Kebobolan Part 2
Sepulang dari USG, otakku tak bekerja semestinya. Entah, rasanya enggan sekali beranjak. Bahkan kutunggu klinik sampai sepi.
"Gimana hasilnya?" Tanya Mama sesampainya aku di rumah.
"Ya positif. Hamil." Jawabku singkat.
Mama tahu mungkin aku masih syok. Itulah sebabnya ia berusaha menghiburku.
"Nggak apa-apa. Rejeki."
Dua bulan kemudian, aku kembali ke Jogja dan berusaha sekuat mungkin untuk menerima kenyataan.
Tak ingin jahat pada kehamilan kedua ini, USG sebulan sekali tetap kujalani. Vitamin terbaik pun tetap ku konsumsi. Hanya saja, euforia-nya cukup berbeda ketika dulu menyambut kehamilan pertama.
Namun ternyata, saat kehamilanku menginjak usia enam bulan, segalanya berbanding terbalik.
"Bagus. Semuanya lengkap, berat janin juga bagus. Detak jantung juga normal, ya." Ucap Dokter.
"Dok, udah bisa tahu jenis kelaminnya kah?"
Dokter tersenyum penuh arti.
"Yang pertama perempuan atau laki, Bunda?"
"Perempuan, Dok."
"Kalo perempuan lagi, gimana?"
"Ya .. Nggak papa lah, Dok. Cuma kepo aja. Hehe."
Setelah beberapa menit mencari tahu menggunakan alat USG,
"Wah ini ada menaranya ya, Bund. Kemungkinan sih cowok ya. Cuma belum tahu. Kita lihat lagi perkembangannya, ya." Ucap Dokter.
Entah, sejak saat itu ucapannya seolah berubah menjadi air telaga yang menyenangkan. Jika memang benar laki-laki, maka lengkaplah sudah rencana yang selama ini aku inginkan.
Oh, Allah.
Inikah rencana indah yang sekali lagi ingin Engkau tunjukkan?
Oh, ternyata rencana indahnya tidak berhenti sampai disitu. Bahkan detik-detik mendekati kelahiran Allah tidak pernah lelah mempermudah jalannya.
Bersambung ...











