Sedihnya tersimpan rapi dalam tutur kata yang bijak dan postingan penuh keteguhan.
Tangisnya tenggelam dalam tawa riang dan banyolan-banyolan khas anak sekarang.
Lebamnya tertutup dalam kekuatan yang ia perlihatkan dengan gaya selenge'an petantang petenteng mirip preman.
Tapi malam, tidak pernah melewatkan setiap perubahan drastis yang ia tunjukkan saat lingkungannya sibuk dengan aktivitas tanpa dirinya.
Emosinya meluap. Setiap kejadian masa lalu yang membuatnya terluka, memberontak. Pelupuk matanya meleleh menitikan tetes demi tetes kelemahan yang sudah ia pendam seharian.
Saat itu hanya ada dua. Dia, dan Tuhannya.
Yang memeluk meski tak langsung terasa hangatnya. Yang mendengar meski tak langsung direspon curhatannya. Yang selalu setia, meski kadang ia sering lupa. Dan yang selalu memberi, walau ia tak pernah meminta.
Saat itu, bukan ucapan terimakasih yang keluar dari lidahya. Melainkan airmata yang tak kunjung reda ditambah rintihan menyebut namaNYA.