Demi menggapai sebuah ketidakmungkinan, kita dengan sengaja merelakan kemungkinan-kemungkinan lainnya.
noise dept.

@theartofmadeline
One Nice Bug Per Day
Peter Solarz
almost home
TVSTRANGERTHINGS
dirt enthusiast

blake kathryn
🪼
styofa doing anything
Aqua Utopia|海の底で記憶を紡ぐ
$LAYYYTER

titsay
tumblr dot com
DEAR READER
PUT YOUR BEARD IN MY MOUTH
KIROKAZE
AnasAbdin
we're not kids anymore.
todays bird
seen from United States
seen from United States

seen from Czechia
seen from United States
seen from France
seen from United States

seen from United States
seen from Malaysia
seen from United States
seen from United States
seen from United States
seen from Malaysia

seen from Germany

seen from United States

seen from Russia

seen from Brazil

seen from Malaysia

seen from United States
seen from United States
seen from United States
@cungkeremi
Demi menggapai sebuah ketidakmungkinan, kita dengan sengaja merelakan kemungkinan-kemungkinan lainnya.

Anya is live and ready to show you everything. Watch her strip, dance, and perform exclusive shows just for you. Interact in real-time and make your fantasies come true.
Free to watch • No registration required • HD streaming
Even though you didn't know everything about my life, that doesn't mean that you weren't a part of it. You were. Every. Single. Day.
Aku Tak Ingin Mencintai Siapapun
Aku tak ingin mencintai siapapun. Pernah dikecewakan, Pernah ditinggalkan, Pernah diduakan, Itulah alasan-asalanku tak ingin mencintai siapapun, selain kamu.
Ketika yang kau teramat cinta kini telah tiada, apalagi yang tersisa?
Bila suatu waktu akhirnya engkau hadir di sini, ku harap engkau percaya bahwa akulah yang telah meninggalkan setapak demi setapak jejak, yang dengan sengaja telah kau injak.

