#BirthStory Part 2 : Mengaku Lelah
Aku sudah cukup sering mendengar atau membaca dari cuitan para ibu di linimasa, katanya "lebih baik langsung operasi daripada harus diinduksi" karena katanya banyak kejadian persalinan yang akhirnya mengharuskan tindakan operasi setelah berjuang melewati serangkaian kontraksi yang diinduksi. Sakitnya tentu jadi bertambah berkali lipat.
Namun, agaknya aku akan jadi ibu yang keras kepala. Saat itu aku tetap ingin melahirkan normal untuk mengupayakan fitrah, walaupun telah diberi pertimbangan beberapa kali terkait riwayat kehamilanku, kami bersikeras. Toh bayinya sehat, aku tidak memiliki resiko, dan ini persalinan pertama kali yang akan menentukan untuk persalinan berikutnya (jika Allah menghendaki). Selain itu, aku merasa sepertinya aku memiliki trauma dengan operasi kuretase di dua kehamilan sebelumnya, walaupun sebenarnya aku tidak merasakan apa-apa karena dibius total.
Kembali ke hari persalinan, aku mendatangi informed consent persetujuan melakukan IMD; inisiasi menyusui dini. Aku bersyukur ternyata RS-nya mendukung ASI Eksklusif. Beberapa saat sebelum dipindahkan ke ruang bersalin untuk mulai proses induksi, aku berujar kepada suami "kayaknya pain tolerance-ku cukup tinggi" entah aku terlalu percaya diri atau aku mencoba menguatkan diri haha bismillah saja.
Pukul 10.00 pagi proses induksi dimulai, dari pembukaan tiga. Sejak semalam aku menghitung durasi dan frekuensi kontraksi yang datang dan alhamdulillah masih terkendali. Aku mencoba mengatur nafas tiap kali gelombang cinta itu datang. Aku masih bisa menikmati snack dan makanan yang disediakan di setiap jam makan. Sholat dzuhur juga masih bisa disempatkan walau hanya dilakukan di ranjang. Tapi ternyata saat kupelajari lagi, ada pendapat ulama yang mengatakan itu sudah masuk masa nifas ya karena sudah ada darah yang keluar saat proses persalinan (?)
Menjelang waktu ashar kontraksi semakin intens, badan rasanya semakin susah digerakkan, hal yang paling menyusahkan adalah ketika aku harus buang air, tidak nyaman sekali memposisikan diri dengan pispot. Badanku semakin terasa sulit digerakkan, miring kanan miring kiri bahkan terlentang pun tidak nyaman. Infusan induksi beberapa kali tertahan karena aku terlalu menarik badan terlalu jauh. Pada pembukaan tujuh terdengar suara seperti gelembung pecah, kurasa itu air ketubanku.
Nafasku yang awalnya terkendali inhale-exhale mulai tak beraturan, aku sudah kehilangan hitungan, aku mencoba menahan nyeri, sesekali bergumam dan merintih kepada suami sembari berdzikir untuk menguatkan diri. Ia membimbingku untuk bernafas, aku sudah semakin tidak tahan, mata melotot dan mencengkram lengannya. Aku tidak berteriak tapi mungkin seperti mengerang, dan kurasa suaraku semakin keras terdengar di satu ruangan. Aku ingat yang ada dalam pikiranku saat itu adalah "Hah gila! apaan apaan ini? gini banget induksi?!" sempat terlintas di pikiranku bagaimana jika aku memilih operasi saja, namun aku masih "penasaran" ingin menyelesaikan proses yang telah kumulai.
Entah di kontraksi ke-seratus-berapa, aku mulai merasa lelah dan ingin memejamkan mata sebentar saja, walaupun aku tahu itu tidak boleh. Suamiku sampai menggoyang-goyangkan tubuh, khawatir aku hilang kesadaran. Saat itu menjelang pembukaan lengkap, sudah masuk waktu maghrib. Ibuku baru datang pulang kerja dan masuk ke ruang bersalin, walaupun sebenarnya pasien hanya boleh didampingi satu orang, ibuku menggunakan privilese-nya sebagai sesama nakes. Love you, ibyu <3
Saat pembukaan lengkap, aku sudah lelah sekali seharian menahan kontraksi. Bidan telah bersiap, ibuku mendampingi, suamiku beberapa kali bolak-bolak keluar masuk. Aku sempat bergumam lirih "Capek.." dan itu terdengar oleh seorang bidan senior, "Lah udah capek? Katanya mau lahiran normal, udah waktunya ngejan ini" omongannya mungkin wajar jika menyakitkan, tapi saat itu aku juga tidak sempat baper dan malah bersyukur, karena walaupun bidan itu nyinyir dia juga mendukung, membuatkan teh manis agar aku kembali mendapat energi.
Ternyata butuh waktu lama untuk mengeran dan mengeluarkan bayi di dalam perutku yang katanya sudah terlihat kepalanya. Aku sudah kelelahan dan berulang kali disalahkan karena tidak bisa mengeran. Waktu terus berjalan, ibu menguatkanku untuk terus merapal doa. Mungkin ia khawatir karena aku tidak terlihat berdoa, tapi sejujurnya aku sudah tidak sanggup banyak berkata-kata, jadi kulakukan dalam hati saja.
Satu jam terlewati, satu jam setengah, para bidan sudah menawarkan untuk lanjut operasi jika tidak keluar juga. Namun kami, kali ini aku, suami, dan ibuku meminta waktu untuk mencoba lagi, bahkan belakangan kutahu suamiku sudah menandatangani surat persetujuan penundaan tindakan. Kuyakin mereka kesal karena kami pasien yang keras kepala. Namun syukurnya mereka tetap mendukung apa yang kami pilih. Kini yang berdoa tidak hanya kami bertiga, ketiga bidan yang menangani pun turut berdoa sembari menguatkanku untuk mengeran, sampai kami diberi waktu 10 menit terakhir, kalau belum berhasil juga aku harus operasi. Sejujurnya aku memang sudah kelelahan, namun aku yakin Allah akan bantu, entah berapa menit lagi aku yakin Allah yang akan mengeluarkan bayi ini, walau tenagaku sudah tersisa-sisa seadanya. Bismillahilladzi laa yadhurru ma'asmihi syai'un fil ardhi wa laa fis samaa' wa huwas sami'un 'alim.
Pukul 20.19 bayi dalam perutku berhasil keluar setelah tindakan episiotomi. Selang berapa detik, aku belum mendengar suara tangisannya. Aku mencoba menghitung 1,2,3 kemudian terdengar suara tangis yang agak lirih. Alhamdulillah, anakku sudah lahir. Entah bagaimana bentukanku saat itu, aku hanya bisa terkulai di ranjang bersalin sambil berharap akan segera melakukan IMD. Namun bidan membawa bayiku dan katanya ia masih harus diobservasi karena terlalu lama berada di jalan lahir.
Ya Allah, fisikku sudah lelah namun pikiranku jadi bertambah, "apa yang terjadi dengan bayiku? apa dia baik-baik saja? Aku ingin melakukan IMD". Katanya rasa sakit yang luar biasa itu akan hilang saat melihat sang bayi, tapi ini aku belum bisa melihatnya..


















