Cara Mendidik kemandirian Anak Lelaki Ala Setia ?
Bagus untuk dibaca ~ by Setia Furqon Kholid
Sebelumnya saya berlindung pada Allah dari niat yang salah. InsyaAllah semua tulisan yang dibuat semata-mata bukan untuk riya . Tapi untuk berbagi inspirasi buat Sahabat semua.
Takut ada yang belum kenal, saya Setia Furqon Kholid (32th) Alhamdulillah.. dikaruniai Allah selama 9 tahun pernikahan dengan Ina Agustina (33th) ini 3 anak lelaki.. Setia Abdurrahman Fatih El-Hafidz (8th), Setia Muhammad Haikal El-Hafidz (7th), Setia Abdullah Saif El-Faruq (3th).
A Fatih, Ka Haikal dan De Saif punya karakter yang berbeda-beda.
A Fatih orangnya cool, higienis, jago gambar dan nulis, agak Introvert. Sebaliknya, Kaka Haikal orangnya hangat, mudah bersosialisasi, seneng dengan binatang dan alam, kritis. De Saif sepertinya gabungan dari kedua kakaknya 🤭
Saya lihat dari fenomena yang terjadi. Banyak anak orang sukses, tapi gagal dalam kehidupannya. Banyak orang tuanya kaya, tapi anaknya ga punya kemandirian dan menjadi benalu bagi orang tuanya.
KENAPA..?
Pertanyaan ini yang saya riset bertahun-tahun sama istri.. mencari ilmu, bertanya, sampai meriview bagaimana cara ayah saya mendidik saya.
Ternyata.. jawabannya adalah Kurangnya Kemandirian.
Berapa banyak anak hari ini yang:
✔️ Segala fasilitas dipenuhi, sampai tidak ada daya juang meraih sesuatu
✔️ Tidak berani mengambil keputusan, karena orang tuanya yang memutuskan semua. Dari masuk sekolah, milih jurusan, milih kuliah, sampai milih jodoh. Anak merasa tak punya kuasa mengambil keputusan
✔️ Menjadi parasit dan ga kreatif. Dari sekolah sampai mau nikah masih ngerepotin orang tua. Bahkan ga sedikit yang udah nikah masih minta bantuan orang tua untuk biaya bulanannya. Mending kalau orang tua mampu. Gimana kalau ga?
Alhamdulillah.. saya punya guru kehidupan pertama yang hebat. Ayah dan Ummi. Mereka sangat baik mendidik saya, walau kami dilahirkan dari keluarga sederhana (Ayah PNS, Ummi ibu rumah tangga) tapi mereka teladan baik buat kami.
Dari kecil saya dididik dalam agama yang kuat, setiap hari ada tugas di rumah (saya bagian sapu dan ngepel). Dan uang saku yang pas-pasan dikasih seminggu sekali (saya belajar manaje dan memutarkan untuk usaha).
Dari pembelajaran masa kecil juga belajar langsung dari yang sudah konsep keluarga inspiratif, seperti keluarga Halilintar (saya pernah coaching langsung beberapa kali dengan Pa Hali, Bu Gen, dan ke-11 anaknya).. juga dari berbagai teori yang kami dapatkan. Akhirnya ini yang kami lakukan:
1. Buat list pekerjaan rumah yang bisa dipilih tiap hari juga uang yang bisa didapatkan
Setiap hari, ada banyak pekerjaan dengan poin yang bisa mereka kumpulkan. Misalnya: cuci piring Rp. 2000. Sapu : Rp. 1000. Pel lantai Rp. 2000. Belajar mandikan adik Rp.2000. dll.
Secara tidak sadar mereka sudah belajar berhitung langsung. Menjumlahkan uang yang mereka kumpulkan.
Berapa banyak orang sudah dewasa sekarang, ngurusin baju yang belum dicuci aja ga bisa. Apalagi ngurusin rumah tangga?
Di kantor setiacorp saya terapkan hal yang sama. Ada piket kebersihan harian, bukan kami ga mampu bayar OB. Gampang banget kali, tapi saya ingin setiap tim belajar mandiri dan bertanggung jawab.
2. Menanamkan kebiasaan menabung
Saya dari kecil sudah terbiasa nabung. Alhamdulillah.. sampai hari ini kebiasaan itu terus dilakukan. Bahkan saya ga biasa didik berhutang. Kalau mau beli apa-apa ya harus cash. Beli motor cash, mobil cash, rumah cash. Belum punya uang? Ya nabung.
