Si WajahBengis
Pagi ini terasa sibuk seluruh penghuni kamar 7, 8 dan 9 semua ribut dengan dandanan, mix and match, mulai dari jilbab, gamis juga make up simple, sampai sepatu mana yang mau dipakai. Mempersiapkan segala printilan yang biasanya sering lupa, kali ini benar-benar harus teliti dan nggak boleh ada yang tertinggal demi kelancaran acara hari ini.
“Gimana? Semuanya sudah siap?" kata Rain
"Siap Ra…!" semua kompak menjawab
"Eh, kue gimana Ra?" tanya Tiya
"Sudah siap kok, kemarin aku bilang ke mbaknya bisa diambil jam 6, nanti kita tinggal ambil sekalian pas berangkat.” Jelas Rain.
Tiya emang yang paling teliti dan detail dengan hal-hal kecil.
"Terus kita berangkatnya gimana Ra?" Amal menyahuti sambil membetulkan letak jilbabnya.
"Oh iya, sebentar aku tak telpon Putra dulu jadinya kita dijemput apa gimana." Jawab Rain
Lalu aku mulai memencet tombol yang ada di ponsel mencari nomer si Putra, segera dipencet oleh Rain tombol tersambung hijau, tut…tut…agak lama bunyi itu terdengar yang membuat Rain sedikit cemas jangan-jangan ini anak belum bangun, bisa gawat kalau mereka belum pada bangun.
"Ya Ra.. Assalamu'alaikum? " terdengar suara berat dari seberang sana
"Ah… Alhamdulillah, wa'alaikumussalam Put, kupikir kamu masih tidur, haha." Sambar Rain tanpa menunggu jeda Putra ngomong diseberang sana
"Ngawur aja, aku sudah siap ditempat ini Ra, dari subuh sudah berangkat." jawab putra mungkin dengan muka yang masam sebal, Rain bisa membayangkannya dari intonasi suara yang terdengar dari telpon diujung sana.
"Alhamdulillah haha, eh jadi gimana nih kita para tuan putri berangkatnya?" Rain tertawa tanpa rasa bersalah lalu bertanya memaskitakan keberangkatan Mereka
"Kalian para tuan putri manja dijemput Rafsa pakai mobil, ini katanya Si Rafsa sudah berangkat Ra…" jelas Putra
"Yuhuuu manteb nih Pak Ketum, banyak yang akan cinta nih kalau pak ketum baik begini" sahut Rain dengan sedikit menggoda sambil tertawa tak berdosa
"Wkwkw asyem kamu Ra, nih aku kirim nomer Rafsa, nanti hubungin sendiri ya sampek mana perjalananya, eh iya snack gimana? Udah beres kan?"
"Siap Pak Ketum, on my control, nanti sekalian pas berangkat diambil" jelas Rain yang belum selesai bicara langsung terdengar suara tut disana, Si Putra menutup telepon tanpa basa-basi, dan begitulah dia.
Sejurus kemudian Rain menekan tombol panggilan keluar untuk menelpon Si Rafsa, sambil nunggu nada tut itu tersambung dan berbunyi halo terbesit pikiran bahwa Rain kan belum tau Rafsa yang mana ya, nanti gimana tau kalau itu Rafsa, hymm pikir nanti ajah deh. Tak lama setelah bunyi tut itu berulang 5 kali ada suara halo disana.
“Eh, Assalamualaikum, mas Rafsa ya? Aku Rain mas, anak asrama, kata Putra masnya yang jemput ya?” Tanya Rafsa tanpa basa-basi.
“Iya Ra, ini sudah mau sampek asrama, kalian keluar sekarang ya..!” jawab Rafsa dengan nada datar
“okay..!”
“Guys…! Yuk turun sekarang, ini si Rafsa yang jemput kita udah sampai bawah.” Ajak Rain kepada teman-temannya yang sudah siap grak, cantik-cantik.
Sampai bawah Rafsa sudah ada dan siap dengan mobilnya dan tara… Mobilnya kecil, ini mah mana cukup buat 6 orang plus 200 box snack, Mereka saling pandang tanpa ada yang berani bertanya atau berkomentar karena ternyata si Rafsa berekspresi datar dan wajahnya serem.
Satu persatu Rain, Amal, Tiya dan yang lain masuk mobil berbisik mengatur posisi duduk mereka, agar nati muat saat snack box pesanan Rain masuk.
Ketika sampai toko dengan cepat rain turun dan mengambil pesanan untuk segera dibawa, takutnya akan terlambat karena jarak yang jauh. Kira-kira 60 menit perjalanan menggunakan mobil jika tidak ada kemacetan.
Tiya dengan sigap membantu Rain menata snack box mereka, agar saat sampai tujuan masih rapih an tidak ada yang penyok, karena aka nada beberapa tamu undangan penting diacara itu.
Rafsa? Tentu saja masih dengan muka datar melihat keriberan Rain dan teman temannya saat meliriknya dari kaca spion depan.













