Final Evaluation-EnvironmentalĀ Chemistry
Mata Kuliah : Kimia Lingkungan 1
Sub Materi : Kimia Lingkungan Air
Pengampu : Prof. Dr. Wayan Budiarsa Suyasa, MS.
1.Ā Jelaskan Stratifikasi perairan alam dan sifat-sifat kimianya !
2.Ā Jelaskan Pengaruh pH terhadap keberadaan unsur dan senyawa organic dan anorganik !
3.Ā Jelaskan dan reaksinya proses Nitrifikasi dan Denitrifikasi !
4.Ā Jelaskan hubungan suplay dan demand oksigen dalam air !
1.Ā Straktifikasi perairan alam dan sifat ā sifat kimianya, ialah :
Menurut Anggraini (2007), perairan permukaan diklasifikasikan menjadi dua kelompok utama yaitu badan air tergenang (standing water atau lentik) dan badan air mengalir (flowing water atau lotik). Perairan tergenang meliputi danau, kolam, waduk, rawa, dan sebagainya. Danau atau situ memiliki karakteristik: arus yang stagnan atau tenang, organisme yang hidup di dalamnya tidak membutukan adaptasi khusus, ada stratifikasi suhu, substrat umumnya berupa lumpur halus, dan residence time-nya lama.
Dalam memahami stratifikasi perairan air tawar, dapat kita golongkan sebagai air permukaan (surface water) yang meliputi danau, kolam, waduk (resrvoir), dan sebagainya. Perairan air tawar seperti danau, umumnya mengalami stratifikasi dalam badan air secara vertikal akibat adanya perbedaan cahaya, suhu dan perbedaan tingkat kesuburan. Selain disebabkan oleh arus stratifikasi vertikal juga dipengaruhi oleh kedalaman dan musim.
Stratifikasi vertikal kolom air pada perairan air tawar yang diakibatkan oleh intensitas cahayaĀ yang masuk ke perairan dibagi menjadi tiga kelompok, yaitu :
1) Lapisan eufotik, yang merupakan lapisan yang masih mendapat cukup cahaya matahari;
2) Lapisan kompensasi adalah lapisan dengan intensitas cahaya sebesar 1% dari intensitas cahaya permukaan;
3) Lapisan profundal, yaitu lapisan yang terletak di bawah lapisan kompensasi, dengan intensitas cahaya sangat kecil atau bahkan tidak terdapat cahaya (afotik).
Stratifikasi vertikal kolom air yang berdasarkan perbedaan panasĀ (perbedaan suhu) pada setiap kedalaman perairan dikelompokkan menjadi tiga (3) yaitu :
1) Epilimnion merupakan lapisan bagian atas perairan. Lapisan ini bagian yang hangat kolom air, suhu relatif konstan (perubahan suhu sangat kecil secara vertikal). Seluruh massa air di lapisan ini tercampur dengan baik karena pengaruh angin dan gelombang.
2) Metalimnion atau yang sering disebut Termoklin, terletak di bawah lapisan epilimnion. Perubahan suhu dan panas secara vertikal relatif besar pada lapisan ini. Setiap penambahan kedalaman satu meter terjadi penurunan suhu air sekitar 1 derajat celcius.
3) Hipolimnion, terletak di bawah lapisan termoklin. Lapisan ini lebih dingin, bercirikan adanya perbedaan suhu secara vertikal relatif kecil. Sifat massa airnya stagnan, tidak mengalami percampuran (mixing) dan memiliki kekentalan air (densitas) yang lebih besar. Pada umumnya di wilayah tropis memiliki perbedaan suhu air permukaan dengan bagian dasar hanya sekitar 2 - 3 derajat celcius (1).
Dilihat dari tingkat kesuburan perairan air tawar (danau)Ā maka dapat dibagi menjadi lima (5) kelompok yaitu :
1) Oligotrofik, perairan yang miskin unsur hara dan produktivitas rendah (produktivitas primer dan biomassa rendah). Perairan ini memiliki kadar nitrogen dan fosfor rendah, namun cenderung jenuh dengan oksigen.
2) Mesotrofik, perairan yang memiliki unsur hara dan produktivitas sedang (produktivitas primer dan biomassa sedang). Perairan ini merupakan peralihan antara oligotrofik dan eutrofik.
3) Eutrofik, perairan kaya unsur hara dan produktivitas tinggi. Perairan ini memiliki tingkat kecerahan rendah dan oksigen pada lapisan hipolimnion dapat lebih kecil dari 1 mg/liter.
