan ini, Hakim sungguh sangat mempesona, tapi kita tak pernah tahu kerja di balik layarnya, hari-hari Hakim sebelum mandiri, pembelajar, patuh hingga tertib hari ini. Keringat dan tangis Ibu Hakim pasti ada bersama dengan tumbuhnya Hakim menjadi seperti saat ini.
Faktanya yang membuatku semakin kagum bahwa, Ibu hakim harus menomorsatukan anak keduanya ini dibanding pekerjaannya. Bahkan pekerjaan Ibu Hakim bersinggungan dengan kebermanfaatan orang banyak. Begitulah hidup, meminta untuk memilih. Tapi setiap pilihan baik juga menjadi mula kebaikan. Ibu hakim tampak tak menyesali pilihannya, aku juga terus yakin, Allah mencatat lebih banyak kebaikan atas apa yang ia pilih ini.
Kisah yang yang membuatku selalu ingin menangis selain sepanjang jalan panjang perjuangan Ibu Hakim, adalah reka adegan yang ia pernah kisahkan. Katanya untuk memahamkan definisi kata “ibu” ia harus berjuang hampir tiga tahun pada Hakim. Mengenalkan sosok ibu lewat sentuhan, tiupan, hingga ucapan yang berulang. Betapa bagian ini menjadi sangat pilu ketika upaya awal tentang memahamkan arti ibu pun tak dipahami. Di luar sana, kasus orangtua membuang anaknya atau anak durhaka pada orang tua membuat kita meradang, di sini ada kurun waktu mengharukan tentang memperkenalkan diri sebagai ibu yang nyata adanya. Ya, memperkenalkan diri sebagai ibu kepada anak autis adalah perjuangan. Aku selalu ingin menangis mengingat bagian kisah ini, sulit untuk membayangkan tapi begitu terbayang. Betapa berkaca-kacanya saat ia bercerita keberhasilannya mengenalkan dirinya sebagai ibu, dan lafal pertama kata “ibu” dari Hakim yang membahagiakan dirinya. Semesta menghampiri kesabaran Ibu Hakim.
Tentang kisah bagaimana ia berjuang menjadikan Hakim seperti hari ini adalah sebuah kisah yang panjang. Hingga saat ini Hakim masih terus dalam tahap pengawasan dan pembelajaran yang ketat. Peran pentingnya jelas milik Ibu Hakim, tapi kuulangi lagi hal yang membuatku terus terkesan adalah tentang kelapangan yang ia miliki. Tak semua orangtua dengan anak luar biasa mampu menjalaninya setegar yang Ibu Hakim miliki, tidak semua orangtua mampu berjuang dengan sekuat tenaga menjadikan anak seperti Hakim berdaya. Tidak semua, dan Ibu Hakim adalah bagian kecil yang sempat kutemui, ia nyata adanya.
Jika pada anak-anak spesial seperti Hakim tak ku temui pelajaran berharga, maka bisa jadi ada yang harus ku gali dalam-dalam di hatiku. Tak cukup dalam tulisan ini, sejatinya, setiap pertemuan adalahrangkaian hikmat yang bisa diurai. Menjadi guru, meski awalnya bukan sesuatu yang kuinginkan, tapi cukuplah berbekal kecintaan pada anak-anak membuatku bertahan di sini. Menjadikan satu-satu dari mereka bagian dari pelajaran yang harus kudapat selama hidup. Hakim, terimakasih sudah jadi salah satu murid terbaik, sebab menorehkan banyak pembelajaran hidup.
Perkara menikah tidak pernah sederhana, baik itu persiapan ataupun hal lainnya milik masing-masing orang. Juga, menikah tidak pernah hanya sakadar proses sehari menjadi ratu di singgasana pelaminan. Semua orang tahu betapa tidak mudahnya menuju itu, tetapi lebih banyak yang tetap nekat melemparkan kata “kapan”, setiap kali bertemu dengan para perempuan yang sedang berjuang mempersiapkan atas banyak hal pada kata pernikahan.
