Pappah yang terbaik. Terima kasih untuk segalanya ya, Pah. Maafkan istrimu yang masih banyak kurangnya ini :')

@theartofmadeline

if i look back, i am lost

Discoholic 🪩
Sweet Seals For You, Always

Origami Around
let's talk about Bridgerton tea, my ask is open
Show & Tell

oozey mess

Love Begins
hello vonnie
Game of Thrones Daily
NASA

KIROKAZE

Andulka

shark vs the universe

JVL
Today's Document
Xuebing Du

seen from United States
seen from Indonesia

seen from United States

seen from Türkiye
seen from Chile
seen from United States

seen from Colombia
seen from Uzbekistan

seen from United States
seen from United States
seen from United States
seen from United States
seen from United States

seen from United States
seen from United States
seen from United States
seen from United States

seen from United States
seen from United States
seen from United States
@dedoubleyou
Pappah yang terbaik. Terima kasih untuk segalanya ya, Pah. Maafkan istrimu yang masih banyak kurangnya ini :')

Anya is live and ready to show you everything. Watch her strip, dance, and perform exclusive shows just for you. Interact in real-time and make your fantasies come true.
Free to watch • No registration required • HD streaming
Welcome to the World of Pregnancy
Tak terencanakan memang, kehamilan ketiga ini mulai dicurigai setelah telat menstruasi 2 minggu. Padahal siklus mensku selalu lancar dan tepat waktu, 28-30 hari. Patokannya lucu pula, hari pertama survei KSA setiap bulannya. Wkwkwk...
Sudah tiga kali hamil, ketiganya sama-sama ketahuan setelah melakukan perjalanan jauh yang cukup ekstrem.
Waktu hamil kakak Nada tahun 2014, masih cuti magang, ikut pappahnya bertugas di Pulau Buton. Siang hari menyetrika pakaian pappahnya yang akan mengikuti pelatihan SPTK di Kendari. Malamnya ikut mancing di pelabuhan sampai pukul 01.00 dini hari. Paginya ikut pappahnya ke Kendari via darat, naik motor dinas besar. Mampir-mampir di beberapa kecamatan karena sekalian pengawasan Survei Subsektor ST2013. Mampir ke rumah KSK juga, makan banyak ketiping dan minum kelapa muda! Sempat lewati jalan berlumpur di daerah Kolono sampai aku jatuh dari motor dan hampir pingsan. Padahal itu jalannya masih di tengah hutan. Sampe Kendari setelah di hotel seharian nunggu suami pelatihan, malamnya baru ke Obgyn dan ternyata positif hamil. MasyaAllah, kakak Nada kuat sekali dalam perut bunda.
Hamil kedua tahun 2018 sudah menetap dan bertugas di Buton, menjadi tim Sosial di 3 kabupaten. Sebelum ketahuan hamil, aku menemani Kabid Sosial dari provinsi pengawasan Sakernas ke seberang di Kabupaten Buton Tengah. Waktu itu jalanan di sana masih jelek. Pulangnya, kami menaiki kapal ferry dengan cuaca buruk. Angin kencang dan hujan deras. Ombaknya sangat tinggi sehingga kapal seperti menabrak tembok ketika menghantamnya.
Dan sebelum ketahuan hamil ketiga ini.. Lagi-lagi karena kerjaan, semua pegawai satkerku menghadiri Rakorda se-provinsi di Berastagi, Kab Karo. Cukup jauh dari rumah kami saat ini, kurang lebih 10 jam perjalanan dengan waktu istirahatnya. Lokasi Rakorda di Gedung Teater Mikie Holiday mengharuskan kami berjalan naik turun bukit. Setelah 3 malam 2 hari di Berastagi lanjut keesokan harinya jalan-jalan kantor ke Laukawar, dekat Gunung Sinabung. Mana aku jadi ketua panitia jalan-jalan.. Jadilah aku cukup sibuk mengatur jadwal, memberi petunjuk lokasi, mengoordinir foto bersama dll.. Alhamdulillah seneng juga karena acaranya lancar dan bisa bikin temen-temen sekantor bahagia. Meskipun sudah feeling karena bawaannya mulai gak enak makan dan ngantuk mulu.
Sehari setelah tiba di rumah baru berani tes pake testpack, dan bener.. dua garis. Tiga hari kemudian, tepatnya tadi malam baru ke Obgyn, say hello sama adek bayi lewat USG. Alhamdulillah adek bayi sehat meskipun mamaknya lasak kali kamarin-kemarin.. Seneeeng banget denger detak jantungnya.
Bismillah ya dek bayi, semoga kita kuat melalui trimester pertama yang MasyaAllah ini.. Kita punya pappah yang hebat dan kakak abang yang pinter-pinter.
Perjuangan kita baru dimulai...
Mimpi Mana yang Ingin Kau Peluk?
Ketika sekian banyak harapan itu tak terpetakan dengan jelas Sedangkan jika jelaspun aku sulit membacanya Karena terbiasa menjadi pengekormu Mengikut saja apa yang kau kehendaki Mimpi mana yang ingin kau peluk? Saat aku juga gamang dengan impianku sendiri Terbiasa mengikut saja apa inginmu Spontan, tanpa rencana, inkonsisten Mimpi mana yang ingin kau peluk? Saat seharusnya impianmu, impianku adalah impian kita Nyatanya sudah sejauh perjalanan ini pun Kita saling sulit memeluk semua impian itu
Unpredictable
Sebagai seorang statistisi ,walaupun taunya cuma mencacah dan mengawas di lapangan, saya paham betul, dengan mencatat fenomena-fenomena yang terjadi dapat menghasilkan angka statistik sehingga bisa memberikan gambaran terhadap suatu variabel. Dari situ juga kita dapat meramalkan fenomena yang terjadi terhadap variabel itu di kemudian hari. Tapi tidak demikian dengan TAKDIR. Entah kau dan aku adalah variabel yang berkolerasi atau tak saling mempengaruhi sama sekali, tak bisa diprediksi. Kita hanyalah bagian dari skenario Tuhan.
Untitled
Hidup seperti apa yang kau inginkan?
Ketika semua terasa tak sesuai harapan
Saat kaki ingin berlari kencang
Kau malah lupa, kau harus memulainya dengan satu langkah
Tapi aku sudah lelah
Bolehkah ku menyerah?
Sebab aku semakin jauh dari sempurna
Dan akan selalu ada hati yang patah karenanya

