Waktu-waktu yang sangat familiar. Saat matahari mulai condong di ufuk barat, menguning, menjadikan suasana semakin temaram. Sore yang mendung, ketika sinar matahari tak bisa menyilaukan mata karena terhalang gumpalan-gumpalan awan. Udara sejuk setelah hujan, dan masih menyisakan sedikit titik air sesekali. Aku menemukannya.
Suasana riuh yang ku kenal. Bahkan ku rindu. Suasana kelas berakhir di sebuah kampus. Mahasiswa, baik laki-laki ataupun perempuan, sama saja. Meriah sekali suasana kampus bubar. Keluar kelas dengan mata segar, kantuk yang kandas dan senyum semangat bertebaran dimana-mana. Entah mengapa, anak kampus kalau keluar kelas senang bersuar kencang. Saling sapa sana-sini, tertawa keras, atau bahkan cekikikan. Semuanya saat ini bagiku terdengar riuh menjadi satu.
Keramaian dan keramahan kampus yang dipenuhi teman satu jurusan, atau bahkan beda fakultas. Tertawa kecil bersama sahabat karena melihat gebetan lewat. Rindu. Sedangkan aku di sini, yang bukan bagian dari kampus ini, hanya berdiri di depan etalase kaca setinggi dada, menunggu hasil perbanyakan dokumen selesai di toko yang orang biasa menyebutnya fotokopian.
Butuh waktu beberapa menit hingga aku mendapatkan hasil perbanyakan dokumenku. Dan lucunya, dalam waktu beberapa menit menunggu itu, sukses membawaku ke masa itu, masa dimana kampus adalah hal yang menyenangkan meskipun pada awalnya adalah salah jurusan. Jam 5 sore pasti kampus besar megah itu tiba-tiba menjadi ramai, riuh, persis seperti kampus baru dekat rumah ini.
Aku belum akan menyelesaikan lamunanku ketika dokumenku telah selesai diperbanyak. Membawa berkas dokumen yang banyak, menuju warung kopi terdekat. Segelas susu coklat dingin melanjutkan ingatanku menjelajah liar di alam bawah sadarku.
Teringat pula aku pada masa-masa yang tidak terlalu jauh, ketika aku masih bekerja di Ibu Kota. Hampir setiap jam 5 sore, shelter transjakarta mulai dipenuhi antrean panjang manusia-manusia yang kelelahan. Jam 5 sore juga adalah waktu jalanan mulai tersendat dan padat, membuat sisanya yang masih berada dalam gedung, malas untuk ikut meramaikan jalanan.
rindu menikmati momen jam 5 soreku.
Tanpa sadar aku sudah kehilangan banyak hari untuk menikmati momen jam 5 sore. Dimana biasanya aku akan tertawa bersama teman-teman usai kelas kampus atau sedang menikmati kemacetan dari atas jembatan penyebrangan sepulang dari kampus atau sesimpel sedang bergosip sore ditemani gorengan bersama partner kerja. Momen jam 5 soreku tanpa sadar lenyap.
Seruputan terakhir susu coklat dinginku sudah ku nikmati. Saatnya pulang. Hujan rintik menemani sore senduku. Tapi aku harus pulang. Kesadaranku sepenuhnya terbangun oleh dentuman gluduk kencang. Aku harus berlari, hingga tanpa sadar tanganku terasa tertahan.
Oh,, mata yang tajam, tinggi yang pas, dan rambut lurus acak menutupi bagian kepalanya, di atasnya lagi ku lihat ada benda melengkung cukup besar cukup untuk menjaga kami dari hujan rintik yang mulai besar ini. Tangannya menarik lembut leganku. Memastikan aku terlindungi dalam payung hangat itu.
momen jam 5 sore selalu menyenangkan. Mungkin ini saatnya aku memulai momen jam 5 sore yang baru.