Pada suatu hari, inginku adalah tidak perlu lagi ada yang mendesak seseorang untuk mempercepat masa tunggunya, sebab benar-benar tak ada yang tahu waktu terbaik kecuali Allah. Atau yang jelas-jelas kita tahu bersama bahwa jodoh adalah bagian dari hal ghoib. Tak bisa diterka, tak bisa dipastikan. Perkaranya pun pada jodoh sungguh jelas, Kuasa Allah. Memang dianjurkan untuk disegerakan, bukan pada segera atas desakan orang lain, atas trand sahabat terdekat, selebgram, youtuber atau yang lainnya, sebab segera jika tak dibarengi dengan ridho Allah pun tak akan bisa berjalan. Semua kembali pada momentum, waktu yang terbaik milik masing-masing orang juga pada puncak keridhoan.
Sekali waktu, saat desakan pertanyaan semakin datang dengan lebih deras, ada yang sepertinya Allah siapkan untuk membuka mata. Bukan bermaksud untuk menilai sebagai sesuatu yang salah, tapi hal yang teramat perlu untuk dipahamkan pada diri. Perkara rintangan dalam rumah tangga.
Barangkali jika hanya untuk hal-hal yang membuat yakin untuk melaksankan pernikahan, di luar kata ibadah yang terkandung, teramat banyak alasan yang bisa diuraikan. Tapi sayangnya, memang, anjuran pernikah tidak jarang sangat sulit didampingi dengan risiko yang ada, sebab di dunia nyata sana, di luar bagaimana banyak para pesohor dunia pernikahan muda memasang anjuran dan keindahan pernikahan, masih minim tentang bagaimana penanggulangan risiko yang benar-benar ada di dunia nyata. Meskipun ada, kawula muda lebih sering silau pada kata “segera” yang disampaikan di halayak ramai itu.
Ini bukan mengungkap aib milik orang lain, bukan juga sebagaimana yang tadi disebutkan: untuk tujuan menilai, bukan. Mengambil pelajaran yang semoga tidak perlu kita ikuti di dunia rumah tangga kelak. Kata perceraian, menjadi gelegar petir di siang terang. Menjadi salah satu kasus paling marak, seseungguhnya. Meski tidak begitu sering terdengar, tapi perceraian ada di sekitar kita, sangat dekat, bahkan milik salah satu kerabat, sahabat, ataupun kenalan kita.
Apa yang mendasari dua insan yang memilih bersatu kemudian berpisah? Bagian dari misteri kehidupan yang sering kali membuatku sendiri terus mengulang tanya dalam hati, kenapa bisa? Tentu tak pernah ada yang tahu. Ini bukan uraian tentang penyebab ataupun solusi soal perceraian. Barangkali sejenis cambuk untuk diri, bahwa sungguh dunia pernikah tidak pernah sesederhana memakai gaun indah di hari spesial semata. Di luar sana, jika memang belum Allah takdirkan hari ini, artinya terlampau banyak hal yang bisa kita pelajari untuk mempersiapkan diri, terlampau banyak pengalaman dan cerita orang lain yang bisa kita dengar lebih.
Terus mempersiapkan diri dengan kesiapan terbaik. Bahwa sungguh, pernikahan tidak pernah sesederhana yang bisa dibayangkan.
Dwi Novi Antari
*****
Pernikahan adalah ibadah yang paling lama untuk dijalani. Sebuah perjalanan panjang yang pasti penuh tantangan di dalamnya, karena itulah ia disebut sebagai penyempurna setengah agama. Sudah semsetinya setiap perjalanan membutuhkan bekal yang harus dipersiapkan. Ibarat berlayar, kita harus paham awak kapal, arah angin, posiis layar yang terbentang, bahan bakar yang digunakan hingga berdiri pada peran masing-masing. Agar jika sampai di tepian, kita bisa memastikan semua bekal terpenuhi dan strategi terjalani. Begitu juga dengan kehidupan pernikahan, banyak yang mesti dipersiapkan.
Karena pernikahan bukanlah hanya sekadar euforia pesta sehari. Bukan hanya persiapan yang menunjang terlaksananya wedding; dekorasi, baju pengantin, makanan, atau undangan. Lebih dari itu, ada persiapan yang mesti kita perhatikan, yaitu kesiapan dalam menjalani hari-hari setelahnya. Telebih yang paling penting adalah ilmu dan keterampilan untuk membina dan merawat cinta sampai ke jannah-Nya.