Anya is live and ready to show you everything. Watch her strip, dance, and perform exclusive shows just for you. Interact in real-time and make your fantasies come true.
Free to watch • No registration required • HD streaming
Dear, M
Dear, M. Aku yakin kau tak mengetahui siapa orang di balik surat ini, tetapi aku cukup tahu banyak tentangmu. Secret admirer-mu, kau bisa menyebutku begitu. Surat-suratku sebelum ini sebenarnya kebanyakan ialah tentangmu, atau setidaknya, dirimu lah yang menjadi inspirasiku menuliskannya. Menuliskan sedikit demi sedikit kenangan-kenangan kita yang memang tidak pernah ada di tiap-tiap surat, bagiku bukanlah hal yang mudah. Walaupun ada, aku yakin kau tak pernah menyadarinya, apalagi mengingatnya. Violet, sebenarnya aku lebih senang memanggilmu dengan sebutan ini. Aku menamainya ketika aku belum mengetahui namamu, walau tak seindah nama yang diberikan oleh orang tuamu. Kau pun sebenarnya mengetahui namaku, karena kita pernah berkenalan di sebuah acara kampus. Aku juga yakin kau tidak mengingat akan hal ini. Dengan menyembunyikan perasaan, aku harap kau tak menganggapku seorang yang pengecut. Bagiku, saat ini bukan waktu yang tepat untuk mengejar cintamu ataupun jatuh cinta kepada perempuan lain selain dirimu. Bukan aku yang masih ragu denganmu, tetapi, ada hal yang jauh lebih penting untuk aku prioritaskan. Bila kau ada waktu, sila membaca surat-suratku sebelum ini, barangkali kau akan menemukan alasannya mengapa. Aku yakin kau akan memaklumi alasanku dan melakukan hal yang sama bila berada di posisiku. Aku pun tahu aku belum bisa memberikan segala sesuatu yang kau butuhkan dan pantas kau terima saat ini. Selain itu aku juga tak ingin membuatmu menunggu atau berharap lebih dariku. Aku juga tidak menyesal atau menyalahkan diriku sehingga saat ini kau berada di pelukan orang lain. Apabila dia seorang yang bisa menjadi segala yang kau butuhkan, memang sudah seharusnya kau bersamanya. Seperti yang aku bilang, aku cukup tahu tentangmu. Kabar kau dan dia ingin melanjutkan ke hubungan yang lebih serius, aku juga tahu. Selamat berbahagia, M.
Dear, J
Akhirnya, hampir tiga puluh hari lamanya kau mengirimkan surat-suratku. Dengan sabar pula kau membacanya, dan tak jarang kau menyisipkan komentar pujian akan tulisanku. Pujian adalah ujian bagiku untuk menulis lebih baik lagi. Terima kasih, J. Oh iya, tak mengapa aku memanggilmu hanya dengan “J” saja? Kita memang tak pernah sempat berkenalan, dan teman-temanmu ku lihat juga memanggilmu demikian. Ah, maafkan sifat sok tahu ku ini. Lalu aku mulai kebingungan untuk menuliskan surat untukmu, seseorang yang tak begitu aku kenal, seseorang yang ku tahu hanya melalui kicauannya di Twitter saja. Tetapi rupanya kau tak begtiu asing bagiku, karena setidaknya ku dapati aku dan kau memiliki setidaknya dua kesamaan. Pertama, darah yang mengalir di dirimu tak hanya berwarna merah, tetapi ada hitam di dalamnya. Ya, kau sama sepertiku, menyukai klub sepak bola yang bermarkas di kota mode di Italia sana. Siapakah pemain idolamu? Apakah juga sama sepertiku, pangeran bernomor punggung dua puluh dua yang kini telah hijrah? Kedua, kau tampaknya juga menyukai remaja yang tubuhnya mengecil karena dipaksa meminum APTX 4869 itu. Aku juga menyukai detektif cilik itu, bahkan dua hal di atas tadi adalah hasil analisis ku yang sok tahu, haha! Bila salah, selagi lagi mohon dimaafkan. Dan, mengenai surat-suratku yang telah lalu, maafkan aku bila beberapa diantaranya membuatmu terbawa perasaan, aku harap begitu. Dan tak semuanya benar-benar aku alami, kebanyakan hanya karanganku saja. Tapi keberhasilan penulis bukankah berhasil membuat pembacanya terbawa oleh cerita yang dibuatnya? Ya, aku tahu aku bukan dan belum pantas disebut penulis. Ugh! Ya, barangkali itu saja kesan kesan untuk kang pos yang aku yakin banyak membuat iri para pengirim surat lain yang tak diantar langsung olehmu. Oh iya, di surat ini aku menyisipkan sebuah nama, namaku. Masih ingatkan kau cara membacanya? Salam kenal, J.
Akhir Rasa
Kau tahu apa itu cinta yang tak pernah usai? Ialah cinta yang tak pernah dimulai, aku pikir begitu. Kau tahu bahwa kau jatuh cinta, tapi lebih memilih diam. Kau tahu bahwa cinta datang, tapi tak membiarkannya masuk. Ya, aku tahu itu semua. Cintaku padamu tak pernah layu, karena memang tak pernah mekar. Cintaku untukmu tak pernah mati, karena tak benar-benar pernah hidup. Cinta yang tak pernah diungkapkan. Aku cukup mengenalmu, untuk tahu kau tak memiliki perasaan yang sama. Dan aku juga tak ingin merusak keakraban di balik pertemanan, hanya karena egoku seorang. Akhir rasa, barangkali rasa ini tak akan pernah berakhir. Akhir kata, goodbye.
Suatu Waktu
Suatu waktu nanti, kita pasti akan bertemu. Aku berjanji, pada saat itu, aku akan melemparkan senyum terbaikku padamu. Senyum tanpa beban ingatan bahwa pernah engkau tinggalkan. Suatu waktu nanti, ketika kita bertemu. Aku akan mengajakmu berbincang di sebuah kedai kopi. Membicarakan perihal hal yang telah lalu, mengenang saat kita masih bersama. Ya, aku tahu, itu semua sudah berakhir. Suatu waktu nanti, saat kita bertemu. Aku ingin kembali mendengarkan kau bercerita, tentang apa-apa saja yang telah kau lalui. Ya, aku seorang pendengar yang baik bila kau mulai bercerita. Sebelum suatu waktu itu tiba. Aku akan terus berusaha, mengikhlaskan kepergianmu.
Segala Rasa
Pahitnya ketika kau pergi, melebihi pahit sepah kopi, yang mengendap di cangkir pagi tadi, ataupun di dasar ingatan. Manisnya coklat, tak lagi mengganggu kesehatanku. Tetapi, manisnya kenangan tentangmu, masih mengacaukan kejiwaaanku. Rasa es tawar, tak melebihi hambarnya, hubungan sepasang kekasih, yang seorang lainnya, mencintai seorang yang lain. Dan terima kasih, untuk segala rasa dan pengalaman, yang akan ku jadikan pelajaran. Kesedihan dan kebahagiaan, yang ku ubah menjadi tulisan.

