Rumah untuk Luka dan Tawa
Carilah tempat, bukan sekadar atap atau dinding yang berdiri gagah, tapi ruang di mana hatimu boleh bernafas apa adanya. Tempat di mana kekuranganmu tidak diadili, di mana rapuhmu bukan bahan cemooh, melainkan dipeluk erat dengan dekap yang paling melekat.
Jangan mencari singgasana yang memaksamu duduk tegak, menahan napas, menjadi sempurna di mata yang selalu menilai.
Tempat yang benar adalah yang tak meminta topengmu terus terpasang, yang tak menuntutmu menjadi versi lain dari dirimu. Apalagi sampai memaksamu menjadi orang lain yang bahkan tidak kamu kenali.
Carilah tangan yang tak hanya menggenggammu saat kau bersinar, tetapi tetap erat meski kau tenggelam dalam kelam.
Tak mengenal daftar syarat, ia hanya ingin kau pulang, dengan luka dan tawa yang sama-sama diterima.



