Setelah menikah bukan hanya bertambah hak, minta ditemani, minta diperhatikan, minta dilayani saja, hingga kita sering luput bahwa ada kewajiban yang juga mesti dijalani. Perubahan peran, baik secara personal maupun sosial, bertambahnya kewajiban ini bertambah pula tanggung jawab. Kita juga tidak lagi dipandang sebagai diri kita sendiri. Tentu tugas ini berat karena hadiahnya bukan sebuah permen karet.
Perjanlanan panjang dengan jarak yang tidak terhitung, melampaui lengkungan-lengkungan jarak, melompati rasa suka dan duka, berpindah dari satu keadaan ke keadaan lainnya. Jika layar telah terbentang, maka jangan sampai terhempas oleh ombak yang datang atau tersandung batu karang hingga biduk perahu akhirnya karam. Walaupun perceraian dibolehkan dalam agama tetapi ia adalah hal yang Allah benci.
Maka hari ini, mari kita tanya ke dalam diri sendiri, sudah sejauh mana persiapan kita? Sudah mengejar ilmu dan pemahaaman yang baik untuk perjalanan itu? Sudahkah mempersiapkan diri untul menjadi pendamping dan orantua terbaik kelak?
Semoga Allah menjadikan kita sibuk bersiap dan belajar, menciptakan atmosfer kesiapan daripada keresahan
Duo Murid Introver dari Sudut Pandang Guru Introvernya
Sebuah usaha untuk menebus dosa tidak pernah menulis apapun di sini selama periode masa awal 2020, maka harus terus mengingatkan diri untuk produktif mulai hari ini.
Dunia sedang riuh dan disibukkan oleh sebuah pandemi yang bermula pada sebuah virus bernama COVID-19, sungguh terlampau banyak definisi, penyebaran, dampak, hingga hal detail lainnya di dunia maya ataupun maya.
Tidak, tulisan tidak akan membahas sedikit pun tentang pandemi tersebut, cukup sebagai pembuka yang akan berhubungan dengan kisahku. Saat dunia dilanda segala hal yang seolah seperti reka adegan sebuah film science-fiction ini, nyatanya memang terjadi, dan hal- hal yang terus diupayakan secara mendunia adalah menjauhi kerumuan banyak orang dan terus bertahan di rumah dalam jangka waktu yang terus tak bisa dipastikan. Maka, inilah garis merahnya. Sebuah himbuan yang disuara secara global dan kisah yang bersinggungan.
Berdiam diri di rumah dan menjauhi kerumunan banyak manusia adalah salah satu keahlian yang dimiliki mereka yang berkepribadian introver, tanpa menjelaskan panjang lebar, cukuplah dipahami bahwa kaum introver adalah mereka yang mengambil energi tidak dari orang lain atau perkumpulan yang riuh untuk bersemangat, melainkan mereka menelisik dalam diri menuju keheningan diri dan menjamah energi dalam kesendiriannya. Puitis sekali, tapi memang demikianlah, salah kaprah soal introver sering kali terkait pendiam dan pemalu, ternyata tidak juga. Sebab dalam keramaian mungkin kau tidak akan menemukan si introver pendiam sebab semua bersuara, atau dalam kerumunan tak kau temui dia yang pemalu, tapi disinilah titik pentingnya dia akan kehabisaan energi setelah dalam keramaian ataupun kerumuman, lalu ia berdiam dalam kamar untuk mengisi ulang tenaga, demikian adanya.
Maka, kisah ini bermula dari sebuah babak baru pembelajaran di rumah selama pandemi terus berangsur-angsur menjamah dunia, ya tentu saja sebab ini adalah rangkaian kisahku pada sebuah kehidupan dengan peran sebagai guru. Kali ini, kuingat jelas bahwa aku memiliki duo murid introver yang terus saja membuatku tak bisa memalingkan perhatian pada keduanya. Maka mari mulai kisahnya...