Anya is live and ready to show you everything. Watch her strip, dance, and perform exclusive shows just for you. Interact in real-time and make your fantasies come true.
Free to watch • No registration required • HD streaming
Sebuah Kabar
Seharusnya aku tak mengusikmu dengan mengirimi surat. Tetapi, tetap harus ku lakukan. Karena aku tak punya cukup waktu untuk menyempatkan datang ke kediamanmu kini. Barangkali lama, sudah kau tak bertemu dengannya. Apakah kau merindunya? Karena ia terkadang berbincang kepadaku, betapa rindu akan dirimu. Aku ingat, kapan hari terakhir kalian bertemu, karena hari itu pula aku terakhir melihat sosokmu. Hari yang kekal abadi di ingatanku. Aku hanya ingin berkirim sebuah kabar padamu. Kabar yang singkat. Bahwa, perempuan yang engkau cintai itu sedang tidak baik-baik saja. Tetapi kau bisa tetap tenang, sudah ada aku di sampingnya. Aku berharap kau tidak mencemburui aku, karena mengambil alih apa yang seharusnya menjadi tugasmu, menjaganya. Karena akibat kepergianmu yang tak pernah disangka itu, tugas ini kini menjadi kewajibanku. Kau bisa mempercayaiku, dan tak perlu lagi khawatir akan keadaannya. Aku harap kau bisa tetap tenang beristirahat di sana. Walau mengunjungimu aku tak sempat, mendo’akanmu aku tak akan luput. Anakmu.
Aku Sedang Tak di Sampingmu
Aku sedang tak di sampingmu. Tak berada jauh di dekatmu. Aku butuh menyendiri, sejenak. Aku sedang tak di sampingmu, sambil mengulang-ulang sebuah lagu, yang sekiranya dapat menenangkan batinku. Karena, ketika di depanmu, aku tak ingin terlihat kacau. Aku sedang tak di sampingmu, sambil mengunyah coklat kesukaanku, hal yang selalu mampu mengurangi beban pikiranku, sementara waktu. Karena, ketika di hadapanmu, aku selalu ingin terlihat tegar. Kini, aku sedang di sampingmu, sambil menggenggam sebelah tanganmu, mengucap do'a di dalam hati, berharap kesembuhanmu. Ibu.
Sepeninggalan Kamu
Sepeninggalan kamu, aku bertemu dengan seorang perempuan. Violet namanya. Barangkali kebetulan, ia menggunakan pakaian berwarna ungu ketika aku memutuskan untuk berkenalan dengannya. Warna yang sesuai dengan namanya, warna yang ku tahu juga merupakan warna kesukaanmu. Aku masih belum terlalu mengenalnya, tak seperti aku tahu banyak tentangmu. Yang aku tahu, ia cukup baik, walau sedikit pemalu. Dan ia seorang yang tak terlalu suka akan keramaian, tak seperti dirimu yang selalu ingin menjadi pusat perhatian. Sepeninggalan kamu, selain berkenalan dengan banyak orang baru, aku menjadi lebih memiliki banyak waktu mengunjungi tempat favoritku, mengisi kesepian dengan kesunyian. Di sanalah aku pula berkenalan dengannya, seseorang yang memiliki kesamaan minat denganku, membaca. Ya, ia tak seperti dirimu, yang lebih suka menghabiskan waktu dengan berkaca. Perpustakaan, paling tidak satu minggu sekali kami mengatur janji bertemu di sini. Berbincang perihal buku yang pernah kami baca, atau sekedar menikmati sunyi. Terkadang, aku meminjam buku kepunyaannya, dan dari dirinya aku tahu ia seorang yang gemar mengoleksi buku. Ia jauh berbeda dengan dirimu, yang hobi memenuhi rak dengan sepatu. Hari ini, dan tiap-tiap Senin lainnya, aku dengannya berjanji bertemu. Aku sudahi dulu, aku tak ingin membuatnya lama menunggu. Itulah ceritaku, sepeninggalan kamu.
