Kalau tidak bisa sabar, syukur !
Rasanya memang tak ada alasan untuk tidak bersyukur. Mau ngeluh tapi malu, disana masih ada orang yg amanahnya lebih-lebih dari ini.
Memang katanya ketika kita merasa seperti orang paling tidak beruntung ini, faktanya kita hanya kurang memperhatikan dunia. Sujudmu kurang lama, doamu kurang banyak, pun kalau tidak ada seorangpun didunia ini yg kamu rasa tidak ada yg 'mengerti' kesulita dirimu, masih ada Dia. Dia akan memberimu kekuatan, Dia Maha Baik, yg hanya memberimu kebaikan bahkan lewat jalur yg kamu kira itu buruk bagimu.
Ketika kegagalan bukan lagi sebuah permasalahan, bukankah selalu ada kebaikan yg bisa kamu pelajari dari kegagalan?
Masalah? Hei. Pasti ada jalan keluarnya. Dibalik kesulitan ada kemudahan. Sesungguhnya dibalik kesulitan ada kemudahan. Kamu belum percaya? Sujudmu kurang lama. Rasakan nikmatnya berbicara denganNya. Sekarang kamu sadari masalah sebenarnya adalah ketika kamu tak lagi melibatkan Dia dalam setiap langkahmu. Sebesar apapun masalahnya jika kamu melibatkan Dia, hatimu akan tenang. Bukankah ketenangan diperlukan ketika akan mengerjakan suatu ujian?
Aku pernah berada di titik tak percaya pada siapapun, bahkan pada diriku sendiri. Menganggap bahwa takdir begitu 'seenaknya' kepadaku. Atas segala rencana yg telah aku buat, atas tempat akhir yg sedang aku tuju, atas harapan yg sedang aku usahakan. Aku dikhianati oleh takdir. Semua tak terjadi sesuai yg aku inginkan. Sedih? Marah? Putus asa? Entahlah bahkan saat itu aku tak mengerti perasaanku sendiri. Aku hilang arah, aku kesulitan melangkah, menentukan apa yg harus aku lakukan?
Aku mengerti, ternyata langkahku terlalu cepat. Banyak hal yg aku lewatkan, tergesa-gesa. Apa arti keihklasan? Apa yg kamu cari sebenarnya? Siapa (apa) yg kamu tuju? Apa niatmu? Pertanyaan-pertanyaan itu cukup membuatku tersadar.
Apa arti keikhlasan? Kenapa sulit sekali melakukannya . Kenapa berat sekali, kenapa dulu (sebelum kehilangan) aku bisa sangat mudah menjalaninya? Apakah aku benar-benar ikhlas? Lillahi ta'alla?
Bolehkah aku kembali? Aku hanya ingin bersamaMu. Merasakan nikmatnya beribadah dengan ikhlas. Aku rindu senyuman itu. Aku rindu semangatnya. Sungguh aku ingin menjadi aku ikhlas, berbuat baik tanpa ingin dilihat oleh manusia. Hanya untukMu, memperoleh ridhoMu.
Sabar? Rupanya syukurmu kurang banyak. Sungguh banyak hal yg telah kamu lewatkan.