Di antara seluruh anggota kelas yang diisi oleh murid laki-laki, teramat mengherankan jika tak ditemukan riuh dan kegaduhan yang teramat. Benar saja, kelas yang membuatku hampir pecah, alih-alih marah, pertemuan awalku dengan kelas ini malah berakhir dengan memecahkan papan tulis putih di depan kelas, gaduh tiada tanding. Tapi, dari semuanya, rupanya ada satu bangku yang tetap hening dengan senyum manis masing-masing. Itu kesan yang kudapat pada duo ini mulanya. Hari-hari berlalu, ternyata memang duo ini terus dengan senyum menawan dan kata-kata yang lirih, bahkan seringkali bungkam.
Tak habis hanya memperhatikan keduanya, sering kali mengajak untuk berdialog kulakukan, tapi tetap saja, rupanya level introver mereka lebih dalam. Percobaan awal selalu gagal, alih-alih berdialog, rasanya sang guru ini seperti sedang bermonolog, dibalas senyum atau anggukan saja. Bukan, mereka bukan pemalu, apalagi pendiam. Hanya butuh kurun waktu yang lama untuk bisa didekati.
Salah satu anak dari duo introver ini adalah yang cukup cerdas di kelas, jika ada ajakan maju untuk mempraktekkan atau menjelaskan sesuatu di depan kelas maka ia bergegas maju, hanya saja lirikannya dan senyumnya menjadi teramat kentara dilihat, juga dengan gelagat ulet bulu, tapi dia tetap maju, dan ia memang pemberani. Satunya lagi, si introver dengan suara bassnya, mengudara seperti gelegar, ia tidak pendiam sebab jika sudah berbicara dengan satu kawan introvernya itu ia akan terus berbicara sampai lupa tugas-tugasnya. Ya, mereka memang dua introver. Menghilangkan asumsi umum soal pemalu dan pendiam yang bersemayam pada citraan introver.
Di antara keduanya, memang nampak jelas tingkat kesulitannya untuk didekati, meski berbulan-bulan sudah melakukan pendekatan, keduanya bukan anak-anak biasa yang bisa dengan leluasa menjawab jika ditanya, atau auto bercerita sesuka hati. Si cerdas misalnya, meski ditanya berulang dengan pertanyaan yang sama, ia cenderung mengangkat bahu dan tersenyum manis ketika enggan atau tak tahu jawaban atas pertanyaan yang diajukan. Si pemilik suara bass lebih menggemaskan, jika ditanya dan tak berniat menjawab ia membuang pandangan pada si penanya dan bersuara besar , “nggak tahu”. Duo introver yang terus saja ingin digoda, ditelisik dan dikenali lebih dalam.
Faktanya introver yang bertemu introver punya daya tarik yang kuat, selama ini karena kurang intens bertemu jenis introver lainnya, aku nyaris tidak memiliki sinergi yang kuat terhadap introver lainnya. Disinilah aku belajar, bahwa dua orang berkarakter introver bisa seperti semut dan gula, ada dan seperti saling berkaitan. Jika salah satu dari duo introver ini tak masuk sekolah, jelas saja apa yang terjadi. Tak ada angin tak ada hujan salah satunya akan menjadi seperti tak bersemangat. Meski tetap menjalani proses belajar dengan biasa, tapi sangat jelas ia menjadi sangat kentara mematung, berjalan sendiri, duduk dengan pandangan jauh ke depan, dan bungkam seharian. Haha, nampak berlebihan, tidak separah itu kadang-kadang tapi sering kali terjadi.
Apakah mereka tidak bergaul dengan teman-teman kelas yang cenderung aktif dan hobi berkicau? Jelas saja, mereka melakukannya, tetap bergaul dengan yang lainnya. Tapi kecenderungan memilih kelompok yang tidak bising adalah faktanya, jika dihimpun dalam kesempatan, nampak tipis adanya mereka dalam kelompok aktif dengan anak-anak yang cenderung dengan keaktifan tingkat tinggi. Seperti naluri saja, meski bisa bergabung, mereka berdua kerap memilih tetap berdua atau mencari kelompok yang cenderung tidak terlalu riuh. Alih-alih dalam kelompok anak-anak teraktif, mereka memilih berdua saja dan menjadi yang sibuk berdua, jadi meski gaduh dalam kelas mereka tetap hidup di dunia mereka sendiri. Memeperhatikan gerik introver memang acap kali mengasikkan.
