Menjadi dewasa tidak selalu menyenangkan.
Semakin kamu tumbuh, semakin banyak pula orang yang akan kamu temui, kamu kenali, kamu benci hingga kamu sayangi. Orang-orang itu datang silih berganti dikehidupanmu. Sebagian mulai kamu butuhkan kehadirannya, sebagian lagi mulai tidak kamu inginkan kedatangannya. Sebagian membuatmu merasa sangat nyaman melewati hari-hari, dan sebagian yang lain membuatmu selalu terusik. Harimu akan disibukkan dengan tegur sapa, temu rindu, atau sebatas basa basi saja. Itu dinamakan pertemuan.
Namun, mereka tidak selamanya bisa kamu temui. Suatu hari, satu persatu jumlahnya akan berkurang. Ada yang menghilang, ada yang memang sengaja meninggalkanmu, ada yang justru kamu tinggalkan, hingga ada yang pergi karna Tuhan ambil kehidupannya. Kamu akan menangis sampai suaramu habis, sampai matamu bengkak, sampai kepalamu nyeri. Hatimu hancur dan kamu amat sangat disiksa perihnya kehilangan. Kamu mulai merasa sepi sesekali, kamu mulai sering bertanya didalam hati; “Mengapa dia pergi?”. Itu namanya perpisahan.
Dik, menjadi dewasa kadang melelahkan.
Semakin hari, bebanmu semakin menumpuk. Kamu harus memikul tanggung jawab yang besar untuk hidupmu sendiri, mungkin juga untuk kehidupan orang lain. Sebagian dari mereka yang hidup bersamamu menaruh harapan dan kepercayaan mereka kepadamu. Sementara sebagian lagi berusaha keras menghancurkan apa yang sudah kamu rakit dengan cucuran keringat.
Suatu hari dengkulmu mungkin gemetar, suatu hari bibirmu menggigil, suatu hari tanganmu terlalu lemah untuk menggenggam. Namun kamu terus berusaha tetap berdiri. Bukan hanya untuk dirimu, tapi untuk orang lain yang kamu rangkul bahunya.
Suatu hari juga, kamu mungkin tidak mendapatkan apa yang kamu inginkan, padahal kamu sudah sangat berusaha untuk mendapatkannya. Kamu mungkin diremehkan orang lain, kamu mungkin dikucilkan, usahamu terabaikan. Ekspektasimu terlalu tinggi, namun kenyataan terlampau rendah. Kamu menangis tersedu dan tidak berhenti mengadu. Yang kamu butuhkan adalah pelukan, elusan lembut dipunggungmu, belaian tulus dirambutmu. Inilah yang sering kita sebut perjuangan.
Nanti, akan datang masa dimana kamu harus memutuskan sebuah pilihan yang rumit, pilihan yang membuatmu tidak bisa bernapas lega, pilihan yang membuatmu tidak bisa memejamkan mata. Kamu dipaksa untuk mengikhlaskan sesuatu, demi mempertahankan sesuatu yang lain. Kamu dipaksa untuk merasakan sesuatu yang menyakitkan, demi kebahagiaanmu atau bahkan demi kebahagiaan orang lain. Jika kamu mengalami ini, kamu akan mengerti apa itu pengorbanan.
Namun, Dik. Menjadi dewasa tak selalu menyeramkan.
Kamu akan mengalami suatu masa dimana tidur pun tak nyenyak lantaran malam tak kunjung berakhir, kamu sangat bersyukur ketika pagi menjelang, kamu sangat bersemangat menyambut hari, kamu terus tersenyum sampai membuat orang disekelilingmu keheranan, matamu berbinar, hatimu serasa dipenuhi bunga dan gula gula. Hanya karena seseorang.
Meski, suatu hari. Seseorang itu melumat harapanmu, menghancurkan bunga dan gula-gula dihatimu, membuat pagimu menjadi menyebalkan, membuat bibirmu jadi lupa untuk tersenyum. Itu patah hati. Tenang, nanti bisa sembuh lagi.
Dik, menjadi dewasa bukan pilihan, bukan pula ancaman. Menua dan menjadi dewasa adalah sebuah keharusan. Duri dan kerikil akan selalu ada disetiap jalan yang kamu lewati. Sehat dan sakit, temu lalu pisah, benci dan membenci, susah kemudian mudah, jatuh hati hingga patah hati, diremehkan atau disanjungkan, mendapatkan sampai kehilangan. Kamu akan melewati fase itu semua. Fase yang menyenangkan, dan fase yang menyakitkan.
Satu hal yang harus kamu tahu dan harus selalu kamu ingat adalah, bahwa Tuhan selalu memiliki maksud yang indah atas segala hal yang terjadi kepadamu dan Tuhan tidak pernah ingkar janji. Kamu hebat karna kamu tetap bertahan hingga detik ini, kamu hebat karna kamu tetap tersenyum meski matamu masih sembab sisa menangis semalam, kamu hebat karna kamu tetap menggenggam harapan dan impianmu walau terkadang dunia menertawakanmu.
Jangan menyerah, jangan sesekali melambaikan tangan dan mengatakan “sudah”. Karna belum, hidupmu belum berakhir jika Tuhan belum menutup buku kehidupanmu. Kamu masih harus berdiri disini, karna nanti kamu akan memangku anak cucumu untuk menceritakan hal serupa seperti apa yang aku ceritakan kepadamu hari ini.
Menjadi dewasa memang tidak selalu menggembirakan, namun tidak juga selalu menyakitkan. Kamu hanya perlu menghadapinya dengan tatapan yang mantap, bahu yang tegap, dan kepalan tangan yang siap.
Bekasi, 26 July 2019. 1:59pm.