Ubah Gaya Hidupmu, Ayo Selamatkan Harimau, Penyu dan Satwa Lainnya
Indonesia merupakan rumah bagi beberapa spesies yang sekarang sudah menjadi langka karena jumlahnya semakin menipis. Harimau Sumatera, Orang Utan, Penyu Hijau dan beberapa spesies lainnya dinyatakan mengalami penurunan populasi secara drastis.
Ketika Tiger Summit Meeting di Petersburg Rusia, November 2010 lalu, mengemukakan fakta bahwa 93 persen habitat alami harimau dunia hilang karena ekpansi manusia. Dan terkhusus di Sumatera, dari tahun 2000-2012 sebanyak 2,8 juta hektar hutan hilang.
Lima spesies harimau di dunia tiga diantaranya ada di Indonesia, Harimau Bali, Harimau Jawa, dan Harimau Sumatera. Saat ini yang tersisa hanya Harimau Sumatera. Harimau Jawa punah sekitar tahun 1980 dan Harimau Bali punah tahun 1940. Jumlah Harimau Sumatera saat ini sekitar 300 ekor, tersebar di seluruh Sumatera dan Riau merupakan habitat paling luas tempat tinggal Harimau Sumatera, sepertiga populasi Harimau Sumatera ada di hutan Riau.
selain harimau, orang utan juga menjadi perhatian karena jumlah populasinya semakin menurun. Dikutip dari artikel Tempo, dalam artikel itu menyatakan orang utan bergeser statusnya dari terancam punah menuju ke Kritis. Ini satu langkah menuju kepunahan. Saat ini jumlah orang utan ada 100 ribu ekor dan tersebar di Kalimantan dan Sumatera. Para peneliti bahkan memprediksi pada tahun 2025 akan mengalami penurunan pupolasi menjadi 47 ribu ekor saja.
Harimau dan orang utan mengalami penurunan jumlah populasi dikarenakan habitat hidupnya semakin berkurang. Kebakaran hutan karena pembukaan lahan menjadi penyebab terbesar mamalia tersebut mengalami penurunan populasi. Kehilangan habitat liar berarti kehilangan sumber pangan, sumber pangan hilang maka kematian datang.
Selain mamalia darat tersebut beberapa spesies laut juga terancam punah. Indonesia menjadi rute perpindahan (migrasi) penyu laut yang terpenting di persimpangan samudera pasifik dan hindia. Beberapa spesies penyu memilih pantai laut indonesia sebagai tempat bertelur. Akan tetapi akhir-akhir ini kondisi laut indonesia sangat memperihatinkan.
Direktur pengendalian pencemaran dan kerusakan pesisir laut (PPKPL) kementerian lingkungan hidup dan kehutanan, Heru Waluyo mengatakan, indonesia hingga akhir tahun 2016 lalu dinyatakan sebagai kontributor  sampah plastik di laut urutan kedua terbesar di dunia.
Sampah pelastik yang terombang ambing di laut terlihat menyerupai ubur-ubur yang mana ubur-ubur merupakan makanan kesukaan penyu, akibatnya penyu memakan plastik dan secara perlahan akan membunuhnya. Sampah plastik yang terbawa ke pantai dan menumpuk di sana mengakibatkan penyu tak bisa mendarat untuk bertelur dan akhirnya tak kan ada penambahan populasi. Apabila ini dibiarkan maka akan mengganggu populasi penyu.
Lantas apa hubungannya dengan gaya hidup kita? Tentu saja ada.
Penggunaan kertas dan tisu yang berlebihan mempengaruhi jumlah hutan yang ada di indonesia. Semakain banyak permintaan akan kertas dan tisu maka semakin banyak kayu dan hutan yang ditebang yang akhirnya mengakibatkan harimau Sumatera dan orang utan kehilangan habitat aslinya. Untuk mengatasi hal tersebut sekiranya kita menerapkan gaya hidup ramah lingkungan yang mana mengurangi kegiatan mencetak, apabila terpaksa mencetak maka gunakan kertas di kedua sisinya agar tak banyak kertas yang terpakai. Kebiasaan menggunakan tisu dikurangi dengan memakai sapu tangan atau handuk. Dengan demikian penggunaan akan kertas dan tisu akan berkurang.
Kebiasaan menggunakan kantong plastik, membeli minuman kemasan plastik dan membuang sampah sembarangan juga harus dirubah dengan cara memakai tas belanja yang Reuseable atau dapat digunakan kembali, selalu membawa botol minum sendiri agar tidak menambah sampah plastik dan biasakan membuang sampah pada tempatnya. Karena sampah yang dibuang tidak pada tempatnya perlahan akan mengalir ke sungai dan berujung ke laut yang mengakibatkan kerusakan ekosistem laut.
Mari bersama perlahan rubah gaya hidup menjadi gaya hidup yang ramah lingkungan agar tidak terjadi kerusakan ekosistem.