Tanpa mengurangi perhatian pada anak murid yang aktif, melempar pandang pada anak-anak yang introver sering kali menjadi sebuah cerminan diri, apakah di duniaku sendiri, aku juga demikian?
Hebatnya, kedua orangtua duo murid introverku ini sungguh-sungguh luarbiasa. Sebab keduanya paham betul bahwa anaknya memang berkarakter demikian. Hal-hal yang membuatku takjub pada orang tua adalah pemahaman baik yang mereka miliki. Sering kali, orangtua menuntut apa yang seharusnya ada dan jadi bagian dari anaknya, tapi tak sedikit juga yang terus merasa bersyukur dan menghargai bagaimana anaknnya tumbuh.
Si suara bass misalnya, pernah sekali waktu aku bertanya kepada orangtuanya perihal ketidakhadiran anaknya di kelas, lalu obrolan itu mengalir, katanya ia paham betul bawa karakternya juga dimiliki anaknya. Dalam kesadaran penuh, ia telah paham jika anaknya memiliki karakter introver seperti dirinya. Salut. Rasanya ingin bertepuk tangan. Betapa banyak orangtua yang menuntut anak menjadi a hingga z, lihatlah di dekatku ada yang begitu menerima apa yang menjadi karakter anaknya. Menurutku ini juga penting, ketimbang menuntut ada baiknya kita menerima, lalu bimbing perlahan jika sudah ada waktu yang tepat.
Faktanya, introver memang karakter, sesuatu yang hadir dari dalam, maka biarkan itu, fokus pengembangannya bukan membuang atau mengubah, tapi membekalinya dengan keterampilan lainnya. Berani di depan umum, misalnya jika frekuensinya tinggi mudah sekali anak menjadi berani meski ia adalah introver. Si cerdas sudah membuktikannya, ia introver tapi pemberani.
Dari sinilah kisah itu mengalir, teramat banyak pelajaran yang bisa diambil oleh guru bahkan dari muridnya. Pertemuan dua introver yang lekat, introver yang terus harus dipahami, penerimaan orangtua, bahkan hal-hal lain yang terus bisa kuambil pelajarannya sepanjang aku bisa menjadi guru bagi mereka berdua.
Dan bangganya, selama masa pandemi yang panjang ini, mereka berdua adalah juara bertahan dan barangkali juara utama untuk tetap di rumah tanpa godaan. Terakhir kutanyai kabar mereka, tetap dalam masa menikmati belajar di rumah, haha introver paten. Sedang murid-muridku di kelas yang sepenuhnya kuajari hampir merengek berjamaah, betapa membosankan dan ingin bertemu teman-teman kata mereka. Jadi, kali ini duo introver menemukan masa emasnya. Eist, aku juga introver dan aku pun menikmati masa emas karantina ini, yeah!
Anya is live and ready to show you everything. Watch her strip, dance, and perform exclusive shows just for you. Interact in real-time and make your fantasies come true.
✓ Live Streaming✓ Interactive Chat✓ Private Shows✓ HD Quality
Anya is LIVE right now
FREE
Free to watch • No registration required • HD streaming
Untuk yang sedang dirundung kebingungan, tetaplah tenang, ada Allah. Untuk yang sedang didera berbagai pertanyaan yang berujung pada desakan, tetaplah tenang, ada Allah. Untuk yang sedang merasa sendiri, tak ada yang mau mengerti, tetaplah tenang, ada Allah.
Untuk yang sedang butuh didengarkan, tapi tak ada satupun yang hadir, tetaplah tenang, ada Allah. Untuk yang sedang berjuang untuk mengindahkan harapan-harapan keduanya, meski tak mudah, tetaplah tenang, ada Allah. Ada Allah, ada Allah, Aradea!
Dengan seizin-Nya, dengan pertolongan-Nya, semua akan baik-baik saja. Saya jadi teringat doa seorang teteh dikampus dulu sebelum diketemukan dengan jodohnya.
"Ya Allah, aku serahkan tentang jodohku kepada-Mu, bukan pada keluargaku, bukan pada murobbiyah-ku, bukan pula pada teman-temanku, hanya kepada-Mu ya Allah"
Adalah betul, bahwa seharusnyalah kita memulangkan segala persoalan hidup kita hanya kepada-Nya, termasuk masalah jodoh.
