Talitaâs Love Journey : Teguh (Last Part)
Hal buruk terus terjadi. Bahkan di hari yang sama, Jumâat 26 November 2021. Aku menangis sekencangnya, Dia pun begitu. Aku dan dia sama-sama kehilangan. Sudah tidak memiliki tempat pulang. Aku tidak pernah menyangka hubungan ini akan serumit ini. Berbulan-bulan kami depresi berat bahkan sudah merencanakan untuk bunuh diri bersama. Ini bukan hanya soal pernikahannya yang sudah didepan mata, ada hal lain pula yang sudah berbulan-bulan kami pikirkan jalan keluarnya, tetapi malah berakhir bencana.
âKami saling kehilanganâ
Aku ingat sekali saat itu aku masih di kota bagian selatan Jawa Timur. Menangis sendirian. âAyo kita lari saja, aku jemput kamu sekarang dari Jakarta.â Aku sudah lama resign dari pekerjaanku, gara-gara hal ini pula. Akhirnya aku pulang dengan menahan sakit, berkemas dan menunggunya menjemputku.
âApa tidak lebih baik kita omongkan saja semua yang terjadi kepada keluargamu, keluargaku dan keluarga calonmu ?â Dia menolak. Dia tidak sanggup menceritakan apa yang telah terjadi pada keluarganya. Aku tahu dia kalut, dia bingung. Akupun begitu. Kita perlu tempat untuk berpikir dulu, menjauh dari masalah hal ini.
DItempat yang sudah kita janjikan. Kami bertemu. Dia memelukku erat sekali sambil menangis. Aku tau dia lebih bingung daripada aku. Berbulan-bulan kita bertengkar hebat, menguatkan ego masing-masing, dan berakhir kembali saling menguatkan. Karena sudah tidak ada lagi tempat pulang, selain kepada satu sama lain.
Aku bertolak ke Jakarta dengan barang seadanya. Saat itu juga dia berpindah kos, aku turut membantunya pindah. Aku tau pelarian ini hanya akan menambah kesalahanku dikeluarganya. Kita berganti nomer bersama. Menghilang. memulai hidup baru berdua, tanpa tujuan tanpa harapan. Kami tersesat.
Di hari yang seharusnya dia menikahi calon istrinya, aku melihat dia sama sekali biasa saja. Seakan lupa, sedangkan hari itu benar-benar aku ingat. Hari yang akan menjadi hari patah hati terparahku. Tapi ternyata hari itu telah terjadi lebih dulu, pada akhir November kemarin.
âMeskipun kamu hamil Lit, ibuku tetap tidak akan menerimamu.â
Aku ingat betul perkataan itu. Astaghfirullahaladzim, seakan aku ini manusia hina hingga tidak diperdulikan perasaannya. Ibuk, aku tidak pernah sedikitpun membencimu. Tapi setega itukah engkau ? Bagaimana perasaanmu jika hal ini terjadi pada anakmu ? Cucumu ? Tegakah engkau ?
Sudah sebulan berjalan aku di Jakarta. Aku bahkan tidak mengabari keluargaku dirumah. Aku takut, aku malu. Aku tidak tau apakah orang tuaku sudah tau yang sebenarnya. Apa yang sudah terjadi diantara tiga keluarga ini, aku sungguh tidak tau. Sampai akhirnya, aku memberanikan diri untuk menghubungi kakak perempuanku. Dia menelepon dan langsung menangis. Dia bilang ibuku dan kakakku sakit memikirkanku yang hilang. Hingga hampir saja keluargaku mendatangi rumah Teguh.Â
Aku akhirnya kembali menghubungi keluargaku. Aku bilang aku masih tidak bisa pulang. Aku sudah bekerja disini (entah disini dimana yang pasti aku belum bisa pulang). Nanti saatnya aku akan pulang. Aku akan mendiskusikan ini dulu dengan Teguh. Aku tau dia hanya memilikiku sekarang.
âAku tau kamu sudah menghubungi kakakmu kan, Lit ?â
Aku tau dia mengawasi chat Whatsappku dengan kakak perempuanku. Akhirnya aku ceritakan semuanya. Aku ijin padanya untuk pulang sebentar. Ibuku sakit. Aku janji akan kembali.
Mengapa aku berani untuk kembali pulang ? Aku membaca salah satu ceritanya di Macbook yang dia pakai biasanya. Dia ingin meninggalkanku dan hidup sendirian. Aku tau aku tidaklah cukup baginya. Aku juga tidak mau dia menjadi anak durhaka. Dia masih memiliki ibu. Dia harus kembali. Meskipun aku harus kehilangan untuk kedua kalinya. Tidak mengapa. Karena cerita ini tidak akan menjadi happy ending seperti kisah-kisah lainnya.
Dia juga sempat pulang. Bukan pulang kerumah, tapi menuntaskan hutang-hutangnya. Teguh bukan tipe orang yang memiliki rencana jangka panjang. yang dia rencanakan paling panjang hanya sampai sepekan kedepan. Yang dia tau, dia tidak tau kapan hidupnya berakhir jadi dia maksimalkan hidupnya hari ini.
Kita sudah melewati banyak hal. Aku membantunya menguruskan claim BPJS, kebutuhannya, jalan-jalan, semua bersama. Tidak ada batas, tidak ada rahasia. Tapi ketika kita membicarakan masa depan. Kami selalu terdiam, seakan semua tidak ada ujungnya. Ini hanya pelarian. Ini akan berakhir.
Akhir Maret, dia mulai menghubungi kakak laki-lakinya. Dia melihatku sudah kembali pulang, diapun ingin kembali pulang. Sebentar lagi Romadhon, momennya sangat pas untuk âpulangâ. Tiga hari sebelum Romadhon, Teguh mengajakku pulang. âaku ingin sahur dirumah.â Sebelum pulang dia ingin mengajakku berziarah di beberapa wali, dan juga seseorang di selatan Jawa Timur. Tapi aku menolak, aku tidak sanggup. Masih terlalu melekat diingatan. Akhirnya kita hanya berziarah wali saja.Â
Sampai di suatu malam. Hujan deras sekali.
âapa yang harus aku katakan pada keluargaku?â
âkatakan saja apa adanya yang terjadi.â
Teguh menawarkan untuk membuat cerita baru dimana dia gagal menikah karena aku atau menceritakan semuanya lalu kita berdualah yang sama-sama disalahkan. Jujur aku tidak tau apa yang dia ceritakan saat itu, yang aku tau, aku memintanya mengatakan semuanya apa adanya. Sebab, mau seperti apapun alasannya, aku akan tetap menjadi kambing hitam.
âLit, jangan lama-lama yah dirumah. aku butuh kamu.â
Aku terus bersholawat ketika dia menuju rumahnya. Aku takut sekali. Sebab ini bukan hal kecil. Pernikahan yang hanya menghitung hari, gagal terjadi. Aku tidak tau seperti apa ibunya memarahinya, seperti apa adik laki-lakinya memakinya, seperti apa kakak-kakaknya membentaknya. Ingin sekali aku menemaninya. Meskipun aku tau bisa saja aku diludahi oleh keluarganya. Karena hal ini tidak seharusnya dia tanggung sendiri, harusnya aku ikut disana. Menggenggamnya erat.
Seharian Teguh tidak menghubungiku. Aku panik sekali. Sampai keesokan harinya, baâda maghrib, dia mengirimiku pesan. Sangat singkat.
âAku kembali ke Jakarta. Baik-baik dirumah ya.â
Padahal saat itu belum malam Romadhon. Bahkan baru satu malam dia tidur dirumahnya. Ada apa ? Saat itu pula aku membeli tiket kereta. Dan bergegas ke Stasiun. Hampir saja terlambat. Tapi ternyata aku sampai di kereta. Tepat 3 kursi di depanku, aku melihat Teguh duduk memakai Airpods pronya. Ingin sekali aku duduk di kursi kosong disampingnya. Aku tau hal buruk telah terjadi padanya.
Teguh adalah seseorang yang sangat betah menyakiti dirinya, dengan mengesampingkan perasaannya, dan menelan mentah-mentah semuanya. Pagi harinya, aku duduk disamping kursinya. Teguh terlihat kaget. Tapi kali ini berbeda, dia yang dulunya sering tersenyum padaku, kali ini aku melihat kesedihan yang mendalam di matanya.Â
âIjinkan aku menemani Romadhonmu kali ini, Mas.â
Banyak hal yang aku lalui dengan Teguh (mungkin akan aku tulis lagi dengan judul Jakarta Bersamamu nanti). Sampai akhirnya sepekan sebelum lebaran, aku dimintanya pulang, Dan dimintanya pula agar tidak kembali lagi kesini. Dia peluk aku erat. Tidak ada perbincangan sama sekali soal apa yang terjadi dirumah. Kita terlalu fokus dengan puasa. Semenjak pulang itupun, dia belum menelepon ibunya seperti dahulu. Aku tau dia belum diterima dirumah, tapi dia tidak mau lagi denganku.
Dua hari sebelum lebaran, dia menghubungiku lagi. Dia menanyakan soal vaksin. Teguh memang tidak mau vaksin, jadi aku âmembantuâ-nya. Dengan mobilitasnya yang tinggi, tapi dia kekeuh tidak mau vaksin. Aku, yang bodoh dan polos ini selalu tidak tega dan ingin membantunya. Dia sempat bercerita kalau dia sepertinya tidak akan pulang. Sampai akhirnya dia memilih pulang di detik-detik terakhir mudik. Yah, sudah tidak ada kereta yang tersedia. Dia akhirnya memilih menaiki bus Jakarta-Surabaya. Enam ratus ribu wow ! Paginya tepat sesampainya di terminal dikota kami, dia memintaku datang, untuk mengambil beberapa barangku yang tertinggal. Menunjukkan kalau aku sudah tidak perlu lagi kesana. Aku hanya tertegun.Â
âAku anter pulang Mas?â
âTidak usah, aku sudah meminta kakakku menjemput.â
Setelah apa yang telah kita lewati bersama, hati ternyata memang bisa berubah. Tidak ada yang permanen didunia ini, entah itu perasaan atau bahkan bahkan diri itu sendiri.
Lebaran hari pertama, dia meminta maaf denganku lewat chat. Lalu dihari ketiga, dia menghilang. Pesanku hanya terus dibaca. Yah, dia sudah pulang.
Setelah berbulan-bulan tanpa kabar, aku kembali depresi. Akhirnya hari patah hati itu terjadi juga. Aku kehilangan, lagi. Dengan keadaan tanpa pekerjaan. Aku adalah orang yang mudah sekali overthingking, insecure dan pikiran-pikiran buruk lainnya.Â
âOke baik, kamu ingin kembali kan ? pastikan ini kembalimu yang terakhir.â
Akhirnya aku kembali (bahkan hingga aku menulis cerita ini). Kali ini semua sudah sangat berbeda. Dia sudah tiap akhir pekan menelepon ibunya. Beberapa kali aku juga mendengar kalau dia sudah mematikan notifikasiku, menghapus semuanya, bahkan mengatakan hal itu tepat satu ruangan denganku. Dia lupa aku disini, atau dia sengaja agar aku tahu ?
Teguh yang aku kenal dulu sudah sangat berbeda sekarang. Dia sekarang sudah sangat kasar, baik secara verbal maupun perilaku. Aku tau, dia ingin aku pergi. Tapi dengan melihatnya seperti ini, aku tau dia melawan dirinya sendiri. Ketika bersamanya berkali-kali dia menyakitiku, bahkan tidak peduli kepadaku seakan ingin aku segera pergi darinya.
Disisi lain, aku fokus mencari pekerjaan dari sini. Aku juga ingin mencari alasan, seharusnya aku memang tidak disini. Aku ingin pulang. Ternyata berharap kepada manusia memang menyakitkan. Ketika dia menyakitiku, dia lupa pernah begitu menyayangiku. Ketika dia tidak memperdulikanku, dia lupa pernah semembutuhkan itu denganku.
Teguh, aku masih ingin denganmu. Melihatmu menyakitiku, aku selalu teringat akan seseorang yang kita tangisi bersama saat itu. Tapi sepertinya, bukan jalan ini yang seharusnya aku tempuh. Aku akan belajar menjauh, dan meraihmu dari sisi lain.
(Cerita ini akan selalu disunting apabila perlu penambahan)
4 Agustus 2022 - Perpustakaan Cikini, Jakarta Pusat