4) Hiper-eutrofik, perairan dengan kandungan unsur hara dan produktivitas primer sangat tinggi. Pada lapisan hipolimnion tidak terdapat oksigen (kondisi anoksik).
5). Distrofik merupakan jenis perairan yang banyak mengandung bahan organik, seperti humus dan fulfic. Jenis perairan seperti ini (danau) banyak menerima bahan organik dari tumbuhan yang berasal dari daratan sekitarnya, sehingga biasanya memiliki produktivitas primer rendah (2).
Dengan demikian dalam stratifikasi perairan air tawar menggunakan stratifikasi vertikal kolom air, yang dapat distratifikasi lagi dalam tiga indikator, seperti: intensitas cahaya, perbedaan suhu, dan tingkat kesuburan air. Namun demikian untuk mengindikasi stratifikasi perairan air tawar dapat juga menggunakan macam stratifikasi lainnya, hal ini bergantung pada hasil yang ingin dicapai dalam pengamatan.
Gambaran yang dari sifat-sifat kimia perairan didasarkan pada alkalinitas/aksiditas, kelarutan, konstanta pembentukan kompleks, potensial redoks dan pH.
Kapasitas air untuk menerima protein disebut alkalinitas. Alkalinitas penting dalam perlakuan air seperti pada proses pengolahan air limbah industry atau limbah domestic. Air yang sangat alkali atau bersifat basa sering mempunyai pH tinggi dan umumnya mengandung padatan penting dalam penentuan kemampuan air untuk mendukung pertumbuhan ganggang dan kehidupan perairan lainnya.
Komponen utama yang memegang peran menentukan alkalinitas perairan adalah ion bikarbonat, ion karbonat dan ion hidrosil.
HCO3- Ā + Ā Ā H+ Ā Ā Ā Ā Ā Ā Ā Ā Ā CO2 Ā + Ā H2O
CO32- Ā Ā + Ā Ā H+ Ā Ā Ā Ā Ā Ā Ā Ā Ā Ā HCO3-
OH- Ā Ā Ā Ā + Ā Ā H+ Ā Ā Ā Ā Ā Ā Ā Ā Ā Ā H2O
Yang sedikit menyumbang alkalinitas adalah ammonia dan konyugat basa-basa dari asam-asam fosfat, slikat borat dan asam-asam organic.
Alkalinitas umumnya dinyatakan sebagai alkalinitas fenolftalein yaitu proses situasi dengan asam untuk mencapai pH 8,3 dimana HCO3- merupakan ion terbanyak, dan alkalinitas total, yang menyatakan situasi dengan asam menuju titik akhir indicator metal jingga (pH 4,3), yang ditunjukan oleh berubahnya kedua jenis ion karbonat dan bikarbonat menjadi CO2-.
Jika pH merupakan factor intensitas, alkalinitas merupakan factor kapasitas, dimana kapasitas itu merupakan kapasitas air tersebut untuk menetralkan asam. Oleh karena itu kadang-kadang penambahan alkalinitas lebih banyak dibutuhkan untuk mencegah supaya air itu tidak menjadi asam.
Dalam kebanyakan air alami alkalinitas disebabkan oleh adanya HCO3- dan sedikit adanya CO32-, dan air dengan alkalinitas tinggi mempunyai konsentrasi karbon organic yang tinggi. Dalam media dengan pH rendah, ion hydrogen dalam air mengurangi alkalinitas.
Pada system perairan alami aciditas adalah kapasitas air untuk menetralkan OH-. Asiditas tidak dipergunakan sesering alkalinitas dan umumnya tidak mempunyai arti yang penting seperti alkalinitas pada perairan yang tidak tercemar. Penyebab dari asiditas umumnya adalah asam-asam lemah seperti HPO42-, H2PO4- , CO2, HCO3-, protein dan ion-ion logam yang bersifat asam terutama Fe3+.
Penentuan asiditas lebih sukar dibandingkan alkalinitas. Hal ini disebabkan oleh adanya dua zat utama yang berperan yaitu CO2 dan H2S yang keduanya mudah menguap, yang mudah hilang dari sample yang diukur.