Anya is live and ready to show you everything. Watch her strip, dance, and perform exclusive shows just for you. Interact in real-time and make your fantasies come true.
Free to watch • No registration required • HD streaming
Rutinitas Pagi
(di Hari Kerja)
Sampe kantor Duduk Buka Laptop Buka epaper media lokal Cek kolom Opini Tulisan belum juga dimuat Mengsyedih Ambil headset Puter lagu di Yutub Mulai kerja dengan pasrah Hahaha.. Gitu aja mulu. Bukannya tulis, kirim, lupakan lalu semangat menulis lagi. Malah berharap pada satu yang tak pasti. Dasar kamu. *toyordirisendiri*
List to do kerjaan banyak. Tp pengennya nulis Opini aja :3
Kuliah Lagi?
Satu per satu teman-teman seangkatan di STIS mulai menyandang gelar S2. Sementara saya? (Curhatan ini dimulai dengan ngebandingin diri sendiri sama orang lain.. Haha..) Bukan tak ada niatan untuk melanjutkan pendidikan lagi. Bukan juga tak pernah mencoba. Walau baru 2 kali percobaan dan gagal. Saya tau, mereka juga melalui proses panjang yang tak mudah. Bahkan pernah gagal dan gagal berkali-kali. Tak seberapa dibanding effort yang sudah saya lakukan (yang memang effortnya gak seberapa, wkwk). Umur saya juga semakin bertambah. Semakin terhimpit dengan batas umur yang ditetapkan sebagai persyaratan memperoleh beasiswa S2. Lalu apa lagi yang saya tunggu? Entahlah.. Rasanya menjadikan pekerjaan yang menumpuk sebagai alasan tidak bisa diterima. Karena pekerjaan di instansi ini tak ada habisnya. Menjadikan anak sebagai alasan pun rasanya saya adalah working mom yang terlalu lemah. Sebab masih ada seorang ibu beranak 5 yang bisa kuliah lagi. Atau seorang ibu yang menjalani masa kuliah sambil menyusui new born baby-nya. Terlalu nyaman, maybe... Bertugas di kampung halaman memang memberikan kenyamanan istimewa. Bahagia rasanya dekat dengan orang-orang tercinta. Berkunjung ke rumah ortu, menghadiri pernikahan sepupu, ketemuan sama teman-teman sekolah, bawa anak-anak jalan-jalan, menjenguk sodara yang lagi sakit. Ya, banyak hal yang semula tidak bisa saya lakukan ketika merantau. Hingga rasanya kebahagiaan itu begitu lengkap meski belum S2. Membuat semangat mencoba apply beasiswa semakin menguap. Hidup memang bukan perlombaan. Tentang siapa yang sudah S2. Atau punya anak 5. Atau kalau di sini, punya kebun sawit berhektar-hektar. Tapi tetap.. Salut buat teman-teman yang sudah berhasil mewujudkan satu per satu mimpinya. Yang penting kita bahagia. Dan tetap semangat meraih impian-impian lain yang belum terwujud. Semoga ada kesempatan juga buat saya mewujudkan mimpi seperti pada judul tulisan ini... ^_^
By J.S. Khairen, penulis novel Melangkah.
Saya pernah berada di lingkaran pertemanan yang seperti ini. Selalu memberikan pesan pesimis yg tersirat. Maunya mereka, sy ini di bawah mereka terus. Dan bodohnya, sy aminkan ucapan mereka ini. Ketakutan muncul dan makin membesar, meski bisa aja kenyataannya tak sepahit apa yg mereka ucapkan. Mereka berupaya terlihat manis, seakan memberi saran, tp kebablasan. Sarannya lama2 menjerumuskan. Saat kita menolak, bilangnya “yaudah deh ya, udah gue bilangin ya, lo jangan nyesel blablabla.” Memang betul, yg mereka sampaikan memang benar terjadi, tapi ternyata tak semenakutkan itu. Setelah sy coba langsung sendiri, dgn keyakinan dan strategi yg dimiliki, perlahan hal itu tercapai. Tebak apa yg terjadi setelah itu? Ada dua yg muncul. Pertama, merasa dirinya paling layak dapat apresiasi, he takes all the credits, kedua yg tetap berupaya menjerumuskan bahkan mengata-ngatai di belakang. Intinya, inginnya sy ini di bawah mereka terus. Satu titik sy keluar dr lingkaran itu. Mereka melaju cepat di bidang mereka, tp sy melajunya kadang pelan, kadang tak menentu. Dunia mereka sy tak ikut campur, tp urusan sy betul2 direcoki. Sebulan dua bulan, setahun dua tahun, waktu berlalu. Ternyata, setelah berjarak jauh, baru terasa bahwa memang lingkaran itu racun sekali. Ternyata pula, akan selalu datang penggantinya yg baru. Kawan2 dan lingkaran yg jauh lebih solutif, apresiatif, dan sehat. Tidak banyak penggantinya, tp berkualitas. Kawan, orang2 seperti ini, langka. Jika kau menemukannya kelak, uhuy, beruntung bgt coy. Pertahankan!
Dan setelah berhasil keluar, kecepatanmu akan mengagumkan. Tak terbayangkan oleh mereka, bahkan olehmu. Makin merasa payahlah orang-orang itu.
Pelarian
Hi my tumblr! Kebiasaan deh saya ini kalo mau nulis Opini tuh gak kelar-kelar. Baru setengah jadi udah pindah topik. Gitu aja terus sampe idul fitri deketan sama hari natal.
Saya pernah baca suatu quotes, Tulisan yang baik itu adalah tulisan yang benar-benar selesai. Rasa-rasanya tulisan-tulisan saya yang benar-benar bisa selesai dengan cepat, bahkan hanya dalam hitungan detik, ya cuma di sini.
Selesai. Hahhahaaa....

