Fotografi itu bukan hanya cara anda melihat, tetapi juga cara anda berpikir.
CT

Love Begins

Kiana Khansmith
YOU ARE THE REASON
"I'm Dorothy Gale from Kansas"
will byers stan first human second
icyghini twinkie
Claire Keane
One Nice Bug Per Day
Noah Kahan
we're not kids anymore.


izzy's playlists!
I'd rather be in outer space 🛸

@theartofmadeline
The Bowery Presents
Stranger Things
Xuebing Du
Aqua Utopia|海の底で記憶を紡ぐ
Today's Document
𓃗
seen from United States

seen from Netherlands

seen from United States

seen from Germany
seen from China
seen from Canada
seen from Maldives

seen from United States
seen from United States

seen from United States

seen from United States
seen from Japan

seen from Malaysia
seen from United States

seen from Türkiye
seen from United States
seen from Bangladesh

seen from Malaysia

seen from United States

seen from Vietnam
Fotografi itu bukan hanya cara anda melihat, tetapi juga cara anda berpikir.
CT

Anya is live and ready to show you everything. Watch her strip, dance, and perform exclusive shows just for you. Interact in real-time and make your fantasies come true.
Free to watch • No registration required • HD streaming
Biarlah StreetPhotography itu mengalir, tumbuh dan berkembang sesuai akarnya. Tidak usah ditambahi titik dan koma.
CT
Pagi itu, rokok baru saja saya nyalakan. Lidah dan kerongkongan saya butuh segelas kopi sebagai 'teman' penyeimbang. Sambil berjalan mencari warung, bertemulah dengan seorang bapak penjual kopi yang sedang duduk santai sambil membaca sebuah koran harian nasional. Ah nikmatnya si bapak ini memulai harinya, pikir saya. "White Coffee satu Pak!", maaf mengganggu keasikan bapak sedang baca koran nih. Dengan sigap si bapak berdiri dan membuatkan saya kopi seduh instan dengan gelas plastiknya. Saya menunggu, si bapak menawarkan saya untuk duduk dikursi taman, tempat ia membaca koran tadi. Tak lama, kopipun jadi. Siap disruput bareng rokok yang masih terbakar setengahnya. Perbincangan pagi ini dimulai dengan segelas plastik berisi kopi. Si bapak menanyakan hal biasa; dari mana? Mau kemana? Dan ketika ia melihat kamera yang saya gantungkan dileher, pertanyaanpun makin terasa berbeda. "Mas nya wartawan ya?". Bukan Pak..saya jawab sekenanya sambil melihat wajah sang bapak yang sambil memegang korannya. Yang membuat saya tertegun sejenak adalah dengan umur yg lebih tua, ia sama sekali tidak menggunakan kacamata untuk membaca. Disinilah perbincangan pagi antara kami bermula. Ia pun mulai bercerita tentang kehidupannya tanpa saya menanyakannya lebih dulu. 20tahun-an yang lalu si Bapak yang bernama Mulyono ini mendaratkan kakinya di ibu kota. Beliau asal Pekalongan. Saat ini beliau berumur 80 tahun. Artinya saat ia berumur 60 tahun (kurang lebih) ia mencari pekerjaan lain di Jakarta. Dan menurutnya, ia sendiri tidak tau tujuannya ke Jakarta. Perkejaan yang serabutan membuat ia berpindah pindah tempat tinggal selama di Jakarta. Sementara keluarga yg kemudian menyusul adalah sang Istri. Namun karena desakan ekonomi, sang istri pun meninggalkannya. Di tahun tahun berikutnya ia juga sempat menikah lagi, namun lagi lagi kandas. Lebih memprihatikan adalah ketika saya tanyakan perihal anak anaknya. Ia cuma menjawab, "Anak saya banyak, dan mereka sudah besar pasti sekarang, tapi tidak ada satupun yang saya tau keberadaan mereka". Kenapa tidak pulang kampung saja Pak?, tanya saya. "Orang orang dikampung sudah tidak ada yang kenal saya, keluargapun sudah tidak ada lagi". Biarlah saya disini saja menghabiskan waktu tua saya dengan berjualan Minuman instan dan rokok eceran. Sepertinya beliau lebih nyaman dengan keadaannya sekarang. Percakapan tentang masalah privasi ini tidak saya lanjutkan, karena saya tertarik dengan semangat hidup beliau. Bukan curhatannya. Masih bersepeda keliling Jakarta. Saya tanyakan tentang modal usaha beliau. Sehari