CO2 Ā Ā + Ā Ā OH Ā Ā Ā Ā Ā Ā Ā Ā Ā Ā Ā Ā HCO3-
H2S Ā Ā + Ā Ā OH- Ā Ā Ā Ā Ā Ā Ā Ā Ā Ā Ā Ā HS- Ā Ā + Ā Ā H2O
Hal tersebut berakibat terjadinya kesukaran dalam pengawetan contoh air yang baik terhadap adanya gas-gas tersebut untuk dianalisa.
Asam mineral bebas dipakai dalam asam-asam kuat seperti H2SO4 dan HCl dalam air. Air tambang asam mengandung asam-asam mineral bebas dengan konsentrasi yang cukup berarti. Bila total asiditas di tentukan oleh situasi dengan basa sampai titik akhir flenolftalein (pH 8,2 ), maka untuk asam mineral bebas ditentukan oleh situasi dengan titik akhir indicator metal jingga pada pH 4,3.
Sifat asam dari ion-ion logam yang terhidrat dapat berperan terhadap asiditas, seperti:
Al ( H2O)6 Ā Ā Ā Ā Ā Ā Ā Ā Ā Ā Ā Ā Ā Al (H2O)5 Ā Ā OH2+ Ā Ā + Ā H+
Pada pengolahan air limbah, terutama limbah industry penentuan asiditas menjadi penting untuk memperhitungkan jumlah kapur atau zat-zat lain yang harus ditambahkan dalam proses pembiakan air limbah.
c.Ā Ā Ā Ā Ā Ā Terjadinya senyawa kompleks
Dalam air ion logam dapat bergabung dengsn ion negative, atau dengan senyawa netral membentuk sebuah kompleks atau senyawa koordinasi. Sebuah kompleks mengandung sebuah atom logam pusat dimana terikat electron-elektron yang dimiliki oleh ligan sebagai donor elektronnya. Ligan-ligan dapat bermuatan negative atau netral. Kompleks yang dihasilkan dapat bermuatan netral, positif atau negative. Ligan-ligan tersebut terdapat dalam daerah lengkung koordinasi atom logam pusat. Ligan-ligan dalam daerah lengkung koordinasi dibentuk dalam suatu pola struktur tertentu. Oleh karrena itu, dalam larutan ligan-ligan dari banyak senyawa kompleks akan berubah dengan cepat pada larutan yang berbeda.
Bilangan koordinasi dari sebuah logam atau ion adalah jumlah kelompok donor electron yang diikat kepada logam itu. Bilangan-bilangan koordinasi yang paling umum adalah 2,4 atau 6. Senyawa kompleks berinti banyak mengandung dua atau lebih atom-atom logam yang terikat bersama-sama melalui jembatan ligan-, yang sering terjadi adalah OH- bila ion kadnium bergabung dengan ion sianida,
Cd2+ Ā Ā Ā + Ā Ā Ā CN- Ā Ā Ā Ā Ā Ā Ā Ā Ā Ā Ā Ā Ā Ā CdCN+
Maka terbentuk ion kompleks CdCN+. Selanjutnya bila ion-ion sianida ditambahkan akan membentuk senyawa kompleks yang lebih lemah, yang lebih mudah terdisosiasi.
Cd ( CN )2, Cd ( CN )3, dan Cd ( CN ) 42+
Dalam contoh tersebut ligan sianida disebut sebagai ligan unidentat, yang berarti hanya mempunyai satu tempat untuk mengadakan ikatan pada ion logam pusat kadnium. Kompleks ligan unidentat relativ kurang penting dalam larutan diperairan alami.
Kompleks yang paling penting adalah senyawa kompleks dengan senyawa pengkelat. Pengkelat mempunyai lebih dari satu atom yang dapat diikat pada sebuah ion logam pusat pada suatu waktu untuk membentuk sebuah struktur cincin. Ion pyrofosfat, P2O74+ mengikat pada dua tempat terhadap sebuah ion kalsium membentuk sebuah kelat.
Kelat lebih stabil dibandingkan dengan kompleks yang melibatkan ligan-ligan unidentat karena mampu berikatan dengan sebuah ion logam pada lebih dari satu tempat secara simultan. Ligan āligan yang ditemukan diperairan alami dan air buangan terdiri dari bermacam-macam gugus fungsi senyawa organic yang dapat memberikan electron-elektron yang dibutuhkan untuk mengikat ligan pada ion-ion logam.