Anya is live and ready to show you everything. Watch her strip, dance, and perform exclusive shows just for you. Interact in real-time and make your fantasies come true.
Free to watch • No registration required • HD streaming
Saya Hari Ini
Kamis, 16 Desember 2021 Saya adalah seorang istri bagi laki-laki yang teramat baik. Allah terlalu sayang sama saya. Saya dikasih teman hidup yang sempurna. Jauh sempurna dibandingkan saya yang banyak kurangnya. Saya adalah ibu dari sepasang malaikat kecil. Lagi-lagi Allah udah melengkapi hidup saya sebagai seorang wanita seutuhnya. Allah percaya banget sama saya, udah amanahkan saya untuk membesarkan mereka. Saya adalah seorang anak yang masih diberikan-Nya kesempatan untuk membahagiakan kedua orang tua. Bisa lebih dekat dan setiap waktu membersamai mereka. Saya adalah seorang ASN yang tengah dikejar deadline. Belakangan ini menghabiskan hari-hari dengan melototi Lembar Kerja penyusunan PDRB. Bola mata saya seperti mau pecah rasanya. Tapi semua itu tetap saya syukuri. Bagi seorang pekerja, adalah anugerah terindah ketika berada lingkungan kerja yang asyik dan gak toxic. Saya hari ini, adalah saya yang belajar dan terus banyak belajar untuk bersyukur.
Saya 10 Tahun Lalu
Desember 2011
Saya adalah seorang mahasiswa di suatu perguruan tinggi kedinasan di Ibukota. Sudah mulai lasak. Melepaskan diri berpetualang, melalangbuana kemana-mana. Naik kereta ekonomi ke ujung timur Pulau Jawa, mendaki gunung dan tentu saja berburu diskon.
Saya adalah seorang anak remaja yang berusaha beranjak dewasa dengan cara-cara yang waras. Di titik ini saya memahami, menjadi orang dewasa tanpa berbuat kesalahan itu cukup sulit. Dan proses pendewasaan itu tak berpatok pada angka usia. Tapi sepanjang usia.
Saya 20 Tahun Lalu
September 2001 Saya adalah gadis kecil berusia 10 tahun. Ciri-ciri rambut pendek berponi dan hidung pesek. Bayangin aja seperti Maruko Chan. Bedanya saya lebih iteman karena senang sepedaan atau maen layang-layang di siang bolong. Pecinta sekaligus kolektor Majalah Bobo.
Di usia ini sudah divonis mengidap miopi alis rabun jauh. Jadi di kelas harus duduk di posisi depan supaya bisa liat papan tulis. Baru bisa pakai kacamata dua tahun kemudian karena benda ini termasuk barang mewah bagi keluarga kami. Pun demikian bagi teman-teman sekolahku. Hanya anak dokter yang memakai kacamata minus ke sekolah.
Di usia ini juga pernah bisulan (mudah-mudahan cuma sekali seumur hidup, Aamiin) di kepala. Iya, di kepala. Seminggu tidurnya tengkurep dan gak masuk sekolah. Segala obat sudah dicoba ayah. Akhirnya dilakukan operasi kecil di rumah bidan oleh keluarga yang berprofesi sebagai mantri.
Di usia ini, belum terpikirkan cita-cita nantinya mau jadi apa. Passion atau entah bakat pun yang menonjol selain selalu juara kelas meski matanya rabun dan kepalanya pernah bisulan.
Menyelami Makna Kehilangan (3)
Diusia remaja, saya juga seperti kebanyakan remaja lainnya, dekat dengan anak cowok. Uhuk.