ia hanya bermodalkan 50 ribu rupiah untuk beberapa batang rokok dan kopi sachet. Sementara termos air panas dan sepeda adalah pemberian dari seorang pedagang Cina yang membuka usaha nya dibilangan Pasar Baru. Yang kemudian ia belikan sepeda bekas seharga 400 ribu rupiah dan termos seharga 125 ribu rupiah. Ia tidak ngoyo, sehari dagangannya habis hanya dengan berkeliling diseputaran Monas. Penghasilan itu ia sisihkan untuk membayar sewa kamar dan modal dagang hariannya. "Kalo liburan begini rame Mas. Lumayan ada lebih bisa makan pake daging.". Sayapun cuma bisa tersenyum. Lah..Bapak masih kuat mengayuh sepeda dengan jarak agak jauh?. Singkat saja jawabnya “Masih“. Saya terbiasa dengan meminum air putih dipagi hari setelah sholat subuh. Air ini dimasak pada teko yang terbuat dari tanah liat. Baginya itu adalah rahasia nya, kenapa beliau masih kuat. Kamera saya diperhatikannya agak lama. Kemudian ia menyeletuk, "Kamera sekarang kok malah ribet ya..dulu saya memotret dengan film." Ini saya dikasih orang India kamera, tapi ndak jalan. Cari batrenya susah Mas. Sudah saya akali tetep ndak bisa." Kamera yang entah ber merk apa, berwarna silver dan dilengkapi MP3 didalamnya ini, baginya tidak dipakai untuk memotret atau membuat video. Beliau lebih suka mendengarkan lagu lagu lama kesayangan beliau kala menemani nya saat santai membaca koran dan sedang berjualan. Pagi nya di isi dengan membaca koran, dengan rubrik tertentu yang ia suka. Pojok Kompas adalah favoritnya. Menariknya, dengan umur yang sudah 80 tahun. Beliau membaca tidak menggunakan kacamata. Ia masih jelas membaca dengan jarak yang menurut saya normal. Katanya khasiat minum air putih tadi penyebabnya. Sayapun hanya mulai tertegun mendengar cerita cerita singkat pengalamannya selama menjual kopi keliling ini. Sebatang rokok mulai saya nyalakan. Sesekali saya meminta ijin beliau untuk memotret wajahnya dan barang dagangannya. "Itu keranjang sepeda saya baru diganti..harganya 40ribu." Yang dulu sudah rusak..ujar beliau. Kemudian ia lanjutkan dengan membuka lembaran koran dan membaca beberpa artikel pendek. Disinilah saya menanyakan tentang batu cincin yang ia pakai. Dan lagi lagi jawabnya "Gak tau Mas..batu apa. Saya cuma pake aja kok. Biar kelihatan wibawa kayak bapak bapak lainnya." sambil tertawa. Percakapan saya terpotong, ketika seorang *kawan baru saya muncul dan memanggil nama saya. Kami sempat berbincang sejenak sebelum saya lanjutkan perjalanan ke beberapa sudut Jakarta. Setelah bertegur sapa dan basa basi, perhatian saya kembali ke si Bapak. Karena tersadar, ternyata saya belum bayar. Karena saya tau harga segelas plastik kopi tersebut, saya sengaja memberikan uang lebih. Jujur, saya kagum dengan ketabahan beliau menjalani hidup. Ditinggal istri dan anak. Pekerjaan yang serabutan. Tempat tinggal yang berbagi dengan seorang Satpam, dll tidak membuatnya menyerah pada hidup. Kalau boleh saya simpulkan, berserah diri kepada sang Khalik inilah kunci ketabahan beliau. Ya, pagi itu saya mendapatkan lagi pelajaran lain tentang arti hidup. Dan sekali lagi, Fotografi lah yang membawa saya bisa menemui hal hal seperti itu, yang saya tidak menemuinya di sekolah atau universitas. JAKARTA BELUM HABIS Terimakasih Karena * @sgbliss94 & Mr. Henry Ford, cerita ini ada.
Apakah fotografi ruang publik itu hanya milik street photography? Jawabannya; Tidak!
© CT
Olympus Cross Community Present : A Street Photography Workshop with @chris_tuarissa Berlaku untuk semua user kamera digital merek apapun. Tempat terbatas ! Tanggal : 24 Februari 2018 Tempat : Anekafoto Kwitang (Jl. Prajurit KKO Usman Harun no. 30A Kwitang Senen – Jakarta Pusat ( Setelah Bank Mandiri & Hotel Gren Alia Prapatan ). Jam : Pk. 13:00 s/d 17:00 ( Pk. 13:00 – Pk. 13:30 registrasi ulang di Anekafoto Kwitang ) Informasi Lengkap: https://www.instagram.com/p/Be-GsGMAM2F/

