Catatan #2 : Sebelum Menjadi Satu
Perasaan merasa siap untuk jatuh hati adalah fitrah
Mungkin sebagian orang sering terkejut mendapati kabar teman, sahabat atau saudaranya menikah. Terkejut sebab yang menikah usianya sebaya dengannya atau justru jauh di bawah usianya. Lalu, sebagian orang tersebut bertanya-tanya bagaimana seseorang bisa mengambil keputusan besar dalam hidupnya, tanpa sadar mereka mulai membandingkan situasi tersebut dengan dirinya.
Dan ya, saya pernah ada di posisi seperti itu. Barangkali semua orang pernah ada di posisi seperti itu. Dan menurut saya itu adalah hal biasa, hal wajar, di usia kita sekarang ini.
Suatu hari nanti barangkali setiap orang akan sembuh dari luka masa lalu, trauma, atau hal semacamnya hingga akhirnya berani membuat keputusan besar dalam hidupnya.
Bagi saya yang saat ini seperti mulai muncul keinginan-keinginan untuk menjalani keseriusan, adalah sesuatu yang awalnya tidak saya sadari. Barangkali memang perasaan ingin menggenap adalah perasaan yang muncul secara naluri. Fitrah? Iya mungkin! Perasaan itu kan fitrah, tinggal bagaimana kita mengaturnya, pada sesuatu yang menjadi bencana atau menjadi berkah. Tinggal bagaimana kita merasakannya, sebagai nafsu sesaat atau kita bertujuan menjadikannya ibadah sepanjang usia.
Unpopular opinion: tidak ada orang yang benar-benar selesai dengan dirinya sendiri
Ada sebuah unpopular opinion dalam buku Menentukan Arah bahwa sesungguhnya tidak ada orang yang benar-benar selesai dengan dirinya sendiri. Pada hari-hari ini banyak pendapat yang mengatakan bahwa untuk menikah kita perlu selesai dengan diri kita sendiri terlebih dahulu.
Menurut saya, memang ada yang perlu selesai dalam hal-hal yang kita tahu bahwa hal tersebut memang harus selesai, seperti: perasaan di masa lalu, rasa trauma, luka pengasuhan dan masih banyak hal lainnya yang kebanyakan berkaitan dengan hati.
Tetapi, ada hal-hal sepele yang barangkali justru bisa selesai ketika kita mempelajarinya dalam situasi baru, misal ketika kita berumah tangga. Yang tadinya tidak tahu cara menyelesaikan sesuatu, ketika berumah tangga mau-tidak mau harus bisa menyelesaikan sesuatu itu. Saya mempelajari pola ini ketika akhirnya diminta orang tua untuk merantau guna menempuh pendidikan. Apakah ketika di rumah dulu saya sudah selesai dengan diri saya? Tentu tidak.
Boro-boro bisa nyuci baju, meskipun ada mesin cuci, saya nggak tahu cara pakainya karena dari dulu di rumah selalu ada asisten rumah tangga. Apalagi nyikat wc, sama sekali nggak pernah! Belanja sendiri, ngatur duit sendiri, mikirin mau makan apa hari ini, nggak pernah saya mikirin itu di rumah. Tapi ketika merantau, ajaibnya saya tiba-tiba bisa dan terbiasa melakukan itu semua. Bahkan sesepele perkara mengoles balsem.
Saya dulu anti banget pakai gitu-gituan, kalau terpaksa ya minta tolong ibu saya mengolesi, saya tidak mau tangan saya nyentuh balsem apalagi minyak but-but yang aromanya hmmmm. Sejak merantau, mau-tidak mau harus bisa menyentuh dunia perbalseman dan segala jenis minyak. Sekarang malah jatuh cinta sama balsem, salonpas, hot cream, counterpain dan teman-temannya. Hidup merantau sungguh menempa diri.
Saya pernah kesal sama netizen yang membully seorang influencer karena dia nggak bisa masak mie. Menurut saya, mungkin dia memang nggak pernah berada di kondisi dia harus bisa masak mie sendiri alias dia sanggup bayar orang untuk memasak, sama halnya seperti saya yang dulu nggak tahu cara pakai mesin cuci karena emang nggak pernah ada di kondisi nyuci baju sendiri. Kenapa netizen sangat julid, padahal kerajaan Inggris saja punya lho pelayan yang tugasnya cuma mencetin odol untuk orang-orang istana.