Jadi, waktu kelas 3 SMP, papanya pacar saya meninggal dunia. Waktu itu saya datang melayat justru sebagai perwakilan OSIS sekolah. Di rumah duka, saya melihat pacar saya terisak menangis, namun dia tetap tenang. Ketika tiba di hadapannya, saya menyalaminya dan mengucapkan turut berduka cita. Begitu saja, lalu saya dan teman-teman OSIS lainnya kembali ke sekolah.
Pas jalan pulang salah seorang teman saya malah nyeletuk, “Kok dia tadi kau cuma salamin aja, bukannya kau peluk. Kan dia lagi berduka.” Saya cuma bengong aja. Bingung mau jawab apa.
Usai kejadian itu, dia juga jarang membahas soal almarhum papanya, Hubungan kami juga gak sedekat orang pacaran pada umumnya. Mungkin karena kami juga masih terlalu kecil untuk membicarakan hal-hal yang serius seperti soal kematian.
Pas SMA kelas 1, saya dekat sama cowok lain lagi dari sekolah yang berbeda dengan saya. Hubungan kami hanya bertahan beberapa bulan saja. Beberapa minggu kemudian, papanya meninggal dunia. Saya sempatkan datang melayat bersama teman saya. Saat melayat kami hanya berdiri pekarangan rumahnya saja. Bahkan tak sampai menemuinya yang waktu itu berada di dalam rumah. Sampai di situ saja, selanjutnya tak pernah ada komunikasi apapun apalagi sampai membahas soal papanya yang telah meninggal dunia.
Tak lama, ayah dari teman karib saya juga meninggal dunia. Mereka berdua mengalami kecelakaan. Kabarnya teman saya itu sempat koma, tak bisa menyaksikan pemakaman ayahnya. Ya, saya hanya tau kabarnya dari orang-orang. Dulunya dia tinggal di dekat rumah saya. Makanya sejak kecil kami sudah berteman akrab. Namun, sudah lama juga mereka sekeluarga pindah rumah. Sejak itu saya tak pernah bertukar kabar dengannya. Jadi saya juga tak ada di dekatnya, di masa-masa tersulit dalam hidupnya itu.
Lalu, ada seorang cowok satu kelas saya waktu kelas 1 SMA. Kami sering berantem meski kemudian dia mendeklarasikan diri sebagai teman baik saya. Kelas 2, kami sudah tak sekelas lagi. Tapi di awal tahun ajaran baru, bapaknya meninggal dunia.
Saya melayat beramai-ramai dengan teman sekolah. Satu per satu teman masuk bergantian ke dalam rumahnya. Sesekali saya mendengar teriakannya. Giliran saya masuk, saya juga melihatnya jatuh pingsan, sadar, menangis lalu jatuh pingsan lagi, begitu seterusnya. Di dekatnya ada mama, adek-adek dan abangnya yang juga menangis. Tapi tak seheboh dirinya.
Selangkah demi selangkah, saya maju sambil merangkai kata. Ucapan belasungkawa apa yang bisa saya sampaikan untuk menghiburnya.
Setibanya duduk di hadapannya, entah apa yang membuat saya merengkuh badan kurusnya. Saya memeluknya sejenak. Dia hanya terdiam. Saya pun berlalu diikuti sorotan mata terheran-heran dari beberapa teman yang menyadari apa yang baru saja saya lakukan.
Percaya atau tidak, tak sampai 2 bulan kemudian, cowok itu lalu menjadi pacar saya. Saya menjadi tempatnya berbagi saat rasa rindu dengan bapaknya tak terbendung lagi. Kami juga sering belajar bersama, mempersiapkan diri untuk UN, bimbel ke Ibukota, hingga lulus universitas.
Saya merasa, waktu itu saya tidak berbuat apa-apa untuk membantunya bangkit. Saya hanya berusaha ada untuknya. Walau kemudian kami tetap memilih jalan masing-masing yang sejak awal memang tak sama.
Jadi, ayah dari pacar, mantan pacar, sahabat, dan calon pacar saya semuanya meninggal dunia. Yah terserah kalo mau kait-kaitkan sama hal-hal yang berbau cocoklogi. Tapi emang gitu kejadiannya.
Tapi bukan itu poin pentingnya.
Saya tak tau bagaimana dalamnya duka yang mereka rasakan. Saya merasa tak pandai menghibur mereka. Tak ada kalimat duka cita yang membuat mereka bisa seketika bahagia. Sebab, semua hanya perkara waktu. Lain waktu nanti, mungkin giliran saya yang ada di posisi mereka.
Menyelami Makna Kehilangan (2)
Saya ingin mengenang, bagaimana sejak remaja saya mulai mengerti bahwa suatu saat orang-orang terdekat akan meninggalkan kita untuk selama-lamanya.
Waktu saya SMP, atok sama uak meninggal dunia. Dua kali peristiwa itu saya dijemput ke sekolah oleh Om. Yang terbersit kala itu dalam benak saya adalah tentang kebersamaan yang saya lalui dengan atok dan uak. Tidak ada peristiwa yang amat berkesan dengan atok. Hanya saya tau pasti atok orang yang baik sama cucu-cucunya.
Sementara bersama uak, ada satu peristiwa yang takkan saya lupakan. Waktu SD kelas III saya ada PR berkirim surat lewat pos dan harus ada balasannya. Ayah kemudian menyarankan untuk berkirim surat ke uak saja. Waktu itu uak adalah seorang kepala sekolah MTS di Peanornor, Tapanuli Utara. Saya sangat girang saat uak membalas surat saya waktu itu. Uak bercerita tentang kehidupan mereka di sana. Juga tentang sekolah anak pertamanya di MIN. Lengkap dengan kiriman foto mereka sekeluarga di sana. Kalau pulang ke kota kami, uak juga suka membawakan buku-buku pelajaran. Aku juga masih ingat bahagianya uak waktu kami berkunjung ke Peanornor.
Kemudian semasa kuliah giliran nenek dan kedua uwek saya dipanggil sama Allah. Saya tak ada di pemakaman mereka karena Rantauprapat-Jakarta bukan jarak yang dekat. Lagi-lagi yang ada di benak saya saat itu adalah kenangan-kenangan bersama mereka. Bagaimana uwek lanang dan uwek wedok meledekku yang selalu mabuk darat ketika saya masih kecil. Bagaimana cerianya nenek waktu video call dengan saya beberapa hari sebelum dia meninggal.
Baru-baru ini, belum 3 bulan kami pindah di sini, uak sulung meninggal dunia. Suatu kehilangan yang sangat tidak disangka-sangka. Uak sulung satu-satunya kerabat yang menjenguk suami saya ketika dirawat di rumah sakit bulan puasa lalu. Uak juga sering datang ke rumah ayah. Waktu lebaran kami juga masih berkunjung ke rumah uak.
Pada akhirnya saya menyadari, kebersamaan-kebersamaan itu yang menentukan besarnya rasa kehilangan kita. Semakin bermakna dan banyaknya waktu yang kita habiskan bersama, semakin sesak pula rasa kehilangan itu memenuhi rongga di dada.

