Tulisan ini akan panjang, dan jika bersedia, siapkan diri untuk menyelam lebih dalam, untuk memahami, untuk mengerti, bahwa berbeda bukan alasan untuk tidak bersama.
Singkat perjalanan saya yang tidak jauh dari menuju seperempat abad ini. kuliah dengan memutuskan lulus lebih cepat, bisa langsung bekerja, kemudian berumah tangga. kalau sekarang masih baru ada tangganya aja, hmm.
menelisik kehidupan saya ternyata kerap kali tidak menemukan persamaan dengan orang di sekeliling, orang-orang terdekat, termasuk keluarga. banyak keputusan-keputusan yang saya ambil sendiri, dimulai dari hal yang saya suka, lalu saya tekuni, jadilah mimpi. rasanya itu rules yang paling tepat untuk menggambarkan setiap keputusan yang saya ambil selama ini. mungkin tetap melibatkan orang lain, tapi sekedar pengarah atas konsekuensi dari keputusan yang saya pilih.
saya percaya, setiap orang pasti punya tiitk terendah dalam hidupnya, terlebih di usia yang sudah sejauh ini. mungkin ada yang menemukannya saat di waktu kecil, ada yang di waktu remaja, dan ada yang baru-baru ini. dan saya yakin, semua titik lemah yang dihadapkan seseorang berlandaskan kesiapan dirinya.
satu waktu dimana saya mendapat pemahaman dari dosen Matematika Diskrit saat di perkuliahan, beliau menyampaikan, setiap orang memiliki jatah gagal, dan habiskan jatah gagal itu selagi muda. kemudian rules ini saya terapkan sejak pertama kali saya mendengar statement itu, untuk banyak hal tentang perjalanan hidup. yang terutama tentang mimpi soal karir. hingga yang tak pernah saya sangka bahwa saya bisa berada di titik yang... mungkin terlihat impossible kalau dulu bermimpi soal ini. iya, mungkin jatah gagal saya sudah saya habiskan ketika merintis pendidikan dengan melakukan kegagalan-kegagalan yang dimana saya lihat kebanyakan di kanan-kiri saya berhasil melaluinya.
ada saatnya seseorang bergerak dengan ego, tidak menggunakan hati dan pikirannya. dan saya yang pernah masuk ke titik ini ingin menegaskan, bahwa memilih perjalanan hidup berlandasan ego dan menyadari itu hal yang salah, adalah perjalanan yang membawa saya kerap belajar, untuk berdamai dengan masa lalu, bersih keras memaafkan diri sendiri, dan mencoba untuk mulai bermimpi. terlepas dari rasa sesal dan bersalah, hal itu tak mampu menjawab untuk saya bisa terus maju dengan langkah yang lebih kuat. sebab, otak kita hanya mampu merekam sesuatu yang “paling”, entah paling berkesan, atau yang paling kelam.
sejak usia saya yang memasuki 20 tahun, saya berhadapan sebanyak tiga kali dengan crucial lines. segala sesuatunya membuat saya hampir dan hampir, iya, hampir kacau untuk memulai bermimpi kembali.
entah yang sering saya temukan di kebanyakan orang, bahwa mereka kerap kali mencari validitas tentang hidupnya. benar atau salah, baik atau buruk, apapun yang bernilah positif dan negatif. padahal formulanya adalah jika memilih X, maka konsekuensinya X.1, X.2, X.3, dst. jika memilih Y akan berlaku konsekuensi yang berbeda, Y.4, Y.5 dan kemungkinan-kemungkinan lain. tapi kenyataannya banyak dari kita yang ternyata minim mengumpulkan amunisi, untuk berjalan mengambil sebuah keputusan dan membuka mata lebar-lebar untuk masuk ke fase berikutnya, dan amunisi itu yang berwujud ilmu.
mungkin real case yang bisa saya berikan adalah ketika saya baru memulai karir saya di bidang teknologi. diterima di perusahaan BUMN dengan berbagai kecukupan. tapi saat itu tidak ada eksekusi untuk memilih kesana, sebab saya tahu resikonya jika saya memilih jalan tersebut. jika prinsip hidup ini untuk mencari sebuah keberkahan, pilihlah keputusan yang lebih berat keberkahannya, meskipun minim kenikmatan dunia. saya harus menunggu sekitar kurang dari satu bulan untuk sampai pada pekerjaan yang menurut saya sesuai dengan visi misi saya.
satu titik dimana, saya mempercayai satu hal. saat saya sudah bersusah payah, saat perjuangan saya hampir selesai, namun jika harus berbentrokan dengan rasa ketidak adilan, saya harus ikhlas untuk melepasnya, meskipun berhenti dan memulai bermimpi lagi tidak lah mudah untuk dijalankan dalam waktu yang singkat. maka dari itu lakukan segala sesuatu dengan alasan ibadah, sebab ibadah tidak akan berakhir kecewa, karna sejatinya kita tidak mungkin dibuat kecewa oleh Penciptanya sendiri.
berkontemplasi dan bermeditasi adalah proses yang dilakukan secara berjamaah untuk mengeksekusi suatu hal, ini saya lakukan dalam beberapa kali di suasana yang cukup mencekam untuk saya hadapi, meskipun beberapa kali tidak lah imbang. tapi saya perlu meyakini lagi satu hal lain, me-refer pada hadist yang berbunyi,
“Sesungguhnya dalam tubuh kita itu ada segumpal daging yang jika segumpal daging itu baik, maka baik seluruh anggota tubuh kita. Jika segumpal daging itu buruk, maka buruk juga seluruh anggota tubuh kita. Segumpal daging itu namanya hati.”
kesimpulan yang bisa saya yakini dari sini adalah, bahwasanya jangan membiarkan hati ini sakit, sebab sekali ia sakit maka akan rusak seluruh anggota tubuhnya. oleh sebab itu orang yang patah hatinya sering kali melakukan tindakan-tindakan yang berakhir kurang baik, saya rasa pun semua pasti pernah mengalaminya.
well, menjaga hati itu penting.
dalam perjalanan lain ada yang kerap diperangi oleh kebanyakan kita, yaitu rasa sabar. yang katanya tanpa batas, meskipun ada yang memahami juga sejatinya kita tetap lah memiliki daya juang, daya sabar, dan daya ketangguhan, oleh sebab itu boleh sesekali menghentikan langkah. namun, saya lebih sepakat dengan sabar tanpa batas, sebab bersepakat dengan daya adalah bagaimana membagi usaha dan juga waktu. artinya sebesar apapun usahanya maka ia terbagi dengan waktu dan jelas menghasilkan daya yang lebih kecil. lalu menggunakan rumus apa? yaitu usaha memerangi sabar, yang mana semakin banyak beraktifitas di seiring berjalannya waktu, maka akan menemukan usaha untuk memeranginya dengan hasil yang lebih maksimal, silakan melirik pada rumus fisika;
keliatannya akan bertambah panjang, tapi tulisan ini harus saya tutup untuk menceritakan banyak hal lain lagi.