By J.S. Khairen, penulis novel Melangkah.
Saya pernah berada di lingkaran pertemanan yang seperti ini. Selalu memberikan pesan pesimis yg tersirat. Maunya mereka, sy ini di bawah mereka terus. Dan bodohnya, sy aminkan ucapan mereka ini. Ketakutan muncul dan makin membesar, meski bisa aja kenyataannya tak sepahit apa yg mereka ucapkan. Mereka berupaya terlihat manis, seakan memberi saran, tp kebablasan. Sarannya lama2 menjerumuskan. Saat kita menolak, bilangnya “yaudah deh ya, udah gue bilangin ya, lo jangan nyesel blablabla.” Memang betul, yg mereka sampaikan memang benar terjadi, tapi ternyata tak semenakutkan itu. Setelah sy coba langsung sendiri, dgn keyakinan dan strategi yg dimiliki, perlahan hal itu tercapai. Tebak apa yg terjadi setelah itu? Ada dua yg muncul. Pertama, merasa dirinya paling layak dapat apresiasi, he takes all the credits, kedua yg tetap berupaya menjerumuskan bahkan mengata-ngatai di belakang. Intinya, inginnya sy ini di bawah mereka terus. Satu titik sy keluar dr lingkaran itu. Mereka melaju cepat di bidang mereka, tp sy melajunya kadang pelan, kadang tak menentu. Dunia mereka sy tak ikut campur, tp urusan sy betul2 direcoki. Sebulan dua bulan, setahun dua tahun, waktu berlalu. Ternyata, setelah berjarak jauh, baru terasa bahwa memang lingkaran itu racun sekali. Ternyata pula, akan selalu datang penggantinya yg baru. Kawan2 dan lingkaran yg jauh lebih solutif, apresiatif, dan sehat. Tidak banyak penggantinya, tp berkualitas. Kawan, orang2 seperti ini, langka. Jika kau menemukannya kelak, uhuy, beruntung bgt coy. Pertahankan!
Dan setelah berhasil keluar, kecepatanmu akan mengagumkan. Tak terbayangkan oleh mereka, bahkan olehmu. Makin merasa payahlah orang-orang itu.












