“Terima kasih. Terima kasih, Pak. Terima kasih”
Suara Alif jelas. Dari balik rerantingan pohon Kersen di samping rumahnya, aku bisa mendengarnya, meski lirih. Terima kasihnya begitu dalam, tampak dia memang mengharapkan sesuatu yang sedang ia pegang di tangannya.
Hari masih sangat muda. Gelap subuh baru saja berlalu Sementara semburat mentari masih malu-malu. Angin mendesis diantara daun-daun berlumur embun dan sisa gerimis tadi malam, dingin. Lalu lalang orang belum banyak. Hanya suara penggorengan dan letup rebusan air saja yang baru kudengar.
Pintu rumah Alif sudah terbuka lebar. Bersama seorang laki-laki paruh baya, ia duduk di lantai, tanpa alas, tanpa minum ataupun hidangan tersuguh di depannya.
Aku mengintip melalui pintu yang terbuka. Wajah Alif sayu, sama seperti pagi-pagi sebelumnya. Kemarin tetangganya bilang untuk jangan berlarut meratapi istrinya yang meninggal, menyuruhnya untuk tetap optimis, dan rileks sejenak agar matanya bisa tidur walau sebentar. Dari sana aku tahu, Alif memang tak pernah bisa tidur sejak istrinya meninggal. Naila menangis merindukan ibunya setiap malam.
Di hadapan laki-laki paruh baya itu, Alif hanya tertunduk. Matanya memandang lurus pada amplop coklat di tangannya. Aku sempat melihat Alif mengeluarkan beberapa lembaran merah, tetapi buru-buru ia memasukkannya lagi. Alif kembali termenung, menatap lekat amplop coklat di tangannya.
“Uang ini titipan, bukan uang saya. Terimalah! Ini rezeki Pak Alif dan Naila. Allah titipkan pada orang lain, lalu dititipkan lagi ke saya.”
Alif tak banyak menjawab. Hanya ucapan terima kasih, tapi berulang. Mataku kini mengarah ke teras. Naila masih bermain boneka kucing di sana. Rambut Naila dikuncir sembarangan. Tadi pagi, Naila merengek minta dikuncir seperti biasa ibunya. Alif tak bisa mengikat rambut Naila rapi, berantakan pun tak apa, toh Naila tak akan melihatnya, cermin yang biasa di dinding sudah ia jual kemarin.
Masih dipandanginya Naila lekat-lekat. Hanya Naila yang tersisa selain kenangan bersama Ratih, istrinya, dan calon adik Naila. Masih dari balik rerindangan pohon Kersen, aku melihat raut wajahnya makin sedih. Kaca-kaca hampir pecah di matanya. Alif menahannya kuat-kuat. Ia tak ingin menangis di hadapan Erik. Ia tak ingin ditanya dan menceritakan kembali kisahnya. Air matanya hanya akan menambah perih luka hatinya, dan juga Naila jika ia sampai melihat ayahnya menangis.
Aku masih di balik rerimbunan daun pohon Kersen. Teman-temanku datang. Mereka ingin ikut mengintip tamu Alif pagi ini. Rusuh mereka datang. Hampir saja Alif menoleh dan melihat kami. Untung saja, pandangannya masih terpaku pada Naila. Ia tak peduli rerantingan Kersen bergoyang hingga semua embun luruh dari daun-daun, menyiram tubuh kami yang bersembunyi di balik rerantingannya. Dingin, tapi tidak sedingin pikiran Alif. Beku.
“Sebenarnya saya lebih berharap TV saya laku.”
“Maaf ya Pak Alif. Ketika Pak Alif datang ke kantor kami, tidak ada satu pun diantara kami yang sedang butuh TV.”
“Iya, Pak Erik. Allah sampaikan rezeki saya bukan lewat jual TV. Itu TVnya masih ada, belum terjual, dan tidak akan saya bawa ke Tegal, nanti over bagasi. Uang dari jual kasur, magic com, kompor, dan tabung gas cuma cukup untuk beli tiket bis 1 kursi dan tambahan ongkos karena motor akan saya bawa. Motornya mau saya gadai di Tegal. Lumayan untuk tabungan Naila.”
“Setelah mengantar Naila ke Tegal, apa rencana Pak Alif selanjutnya?”
“Saya belum tahu. Yang penting Naila ada yang jagain saja dulu sekarang.”
Erik menyapu seisi ruangan dengan matanya. Mungkin dia prihatin, mungkin juga dia bersyukur. Prihatin karena kondisi keluarga Alif yang sangat sederhana. Bersyukur karena mungkin kondisinya lebih baik. Aku dengar tadi, Erik bekerja di kantor. Setidaknya ia punya gaji tetap, tidak seperti Alif. Aku sempat mendengar cerita Alif pada Ratih, istrinya, pagi-pagi jauh sebelum Ratih meninggal. Waktu itu Alif pulang dari pekerjaan jadi tukang parkir tanpa membawa uang sepeser pun. Ia diusir tukang parkir lain yang mengaku menguasai wilayah itu.
Ratih tetap tersenyum waktu itu. Esok paginya Ia membawa Naila mengitari komplek perumahan, membawa karung bekas, dan sebilah kayu dengan kawat bengkok di ujungnya. Ia memulung, Alif juga. Walaupun kadang-kadang juga jadi tukang parkir diam-diam. Aku ragu menyebutnya tukang parkir ilegal, karena hampir semua tukang parkir di pasar Parung memang tanpa izin pemilik toko atau kantor. Tapi entah sejak kapan mereka merasa sudah mengontrak daerah, memasang tarif retribusi, dan mengusir tukang parkir lain yang mau bergabung. Ah kalau begitu, Alif adalah tukang parkir yang sangat ilegal. Bahkan izin dari sesama tukang parkir pun, ia tak punya.