Antara kesiapan dan child free
Perasaan-perasaan seperti ini (baca: kesiapan untuk serius) juga muncul membludak bersamaan dengan topik yang viral kemarin soal child free. Sebenarnya saya sudah bikin tulisan tentang child free tapi saya nggak mau posting hehehe. Sebenarnya juga, saya kagum sama mba-mba influencer tersebut karena bisa punya pemikiran sedalam itu, hal-hal yang mungkin orang pada umumnya nggak mikirin soal alasan beliau tersebut, kagum karena membandingkan dengan alur pikiran saya yang sekedar ingin merasakan gimana gelombang cinta bekerja menjelang persalinan? Gimana rasa sakit yang membahagiakan tersebut? Sebabnya dulu punya rasa takut jika suatu hari harus menjalani rasa sakit semacam itu. Tapi, entah hari ini justru sebaliknya.
Yang saya tahu dan saya percayai bahwa suatu keyakinan datangnya dari Allah jadi kalau ada apa-apa nanti juga Allah yang bantu. Kayak perkara istikharah untuk masalah apapun, pada akhirnya kalau tidak sesuai harapan, Allah juga yang akan bantu bangkit karena sejak awal sudah melibatkanNya. Juga, kalau kita merasa sudah memilih partner hidup yang tepat seharusnya mampu meminimalisir segala rasa khawatir.
Lalu untuk alasan saya yang hanya "sekedar" padahal banyak sih alasan saya lainnya, yang sekedar itu salah satunya, tapi belakangan saya bersyukur dengan pemikiran saya sendiri yang sekedarnya itu karena barangkali pilihan saya tidak bertolak belakang dengan keinginan-keinginan orang yang saya cintai di sekitar saya.
Sebagian orang tersandung di kesiapan mental
Seperti sebuah tulisan yang pernah saya baca di tumblr, bahwa kalau kamu siap lalu bertemu dengan saya yang belum siap, barangkali kita tidak berjodoh, begitu juga sebaliknya.
Betapa banyak teman-teman saya yang menjalin hubungan bertahun-tahun akhirnya kandas saat memasuki quarter life crisis. Sebabnya apa? Laki-lakinya belum siap! Tapi anehnya kalau untuk hubungan di luar pernikahan, mereka bisa menjalinnya hingga bertahun-tahun. Bahkan jika itu hubungan toxic, tetap dapat bertahan, karena memang hubungan toxic seperti lingkaran setan. Heu.
Dalam pengalaman beberapa kerabat saya, jika dilihat dari segi selain—kesiapan mental, laki-lakinya sangat siap. Tetapi, ketiadaan kesiapan mental itulah yang membuat hubungan keduanya kandas.
Ketika si perempuan meminta kejelasan, dalam konteks ini adalah kejelasan waktu, laki-laki tersebut tidak bisa memberi penjelasan. Padahal jika laki-laki memahami, bahwa perempuan bisa menunggu selama apa pun.
"Aku bisa menunggu, baik itu seratus atau seribu kali, tetapi hal yang paling aku takutkan adalah kalau aku tidak bisa menunggunya lagi. Aku takut suatu hari jika aku terbangun, ia sudah tidak ada lagi di dunia ini.” – Eul dalam Uncontrollably Fond
Tetapi, seperti yang saya tulis di beberapa postingan sebelum ini, bahwa perjuangan punya batasan. Saat tak ada kejelasan waktu yang diterima, barangkali saat itu perempuan tahu dimana batas perjuangannya. Mengapa kita sering terjebak begitu lama dalam luka-luka yang sebenarnya kita ciptakan sendiri? Karena kita tidak pernah tegas menciptakan batasan kapan kita akan bangkit.
Terkadang ketidakjelasan dalam bersikap juga dipicu dengan lemahnya kemampuan dalam mengambil keputusan yang dalam konteks orang dewasa adalah keputusan besar. Tentang keberanian mengambil sebuah keputusan dalam hidup adalah skill yang luar biasa yang dibutuhkan oleh orang dewasa. Karena dewasa ini, banyak sekali keputusan-keputusan yang harus diambil, mau-tidak mau harus dihadapi.
Bagaimana cara memiliki skill tersebut? Kata Mas Gun caranya adalah dengan mengenali diri sendiri, yang kalau boleh saya rumuskan seperti ini; apa keinginan kamu, bagaimana usaha kamu dalam mencapainya, apa hambatan kamu, bagaimana solusinya, dan poin lainnya yang menurut kamu penting.
Coba saja bikin peta. Saya sering memetakan, membuat rencana sekaligus solusi mulai dari A, B, C sampai Z. Kalau rencana A gagal, lanjut ke B, begitu seterusnya. Tidak stuck pada satu rencana.