Satu Do’a
Ya Allah, hamba tahu benar bahwa Engkau tak membutuhkan surat semacam ini. Tetapi izinkanlah hambaMu tetap menuliskannya, berharap dapat tiada gundah hati dan pikiran ini. Hamba tahu, hamba adalah seorang yang tak sedikit memiliki dosa. Terkadang, timbul rasa malu kepadaMu ketika hamba berdo’a meminta banyak hal. Tetapi, perintahMu hamba masih terlalu sering lalai, ataupun melalukan hal yang Engkau bilang larang. Hamba tahu, Engkau Maha Mendengar. Dan tak ada satupun do’a yang luput dariMu. Do’a yang tak mampu hamba sebutkan di sini satu persatu. Dan apa yang akan Engkau beri, hamba akan dengar sabar menanti. Tetapi, dari sekian banyak do’a yang hamba mohonkan. Hamba berharap satu, hanya satu do’a. Yang Engkau ijabah dengan segera. Kesembuhan Ibu. Amin.
Aku Ingin Membencimu
Sepeninggalan kamu, aku tak pernah baik-baik saja.
Telah lama kita sepakat untuk tidak saling berjumpa. Agar aku lebih mudah melupakan kepergianmu, katamu. Tetapi, ingatan perihal tentangmu, selalu memaksa tinggal. Aku, dan bersama ingatan-ingatan tentangmu. Kami mencoba mendengarkan musik yang tak kau sukai. Menikmati hidangan yang kau hindari karena alergi. Melakukan hal-hal apa saja yang pernah kau bilang benci. Berharap bisa menghapus jejakmu di pikiranku. Barangkali, bisa menapakkan kebencian terhadapmu. Kau pasti tahu, aku bukanlah seorang pembenci. Tetapi, aku ingin membencimu, dengan sangat bila perlu. Membencimu, seseorang yang pernah membisikkan kata cinta di telingaku. Sebuah ironi yang menyedihkan, tetapi ingin ku lakukan. Ketika aku bercerita kepada seorang karib, ia berkata kepadaku. Benci adalah bentuk lain dari cinta. Benci adalah cara lain dari mencintai. Aku pikir itu benar. Dan dia lanjut berkata, bahwa aku masih mencintaimu. Sial! Lagi-lagi dia benar.

Anya is live and ready to show you everything. Watch her strip, dance, and perform exclusive shows just for you. Interact in real-time and make your fantasies come true.
Free to watch • No registration required • HD streaming
Kehilangan Arah
Aku kehilangan arah. Mencari tempat yang hendak ku tuju. Semua jalan yang pernah ku berlalu, tiba-tiba menjadi buntu. Aku kehilangan arah. Duduk sebentar di tempat singgah, barangkali lelah. Memutuskan kembali melangkah. Walau masih tanpa arah. Mata angin ketika siang. Rasi bintang di kala malam. Para penunjuk arah, menolongku mereka menyerah. Sedikit tentang arah. Arah yang ku tuju, adalah arah inginku pulang. Engkau seorang. Aku kehilangan arah, kehilanganmu.
Aku Kalah
Aku kalah. Bukan dalam pertarungan. Atau sebuah perlombaan. Dan tak jelas, siapa yang aku lawan. Aku kalah. Setidaknya, aku pernah berjuang. Aku pikir begitu. Dan kau, kau tak pernah memikirkannya. Aku kalah. Di matamu, usahaku tak pernah menarik. Atau, telah ada seseorang. Yang menarik perhatianmu. Aku terima, kekalahanku.