Niskala: Halaman 1 - "Pesan Tanpa Jawaban"
Pagi itu matahari naik perlahan, menyusup masuk ke kamar lewat celah tirai. Niskala membuka ponselnya– layar berpendar menunjukkan notifikasi yang kosong. Tak ada namanya. Adam.
Tiga bulan terakhir ini, namanya masih jadi alasan jantungnya berdebar setiap layar menyala. Dulu obrolan mereka seperti hujan di musim kemarau: lebat, deras, penuh tawa kecil yang jadi rahasia diantara dua orang yang perlahan saling mengenal. Tapi entah sejak kapan, hujan itu mereda. Kini hanya ada awan mendung tanpa satu tetes pun yang turun.
Malam tadi, ia beranikan diri mengetik pesan sederhana:
“Udah tidur? Boleh ngobrol?”
Tak ada jawaban. Hingga pagi, hingga siang. Hanya tanda centang dua. Diam. Niskala merebahkan diri, menatap langit-langit. Hatinya sesak oleh kenyataan yang ia tahu tapi pura-pura tak mau diakui. Adam berubah.
Ia menarik napas panjang, menahan gelombang yang mendesak di dadanya. Tangannya lemas. Perasaan ini seperti memegang pasir—semakin erat digenggam, semakin cepat ia menghilang di sela-sela jari.
Dia duduk di tepi ranjang, memandang kosong ke lantai. Di kepalanya, suara-suara kecil mulai ramai, mengulang-ulang pertanyaan yang tak pernah berani ia ucapkan:
“Aku kurang apa? Kenapa perlahan dia menjauh? Apa aku yang terlalu berharap?”
Malam sebelumnya, ia bermimpi Adam memblokir semua akses komunikasi. Mimpi itu bukan sekadar bunga tidur. Itu ketakutannya yang paling dalam. Dalam lamunanya, ia bertanya pada dirinya sendiri, “Apa salahku? Kenapa rasanya aku kehilangan sesuatu yang bahkan tak pernah benar-benar kumiliki?”
Di luar hujan turun tipis, dengan enggan, ia berjalan ke meja kecil di sudut kamar. Ada catatan kecil di sana, tempat ia biasanya mencurahkan perasaan. Kali ini tangannya gemetar saat menulis.
“Aku merasa kehilangan. Tapi mungkin aku hanya sedang kehilangan pada versi dirinya yang dulu. Yang sekarang? Aku tak tahu apakah dia masih sama, atau hanya aku yang terlalu ingin percaya dia masih peduli.”
Air mata jatuh tanpa suara. Isakan kecilnya menyatu dengan hujan di luar jendela. Hari itu, ia merasa benar-benar sendiri—seperti tokoh dalam film yang hanya bisa duduk di balik jendela, menatap rintik hujan yang jatuh satu per satu.
Ketika tengah malam datang, ia kembali membuka ponselnya. Kali ini bukan untuk mengirim pesan, tapi untuk membaca ulang percakapan lama. Kata-kata Adam di masa lalu masih ada di sana, seperti janji-janji kecil yang tak pernah ia sadari akan memudar.
Di ujung percakapan, ia mengetik pelan, tapi tidak pernah ia kirim:
“Dam, apa kita benar-benar sudah ngga berada di halaman yang sama?”
Seketika, ia menutup layar, meletakkan ponsel itu menjauh. Suara hujan kini makin deras, seakan ikut menangis bersamanya. Perlahan, ia membenamkan wajah ke bantal, membiarkan semua yang ia tahan akhirnya luruh.
Malam itu, ia berjanji pada dirinya sendiri. Besok, ia akan belajar memeluk rasa sakit ini. Memilih dirinya sendiri. Bukan untuk melupakan, tapi untuk menerima bahwa beberapa orang memang hanya singgah—membekas, tapi tidak menetap.

















