Kuis Pertama untuk Novel Sengsara Membawa Nikmat karya Tulis Sutan Sati
Bab 1: Bermain Sepak Raga
Jelaskan apa maksud kata “cempedak hutan”, yang diucapkan Kadirun pada saat
melihat Kacak jatuh terduduk ketika bermain sepak raga?
Jawaban: Saat mereka kecil, mereka pergi ke hutan dan takut ada harimau. Ternyata bukan harimau, tetapi cempedak hutan yang jatuh.
Syarat berguru silat itu ialah: beras sesukat, kain putih sekabung, besi sekerat (pisau sebuah), uang serupiah, penjahit (jarum) tujuh, dan sirih pinang selengkapnya. Segala barang-barang itu sebenarnya kiasan saja semuanya.
Jelaskan makna yang tersirat dari persyaratan tersebut, berdasarkan yang dijelaskan
di Bab 2 – Senjata Hidup!
Jawaban:
Beras Sesukat: Gunanya akan dimakan guru, selama mengajari anak muda yang hendak belajar itu; seolah-olah mengatakan: perlukanlah mengajarnya, janganlah dilalaikan sebab hendak mencari penghidupan lain.
Kain Putih Sekabung: Dengan segala putih hati dan tulus anak muda itu menerima pengajaran.
Besi Sekerat (Pisau Sebuah): Seperti senjata itulah tajamnya pengajaran yang diterimanuya dan lagi janganlah ia dikenai senjata, apabila telah tamat pengajarannya.
Uang Serupiah: Ialah untuk pembeli tembakau yang diisap guru waktu melepaskan lelah dalam mengajar anak muda itu, hampir searti juga dengan beras sesukat tadi.
Penjahit (jarum) tujuh: Ajarannya akan berlangsung 7 hari, dengan pengajaran yang tajam seperti jarum. Jangan ada yang menghalangi, terus saja seperti jarum penjahit.
Sirih Pinang: Akan dikunyah guru, waktu ia menghentikan lelah tiap-tiap sesudah mengajar anak muda itu, dan lagi sirih pinang itu telah menjadi adat yang biasa di tanah Minangkabau.
Tunjukkan bukti profile caring sebagai kearifan lokal yang diterapkan penduduk kampung, tempat Midun tinggal!
Jawaban: "Sudah umum pada orang kampung itu, manakala ada pekerjaan berat, suka bertolong-tolongan. Pekerjaan yang dilakukan dengan upah hampir tak ada. Apalagi di dalam bahaya, misalnya kebakaran, mereka itu tidak sayang kepada dirinya untuk menolong orang sekampung. Tidak di kampung itu saja, melainkan di seluruh tanah Minangkabau, boleh disebutkan sudah turun-temurun pada anak negeri, suka bertolong-tolongan itu. Misalnya di dalam hal ke sawah, mendirikan rumah, dan lain-lain pekerjaan yang berat.”
b. Apa panggilan Pak Midun kepada istrinya (ibunya Midun)? Buktikan dengan mengutip pernyataannya kepada ibu Midun!
Jawaban: "Engkau pula, Polam," kata Pak Midun sambil berpaling kepada istrinya.”
Apa yang menyebabkan orang-orang di pasar takut saat tokoh Pak Inuh datang ke pasar? Jelaskan dengan disertai bukti kutipan!
Jawaban: Orang-orang takut karena Pak Inuh ke pasar dengan membawa pisau.
Kutipan: Pekan sedang ramain, orang sedang sibuk berjual beli, sekonyong-konyong kedengaran teriak orang mengatakan, “Awas, Pak Inuh lepas! Pak Inuh lepas! Dia membawa pisau!”
Bagaimana menurutmu berkaitan dengan hal yang dilakukan Midun menolong istri Kacak yang hanyut di sungai, sedangkan menyentuh perempuan yang bukan mahram diharamkan dalam Islam?
Jawaban: Menurut saya itu diperbolehkan karena situasinya darurat. Jika Midun tidak membantu istrinya Kacak, istrinya Kacak bisa terhanyut dan meninggal.
b. Uraikan dengan bahasa yang sederhana, cara membela diri yang dilakukan Pak Midun saat berhadapan dengan Ma Atang!
Jawaban: Beliau menangkis pisau, lalu mereka bergumul. Dalam perkelahian itu beliau selalu maju dan merapatkan diri, sebab ia berpisau dan hari gelap.
c. Jelaskan bagaimana tipu muslihat dalam perkelahian yang diterangkan oleh Haji Abbas kepada Midun dan Maun!
Jawaban: “Rupanya waktu Ma Atang berkelahi dengan Pendekar Sutan, nyata bahwa Ma Atang hendak membunuh lawannya benar. Jika saya tidak salah tampa, tak dapat tiada Pendekar Sutan disangkanya Midun. Orang yang dipukul Maun itu, pada hemat saya tentu Kacak. Sudah dapat pukulan dari Maun, dapat bagian pula dari saya. Tetapi Kacak sekali-kali tidak tahu, bahwa sayalah yang bertemu dengan dia. Ingatlah, hal ini harus dirahasiakan benar-benar. Cukuplah kita yang enam orang ini saja mengetahuinya. Perkara Midun ini rupanya sudah dicampuri orang tua-tua. Sebab itu jika kurang hati-hati, tentu kita celaka. Kita ini hanya orang biasa saja, tetapi Kacak kemenakan Tuanku Laras. Yang akan datang, hendaklah engkau ingat-ingat benar dalam hal apa juapun, Midun. Ingat sebelum kena, hemat sebelum habis, jerat serupa dengan jerami.”
Bagaimana penafsiranmu dengan kutipan yang diucapkan tokoh Maun, “"Jika pandai menjalankan perniagaan, memang lekas benar naiknya. Tapi jatuhnya mudah pula.”?
Jelaskan!
Jawaban: Menurut saya kutipan yang dikatakan Midun secara universal berarti bahwa masa-masa kesenangan atau bangkit itu bisa gampang, tetapi masa-masa sulit atau jatuh juga bisa gampang.
Apa yang diusulkan Maun bila berjalan berdua dengan Midun ke pacuan kuda, sebagai suatu sikap waspada?
Jawaban: Berhati-hati di jalan. Berwaspadalah jika ada bahaya.
Bagaimana kisah hidup Gempa Alam? Apa kesamaannya dengan yang dialami Midun?
Jawaban: Gempa Alam menikah saat umurnya masih 16. Lalu istrinya meninggal dan dia disuruh untuk menikahi janda Tuanku Laras. Gempa Alam disuruh menjaga kantor Tuanku Laras. Tetapi keluarga Tuanku Laras tersebut sangat jahat terhadap Gempa Alam. Gempa Alam akhirnya ngamuk dan menikam salah satu kemenakan Tuanku Laras dimana pada akhirnya dia di bawa ke padang dan dihukum.
Persamaannya adalah mereka dizolimi oleh Tuanku Laras mereka, dan mereka juga dihukum penjara atas perbuatan yang tidak mereka lakukan.
b. Apa yang diajarkan Gempa Alam untuk menghadapi hukuman di penjara?
Jawaban: Midun jangan khawatir, beranikan hati, tetapkan iman, insya Allah selamat.