Ā Ā Ā Ā _ Ā C Ā _ Ā O Ā Ā karboksilat
Ā Ā R Ā _ Ā NH2 Ā Ā Ā Ā Ā Amino aromatic
Ā Ā Ā Ā // Ā Ā \\ Ā Ā Ā Ā
Ā Ā O Ā _ Ā P Ā _ O fosfat
Ā Kompleks ligan dengan ion-ion logam umumnya terjadi secara alamiah dalam perairan yang tidak tercemar dan dalam system biologi ( Mg2+, Ca2+, Mn2+, Fe2+, Fe3+, Cu2+, Zn2+ dan VO2+). Ion-ion ini dapat juga mengikat ion-ion logam kontaminan umum seperti : CO2+, Ni2+, Sr2+, Cd2+, dan Ba2+. Ā Banyaknya pengaruh berbahaya dari logam-logam toksik diakibatkan oleh pergantian dari ion-ion logam yang terjadi secara alamiah dalam pembentukan kompleks oleh ion-ion logam kontaminan.
Pada umumnya, pembentukan kompleks dalam perairan alami melibatkan banyak reaksi penting. Hal ini mencakup perubahan-perubahan bilangan oksidasi logam, seperti halnya yang terjadi pada oksidasi-reduksi, dikarboksilasi atau reaksi-reaksi hidrolistis dan ligan.
pH adalah cerminan dari derajat keasaman yang diukur dari jumlah ion hydrogen menggunakan rumus umum pH=-log(H+). Air murni terdiri dari ion H+ dan OH- dalam jumlah berimbang hingga pH air murni biasanya 7. Makin banyak ion OH- dalam cairan makin rendah ion H+ dan makin tinggi Ph. Cairan demikian disebut cairan alkalis. Sebaliknya makin banyak ion H+ makin rendah Ph dan cairan tersebutbersifat masam. Sebagian besar danau ber pH 6-9. Danau sadah (soda lake)ber pH 11,5. Danau asam dapat disebabkan karena hujan asam akibat polustri industry sehingga kapasitas buffer menghilang. Danau di padang pasir Afrika Tengah (Danau Utan)=air yang masuk lebih kecil dan jumklah air yang keluar. Akibatnya menjadi danau yang alkali. Sehingga variasi tanaman dan hewan juga rendah (Arfiati, 2001).
2.Ā Pengaruh pH terhadap keberadaan unsur dan senyawa organic dan anorganik
Air normal yang memenuhi syarat untuk suatu kehidupan mempunyai pH sekitar 6,5 ā 7,5. Air akan bersifat asam atau basa tergantung besar kecilnya pH. Bila pH di bawah pH normal, maka air tersebut bersifat asam, sedangkan air yang mempunyai pH di atas pH normal bersifat basa. Air limbah dan bahan buangan industri akan mengubah pH air yang akhirnya akan mengganggu kehidupan biota akuatik.
Sebagian besar biota akuatik sensitif terhadap perubahab pH dan menyukai pH
antara 7 ā 8,5. Nilai pH sangat mempengaruhi proses biokimiawi perairan , misalnya proses nitrifikasi akan berakhir pada pH yang rendah. Pengaruh nilai pH pada komunitas biologi perairan dapat dilihat pada table di bawah ini :
Tabel : Pengaruh pH Terhadap Komunitas Biologi Perairan
6,0 ā 6,5 Ā Ā Ā Ā Ā Ā Ā Ā Ā Ā Ā Ā Ā
Keanekaragaman plankton dan bentos sedikit menurun
Kelimpahan total, biomassa, dan produktivitas tidak mengalami perubahan
Ā 5,5 ā 6,0 Ā Ā Ā Ā Ā Ā Ā Ā Ā Ā Ā Ā Ā
Penurunan nilai keanekaragaman plankton dan bentos semakin tampak Kelimpahan total, biomassa, dan produktivitas masih belum mengalami perubahan yang berarti
Algae hijau berfilamen mulai tampak pada zona litoral
Ā 5,0 ā 5,5 Ā Ā Ā Ā Ā Ā Ā Ā Ā Ā Ā Ā Ā
Penurunan keanekaragaman dan komposisi jenis plankton, perifilton dan bentos semakin besar
Terjadi penurunan kelimpahan total dan biomassa zooplankton dan bentos
Algae hijau berfilamen semakin banyak
Proses nitrifikasi terhambat
Ā 4,5 ā 5,0 Ā Ā Ā Ā Ā Ā Ā Ā Ā Ā Ā Ā Ā
Penurunan keanekaragaman dan komposisi jenis plankton, perifilton dan bentos semakin besar
Penurunan kelimpahan total dan biomassa zooplankton dan bentos
Algae hijau berfilamen semakin banyak
Proses nitrifikasi terhambat
Sumber : modifikasi Baker et al., 1990 dalam Efendi, 2003
