Baringkan Dulu.
Sehabis menumpuk jemuran yang tidak ada jemu-jemunya bermunculan di bak pakaian kotor di rumah, aku memutuskan untuk berbaring sejenak diatas sofa yang bisa bergoyang ke depan dan belakang. Badanku lelah, mataku seperti digelayuti kapas, lembut-lembut menina bobokan kesadaranku.
Aku paksa keadaan. Aku buka gawaiku dan mencoba mencari pengalihan dari rasa kantuk biadab ini.
"Sekarang masih jam 2 siang! Mau tidur kamu!?"
"Aku sudah belanja pagi. Udah ngurusin rumah, udah jemur pakaian, udah cuci piring semua-muanya. Kurang apalagi?"
"Banyak. Lihat itu, lantai belum disapu. Bapakmu masih terbaring belum makan siang. Chat di hapemu menumpuk. Catatan keuangan belum selesai juga. Rumah udah lebih dari 3 hari tidak di pel kan? Sore juga kamu harus ke rumah makan untuk lihat keadaan lagi. Masih banyak kerjaan bodoh!"
"Aku mau baring dulu sebentar aja..."
"Waktumu cuma 3 jam dari sekarang, padahal didepan matamu ada jam dinding besar sekali."
"Tapi, kapan aku bisa gantiannya sama yang lain?"
"Nanti, pas kamu udah berani ngomong sama mereka."
Aku sudah tahu jawaban itu. Dari dahulu sudah tahu. Tapi, aku benar-benar enggan untuk bicara samasekali. Entah kenapa ya.
Aku masih baring. Baru 10 menit berlalu dan aku merasa bersalah.