Alif dan Ratih selalu membuatku iri sekaligus bahagia. Mereka berdua, meski harus berjuang dalam kondisi sangat sangat sederhana, masih saling mendukung, tersenyum, dan bersyukur.
“Jam sembilan nanti saya dan Naila berangkat ke terminal. Bis ke Tegal berangkat jam sepuluh. Rumah ini saya kosongkan, lagipula kontrak bulan ini juga tinggal 1 minggu. Isinya sudah saya jual ke tetangga. Alat-alat makan, dan perabotan yang belum laku, termasuk TV ini, saya titipkan ke tetangga sebelah. Kalau laku, saya minta kirimkan ke Tegal uangnya. Saya minta dia ambil dulu komisinya.”
Sekarang Alif yang memandang lekat setiap sudut di rumah petak itu. Mungkin ia berat meninggalkan rumah, mungkin ia teringat istrinya, atau mungkin ia juga rindu pada anak keduanya yang tak sempat hidup setelah dilahirkan.
Melihat kesedihan Alif pagi ini, aku jadi teringat ketika Ratih hamil muda anak kedua mereka. Alif masih belum mendapat pekerjaan tetap saat itu. Ia juga sudah sering diusir oleh tukang parkir lain. Penghasilannya sangat kecil, apalagi tambahan penghasilan dari hasil Ratih memulung terhenti sejak istrinya itu mual dan muntah tiap hari. Tapi, senyum masih banyak mengembang di wajah keduanya. Mereka saling menguatkan, saling mendukung.
Lewat 4 bulan setelahnya, tubuh Ratih sudah lebih sehat. Kembali ia mengitari komplek, membawa karung bekas. Tubuhnya payah membawa berat di perutnya dan karung bekas di punggungnya. Belum lagi ditambah Naila yang minta digendong kalau ia sudah lelah berjalan. Tapi, senyum masih mengembang di bibir keduanya. Sepertinya mereka paham bahwa mereka harus saling menguatkan meski hanya dengan senyuman, meski hanya dengan menahan keluhan.
“Tadinya saya berpikir untuk tidak pindah dari Bogor. Apalagi istri saya dimakamkan disini. Tapi, Naila tidak mungkin saya tinggal sendiri di rumah. Ia tidak mungkin juga saya ajak kerja, kerjaan saya kan serabutan.”
“Jadi, Pak Alif mau balik ke Bogor lagi setelah menitipkan Naila pada neneknya di Tegal?”
“Tadinya saya berpikir begitu, tapi toh saya sudah tidak punya apa-apa lagi disini. Barang-barang sudah saya jual dan uangnya hanya cukup untuk ongkos sekali jalan ke Tegal. Lagipula, saya bekerja di sini untuk siapa? Istri saya sudah meninggal, hanya tinggal Naila saja sekarang.”
Dua minggu lalu, Ratih merintih menahan sakit kontraksi rahimnya. Kandungannya memang sudah 9 bulan, waktunya Ratih melahirkan. Waktu itu, ia hanya berdua dengan Naila di rumah. Alif belum pulang dari semalam. Alif diajak kawannya jadi juru parkir pada acara konser di lapangan desa tetangga. Naila yang baru berusia 4 tahun tak tahu harus berbuat apa. Melihat ibunya merintih, Naila menangis, tangisannya bahkan lebih keras dari rintihan Ratih. Hampir 1 jam Naila menangis. Tetangga mengira ia hanya tantrum biasa. Tapi, mendengar tangisan Naila yang tak kunjung usai, akhirnya tetangga mereka datang. Terlambat, Ratih sudah jatuh pingsan di lantai dengan genangan darah dan air ketuban membanjiri tubuhnya. Segera mereka mencari Alif dan melarikan Ratih ke rumah sakit untuk dhuafa tak jauh dari sana. Tapi takdir sudah tertulis, kuncup yang gugur tak mungkin lagi bersemi. Tugas Alif dan Naila hanya ikhlas. Ratih meninggal bersama bayi dalam kandungannya.
“Uang dalam amplop ini dititipkan untuk ongkos Pak Alif dan Naila ke Tegal seperti permintaan Bapak kemarin pada saya. Tapi karena uang tiket bisnya sudah terbeli, gunakan saja uang ini untuk bekal di jalan. Atau sekedar untuk biaya hidup Naila sebelum Bapak mendapat pekerjaan lagi di Tegal. Mohon titipan ini diterima.”
Alif menangis, bulir air mata runtuh tak terbendung.
Ada cinta mewujud disana. Saudara seimannya benar-benar mencintainya.
Naila kaget melihat ayahnya menangis. Ia lari menghambur dalam dekapan Alif. Aku terpesona melihat bentuk cinta yang tak terbatas jarak. Kalian tahu dimana orang yang menitipkan uang itu tinggal? Kata Erik, mereka tinggal jauh berpuluh kilometer, terpisah laut, budaya, dan bahasa. Yang dekat diantara mereka hanya iman. Iman pada Yang Maha Satu dan menyatukan makhlukNya.
Buah-buah Kersen masak telah penuh di mulutku. Aku harus segera pulang ke sarang sebelum anak-anakku mencicit kelaparan.
Diselesaikan di Bogor, 14 Oktober 2016