Pada pH < 4, sebagian besar tumbuhan air mati karena tidak dapat bertoleransi terhadap pH rendah. Namun ada sejenis algae yaitu Chlamydomonas acidophila mampu bertahan pada pH =1 dan algae Euglena pada pH 1,6
3.Ā Proses Nitrifikasi dan Denitrifikasi dan reaksi yang terjadi, ialah :
Nitrifikasi adalah proses dimana ammonium (NH4+) yang dioksidasi ke nitrat (NO2-) dan kemudian menjadi nitrat (NO3-). Rataan nitrifikasi juga di pengaruhi oleh kelembaban tanah dan cenderung menjadi sangat lambat pada tanah kering, dimana air encer membatasi difusi dari NH4+ ke nitrifiers. Secara spontan nitrifikasi adalah proses keasaman dalam oksidasi dari NH4+ ke NO3- menghasilkan ion H+. Sedangkan ini juga sensitif untuk mengubah pH tanah tersebut, dalam tanah pertanian, nitrifikasi tak berarti dibawah pH 4,5. Tetapi rataan nitrifikasi cenderung menjadi lemah pada temperatur tanah hutan asam (Bardgett, 2008).
Konversi amonium menjadi nitrat dilakukan terutama oleh bakteri yang hidup di dalam tanah dan bakteri nitrifikasi lainnya. Tahap utama nitrifikasi, bakteri nitrifikasiĀ seperti spesies Nitrosomonas mengoksidasi amonium (NH4+) dan mengubah amonia menjadi nitrit (NO2-). Spesies bakteri lain, seperti Nitrobacter, bertanggung jawab untuk oksidasi nitrit menjadi dari nitrat (NO3-). Proses konversi nitrit menjadi nitrat sangat penting karena nitrit merupakan racun bagi kehidupan tanaman. Proses nitrifikasi dapat ditulis dengan reaksi berikut ini :
1.Ā NH3Ā + CO2Ā + 1.5 O2Ā + Nitrosomonas ā NO2-Ā + H2O + H+
2.Ā NO2-Ā + CO2Ā + 0.5 O2Ā + Nitrobacter ā NO3-
3.Ā NH3Ā + O2Ā ā NO2āĀ + 3H+Ā + 2eā
4.Ā NO2āĀ + H2O ā NO3āĀ + 2H+Ā + 2e
Denitrifikasi adalah suatu proses pembentukan atau penguraian nitrat oleh adanya aktivitas mikroba tanah yang sampai saat ini menjadi masalah penting dan serius pemupukan di tanah sawah, karena dapat menyebabkan kehilangan N dalam jumlah besar. Kehilangan berkisar antara 20-40 % di India dan 30-50 % di Jepang, dimana kecepatan hilangnya nitrat karena denitrifikasi dipengaruhi oleh sifat tanah dan suhu. Bila suhu rendah sekitar 50 C, proses denitrifikasi menjadi lambat, sedangkan pada kondisi tropis (Indonesia) sebagian akan hilang beberapa hari setelah penggenangan (Suryadientina, 2009).
Proses ini dilakukan oleh spesies bakteri seperti Pseudomonas dan Clostridium dalam kondisi anaerobik. Mereka menggunakan nitrat sebagai akseptor elektron di tempat oksigen selama respirasi. Fakultatif anaerob bakteri ini juga dapat hidup dalam kondisi aerobik.
Denitrifikasi umumnya berlangsung melalui beberapa kombinasi dari bentuk peralihan sebagai berikut:
NO3āĀ āĀ NO2āĀ ā NO +Ā N2OĀ āĀ N2Ā (g)
Proses denitrifikasi lengkap dapat dinyatakan sebagai reaksi redoks:
2 NO3āĀ + 10 eāĀ + 12 H+Ā ā N2Ā + 6 H2O
Terdapat 2 mekanisme kehilangan nitrogen dengan denitrifikasi. Denitrifikasi kimia dan denitrifikasi biologi. Biologi denitrifikasi terjadi dalam tanah anaerobic puncak dalam pembebasan dari N2O dan N2. Perhitungan dari kehilangan N sangat sulit, karena meskipun N2O konsentrasinya dalam udara tanah dapat diukur secara akurat dengan kromatografi udara, N terlihat sebagai N2 dapat diketahui dari dasar gas N2 jika original substrat N diberi diberi label dengan 15N. (Rosmarkam, 2002)
Ā 4.Ā Hubungan suplay dan demand oksigen dalam air, ialah :
Bila pada suhu yang sama konsentrasi oksigen terlarut sama dengan jumlah kelarutan oksigen yang ada di dalam air, maka air tersebut dapat dikatakan sudah jenuh dengan oksigen terlarut atau demand oxygen (DO). Bila air mengandung lebih banyak oksigen terlarut (DO) daripada yang seharusnya pada suhu tertentu, berarti oksigen dalam air tersebut sudah lewat jenuh (super saturasi).