Itu juga yang saya terapkan sama anak. Fatih, Haikal udah punya celengan. Bahkan waktu sunatan, mereka punya uang cukup buat beli 5 Gram LM. Rencananya mau dibelikan kambing dan diternakkan. Biar bisa menghasilkan.
Kalau anak hari ini, apa-apa minta, ga dengan keluarga saya. Kalau mereka mau beli mainan, ya pake uang sendiri, mau jajan. Ya pake uang sendiri. Sesekali aja saya belikan untuk mengapresiasi kebaikan mereka, atau treatment kalau mereka sedang sakit.
3. Belajar bersedekah dan berbagi
Beberapa kali saya ajak Fatih dan Haikal berbagi ke orang-orang miskin di sekitar. Membawa beberapa nasi box dan membagikan. Sambil menanamkan ke mereka, bahwa uang yang kita kumpulkan jangan lupa berbagi dengan orang yang ga mampu.
Saya pernah terharu, saat mengajak mereka ke sebuah swalayan untuk beli mainan. Saya bilang, pakai uang sendiri-sendiri ya. Kaka Haikal kebetulan uangnya masih sedikit, A Fatih inisiatif mau bayarin adiknya.
Di kesempatan yang lain, Kaka Haikal yang traktir adiknya.
Saya dan istri juga kadang suka terharu saat mereka bilang, mau buatin Manda Yanda hotel, mobil yang bisa terbang, dll. Aamiin 😭😍
4. Selalu musyawarah untuk memutuskan sesuatu
Saya dari dulu terbiasa musyawarah sama ayah umi, bahkan sampai urusan beli rumah, dll sampai sekarang saya masih minta pendapat mereka.
Begitu juga saya terapkan pada anak-anak. Pendapat mereka dihargai, namun saya sebagai imam keluarga tetap yang memutuskan. Sampai keputusan untuk home schooling (untuk pembahasan ini, panjang.. nanti ya di lain kesempatan).
Masih banyak aplikasi lainnya yang sudah kami terapkan agar anak-anak belajar mandiri.
Di akhir tulisan ini, izinkan saya mengutip puisi seorang jendral yang bernama Douglas Mac Arthur yang berjudul Do'a untuk Puteraku
Tuhanku…
Bentuklah puteraku menjadi manusia yang cukup kuat untuk mengetahui kelemahannya.
Dan, berani menghadapi dirinya sendiri saat dalam ketakutan.
Manusia yang sabar dan tabah dalam kekalahan.
Tetap jujur dan rendah hati dalam kemenangan.
Bentuklah puteraku menjadi manusia yang berhasrat mewujudkan cita-citanya
dan tidak hanya tenggelam dalam angan-angannya saja.
Seorang Putera yang sadar bahwa
mengenal Engkau dan dirinya sendiri adalah landasan segala ilmu pengetahuan.
Tuhanku…
Aku mohon, janganlah pimpin puteraku di jalan yang mudah dan lunak.
Namun, tuntunlah dia di jalan yang penuh hambatan dan godaan, kesulitan dan tantangan.
Biarkan puteraku belajar untuk tetap berdiri di tengah badai
dan senantiasa belajar untuk mengasihi mereka yang tidak berdaya.
Ajarilah dia berhati tulus dan bercita-cita tinggi,
sanggup memimpin dirinya sendiri,
sebelum mempunyai kesempatan untuk memimpin orang lain.
Berikanlah hamba seorang putra
yang mengerti makna tawa ceria
tanpa melupakan makna tangis duka.
Putera yang berhasrat
untuk menggapai masa depan yang cerah
namun tak pernah melupakan masa lampau.
Dan, setelah semua menjadi miliknya…
Berikan dia cukup rasa humor
sehingga ia dapat bersikap sungguh-sungguh
namun tetap mampu menikmati hidupnya.
Tuhanku…
Berilah ia kerendahan hati…
Agar ia ingat akan kesederhanaan dan keagungan yang hakiki…
Pada sumber kearifan, kelemahlembutan, dan kekuatan yang sempurna…
Dan, pada akhirnya bila semua itu terwujud,
hamba, ayahnya, dengan berani berkata “hidupku tidaklah sia-sia”
*Setia Furqon Kholid
*Boleh di-SHARE. Semoga manfaat 😊