Anya is live and ready to show you everything. Watch her strip, dance, and perform exclusive shows just for you. Interact in real-time and make your fantasies come true.
Free to watch • No registration required • HD streaming
Menyelami Makna Kehilangan (1)
Ada banyak peristiwa kehilangan dalam hidup ini. Yang terberat tentu kehilangan orang tua, saudara, pasangan, atau anak. Mungkin ada orang yang sudah mengalami satu atau dua kejadian kehilangan orang-orang terdekat. Mungkin ada juga yang belum pernah merasakannya. Termasuk saya sendiri.
Akhir-akhir ini begitu banyak berita duka datang silih berganti. Ada yang tua maupun muda. Ajal memang tak pernah pandang usia. Ada kalanya saya bertanya-tanya, bagaimana nanti jika tiba waktunya saya yang mengalami kehilangan terberat itu? Seperti apakah saya akan menyikapinya?
Tidak pernah ada tutorial tentang cara berduka. Sebab dalam sekolah kehidupan, semua akan kau pahami jika sudah kau alami.
Pulang
Assalamualaikum, tanah Sumatera Lama sudah tak kita tak bersua Perjalanan hidup membawaku jauh darimu Namun sejauh apapun kaki ini melangkah Tanah Sumatera tempat kami pulang Dan keluarga adalah tempat kami kembali Merajut rindu yang selama ini terurai jarak Menyambung air mata dengan bakti Hanya dikelilingi cinta dan kedamaian