Sabtu sore, berada di dalam angkutan umum yang berdesak-desakan bukan pilihan yang tepat bagi perempuan itu untuk menghirup udara segar setelah menyelesaikan job freelance-nya. Ia duduk berhimpitan dengan perempuan paruh baya yang barusan pulang kerja. Di depannya ada anak perempuan yang duduk bersama ibunya yang berpakaian rapi, entah mereka mau kemana. Ia tidak terlalu peduli akan hal itu.
Manusia seringkali menerka-nerka kepribadian seseorang dari kesan tujuh detik pertama saat bertemu. Tentang caranya berpakaian, memilih warna gincu, cara berjalan, intonasi saat berbicara, atau suatu tatapan mata. Mereka cepat menilai seseorang dengan standar mereka sendiri.
Tapi tidak baginya. Ia tidak ingin memberi penilaian seseorang hanya dengan tujuh detik pertama. Rasanya tidak adil jika berpikiran seperti itu. Benar, kenyataannya manusia tidak sepenuhnya tahu apa yang sedang bergumul di kepala seseorang dengan cara memperhatikan hanya tujuh detik.
Namun di dalam angkutan itu, ia berusaha ingin mengira-ngira apa yang dipikirkan oleh orang-orang itu? Di sampingnya, perempuan paruh baya itu asyik memperhatikan instagram story, mungkin di dalam hatinya ada rasa iri atau malah merasa insecure saat melihat orang sebayanya berswafoto di Disneyland bersama kekasih. Ada yang bercengkrama dengan teman sebelahnya dan tersenyum sumringah, mungkin saja sedang menahan rasa benci pada lawan bicaranya. Ada yang terlihat tidak acuh namun ternyata setelah penumpang itu turun, ia memberikan selembar uang dua puluh ribuan kepada sopir. Di belakang sopir ada ibu-ibu yang terlihat senang membawa barang belanjaan dari supermarket, bisa jadi ia membelinya dengan uang hutangan. Pikirnya, manusia selalu punya rahasia. Jangan terlalu cepat menjustifikasi, katanya dalam hati. Kemudian ia mengalihkan pikirannya dengan mengirim pesan kepada temannya, Lea, bahwa ia sedang dalam perjalanan menuju Aksara.
Setelah turun dan memberikan ongkos kepada sopir, ia melangkahkan kakinya menuju Aksara. Tampilannya santai, ia mengenakan sneaker putih, baggy jeans, dan outer rajut. Dengan sekali sapuan lipcream warna nude-pink, raut wajahnya menjadi terlihat natural. Walaupun, ya, ia tidak begitu antusias untuk pergi ke Aksara sore ini. Mungkin ini adalah tujuan terakhirnya karena ia tidak memiliki tempat alternatif lain untuk dikunjungi. Aksara, toko buku yang sangat sering ia kunjungi setiap akhir pekan. Sampai ia mengenal semua staf Aksara.
Perempuan itu sangat menyukai aroma Aksara. Aroma kertas, kopi pengharum ruangan, dan roti vanila dari pojok Aksara. Semua bercampur menjadi satu, aroma kesukaannya. Disusurinya rak-rak kayu yang berjajar, berisi berbagai genre buku yang sudah tertata rapi. Sesekali ia bernyanyi kecil mengikuti lagu yang sedang diputar. Ia berhenti sejenak, meraih sebuah buku yang menyita perhatiannya.
Di belakangnya, seorang penjaga toko mengekorinya sambil mendorong troli yang beri dus-dus buku terbaru yang akan ditata. Langkahnya luwes, tanpa ragu-ragu. Name tag yang bertuliskan Naomi itu pun menghampirinya. “Eh, Mbak Sae, mau nyari buku apa, Mbak?” sapanya sambil merapikan susunan buku.
“Lihat-lihat dulu, Mi. Lea ada?”
Mendengar pertanyaan lawan bicaranya, Naomi berhenti sesaat dan memelankan suaranya hampir berbisik, “Mbak Lea lagi ada masalah, ya, Mbak? Pagi tadi langsung buru-buru pergi soalnya. Transaksi pembelian hari kemarin belum sempet di cek juga.” Sejenak matanya menampakkan kegelisahan pada atasannya itu. Kemudian ia melanjutkan pekerjaannya.
Naomi, penjaga toko dengan keramahannya mampu bertahan di toko buku Aksara milik orang tua Lea. Cermat, rapi, dan sering tersenyum membuat pemilik Aksara, Wanda, hampir tidak pernah kecewa. Meskipun pengunjungnya semakin berkurang, hal itu tidak membuat Wanda memangkas tenaga kerja di Aksara. Bagaimana mungkin ia akan melakukan itu kepada orang-orang yang sudah dianggapnya sebagai keluarga sendiri?
