Tahun 2014, tahun dimana saya mulai sering datang ke gigs-gigs dengan musik yang lebih kalem dan lebih banyak audiens ceweknya. 2014 mungkin menjadi tahun musik folk meroket untuk menjadi musik yang dinikmati banyak kalangan, dan faktor yang sangat berperan atas meluasnya musik folk adalah Folk Music Festival yang diadakan oleh SATSCO yang bekerja sama dengan Surabaya Townsquare. Festival musik folk yang diselenggarakan 2 hari berturut ini diadakan di atrium mall ternama di kota Surabaya.
Tempat yang sangat dekat dengan hiruk-pikuk kota tak menjadi sebuah masalah besar untuk menghadirkan suasana damai dan tenang dengan musik folk. Terhitung puluhan band yang mengisi acara tersebut selama dua hari yang memanjakan masyarakat Surabaya dan sekitarnya dengan alunan musik yang lembut dan romantis tentunya bagi beberapa kalangan.
Hari pertama festival diisi oleh line-up yang cukup menarik karena terdapat band asal Perancis, Briggite. Band dengan dua vokal perempuan yang sesekali menyapa penonton dengan bahasa perancis. Masih sangat membekas diingatan saya waktu itu ada satu penonton, satu, yang sangat excited dengan penampilan mereka dan sesekali juga menyapa balik dan mencoba untuk berkomunikasi dengan bahasa Perancis tentunya.
Sebelum Briggite, sebenarnya ada penampilan dari ban tuan rumah, yaitu Silampukau. Silampukau masih membawakan lagu-lagu yang lama dan saat itu lagu yang sangat menarik untuk didengar hingga kini adalah lagu mereka yang berjudul βHeyβ. Paska meledaknya album Dosa, Kota dan Kenangan, Silampukau juga sudah memiliki banyak penggemar. Terlihat pada saat itu juga banyak yang ikut menyanyikan tembang-tembang yang mereka bawakan.
Puncak acara hari pertama ditutup oleh band yang juga saya sangat tunggu kedatangannya, yaiu Angsa dan Serigala. Menebus keterlambatan saya untuk menghadiri gigs mereka di Surabaya sebelumnya, saya memilih untuk menunggu check sound mereka agar nanti saat mereka tampil saya sudah siap di baris depan. Meskipun sedikit kecewa karena personel band yang beberapa sudah diganti, seperti posisi drummer dan bassis yang diganti juga posisi violin yang tidak ada saat itu, tetap membuat saya sangat gembira karena akhirnya bisa menyaksikan mereka. Total kurang lebih 10 lagu yang mereka bawakan saat itu termasuk lagu favorit saya, Derik dan Waktu.
Hari kedua pagelaran Folk Music Festival 2014 sebenarnya adalah agenda dadakan yang akhirnya saya datangi dan justru hari itu adalah hari yang lebih menyenangkan.
Hari itu adalah kali pertama saya menyaksikan Satars and Rabbit yang eksentrik dan juga penampilan Tigapagi dengan musikalitas yang mampu menghadirkan suasana Sunda dan Jerman di Kota Surabaya. Tapi sayang saya melewatkan penampilan Float karena harus pulang.
Dua tahun berlalu, perkembangan musik folk sangat pesat. Kini muda-mudi yang pacaran di bawah pohon pun bermesraan sambil mendengarkan lagu-lagu dari Payung Teduh.
Dan pada akhirnya pada 2016 ini Folk Music Festival digelar kembali dan kini venue yang dipilih adalah Lembah Dieng, Malang. Musik folk pulang ke rumah.
FMF 2016, digelar di sebuah tempat wisata dengan panggung mirip amphiteater yang dikelilingi oleh danau. Sebuah kolaborasi paling menenangkan untuk sebuah konser. FMF 2016 kali ini diselenggarakan hanya satu hari dengan line up pengisi yang sangat menggugah hati untuk berangkat.
Band-band yang pernah tampil di FMF 2014 seperti Silampukau, Tigapagi, hingga Float kini datang lagi untuk menyapa para penonton yang kali ini datang dari pelbagai penjuru Indonesia.
Band-band lokal malang seperti Wake Up, Iris, Christabel Annora, dan Aurette and The Polska Seeking Carnivals turut meramaikan festival yfolk yang bisa jadi terbesar tahun ini.
Band β band yang sangat saya tunggu dan sangat ingin saya tonton pun hadir unutk memeriahkan pula.
Saya sangat antusias dengan penampilan Littlelute yang baru saja merilis albumnya yang bertajuk Traces of Dollface and Plots, FMF 2016 adalah acara yang membuka tur mereka dalam rangka promosi album. Dengan vokal perempuan yang imut dan diiringi oleh alat-alat musik mini menjadikan mereka band yang sangat saya ingin tonton lagi di kemudian hari.
Selain band-band yang memang mengusung musik folk sebagai genre primer mereka, ada beberapa band yang tak kalah menarik meskipun tidak bercorak folk seperti White Shoes And The Couples Company dan juga Mocca. Ini adalah kali ke-5 saya menyaksikan Mocca tanpa membawa pasangan. Still enjoy the show.
Perfomer yang paling saya tunggu adalah Danilla.
Ya, penyanyi jelita ini adalah pengisi acara yang masuk dalam have-to-watch list saya. Danilla yang malam itu memakai dress berwarna hitam tampil sangat memukau, meski hanya membawakan sekitar 5 lagu saja penampilannya tetap yang terbaik malam itu.
Tidak hanya Danilla saja yang membawakan set list pendek, Tigapagi juga membawakan sekitar 6 lagusaja. Meskipun berhasil mengundang gerimis sehingga menjadikan suasana semakin syahdu, mereka berhasil menenggelamkan ribuan jiwa yang hadir di Lembah Dieng malam itu kedalam alunan musiknya yang syahdu.
FMF 2016 diakhiri oleh penampilan Float yang untuk kali kedua saya lewatkan lagi. Semoga bisa bertemu dengan Float lagi di kesempatan yang akan datang. Padahal lagu Float yang berjudul Pulang bisa menjadi theme song FMF tahun ini yang berhasil mengantar pulang musik folk ke alam sebagai rumahnya bisa menjadi lagu yang syahdu bagi saya untuk mengakhiri perjumpaan dengan Folk Music Festival yang entah kapan akan diadakan lagi.
Singkat kata Folk Music Festival 2016 telah berhasil mempertemukan musik yang lembut, folk, dengan alam, rumah idealnya.