Bertanya-tanya siapa orang itu—yang mengetuk pintu rumah, juga pintu hati
Soal mencintai seseorang, memang gampang-gampang susah. Pada akhirnya gampang ketika saya berusaha menyederhanakan apa yang saya rasakan, merumuskan apa tujuan saya dari perasaan yang saya rasakan, bagaimana hati harus terus memperbaiki niatnya bila mulai keruh.
Ada masa dimana hal-hal seperti perasaan lebih baik dipendam, ada masa dimana perasaan-perasaan tersebut lebih baik diungkapkan di waktu yang menurut kita sudah tepat. Dan karena perasaan tersebut milik kita sendiri maka lebih mudah mengendalikannya dibanding mengatur perasaan orang lain.
Kemarin sempat ada topik viral; aku penasaran siapa jodohku mengingat aku anak rumahan atau entahlah nanti jodoh gue datang darimana karena selama ini kerja, kerja, kerja, di kantor semua udah pada nikah, pulang kerja main sama anabul, weekend rebahan aja di rumah.
"Kadang kita seperti Conan, mencintai perempuan tetapi tidak tahu bagaimana menyatakannya. Kadang kita seperti Ran, menanti seseorang padahal dia hadir di sekitar kita." — Kepadahatiproject
Kisah Conan dan Ran ini memberi pelajaran bagaimana sebenarnya Conan mampu mengendalikan perasaannya yang menggebu-gebu, apalagi mereka tinggal di rumah yang sama. Kebayang bagaimana Conan ingin menunjukkan perasaannya pada Ran setiap saat tetapi ada masa-masa dimana lebih baik hal-hal semacam itu sebaiknya ia pendam saja.
Dan kelak barangkali ada masa-masa dimana kita tidak pernah membayangkan bahwa seseorang yang benar-benar mencintai kita adalah orang yang kita temui secara tidak sengaja di perjalanan kehidupan. Ketika kita bertanya-tanya siapa jodoh kita, bisa jadi dia adalah Conan—seseorang di dekatmu yang saking dekatnya sampai kamu tidak menyadarinya, karena kamu bagai Ran Mouri yang menanti seseorang yang dipikirnya jauh, padahal begitu dekat. Aissssh.
Jatuh cinta dengan tenang
Nanti saat kamu jatuh cinta, coba pelan-pelan rasakan, apakah ketika mencintainya, hatimu tenang? Kalau yang ada hanya kegelisahan terus-menerus, mungkin ada sesuatu yang salah.
Berlaku juga bagi pasangan yang sudah menikah. Ada cerita seorang istri yang melarang suaminya bekerja karena suaminya cakeppp banget, katanya. Oleh karena itu, istrinya rela bekerja di luar agar suaminya di rumah demi melindungi wajah cakep suaminya dari para pelakor. Yang seperti ini, bukankah membuat hati tidak tenang? Bukan karena wajah cakep suaminya, tapi mungkin semacam ketidakpercayaan istri tersebut kepada suaminya kalau sang suami bekerja di luar, ya walau sumbernya karena wajah cakepnya itu.
Jatuh cinta dengan tenang seharusnya terjadi sejak awalnya.
"Jika aku jatuh cinta, aku ingin jatuh cinta dengan damai.
Yang ketika kutahu dia menujuku, aku tenang karena dia melalui jalan yang benar.
Yang ketika aku menyambutnya, dia bahagia karena aku berada di pintu yang seharusnya."
— Dani Andini di lembar pertama buku Menentukan Arah
Sebelum mencintai, sudah menjadi pribadi yang bahagia—dengan mencintai diri sendiri
Ingat tulisan saya beberapa waktu lalu soal catatan pertama; sebelum menjadi satu, bahwa tujuan menikah bukan untuk bahagia. Karena sebelumnya kita perlu menjadi pribadi yang bahagia dulu, kalau kata Bang Junot.
Di sisi lain saya juga membayangkan betapa seseorang yang belum merasa cukup bahagia dengan segala nikmat yang telah Allah berikan dalam hidupnya boleh jadi akan menjadi pribadi yang akan menuntut banyak hal dari pasangan maupun sekitarnya. Ini #selfreminder ajaaaaa. Suka lupa sama apa yang ditulis. Tapi semoga nggak lupa untuk bahagia. Bang Junot juga bilang,
"Visi dari perempuan yang harus aku nikahi adalah ketika dia setuju bahwa oke kita nikah karena gue cinta sama Tuhan gue, baru aku akan nikahi dia. Kenapa? Karena cinta manusia itu bakalan habis, tapi cinta kita sama Tuhan itu nggak akan habis. Ketika lo mencintai Tuhan lo, lo punya tujuan kenapa akhirnya lo mau nikah."
Semoga Allah selalu menjadi yang pertama.
Bdg, 28 Sept 2021 | 14.21