Anya is live and ready to show you everything. Watch her strip, dance, and perform exclusive shows just for you. Interact in real-time and make your fantasies come true.
Free to watch • No registration required • HD streaming
Komposisi and Chris Tuarissa Interview Session
Chris Tuarissa x Komposisi ID
Pulau Gili Ketapang Secara administratif, pulau ini masih termasuk dalam Kabupaten Probolinggo. Untuk lokasi, tepatnya berada di Desa Ketapang, Kecamatan Sumberasih, Probolinggo, Provinsi Jawa Timur. Sedangkan untuk rute penyeberangan dimulai dari pelabuhan Tanjung Tembaga. Penyeberangan dengan menggunakan kapal khusus yang biasa dipakai warga pulau. Kurang lebih memuat 50 orang dan juga mengangkut beberapa barang bawaan / atau belanjaan yang mereka beli dikota. Lama waktu penyeberangan ini kurang lebih memakan hampir 1 jam. Dengan luas pulau 68 HA ini, di huni sekutar 8000 jiwa, sebagaian besar warganya suku Madura dan hampir 90% menjadi Nelayan yang menggantungkan hidupnya di laut. Ada satu hal yang agak di sayangkan, yaitu ketika sampai dipelabuhan banyaknya sampah yang berserakan disepanjang bibir pantai. Kehadiran sampah sampah ini selain mengganggu pemandangan. Sepertinya kesadaran masyarakat akan pentingnya kebersihan lingkungan msih kurang. Piaraan kambing milik warga yang berada di tepi pantai, terkadang membuat pengunjung merasa sedikit kurang nyaman. Bahkan kambing2 ini berkeliaran disekitar rumah penduduk dan warung. Namun bagi saya inilah salah satu keunikannya. Dibagian barat pulau justru terdapat hamparan pasir putih dan laut berwarna biru. Sehingga dibagian ini sudah menjadi tempat tujuan wisata. Waktu yang sempit membuat saya tak bisa berkeliling, hanya tidak lebih dari 3 jam saya berada disana dan harus kembali ke Kota Probolinggo dan meneruskan perjalanan ke Kota Malang. Disamping itu, jika agak siang ombakpun semakin besar. Jadi lebih baik memperkecil resiko. Ya, Masih ada rasa penasaran untuk kembali kesana.
maklumfoto.com X streetbounty.com
Terimakasih Funway Project.
Masih tentang cerita awal tahun 2018. Saya mengambil foto ini tepat tanggal 1 januari di pagi harinya. Saat itu apa yang saya pikirkan hanya; 'bagaimana sih suasana tahun baru setelah malamnya orang ramai menunggu tahun baru yang akan datang?'. Ratusan manusia, berbagai acara digelar, bunyi letusan kembang api dan teriakan dan tertawa gembira menjadi bagian penantian di 00.01 tersebut. Saya sendiri memang jarang merayakan tahun baru dengan gaya seperti itu. Dan sebagai pemotret, saya kurang cakap mengambil momen seperti ini, saya tidak sabaran. Jadi saya dan 2 kawan baik saya memutuskan untuk mengambil gambar diseputaran Monas dipagi harinya. Hanya bersisa beberapa orang yang ingin pulang, team pembersih dari Pemda Jakarta, Para dokar, dan beberapa penjual makanan. Sementara dijalan boleh dibilang cukup lengang. Terlintas dibenak saya, wah semalam seperti apa ya?. Ya..apapun suasana semalam, toh saya tetap ingin melihat "sisa" nya saja. Dan inilah salah satu foto tentang Monas yang bisa saya rekam. Inilah sebagian dari kisah pergantian tahun.

Anya is live and ready to show you everything. Watch her strip, dance, and perform exclusive shows just for you. Interact in real-time and make your fantasies come true.
Free to watch • No registration required • HD streaming
Jakarta 1 Januari 2018, Tanah Abang pagi itu. Masih belum terlihat hiruk pikuk dan aktifitas yang normal disini. Kota ini justru memberikan suasana & emosi yang tidak biasanya. Saya mencoba merekamnya dengan memahami situasi, keberadaannya, bentuk dan juga polanya. Dan tentunya merekamnya dengan pendekatan visual yg jarang saya lakukan. Ada sedikit cerita di kedua sisi.
#CT #streetphotography
Lihat Tweet @chris_tuarissa:
https://arahpana.com/photography-interviews-merekam-emosi-kota/
Cek..maklumfoto.com dan @maklumfoto di Instagram.
Hunting street photo Probolinggo
Mengunjungi kawan kawan Probolinggo.

Anya is live and ready to show you everything. Watch her strip, dance, and perform exclusive shows just for you. Interact in real-time and make your fantasies come true.
Free to watch • No registration required • HD streaming
HUNBAR DAN NGOBAR STREET PHOTOGRAPHY WITH CHRIS TUARISSA
Lihat Tweet @chris_tuarissa: