Bismillahi, kita mulai segala sesuatu yang baik dengan menyebut namaNya. Judul tulisan ini: 001, ini sebenarnya bukanlah judul, tetapi tulisan di hari pertama. Jika ada hari pertama tentu akan ada hari kedua, ketiga dan seterusnya, sampai kapan? Sampai 180 hari ke depan! Bermula dari keikutsertaan saya pada sebuah seminar motivasi yang diberikan oleh seorang penulis novel kenamaan, Darwis Tere Liye, penulis yang beberapa karyanya telah diangkat ke layar lebar, salah satunya yang cukup dikenal adalah novel hafalan shalat Delisa yang menceritakan sisi lain dari peristiwa tsunami yang melanda Aceh pada 2004 silam. Karena hobby membaca tentu saja saya menjadi suka juga bermedia sosial, membaca status dan tulisan-tulisan dari para penulis yang juga aktif bermedsos. Dari Fanspage Facebook Tere Liye-lah saya mendapat informasi mengenai seminar yang akan diadakan di Universitas Pamulang, sebuah perguruan tinggi yang terletak di Tangerang Selatan. Meski tanggal yang tertera 24 Desember bertepatan dengan hari sabtu yang merupakan hari libur kerja. Namun tidak menyurutkan langkah saya untuk mengikutinya. Apa lagi acara akan di mulai pukul 8.00 yang biasanya menjadi jam tidur saat libur kerja. Pagi cerah berawan, geliat mentari tampak enggan memancarkan sinarnya. Hawa dingin cukup membelai kulit, menggoda diri untuk terus menarik selimut. Cuaca kota Bekasi yang berada di pinggiran Jakarta ini masih sangat sejuk disebabkan masih banyaknya tanah lapang, kebun dengan berbagai tumbuhan yang membuat sirkulasi udara di pagi hari terasa menyegarkan. Setelah mandi dan berganti pakaian, saya mulai bersiap-siap, sarapan dengan telur ceplok dan nuget goreng tandas dalam sepuluh menit. Kopi pun mulai diseruput perlahan. Setelah tegukan terakhir, langsung saya menyambar jaket coklat yang tergantung di jemura belakang, sudah seminggu ini ia dipakai menemani perjalanan ke kantor. Hari ini harusnya jadwal si cokkat dicuci, tetapi karena ada acara seminar ini jadwal itu jadi tertunda. Motor Honda Blade kesayangan sudah menunggu, langsung stater dan tancap gas. Menyusuri pinggiran jalan Tol mentari perlahan menggeliat mengintip dari balik mega yang berselubung mendung. Hangatnya mulai memanjakan tubuh. Namun, desir angin dari arah berlawanan masih terasa menyejukkan. Semburat jingga di ufuk timur perlahan berubah kekuningan pertandan sang surya semakin menjauh dari ufuk. Acara sesuai jadwal akan dimulai jam 8.00 pagi. Sangat teramat pagi untuk sebuah seminar. Dari applikasi peta pada ponsel saya menjadi tahu jarak yang harus ditempuh dari rumah ke tempat acara kurang lebih 30 kilometer. Jam 06.30 saya sudah harus berangkat agar tidak terlambat dan juga terjebak macet! Hari sabtu sih memang, tapi kadang kondisi jalan jabodetabek ini sulit untuk diprediksi. Kita kira akan lancar ternyata macetnya nggak ketulungan, pun sebaliknya. Saya terus memacu sepeda motor dengan kecepatan sedang, sesekali melambat mengikuti laju kendaraan yang ada di depan. Tiba di perempatan bundaran pintu tol jati warna stang kubelokkan ke kanan. Melalui jalan Hankam yang cukup lengang pagi itu. Sesekali terdengar suara dari bagian bawah motor diikuti dengan terangkatnya jok karena membal-nya shock breaker saat roda menghantam lubang jalan. Badanku pun terasa terangkat beberapa senti ke atas. Tidak banyak kendaraan yang lewat karena selain sabtu, saat itu tanggal 24 desember, banyak orang yang sudah berlibur. Udara masih terasa sejuk, bulan desember sampai dengan februari adalah puncak musim hujan di daerah tropis. Memasuki daerah terminal kampung rambutan di sebelah timur Jakarta volume kendaraan semakin meningkat. Selain kendaraan pribadi berseliweran juga angkot dan bus berbagai ukuran dari yang kecil, sedang hingga