Asumsi Sialan
Menghela nafas cukup pelan, untuk ukuran manusia yang sedang menahan resah berkepanjangan, aku menyebut namanya. Memanggilnya, dengan sepenuh hati, meski aku tak yakin apakah perasaanku masih sepenuh itu padanya.
"Selama ini, apa aja yang aku minta ke kamu?"
Ia tak langsung menjawab, ada jeda yang ia gunakan untuk mengadah keatas, juga menunduk kebawah. Sepertinya ia berusaha mengingat.
"Berkabar,"
Alisnya menjengit, berusaha mengingat lebih jauh. Padahal hubungan kami belum lama hingga aku sedikit heran mengapa ia tampak berusaha mengobrak-abrik memori sebegitunya.
"Kamu sendiri ingat ga, apa yang kamu minta?"
Kutelisik netranya, sesaat setelah tanyanya menggema. Firasatku ia benar-benar bertanya meski setengah diriku yang lain merasa ia hanya mengujiku. Asumsi sialan, batinku merusuh.
"Bener, aku cuma minta kamu selalu berkabar aja. Dibalik itu, sebenarnya aku minta banyak hal,"
Sengaja kujeda untuk memancing pandangnya kepadaku, memancing fokusnya terpusat pada kataku.
"Aku minta usaha kamu. Aku minta waktu kamu. Aku minta perhatian kamu. Dan aku minta kamu, eksistensi kamu, untuk hadir meskipun bentuknya hanya sebatas pesan berkabar."
"Kamu memang hadir, beberapa saat, beberapa kali. Selebihnya, aku ngerasa kamu ga pernah lagi hadir sekalipun chat kamu selalu mampir,"
Kami terdiam, sedikit lama mengulur waktu untuk bersuara kembali. Kepalaku penuh dengan tanya kenapa, namun tak sanggup kuungkapkan. Sedang ia, mungkin, masih berusaha mengingat momen atau apapun itu yang bisa kurasakan tak ada penyesalan disana. Penuh dengan pembelaan untuk dirinya, seakan tak ada cela dari seluruh sikapnya. Asumsi sialan, batinku lagi-lagi mengutuk.
"Aku harus bagaimana lagi?"
Kusudahi senyap berkepanjangan itu dengan frustasi. Namun ia masih diam, terus diam. Diamnya tak hanya mengulur waktu, namun juga mengular jarak. Selama itu, sejauh itu. Hingga aku tersadar, sosoknya tak lagi ada di hadapanku.
Hingga aku sadar, ilusi ini benar-benar terasa nyata di kepalaku.