Sae merogoh tas kanvasnya dan mengambil ponsel. Ia mengecek notifikasi dari Lea, namun tak ada balasan. Saat ia berniat menyentuh lambang telepon, disaat yang bersamaan, Lea membalas pesannya.
“Sepuluh menit lagi, aku sampai Aksara. Tungguin.”
Sae memasukkan kembali ponselnya ke dalam tas, kemudian ia mengamati buku ia pegang dari tadi. Sampulnya berwarna hitam polos, berjudul ‘Sampai Kapan?’ dan nama penulis yang ia kenal, Asa Adriana, nama penanya. Kemudian ia berjalan menuju kasir dan membeli bukunya sendiri.
“Ga nyampe sepuluh menit kan, Sa?” Lea meraih tangan Sae dan memberikan tas kertas warna coklat. Sae tidak membalas perkataan temannya itu lalu mengamati sekilas jarum jam di tangannya. Lea melirik buku yang Sae beli dan kembali mengoceh, “Ini ketiga kalinya kamu beli buku tulisanmu sendiri. Buat apa sih, Sa?” Keduanya berjalan keluar Aksara.
“Bukan urusan kamu,” jawab Sae sambil memaksa tersenyum kepada temannya itu. Sae memliki alasan tersendiri untuk membeli buku karyanya sendiri.
“Ihh, ditanya baik-baik juga. Ke Soupanova yuk, aku traktir.”
Mereka menyebrang jalan melalui JPO yang masih baru dibangun. Lea bercerita panjang lebar dengan penuh ekspresi yang meyakinkan. Sae hanya membalasnya dengan satu dua patah kata semacam ‘iya’, ‘engga’, ‘benar juga’, atau anggukan maupun gelengan.
Suasana Soupanova masih lengang, Lea memesan kopi susu dan matchalatte untuk Sae. Sae langsung menaiki tangga dan memilih duduk di rooftop. Di tempat duduknya Sae membuka barang pemberian dari Lea, kopi. Entah itu kopi Arabica atau Robusta, ia tidak tahu tentang seluk beluk kopi. Tapi ia sangat suka aromanya.
“Itu engga buat diminum, kok, cuma pengharum aja,” Lea datang dengan membawa dua gelas. Kebiasaannya kalau kafe sedang sepi, ia pasti membawa pesanan ke mejanya sendiri. Pernah ditanya oleh Sae, dan jawabannya ‘dari kecil aku pengen nganterin pesanan ke meja-meja pengunjung’.
“Thanks, Le.” Ucap Sae sambil menggeser cangkir matchalatte-nya. Diambilnya kembali kopi yang terbungkus kain goni itu dan dihirupnya dalam-dalam. “Thank a lot, Le.” ucapnya dengan tersenyum. “Ada yang mau kamu ceritain lagi ya, Le?” raut mukanya masih tenang, namun pandangannya tertuju pada mata lawan bicaranya. Sedari bertemu ia sudah tahu, temannya membutuhkan sepasang telinga yang terbuka dan mendengar dengan baik. Seolah-olah Sae sudah hapal akan tindak-tanduk temannya itu. Ya, intusinya memang terlewat kuat.
“Toko roti Mamah udah dijual sama Papahku Sa. Ternyata hutang Papah banyak banget. Mamah ga pernah cerita selama ini kalau Dapur Oma udah dijual.” tatapannya nanar seolah kehilangan harapan.
Seluruh cerita Lea mengalir dari mulutnya. Apa yang dia rasakan, apa yang dia sesalkan, dan apa yang akan dia lakukan. Seluruh cerita dari sudut pandangnya. Sae hanya mendengarkan. Ia mendengarkan dengan tenang, matanya memandang lekat-lekat wajah Lea. Sesekali membalas dengan senyuman, rengkuhan, ataupun sebuah pelukan.
“Ody sama Qian bakalan kesini, mereka lagi kejebak macet di Simpang Lima.” kata Lea sambil membaca pesan di ponselnya.
Mendengar berita itu, Sae menjadi lemas. Entah apa yang akan dia lakukan dihadapan teman-teman lamanya itu. Namun ia berusaha untuk tetap tenang untuk menutupi kegelisahannya barusan. Sesekali ia membenarkan posisi duduknya, kemudian ia merogoh lipcream nude-pink dan menyapu bibirnya kembali. Manusia selalu punya rahasia, pikirnya.