besar. Ini salah satu terminal yang cukup tua yang seingatku mungkin mulai beroperasi sekitar akhir tahun 80an sebagai pengganti terminal Cililitan yang sudah terlampau sesak tak bisa lagi menampung angkutan umum di dalamnya. Sedari kecil tinggal di Jakarta membuat saya menjadi peka, bagaimana masing-masing wilayah Jakarta mempunyai ‘rasa' yang berbeda, rasa yang khas. Sewaktu kecil saya tinggal di daerah Kebayoran Baru, Jakarta Selatan. Bukan di daerah elit dan mewahnya. Namun, tepatnya di jalan Senopati dalam, sebuah perkampungan yang luas membentang dari mulai depan Ratu Plaza sampai dengan belakang kantor Polda Metro Jaya. Ada kampung Tulodong, Pencandran dan Senopati dalam. Meski penduduknya sudah bercampur dari berbagai daerah, tetapi banyak masyarakat betawi asli yang kita temui disini. Kerukunan, kebersamaan dan kekompakkan warga asli dan pendatang begitu kental turut menciptakan suasana damai nan tenteram. Dulu disana masih terdapat banyak tanah kosong juga kebun. Kami yang saat itu masih kanak-kanak tak pernah kekurangan tempat bermain. Berburu buah di kebun orang jadi rutinitas harian. Tak jarang kami dikejar-kejar bahkan ditimpuki dengan batu oleh pemilik kebun yang memergoki kami tengah memetik buah di kebunnya. Meski demikian kami tak pernah jera, selalu mengulangi setiap ada kesempatan. Kenangan masa kecil yang indah dan penuh persahabatan. Lingkungan yang saat itu masih asri nan damai membuat saya menyukai bagian selatan kota Jakarta ini. Saya pun mulai mengenyam bangku sekolah Taman Kanak Kanak, Sekolah Dasar dan Menengah Pertama disana. Teman-teman sekolah pun tentunya mereka yang tidak jauh berdomisli di sekitaran selatan Jakarta juga. Ada yang di Mampang, Kemang, Kebayoran Lama, Cilandak, Radio Dalam, Ciganjur, hingga area perbatasan dan luar provinsi DKI seperti Cileduk, Ciputat dan Depok. Motor yang saya kendarai mulai memasuki daerah kebagusan, kemudian ragunan. Suatu daerah yang juga merupakan bagian selatan Jakarta. Rasa tentram dan damai masa kecil itu kembali muncul laksana dejavu memutar kembali memori kenangan indah masa kanak-kanak hingga remaja tanggung. Saat yang indah kala semuanya berjalan tanpa beban, tanpa amarah dendam membuncah, tanpa rasa dengki yang mengikis jiwa, yang ada hanya cinta dan kedamaian. Setiap melintasi wilayah Jakarta Selatan, saya selalu merasa feel at home. Merasa disinilah tempat saya, disinilah rumah saya. Walau setelah dewasa ternyata takdir berkata lain. Saya kemudian dapat membeli rumah di daerah Jati Asih, Bekasi. Ya, Bekasi. Bekasi Selatan! Disini pun saya menemukan kedamaian itu, kedamaian laksana di kediaman saat saya masih kecil dulu. Kedamaian di belahan selatan. Tidak ada hal mistis apapun dalam hal ini. Wilayah bagian selatan lebih sejuk dan menimbulkan rasa damai besar kemungkinan dikarenakan daerahnya ada pada dataran yang lebih tinggi. Tidak seperti bagian utara yang lebih menjorok ke laut sehingga hawa panas anginnya pun terbawa sampai ke darat. Udara menjadi terasa panas menyengat ditambah aroma khas laut yang terasa menyejukkan namun sesungguhnya kering. Suasana panas kerontang ini mungkin berpengaruh pada prilaku, hingga orang-orang dari belahan utara menjadi terkesan angker dan menyeramkan. Daerah-daerah texas yang terkenal bronx dan ditakuti juga sebagian besar berada di wilayah utara Jakarta. Sebut saja misalnya daerah Tanjung Priok, Kebon Bawang, Warakas, Semper dan lain-lain. Mendengar namanya saja orang sudah bergidik ngeri. Wilayah utara juga memiliki tingkat kepadatan penduduk yang tinggi. Sedang semakin tinggi tingkat kepadatan penduduk akan semakin rawan konflik pula. Ibarat sumber api yang menunggu pemantik, sekali terpicu akan beringas membakar, melumat semua tanpa sisa.