Pada wilayah air laut, kadar oksigen akan bertambah dengan semakin rendahnya suhu dan berkurang dengan semakin tingginya salinitas. Pada lapisan permukaan, kadar oksigen akan lebih tinggi, karena adanya proses difusi antara air dengan udara bebas serta adanya proses fotosintesis. Dengan bertambahnya kedalaman akan terjadi penurunan kadar oksigen terlarut, karena proses fotosintesis semakin berkurang dan kadar oksigen yang ada banyak digunakan untuk pernapasan dan oksidasi bahan-bahan organik dan anorganik Keperluan organisme terhadap oksigen relatif bervariasi tergantung pada jenis, stadium dan aktifitasnya. Kebutuhan oksigen untuk ikan dalam keadaan diam relatif lebih sedikit apabila dibandingkan dengan ikan pada saat bergerak atau memijah. Jenis-jenis ikan tertentu yang dapat menggunakan oksigen dari udara bebas, memiliki daya tahan yang lebih terhadap perairan yang kekurangan oksigen terlarut.
Kandungan oksigen terlarut (DO) minimum adalah 2 ppm dalam keadaan nornal dan tidak tercemar oleh senyawa beracun (toksik). Kandungan oksigen terlarut minimum ini sudah cukup mendukung kehidupan organisme. Idealnya, kandungan oksigen terlarut tidak boleh kurang dari 1,7 ppm selama waktu 8 jam dengan sedikitnya pada tingkat kejenuhan sebesar 70 %. KLH menetapkan bahwa kandungan oksigen terlarut adalah 5 ppm untuk kepentingan wisata bahari dan biota laut. Agar ikan dapat hidup, air harus mengandung oksigen paling sedikit 5 mg/ liter atau 5 ppm (part per million). Apabila kadar oksigen kurang dari 5 ppm, ikan akan mati, tetapi bakteri yang kebutuhan oksigen terlarutnya lebih rendah dari 5 ppm akan berkembang. Apabila sungai menjadi tempat pembuangan limbah yang mengandung bahan organik, sebagian besar oksigen terlarut digunakan bakteri aerob untuk mengoksidasi karbon dan nitrogen dalam bahan organik menjadi karbondioksida dan air. Sehingga kadar oksigen terlarut akan berkurang dengan cepat dan akibatnya hewan-hewan seperti ikan, udang dan kerang akan mati. Kebutuhan oksigen biologi (BOD) didefinisikan sebagai banyaknya oksigen yang diperlukan oleh organisme pada saat pemecahan bahan organik, pada kondisi aerobik. Pemecahan bahan organik diartikan bahwa bahan organik ini digunakan oleh organisme sebagai bahan makanan dan energinya diperoleh dari proses oksidasi. Parameter BOD, secara umum banyak dipakai untuk menentukan tingkat pencemaranair buangan. Penentuan BOD sangat penting untuk menelusuri aliran pencemaran dari tingkat hulu ke muara. Sesungguhnya penentuan BOD merupakan suatu prosedur bioassay yang menyangkut pengukuran banyaknya oksigen yang digunakan oleh organisme selama organisme tersebut menguraikan bahan organik yang ada dalam suatu perairan, pada kondisi yang harnpir sama dengan kondisi yang ada di alam. Selama pemeriksaan BOD, contoh yang diperiksa harus bebas dari udara luar untuk rnencegah kontaminasi dari oksigen yang ada di udara bebas. Konsentrasi air buangan/sampel tersebut juga harus berada pada suatu tingkat pencemaran tertentu, hal ini untuk menjaga supaya oksigen terlarut selalu ada selama pemeriksaan. Hal ini penting diperhatikan mengingat kelarutan oksigen dalam air terbatas dan hanya berkisar ± 9 ppm pads suhu 20