Arsanti Aradea.
*****
Sekali waktu mungkin terasa tenang, hanya sebab ada satu-dua sahabat yang mendengarkan keluhku, sampai lupa muara segalanya bukan pada ketenangan itu. Aku tahu, Allah lebih baik atas segala keluh hidupku, sebab Allah lah muara hidupku.
Sekali waktu mungkin terasa lega, hanya sebab perhatian beberapa orang atas kesedihan yang ada, sampai aku lupa pemerhati terbaik atas hidup serta kelegaanku adalah Penciptaku, Allah lah yang selalu ada.
Maka, meski sekali-dua kali waktu aku dan barangkali beberapa perempuan lainnya yang dirundung satu-dua masalah yang sama, atau yang lebih serius, mendapat telinga terbaik sering kali melegakan, tapi bukan solusi terbaik, sebab Allah sebaik-baik tempat mengadu, juga pemberi solusi terbaik.
Jika pada akhirnya, satu persatu sahabat silir-berganti meninggalkan diri, juga pada satu titik tak tersedia lagi telinga dan gurau atas kesedihan, ingatlah Allah tidak meinggalkanmu.
Mengadulah, adukan saja. Allah ada, selalu ada. “Allah, jika perkara hidup semua makhluk saja bisa begitu teratur dalam genggam-Mu, maka sangatlah mudah bagimu atas hidup hamba-Mu ini, maka perkara jodoh tentu kukembalika kepada-Mu, sungguh yang terbaik adalah yang Engkau ridhoi.”
Teruntuk diriku (Serial Kedua, Sepotong Cerita Singelillah)
Terimakasih wahai diri... Tetap dalam istiqomah meski banyak godaan hadir. Tetap teguh dalam pendirian meski desakan datang dari segala penjuru.
Terimakasih wahai diri... Telah memilih dalam ketaatan, memilih sendiri dalam keterjagaan.
Terimakasih wahai diri... Karena telah berjalan sejauh ini, telah berjuang sekeras ini, tidak mudah memang, lelah memang, tapi kita tahu bahwa Allah selalu melihat usaha bukan hasil dan itu yang membuatmu terus melangkah.
Terimakasih wahai diri... Karena selalu berbaik sangka pada-Nya, kamu tahu bahwa takdir-Nya tidak pernah terlalu cepat dan terlalu lambat.
Terimakasih wahai diri... Karena selalu tenggelam dalam kemanfaatan, kamu menghabiskan waktumu bukan untuk mencarinya, karena kamu tahu bukan dengan itu kamu bisa menemukannya.
Terimakasih wahai diri... Atas segala persiapan yang telah kamu lakukan, meski kamu tak pernah tahu, apakah kamu akan sampai pada takdir itu atau tidak, namun segala upaya itu, semoga tetap tercatat sebagai amal shalih. Tetaplah dalam ketaatan, meski dalam kesendirian, sampai kelak bertemu Allah dalam taat, pada hati yang sebenar mencintai-Nya.
Arsanti Aradea.
*****
Kelak, ada yang sangat ingin kuceritakan jika tidak padamu, mungkin pada diriku sendiri. Tentang nada-nada sumbang yang bisa kupecahkan dengan tanpa dendang cukup dengan terus berjalan tanpa perlu diperdulikan.
Suatu hari, akan kukisahkan tentang juangku menjaga hati dengan sepenuh keyakinan bahwa siapapun yang datang, pastilah yang Allah pilihkan.
Tentang kamu yang masih sembunyi, dan aku yang dihujani jutaan pertanyaan tentang kedatangan bukan menunggu, aku hanya sedang berjuang menjadi versi terbaik atas diriku.
Tentang aku yang masih dalam kesabaran dan kau, yang Allah persiapakan untuk perjumpaan bukan mencari, kau hanya akan didatangkan saat Allah sudah restui.
Teruntuk diriku, yang percaya bahwa jodoh adalah kepastian, jangan ragu untuk terus perbaiki diri, Allah sendiri yang beri janji yang baik juga dijumpakan kepada yang baik pula, bersabarlah. Allah siapkan waktu terbaik, saat kesiapanmu sudah maksimal.